Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
135. Anaknya Wijaya


__ADS_3

Wijaya menggelepar di lantai tepat di saat makhluk besar berduri itu 'melahap' istrinya di kamar rumahnya.


Beruntung Ustadz Rahman dan Daeng Payau sigap membantu. Hingga dalam hitungan detik Wijaya kembali siuman dan kembali duduk.


" Apa yang terjadi Ustadz...?" tanya Wijaya dengan suara parau.


" Gimana Daeng...?" tanya Ustadz Rahman sambil menatap Daeng Payau karena ia tak ingin menjawab pertanyaan Wijaya.


" Makhluk yang dipuja istrimu sedang bekerja di kamarmu sekarang...," sahut Daeng Payau.


" A... apa ?. Maksudnya bekerja di kamar itu...," ucapan Wijaya terputus karena Daeng Payau memotong cepat.


" Betul. Istrimu menyerahkan kehormatannya kepada makhluk kegelapan sebagai bayaran atas jasa yang akan makhluk itu lakukan. Bayaran diambil di muka dan istrimu bisa melihat hasilnya nanti...," sahut Daeng Payau sambil membuang pandangannya kearah lain.


" Ya Allah..., Astaghfirullah aladziim..., " gumam Wijaya sambil menutup wajahnya.


" Sabar ya Pak...," kata Ustadz Rahman sambil mengusap punggung Wijaya dengan lembut.


" Saya ga tau harus gimana Pak Ustadz...," sahut Wijaya sambil menggelengkan kepalanya.


" Lepaskan dia. Sejak awal wanita itu menggunakan cara hitam untuk mendapatkanmu...," kata Daeng Payau.


" Apa dia juga yang telah membuat Anakku kabur...?" tanya Wijaya.


" Betul. Anakmu keliatannya sudah tau trik yang dipake wanita itu. Sayangnya saat dia mencoba memberi tau, Kamu ga percaya. Kalo dari yang Aku liat, anakmu juga kesakitan akibat ulah wanita itu. Makanya Anakmu terpaksa menjauh darimu supaya rasa sakitnya berkurang...," kata Daeng Payau hingga membuat Wijaya terkejut sekaligus terharu.


" Jadi dia kabur hanya untuk mengurangi rasa sakit dan karena ga mau Aku melihatnya kesakitan...?" tanya Wijaya.


" Kurang lebih seperti itu. Tapi ternyata itu hanya bermanfaat sebentar saja. Karena sekarang kadar sakitnya bertambah...," sahut Daeng Payau prihatin.


" Jadi anakku kesakitan sekarang, apa sakitnya parah...?" tanya Wijaya panik.


" Saat ini aman. Keliatannya ada seseorang yang membantunya. Mmm..., insya Allah yang membantunya orang baik walau Aku ga tau siapa dia...," sahut Daeng Payau hingga membuat Wijaya tersenyum.


" Alhamdulillah, Aku senang Anakku aman di luar sana walau Aku ga tau dia dimana sekarang. Lalu apa yang harus Aku lakukan...?" tanya Wijaya gusar.


" Bersikap biasa aja. Pura-pura ga tau itu jalan terbaik. Kamu pulang ke rumah supaya Istrimu ga curiga. Dan perlakukan dia sewajarnya sampe dia ga sadar kalo Kamu sebenernya udah tau siapa dia...," sahut Daeng Payau.


" Apa itu ga berbahaya untukku. Kan Kamu bilang Istriku melakukan ritual tadi...," kata Wijaya.


" Kalo Kamu pura-pura menuruti semua ucapannya, dia akan lengah. Kita hanya menunggu saat untuk mengalahkannya. Justru anakmu yang harus dikhawatirkan karena makhluk itu nampaknya ingin menghabisi anakmu...," sahut Daeng Payau cepat.


Wijaya tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Namun ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Wijaya berharap dengan bersikap baik pada Ayu akan membuat wanita itu bahagia lalu menunda keinginannya untuk menyakiti Nada.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Ranvier sedang berada di kantor saat menerima telephon dari Krisna.


" Assalamualaikum Mas Ranvier..., " sapa Krisna.


" Wa alaikumsalam. Ada apa Pak Kris...?" tanya Ranvier.


" Maaf kalo Saya mengganggu, Saya terpaksa menelepon Mas Ranvier. Ada sesuatu yang terjadi sama Nada Mas...," sahut Krisna hingga membuat Ranvier terkejut lalu bangkit dari duduknya.


" Nada kenapa Pak Kris...?!" tanya Ranvier.


" Nada kesakitan lagi Mas. Dia menjerit dan menangis terus daritadi..., " sahut Krisna.


" Sakit lagi, bagian mana, bukannya lukanya udah sembuh ya. Ini kan udah seminggu lebih. Bisa lebih spesifik lagi ceritanya Pak Kris...?" tanya Ranvier gusar.


" Kalo luka di lengan sama perutnya emang udah ga terasa sakit lagi Mas. Tapi Nada menangis karena merasa sakit di kepalanya. Mendadak banget sampe Kita kaget. Waktu Saya tanya sesakit apa, Nada cuma geleng-geleng aja Mas...," sahut Krisna.


