
Rupanya keresahan Ranvier terjawab. Beberapa jam kemudian Daeng Payau menghubunginya.
Ranvier yang saat itu sedang di taman bersama Decker dan Joshua pun bergegas menerima panggilan tersebut.
" Assalamualaikum Paman...," sapa Ranvier.
" Wa alaikumsalam Vier. Saya dengar Kamu melihat sesuatu saat melakukan video call dengan Akmal dan Erwin...," kata Daeng Payau to the point.
" Betul Paman...," sahut Ranvier cepat.
" Bisa Kamu jelaskan apa yang Kamu liat itu Vier...?" tanya Daeng Payau.
" Sebentar, Paman tau dari mana kalo Aku melihat sesuatu saat video callan sama Akmal dan Erwin...?" tanya Ranvier penasaran.
" Kakekmu yang cerita. Beliau minta Saya membantu mereka sebelum hal yang serius dan buruk terjadi...," sahut Daeng Payau.
" Oh gitu. Baik lah Paman, Aku bakal kirim rekaman pembicaraan semalam...," kata Ranvier.
" Hebat Kamu Vier. Masih sempet ngerekam segala...," puji Daeng Payau sambil tersenyum.
" Ga sengaja ngerekam semalam Paman...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
" Kalo gitu Saya cek dulu isinya ya Vier. Mudah-mudahan ga berbahaya buat Akmal atau pun Erwin...," kata Daeng Payau.
" Iya Paman, makasih...," sahut Ranvier.
Setelahnya pembicaraan Ranvier dengan guru spiritualnya itu berakhir.
Ranvier pun menghela nafas panjang karena merasa lebih baik. Dengan menyerahkan urusan Akmal dan Erwin kepada Daeng Payau, membuat Ranvier yakin jika kedua sahabatnya itu akan baik-baik saja.
Ranvier nampak melambaikan tangannya saat Decker dan Joshua memanggil namanya. Dengan sigap Ranvier bediri lalu bergegas menyusul kedua temannya itu.
\=\=\=\=\=
Daeng Payau dan ustadz Rahman nampak sedang mengamati tayangan yang diputar di lap top. Keduanya duduk berdampingan sambil mengomentari isi tayangan di hadapan mereka itu.
Daeng Payau memang sengaja memutar rekaman video pembicaraan Ranvier, Akmal dan Erwin berkali-kali. Ia mengamati detail pergerakan sesuatu yang diceritakan Kakek Randu padanya.
" Ini mirip sama cewek, tapi aslinya sih bukan cewek...," gumam Daeng Payau namun masih terdengar jelas di telinga ustadz Rahman.
" Terus apa Daeng...?" tanya ustadz Rahman.
" Biasa lah Ustadz. Cuma jin yang numpang lewat aja...," sahut Daeng Payau.
" Jadi ini ga berbahaya kan buat Erwin...?" tanya ustadz Rahman.
" Harusnya sih ga ya. Tapi kalo Erwin sempet berkomunikasi sama dia itu lain soal ya Ustadz...," sahut Daeng Payau.
__ADS_1
" Oh gitu. Jadi saat ini Kamu belum tau gimana efeknya sama Erwin nanti...?" tanya ustadz Rahman.
" Masalah ini bukan sesuatu yang bisa diomongin dengan berandai-andai Ustadz. Saya harus ketemu sama Erwin dan ngeliat langsung apa yang mengikutinya kemarin...," sahut Daeng Payau.
" Kalo gitu, Kita minta Pak Randu untuk mengatur pertemuan di rumahnya. Lebih praktis dan ga membuat Erwin curiga nanti...," kata ustadz Rahman yang diangguki Daeng Payau.
Ustadz Rahman pun menghubungi kakek Randu dan memintanya mengatur pertemuan dengan Erwin dan Akmal.
\=\=\=\=\=
Akmal dan Erwin langsung datang saat kakek Randu menelephon mereka. Dan itu membuat kakek Randu bahagia.
Kini kedua sahabat Ranvier sudah tiba di rumah kakek Randu dan sedang berbincang akrab dengan pemilik rumah.
Tak lama kemudian Ustadz Rahman dan Daeng Payau pun tiba di kediaman kakek Randu. Erwin dan Akmal menyambut mereka dengan santun.
" Gimana, apa Kalian melihat sesuatu...?" tanya kakek Randu tak sabar.
" Iya Pak...," sahut Ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan hingga membuat Kakek Randu terkejut.
" Bisa Kalian netralisir supaya makhluk tak mengganggu mereka...?" tanya kakek Randu.
" Insya Allah bisa Pak...," sahut ustadz Rahman cepat.
" Alhamdulillah..., Saya tenang sekarang...," kata kakek Randu.
" Kalian ga usah khawatir. Saya sengaja menghubungi Ustadz Rahman dan Paman Daeng untuk membantu Kalian. Kan kata Ranvier ada sesuatu yang ngikutin Erwin. Makanya biar ga keterusan, sebaiknya diselesaikan sekarang...," sahut kakek Randu dengan tenang.
Ucapan Kakek Randu membuat Akmal dan Erwin saling menatap sejenak kemudian mengangguk.
" Dari kemarin ngebahas itu terus emangnya bahaya ya Om, Ustadz...?" tanya Erwin sambil menatap Daeng Payau dan ustadz Rahman bergantian.
