
Ranvier pun keluar dari kamar karena mendengar suara gaduh di lantai dasar. Dari anak tangga Ranvier bisa melihat Nada yang sedang berbincang hangat dengan sang Kakek. Entah mengapa melihat kehadiran gadis itu membuat perasaan Ranvier yang tadi sempat memburuk karena ulah Erwin kini berangsur-angsur membaik.
Dengan langkah pasti Ranvier menuruni anak tangga. Suara derap langkahnya membuat semua orang yang ada di ruang tengah menoleh kearahnya.
Penampilan Ranvier dalam pakaian santai memang terlihat berbeda. Namun justru membuat Riska makin terpesona. Wajahnya pun nampak berbinar saat melihat Ranvier mendekat kearah mereka.
" Akhirnya turun juga Kamu Nak. Kami sudah selesai makan malam, jadi tinggal Kamu sendiri yang belum makan...," sapa Kakek Randu.
" Iya Kek, gapapa. Sebentar lagi Aku makan kok. Apa kabar Nada...," sapa Ranvier sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum kearah Nada.
" Alhamdulillah baik Pak...," sahut Nada dengan takzim sambil menyambut jabat tangan Ranvier.
" Kenapa malam baru sampe, apa ga bisa lebih sore lagi. Bahaya lho buat gadis seperti Kamu di jalanan jam segini...," kata Ranvier sambil mendaratkan bok*ngnya di samping Kakek Randu.
" Aku baru aja pulang kerja part time Pak. Karena kangen sama Kakek, makanya Aku ke sini...," sahut Nada sambil tersenyum.
" Oh gitu. Kerja part time dimana...?" tanya Ranvier sambil menyembunyikan rasa kagumnya.
" Jadi pelayan di kafe XX Pak. Kalo sempet mampir ya...," pinta Nada sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
Permintaan Nada membuat empat orang yang ada bersamanya saling menatap kemudian tersenyum.
" Insya Allah Kami mampir nanti. Iya kan Anak-anak...?" tanya Kakek Randu sambil melirik kearah Ranvier dan Erwin bergantian.
" Insya Allah siaappp Kek...!" sahut Ranvier dan Erwin bersamaan hingga membuat semua tertawa.
" Tapi sebentar. Kenapa Kamu nyuruh Kami mampir, emang ada apaan Nad...?" tanya Erwin.
" Gapapa Bang, pengen aja. Semua temanku sesama pelayan kafe udah pernah dikunjungi sama keluarga atau kerabatnya pas lagi kerja di kafe. Tinggal Aku sendiri yang belum pernah dikunjungi. Padahal Aku udah lumayan lama kerja di sana. Malam ini masuk bulan ke lima kerja dan cuma temanku yang datang, itu pun cuma kebetulan mampir...," sahut Nada sambil tersenyum getir.
Untuk sejenak suasana menjadi hening. Kakek Randu dan Ranvier yang tahu betul apa yang terjadi pada Nada pun hanya saling menatap dalam diam. Mereka tahu jika hubungan Nada dengan ayahnya belum benar-benar pulih. Mereka juga tahu jika saat ini Nada masih bersikeras tinggal di rumah kost dibanding pulang ke rumah Wijaya.
Riska dan Erwin yang tak mengerti apa pun hanya terdiam karena tak tahu harus berkomentar apa.
Untuk memecah keheningan, Ranvier pun berdehem lalu bangkit dari duduknya. Kemudian ia menoleh kearah Nada dan mengajaknya makan malam.
" Udah makan belum ?, kalo belum, Kita makan sekarang yuk...," ajak Ranvier.
" Iya deh, kebetulan Aku juga lapar...," sahut Nada malu-malu namun membuat Ranvier dan Kakek Randu tertawa.
" Ya sudah, makan dulu sana. Jangan sampe Kamu sakit gara-gara telat makan...," kata Kakek Randu di sela tawanya.
" Iya Kek...," sahut Nada sambil bangkit lalu melangkah mengikuti Ranvier yang berjalan lebih dulu menuju ruang makan.
__ADS_1
Melihat kedekatan Ranvier dan Nada membuat Riska cemburu. Ia menatap kesal kearah Nada sambil mengepalkan tangannya diam-diam.
Erwin yang tak sengaja melihat sikap Riska pun hanya tersenyum kecut.
" Lagi-lagi Ranvier. Semua cewek yang Gue suka selalu ngelirik Ranvier. Apa segitu berkharismanya Ranvier sampe mereka ga mandang Gue sama sekali...," gerutu Erwin dalam hati.
" Ehm, itu bukan salah Ranvier. Mereka aja yang terlalu silau dengan apa yang menyertai Ranvier. Seseorang yang tak menghargaimu dengan apa yang Kamu miliki, tak layak untuk Kamu kejar Win...," kata Kakek Randu mengingatkan sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
Ucapan Kakek Randu membuat Erwin tersentak kaget. Wajahnya pun merona sesaat karena malu. Ia tak menyangka jika Kakek Randu mengetahui isi hatinya yang sempat menyalahkan Ranvier tadi.
" I... iya Kek. Kayanya Aku bakal ikutin saran Ranvier untuk berpikir ulang tentang dia...," kata Erwin gugup.
" Bagus...," sahut Kakek Randu sambil tersenyum.
Erwin pun melirik sekilas kearah Riska yang tampaknya tak tahu jika dirinya lah yang menjadi bahan pembicaraan dua pria di hadapannya itu.
Setelah menghela nafas panjang Erwin pun memberanikan diri mengajak Riska pulang.
