
Saat itu di dalam kamar terlihat sosok mirip manusia terbalut kain putih lusuh tengah membungkuk di tengah kamar sambil membelakangi pintu. Sosok itu perlahan mulai menegakkan tubuhnya.
Dan saat tubuhnya mulai tegak, terlihat jelas jika ada lubang menganga berwarna merah kehitaman di bagian punggung hingga tembus ke perut. Lubang itu dipenuhi belatung yang menggeliat keluar dengan darah yang menetes. Rupanya itu lah yang membuat Amanda menjerit tadi.
" I... itu apa Pak...?" tanya Amanda gugup.
Karena merasa terusik dengan suara Amanda, makhluk yang diketahui Ranvier sebagai sosok sundel bolong itu pun menoleh kearah Amanda sambil mengulurkan tangannya yang hanya berupa tulang dengan kulit dan daging yang terkelupas.
Jantung Amanda hampir terlepas dari tempatnya saat melihat penampakan makhluk di depannya. Tubuh Amanda pun menegang, wajahnya memucat dan mulutnya menganga tanpa suara. Bagaimana tidak, selain sosoknya yang menjijikkan, makhluk itu juga memperlhatkan wajahnya yang berupa tengkorak tanpa mata dan hidung. Saat makhluk itu menyeringai kearah Amanda, tubuh gadis itu pun merosot jatuh ke lantai begitu saja.
Ternyata ketakutan Amanda telah melebihi ambang batas hingga membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
Bukannya membantu Amanda, Ranvier justru mengabaikan Amanda dan membiarkan Amanda duduk bersandar ke dinding dalam kondisi pingsan.
" Ck, ngerepotin. Tapi sorry Amanda, Aku ga punya waktu buat membantu Kamu...," gumam Ranvier lalu bergegas masuk ke kamar Mutia.
Makhluk berwujud sundel bolong itu nampak menyambut kehadiran Ranvier dengan kedua tangan terkembang. Bau busuk yang menguar dari tubuhnya membuat Ranvier mendengus kesal karena merasa mual yang amat sangat.
Tak ingin membuang waktu, Ranvier pun langsung melemparkan butiran garam pemberian Daeng Payau kearah makhluk itu. Bersamaan dengan itu cahaya putih keperakan ikut melesat cepat kearah makhluk itu. Ranvier tak tahu darimana datangnya cahaya putih keperakan itu, namun Ranvier merasa dengan adanya cahaya itu, serangannya memiliki kekuatan yang berkali lipat lebih besar dari biasanya.
Akibat serangan tak terduga, sundel bolong itu menjerit kesakitan. Jeritannya melengking hingga membuat bulu kuduk meremang.
" Pergi dan jangan berani datang lagi...!" kata Ranvier lantang sambil terus melempari butiran garam.
Letupan pun terlihat tiap kali butiran garam mengenai tubuh makhluk berwujud sundel bolong itu.
Setelah beberapa saat, makhluk berwujud sundel bolong itu pun berjongkok sambil menyilangkan kedua lengannya di atas kepala. Sebelum benar-benar lenyap ia menatap Ranvier dengan tatapan penuh kebencian. Namun tatapannya seperti terputus saat cahaya keperakan itu kembali dan melintas persis di depannya.
Setelahnya sunyi, hening, tak ada suara.
Makhluk berwujud sundel bolong itu pun pergi begitu saja. Yang tersisa hanya bau daging terbakar dan Ranvier bergidik karena menyadari tubuh makhluk berupa sundel bolong itu lah yang terbakar.
Ranvier menghela nafas panjang. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia mencari sinar keperakan yang tadi ikut membantunya menyingkirkan makhluk itu.
" Alhamdulillah selesai juga. Tapi sinar keperakan itu datang lagi. Dan gara-gara dia Aku bisa menyingkirkan makhluk itu lebih cepat dari biasanya. Siapa yang udah mengirim sinar itu atau apa sebenarnya sinar itu...," gumam Ranvier sambil mengusap wajahnya.
Saat itu lah Erwin menerobos masuk ke dalam rumah Mutia. Ia terkejut melihat Amanda terduduk pingsan di depan kamar. Namun ia tersenyum saat melihat Ranvier keluar dari kamar Mutia dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
" Alhamdulillah..., Lo gapapa Vier...?" tanya Erwin.
" Alhamdulillah, Gue gapapa Win...," sahut Ranvier.
" Tadi Gue denger suara ledakan kenceng banget, Gue panik makanya Gue ke sini. Emang apaan yang meledak Vier...?" tanya Erwin penasaran.
" Ga ada yang meledak Win. Lo salah denger kali...," kata Ranvier.
" Suer Vier. Bukan cuma Gue yang denger suara ledakan itu. Ibu-ibu yang lagi nolongin Mutia juga denger kok. Mereka takut kalo ada tabung gas atau sesuatu yang meledak, makanya Gue yang disuruh ke sini...," sahut Erwin.
" Tapi emang ga ada yang meledak kok di sini. Paling meletup doang...," kata Ranvier.
