Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
146. Dimaafkan


__ADS_3

Setelah mengetahui Ayu meninggal dunia, perasaan Nada jauh lebih tenang. Awalnya Nada menduga jika kematian Ayu karena kecelakaan. Meski pun begitu Nada tak tertarik mendatangi Rumah Sakit untuk mencari tahu.


Hari itu Nada berniat mengunjungi makam sang Mama. Entah mengapa ada rasa rindu yang sarat di hatinya pada sosok sang Mama yang telah meninggal setahun yang lalu itu.


Saat tiba di depan area pemakaman Nada bergegas turun dari ojeg motor yang ditumpanginya.


" Tunggu sebentar di sini ya Bang, Saya ga lama kok...," pinta Nada.


" Iya Neng, nyantai aja ga usah buru-buru. Abang tunggu di warung kopi itu ya, mau ngopi sambil ngerokok sebentar...," kata pengendara ojeg yang masih tetangga dekat rumah kost Nada itu.


" Iya Bang...," sahut Nada sambil tersenyum.


Setelahnya Nada masuk ke dalam area pemakaman melalui pintu samping. Saat tiba di dalam area pemakaman, Nada nampak mengerutkan keningnya karena melihat keramaian di pintu utama. Nada tahu jika mereka adalah para pencari berita melihat dari atribut yang mereka kenakan. Nada menduga jika ada artis atau orang terkenal yang meninggal dan dimakamkan di sana hari itu.


" Tumben rame banget, pasti ada orang top yang meninggal nih. Untung makam Mama ada di samping, jadi Aku ga harus ngelewatin mereka...," gumam Nada sambil tersenyum kecut.


Nada pun melangkah perlahan menuju makam sang Mama. Ia nampak tersenyum saat melihat makam sang Mama yang tampak terawat itu.


" Aku datang Mama Sayang...," sapa Nada antusias.


Kemudian gadis itu mengusap nisan sang Mama dengan penuh perasaan. Ia pun melantunkan doa untuk sang Mama dalam hati. Tanpa terasa air mata mengalir deras di wajahnya.


Setelah selesai mendoakan sang Mama, seperti biasa Nada akan bertahan di sana untuk beberapa waktu. Ia akan bercerita banyak hal layaknya bercerita pada seseorang yang masih hidup.


" Mama tau ga ?. Kemarin Aku ngeliat sesuatu yang mengejutkan sekaligus menggembirakan. Aku ngeliat jasad Adik Mama di pinggir jalan dan tanpa busana juga. Mungkin harusnya Aku sedih ngeliat Tante Ayu meninggal kaya gitu. Tapi jujur Aku seneng ngeliat dia terbaring kaku di pinggir jalan tanpa didampingi keluarganya. Karena orang yang jahat sama keluarganya sendiri emang layak mati seperti itu Ma. Udah ga pake baju, ditutupin koran doang, dikerubuti lalat dan pasti jadi tontonan orang. Akhirnya Allah membalas perbuatan jahatnya ya Ma. Orang yang menghancurkan kehormatan keluarga Kita akhirnya pergi dengan cara ga terhormat..., " kata Nada dengan mata berkaca-kaca.


Saat Nada sibuk mengusap matanya, suara seorang pria menyapanya.

__ADS_1


" Ternyata Kamu datang ke sini juga Sayang...," sapa Wijaya dengan suara bergetar.


Nada refleks menoleh dan terkejut melihat sang ayah berdiri di belakangnya. Ia melihat penampilan sang ayah jauh dari kata baik dan tampak tak terurus. Nada melihat wajah sang ayah yang pucat, tubuh kurus, rambut dan pakaian yang juga terlihat tak rapi.


Nada menghela nafas panjang lalu bergegas bangkit. Tanpa menyapa sang ayah, Nada berniat pergi meninggalkan makam sang Mama. Wijaya sigap menahan sang anak dengan mencekal tangannya. Nada nampak menepis kasar tangan sang ayah sambil menatap marah kearah Wijaya.


" Jangan sentuh Aku...!" hardik Nada marah.


" Nada..., Maafin Ayah ya Nak...," pinta Wijaya.


" Iya iya, udah Aku Maafin. Sekarang minggir, Aku mau pulang...!" kata Nada dengan kasar.


" Pulang kemana Nak...?" tanya Wijaya.


" Suka-suka Aku pulang kemana. Emang apa urusannya sama Ayah...?!" tanya Nada ketus.


" Jangan gitu dong Nak. Kita pulang ke rumah yuk...," ajak Wijaya namun membuat Nada tertawa sinis.