Ranvier mengusap wajahnya karena khawatir dengan keselamatan Nada. Ranvier tahu ia harus melakukan sesuatu yang sedikit ekstrem tapi ia juga tak ingin membuat kakeknya khawatir.


" Mas Ranvier...," panggil Krisna dari seberang telephon.


" Iya Pak Kris. Mmm..., sekarang Saya ga bisa pulang Pak. Ada rapat dengan investor asing sebentar lagi. Saya bakal minta tolong sama Paman Daeng aja. Insya Allah beliau bisa ke rumah dan menbantu Nada nanti...," kata Ranvier.


" Begitu juga boleh. Secepatnya ya Mas, kasian Nada...," pinta Krisna.


Kemudian Ranvier mendial nama 'Paman Daeng' dan di saat bersamaan Erwin masuk ke dalam ruangan.


" Semua udah siap Vier. Tamunya ada di bawah sekarang...," kata Erwin.


" Iya Win, tolong Lo wakilin Gue untuk menyambut mereka. Gue telephon Paman Daeng sebentar, penting...," sahut Ranvier cepat.


Meski terkejut karena Ranvier harus kembali menghubungi Daeng Payau, namun Erwin pun mengangguk. Ia keluar dari ruangan untuk mewakili Ranvier menyambut para investor asing itu.


" Assalamualaikum Paman...," sapa Ranvier saat Daeng Payau merespon panggilannya.


" Wa alaikumsalam..., iya Vier. Ada apa...?" tanya Daeng Payau.


" Apa Paman sibuk sekarang...?" tanya Ranvier.


" Sedikit. Kenapa memangnya...?" tanya Daeng Payau.


" Tolong Paman ke rumah Kakek ya. Ada seseorang yang butuh bantuan Paman sekarang...," sahut Ranvier.

__ADS_1


" Apa Pak Randu sakit Vier...?" tanya Daeng Payau cemas.


" Alhamdulillah Kakek baik-baik aja. Ini orang lain Paman, tapi Aku ga bisa jelasin semuanya karena Aku harus segera menemui rekan bisnisku. Bisa kan Paman...?" tanya Ranvier penuh harap.


" Insya Allah bisa Vier...," sahut Daeng Payau.


" Kalo bisa secepatnya ya Paman. Makasih, Assalamualaikum..., " kata Ranvier di akhir kalimatnya.


" Wa alaikumsalam...," sahut Daeng Payau sambil mengerutkan keningnya.


Kemudian Daeng Payau bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelahnya ia meraih kunci motor yang tergantung di belakang pintu.


" Siapa yang sakit sampe Ranvier sepanik ini. Baik lah, Kita berangkat sekarang dan liat siapa yang udah bikin Ranvier gundah gulana kaya gitu...," gumam Daeng Payau sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Daeng Payau telah tiba di rumah kakek Randu. Tomi menyambutnya dan langsung mengajaknya masuk ke dalam rumah.


" Alhamdulillah, akhirnya Kamu datang juga Daeng...," kata kakek Randu saat melihat Daeng Payau di ambang pintu rumahnya.


" Iya Pak. Ada apa ini, siapa yang sakit...?" tanya Daeng Payau.


" Ayo Kita ke kamar tamu. Yang sakit ada di sana...," ajak kakek Randu.


Daeng Payau mengangguk lalu mengekori kakek Randu yang berjalan dibantu Krisna.


Pintu kamar tamu memang sengaja dibiarkan terbuka atas perintah kakek Randu. Ia khawatir jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada Nada. Karenanya kakek Randu menggaji seorang perawat untuk menemani Nada.


Namun saat Nada kesakitan kakek Randu panik karena ia yakin sakit Nada berhubungan dengan hal mistis.


" Gadis itu, namanya Nada. Dia terluka dikeroyok preman sepuluh hari yang lalu. Untung Ranvier membantunya. Belum lama ini dia juga mendapat serangan ghaib dari Ibu tirinya. Alhamdulillah Ranvier juga berhasil mengatasinya. Tapi mendadak dia sakit lagi dan kali ini di kepala. Aku khawatir dia... bisa meninggal karena keliatannya sakitnya melebihi batas kesanggupannya...," kata kakek Randu sambil menatap iba kearah Nada.


" Baik Pak. Saya akan berusaha membantunya sebisa mungkin...," sahut Daeng Payau yang diangguki kakek Randu.


Daeng Payau mendekati Nada dan terkejut saat melihat wajah gadis itu. Sepintas wajah Nada mengingatkannya pada Wijaya.


" Gimana Daeng, kenapa malah bengong begitu...?!" tegur kakek Randu.


" Iya Pak. Saya cuma merasa gadis ini mirip sama laki-laki yang belum lama ini diselamatkan oleh ustadz Rahman..., " kata Daeng Payau.


" Oh ya, siapa namanya...?" tanya kakek Randu penasaran.


" Wijaya...," sahut Daeng Payau hingga mengejutkan Kakek Randu.


Di saat Daeng Payau menyebut nama sang ayah, tiba-tiba Nada berhenti menggeliat. Ia menoleh kearah Daeng Payau lalu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


Daeng Payau tersentak kaget melihat cara Nada menatapnya. Namun ia tersenyum karena yakin jika Nada adalah anak perempuan yang sedang dicari oleh Wijaya.


bersambung


__ADS_2