" Apaan yang meletup...?" tanya Erwin.
" Bukan apa-apa. Daripada Lo nanya mulu, lebih baik bantu bangunin Amanda gih...," pinta Ranvier.
" Kok cewek ini bisa ada di sini Vier. Ngapain dia di sini...?" tanya Erwin.
" Mana Gue tau. Tanya aja langsung sama orangnya nanti...," sahut Ranvier dengan enggan.
Melihat sikap Ranvier, Erwin pun tahu jika ada sesuatu yang membuat sahabatnya itu tak nyaman saat berdekatan dengan Amanda. Setelah Ranvier keluar dari rumah, Erwin pun berjongkok untuk membangunkan Amanda.
\=\=\=\=\=
Setelah membantu menyingkirkan makhluk berwujud sundel bolong itu Ranvier bergegas pergi tanpa menemui Mutia lebih dulu.
" Kenapa ga pamit dulu sama Mutia Vier...?" tanya Erwin.
" Ga perlu. Gue ga mau bikin Mutia malu...," sahut Ranvier.
" Malu kenapa...?" tanya Erwin tak mengerti.
" Sorry, Gue ga bisa cerita soal ini sama Lo Win. Gue harus menjaga nama baik Mutia...," kata Ranvier sambil melirik Erwin sekilas.
" Oh gitu. Ok, gapapa. Gue juga ga mau maksa Lo cerita kok. Apalagi kalo alasannya nama baik Mutia...," sahut Erwin sambil tersenyum.
Ranvier mengangguk dan kembali menatap keluar jendela. Dalam hati ia berharap semoga setelah ini Mutia tak lagi terlibat dengan hal mistis.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Ranvier baru saja usai membersihkan diri saat ponselnya berdering. Dia tersenyum melihat nama Mutiara di layar ponselnya.
" Assalamualaikum..., kenapa Mut...?" tanya Ranvier.
" Wa... wa alaikum... salam. Makasih Vier...," sahut Mutia lirih.
" Sama-sama. Sekarang Kamu dimana...?" tanya Ranvier.
" Ga penting Saya dimana. Saya cuma mau berterima kasih karena Kamu telah membantu Saya. Maaf kalo sempet ga percaya sama apa yang Kamu ucapkan...," sahut Mutia sambil menyeka air matanya.
" Sebentar, emang Kamu mau pergi kemana Mutia ?. Kamu kan masih terikat kontrak dan harus mengurus Amanda lho, ingat itu...," kata Ranvier mengingatkan.
" Saya tau. Saya ga akan lari dari tanggung jawab. Saya cuma ga ingin Kamu cemas, makanya Saya nelephon Kamu...," sahut Mutia.
" Saya ga akan cemas kalo Kamu mau berjanji satu hal Mutia. Jangan pernah gunakan itu lagi, apa pun bentuknya. Karena itu berbahaya buat Kamu...," kata Ranvier sungguh-sungguh.
" Darimana Kamu tau kalo Saya...," ucapan Mutia terputus saat Ranvier memotong cepat.
" Pokoknya Saya tau karena makhluk itu yang ngasih tau. Dia keluar dari bedak yang sering Kamu pakai itu Mutia. Saat Kamu membaca mantra, maka makhluk penghuni bedak itu terpanggil dan dia lah yang bekerja hingga membuatmu terlihat menarik di hadapan orang lain. Padahal tanpa memakai bedak itu Kamu sudah terlihat menarik Mutia...," kata Ranvier hati-hati.
Mutia terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya.
" Saya pake itu karena Saya perlu sesuatu untuk membantu supaya Saya 'terlihat' dan itu berhasil. Apalagi Nyai penghuni bedak sering datang mengunjungi Saya hanya untuk menghibur Saya...," kata Mutia.
" Orang yang Kamu panggil Nyai itu sebenarnya bukan manusia Mutia...," kata Ranvier.
" Kalo bukan manusia terus apaan dong...?" tanya Mutia bingung.
" Dia... makhluk halus berwujud sundel bolong Mutia. Kalo Kamu ga percaya, Kamu bisa tanya Amanda. Dia ikut ngeliat tadi. Saking seremnya dia sampe pingsan lho...," sahut Ranvier.
" Haahh...?, sundel bolong. Kok bisa sih Vier. Padahal selama ini Saya taunya dia seorang nenek...?" tanya Mutia gusar.
" Ya bisa lah. Itu kemampuan mereka mengelabui pandangan manusia. Makanya mulai sekarang berhenti mengandalkan benda mistik kaya gitu. Lebih baik Kamu sholat Mutia. Air wudhu adalah susuk alami buat tubuh dan wajah agar terlihat menarik...," kata Ranvier.
" Iya Vier. Sekali lagi makasih ya. Saya pergi dulu Selamat malam...," pamit Mutia.
__ADS_1
Ranvier pun mengangguk lalu menatap layar ponselnya sejenak. Setelahnya ia kembali mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
\=\=\=\=\=