" Pulang ke rumah ?, rumah yang mana...?" tanya Nada.


" Rumah Kita. Tempat Kamu dibesarkan selama ini. Rumah yang penuh kenangan Kita bersama Mama...," sahut Wijaya sambil melirik kearah nisan istrinya.


" Kenangan apa ?, kenangan buruk !. Lagian Ayah ga lupa kan kalo Ayah udah ngusir Aku dari sana gara-gara Aku ga mau tinggal bareng sama perempuan itu...!" kata Nada sambil melengos.


" Ayah minta maaf karena udah ngelakuin itu sama Kamu Nada. Tapi tolong jangan pergi lagi. Tentang perempuan itu... maksud Ayah, Tante Ayu. Dia udah ga tinggal di rumah Kita lagi karena dia udah meninggal dunia Nak. Dan Kamu liat keramaian di sana ?, itu para wartawan yang datang untuk mengorek penyebab kematian Ayu. Kata Polisi dia ditemukan meninggal dunia di samping trotoar jalan tanpa busana dan kedua mata terbelalak. Polisi menduga Ayu menjadi korban kekerasan se**al, penganiayaan dan perampokan. Sekarang Polisi lagi nyari pelakunya. Ayah juga sempat dimintai keterangan tadi, makanya Ayah ada di sini. Setelah selesai ditanyai, Ayah ke makam Mama Kamu karena Ayah kangen sama Mama Kamu ini...," kata Wijaya sendu.


Mendengar ucapan ayahnya membuat Nada terkejut hingga membulatkan kedua matanya. Nada sudah tahu kematian Ayu, namun dia tak menyangka jika Ayu meninggal karena jadi korban kekerasan.

__ADS_1


" Karena di rumah udah ga ada orang yang Kamu benci, jadi Kamu mau pulang kan Nak...?" tanya Wijaya penuh harap.


Nada menggelengkan kepala sambil tersenyum getir mendengar permintaan Wijaya.


" Oohh..., jadi Ayah ngajak Aku pulang karena Ayah ga punya teman di rumah ?. Kenapa harus ngajak Aku pulang, kan masih ada Bi Siti di rumah...," kata Nada kesal..


" Bi Siti udah ga di rumah lagi Nak. Dia ijin pulang kampung pagi ini dan ga bakal balik lagi ke rumah...," kata Wijaya.


" Oh ya, kenapa mendadak banget...?" tanya Nada penasaran.


" Itu karena Bi Siti marah sama Ayah. Dia...," ucapan Wijaya terputus karena Nada memotong cepat.


" Aku ga mau dengar lagi, Aku udah tau alasan Bi Siti pergi dari rumah. Ayah emang layak ditinggalkan karena Ayah udah berbuat zholim sama Kami...," kata Nada penuh penekanan.


Wijaya pun terdiam. Ia sadar kesalahan yang telah ia perbuat dulu. Meski pun Nada telah memaafkannya, namun ia tak bisa membawa Nada pulang ke rumah bersamanya.


" Jadi..., gimana Nada. Kamu mau kan pulang sama Ayah ke rumah Kita...?" tanya Wijaya setelah beberapa saat terdiam.


" Aku ga bisa Ayah. Aku ga mau tinggal sama Ayah lagi...," sahut Nada sambil menggelengkan kepala.


" Sampe kapan Kamu tinggal di rumah kost kaya gitu Nada. Ingat, Kamu ini anak gadis, ga baik tinggal di luar rumah tanpa pengawasan orang tua..., " kata Wijaya gusar.


" Ayah pikir Aku seperti Istri baru Ayah yang ga bisa menjaga kehormatan meski pun tinggal numpang di rumah Kakaknya ?!. Aku beda sama dia Yah !. Aku masih punya iman dan otak hingga ga ngelakuin hal yang dilarang agama. Ayah ga usah khawatir, Aku bisa jaga diri kok. Meski pun Aku tinggal di luar rumah, toh Aku juga tinggal di lingkungan yang baik dan sehat. Ga kaya di rumah, meski pun mewah tapi lingkungannya sakit dan busuk karena dihuni oleh orang bermental dan berkepribadian busuk...!" kata Nada kesal sambil berlalu meninggalkan sang ayah.


Wijaya pun hanya bisa menatap punggung Nada yang menjauh. Meski pun ia gagal membujuk Nada, Wijaya tetap tersenyum karena tahu anak semata wayangnya itu telah memaafkannya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2