" Bahaya atau ga baru ketauan setelah Kita cek sama-sama. Nah sekarang Kamu liat Saya dan jujur menjawab semua pertanyaan Kami...," kata Daeng Payau sambil menepuk kedua bahu Erwin lalu mendudukkannya di sofa.
Aneh. Erwin pun terdiam lalu menganggukkan kepalanya seperti sedang ada di bawah pengaruh hipnotis.
" Jadi gimana Win. Apa yang Kamu liat di acara lamarannya Akmal semalam...?" tanya Daeng Payau.
" Aku ngeliat cewek cantik Paman...," sahut Erwin cepat hingga membuat semua orang tersenyum.
" Cantik banget ya sampe Kamu ga berkedip gitu ngeliatnya...," kata Ustadz Rahman.
" Iya Ustadz. Kalo menurut Saya sih mirip banget sama Amelia calon istrinya si Akmal itu...," sahut Erwin namun cukup mengejutkan Akmal.
" Makaud Lo apaan Win ?. Jangan ngaco deh Lo...," sela Akmal dengan mimik wajah tak nyaman.
" Sssttt..., jangan ganggu dulu ya Mal...," kata Daeng Payau mengingatkan sambil menyilangkan jari telunjuk ke depan bibirnya.
__ADS_1
" Saya ga ganggu Om. Si Erwin ini emang keterlaluan karena sejak awal dia mengangumi calon Istri Saya. Saya udah bilang jangan cari masalah karena Saya ga segan menyingkirkan orang yang berniat mengganggu hidup Saya, apalagi calon istri Saya. Jujur Saya ga suka kalo Erwin ngeliatin Amelia dengan tatapan mes*m kaya gitu...," sahut Akmal sambil melengos sebal.
Ucapan Akmal membuat Daeng Payau mengerti sesuatu.
" Jadi itu penyebabnya. Sekarang Saya bakal bantu Erwin menjauhi calon Istrimu itu tapi dengan syarat...," kata Daeng Payau.
" Syarat apa Paman...?" tanya Akmal.
" Jangan ganggu proses netralisir yang akan Saya lakukan ini. Apa pun yang Kamu liat dan dengar nanti, Kamu harus diam...," sahut Daeng Payau.
" Ok Om. Demi Amelia dan Erwin Saya bakal nurut apa yang Om suruh...," sahut Akmal hingga membuat Daeng Payau tersenyum.
" Bagus, sekarang Kamu menepi sedikit ke sini...," pinta ustadz Rahman sambil menarik tubuh Akmal agar menjauh dari Erwin dan Daeng Payau.
" Terus Kamu sempet kenalan ga sama cewek yang mirip Amelia itu Win...?" tanya Daeng Payau.
" Hampir Om, tapi gagal...," sahut Erwin.
" Kok bisa gagal...?" tanya Daeng Payau tak mengerti.
" Kan Saya ngeliat cewek itu lagi sibuk menata makanan di meja prasmanan. Pas Saya deketin tau-tau ada cowok yang nepuk pundak Saya. Cowok itu bilang kalo Saya ada lagi di jalan buntu. Saya mau marah tapi Saya ikutin aja arah tatapannya. Ga taunya bener. Saya lagi ada di dalam gang buntu. Ga ada jalan lain karena di sana udah mentok tembok Om. Pas Saya noleh lagi kearah cowok yang tadi, dia juga udah ga ada. Saya justru ngeliat dia lagi pas ngobrol sama cewek yang wajahnya mirip Amelia itu...," sahut Erwin.
Ucapan Erwin telah menjelaskan semuanya.
Tangan Daeng Payau pun terulur ke puncak kepala Erwin. Kemudian Daeng Payau tampak berdzikir sambil menggerakkan telapak tangannya di atas kepala Erwin.
Tak lama kemudian Erwin merasa perutnya mual. Sesuatu seolah mendesak ingin keluar dari perutnya hingga membuat Erwin lari ke wastafel dan muntah hebat di sana. Akmal pun membantu memijit tengkuk Erwin agar bisa segera mengeluarkan isi perutnya itu.
" Alhamdulillah...," gumam Daeng Payau dan ustadz Rahman bersamaan.
" Gimana, apa makhluk itu sudah pergi...?" tanya kakek Randu.
" Sudah Pak...," sahut Daeng Payau.
" Jadi apa sebenarnya yang telah mengganggu Erwin...? " tanya kakek Randu.
" Hanya jin iseng aja Pak. Dia memang menyukai Erwin sejak awal. Dia tau kalo Erwin mengagumi Amelia, makanya dia menjelma menjadi sosok Amelia untuk membuat Erwin tergoda. Setelah Erwin tergoda dan masuk perangkapnya, maka Kita bisa tebak gimana endingnya kan Pak...," sahut ustadz Rahman sambil tersenyum penuh makna.
" Iya Saya paham...," kata Kakek Randu.
" Jadi apa tang harus Erwin lakukan biar dia ga ketempelan lagi Om. Seinget Saya ini kali kedua Erwin mengalami gangguan mistis...?" tanya Akmal.
" Sederhana Mal. Erwin hanya harus fokus dan jangan lalai berdzikir. Jangan lupa tunaikan sholat fardhu. Kalo dia istiqomah, insya Allah dia ga akan gampang dapat gangguan mistis...," sahut Daeng Payau sambil tersenyum.
Akmal pun menoleh kearah Erwin yang tampak sibuk mengusap peluh di keningnya.
bersambung
__ADS_1