" Udah malam Ris, sebaiknya Kita pulang...," kata Erwin.
" Pulang...?" tanya Riska dengan wajah linglung.
" Iya. Emangnya Kamu mau nginep di sini...?" tanya Erwin tak suka.
" Bukan gitu. Tapi...," ucapan Riska terputus karena Erwin memotong cepat.
Riska pun melirik kearah kakek Randu. Ia berharap Kakek Randu akan menawarinya untuk bermalam. Namun setelah beberapa saat ditunggu Kakek Randu tak bicara, akhirnya Riska mengalah. Ia pun bangkit dari duduknya.
" Maafkan Saya Tuan, Saya harus pulang. Ini udah terlalu larut dan rasanya ga pantas seorang perempuan bertamu di jam segini...," kata Riska sedikit meninggikan suaranya dengan maksud menyindir Nada.
Namun sayangnya Nada pura-pura tak mendengar ucapan Riska walau diam-diam ia mengepalkan tangannya karena merasa tersinggung dengan ucapan Riska.
Kakek Randu tersenyum penuh makna melihat sikap Riska yang berusaha 'menjatuhkan' Nada. Ia pun bangkit dari duduknya lalu mengantar Erwin dan Riska ke teras rumah.
" Pake mobil aja Win, jangan pake motor. Kasian Riska, nanti dia bisa sakit kena angin malam...," kata Kakek Randu sambil menepuk punggung Erwin dengan lembut.
" Iya Kek. Kami pulang dulu ya Kek, Assalamualaikum..., " kata Erwin setelah mencium punggung tangan Kakek Randu.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Kakek Randu sambil tersenyum.
Riska pun mengangguk takzim kearah Kakek Randu sebelum masuk mobil. Dan sesaat kemudian mobil pun melaju meninggalkan rumah Kakek Randu.
Di dalam mobil Riska duduk dengan gelisah. Sesekali ia melirik kearah Erwin yang nampak mengemudi dengan serius.
__ADS_1
" Mmm..., maaf Pak Erwin. Cewek tadi, Nada. Dia siapanya Pak Ranvier...?" tanya Riska.
" Dia calon Istrinya Ranvier...," sahut Erwin asal namun mampu membuat Riska terkejut.
" Calon Istri...?!" tanya Riska tak percaya.
" Iya. Emangnya ga keliatan ya gimana sikap Kakek Randu dan Ranvier sama Nada tadi...?" tanya Erwin.
" Iya sih. Tapi Saya ngeliatnya justru sikap mereka layaknya keluarga, apalagi sikap Pak Ranvier sama Nada dan sebaliknya. Mmm..., hubungan mereka tuh mirip adik kakak lebih tepatnya..., " sahut Riska ragu hingga membuat Erwin tersenyum.
" Kamu betul. Adik Kakak yang ketemu gede pasti punya banyak kemungkinan yang menanti di depan mereka nanti...," kata Erwin sambil tersenyum penuh makna.
Entah mengapa ucapan Erwin membuat Riska kesal. Ia mengalihkan tatapannya keluar jendela dan tak bicara lagi hingga mereka tiba di depan rumah orangtua Riska.
Setelah Riska turun dan mengucapkan terima kasih, Erwin pun kembali melajukan mobil dengan cepat.
Sementara itu di ruang makan Ranvier dan Nada masih menikmati makan malam sambil berbincang dengan santai. Keduanya duduk berdampingan layaknya pasangan romantis.
" Jadi siapa pasangan Kamu sekarang...?" tanya Ranvier.
" Pasangan...?" tanya Nada tak mengerti.
" Pacar atau tunangan mungkin...," kata Ranvier meralat ucapannya.
" Oh itu. Aku ga punya...," sahut Nada cepat.
" Masa sih. Kamu kan cantik, masa ga ada yang mau jadi pacar Kamu...?" tanya Ranvier tak percaya.
" Yang mau sih banyak, tapi Aku yang ga mau sama mereka...," sahut Nada bangga hingga membuat Ranvier tersenyum.
" Kenapa...?" tanya Ranvier sambil menatap Nada lekat.
" Gapapa, masih pengen sendiri aja...," sahut Nada dengan enggan.
" Jangan bilang Kamu trauma sama apa yang menimpa Ibumu...," tebak Ranvier.
Nada pun menghela nafas panjang lalu menghentikan suapannya.
" Aku emang sedih tapi Aku ga trauma kok. Saat ini Aku ga mau menjalin hubungan sama pria yang cuma mau sekedar hura-hura. Itu kan cuma buang-buang waktu aja. Aku lagi nyari cowok yang sesuai sama kriteria Mama. Aku mau kok menjalin hubungan sama satu pria yang mapan mental dan spiritualnya, yang serius berkomitmen dan punya masa depan. Begitu pesen Mamaku dulu sebelum jatuh sakit dan meninggal dunia...," kata Nada dengan mata berkaca-kaca.
Ranvier pun tersenyum. Ia mengulurkan tangannya lalu meraih jemari Nada dan menggenggamnya erat hingga membuat gadis itu terkejut.
" Kalo Aku bilang Aku adalah pria yang sesuai dengan kriteria yang disebut Ibumu gimana Nada...?" tanya Ranvier sungguh-sungguh hingga membuat kedua mata Nada terbelalak.
__ADS_1
Untuk sesaat tatapan Ranvier dan Nada bertemu. Di saat yang sama Kakek Randu tengah berdiri sambil tersenyum menyaksikan keduanya bertatapan.
\=\=\=\=\=