Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
170. Berangkat


__ADS_3

Pagi hari itu kediaman Kakek Randu terlihat sibuk. Bahkan Kakek Randu telah duduk di ruang makan sambil menunggu Ranvier dan Nada.


" Tolong panggilkan Ranvier dan Nada, Kris. Mereka harus sarapan dulu sebelum ke bandara...," kata Kakek Randu.


" Baik Pak...," sahut Krisna lalu bergegas naik ke lantai atas.


Tak lama kemudian Krisna turun sambil menarik tas besar milik Nada. Di belakangnya tampak Ranvier sedang menggandeng tangan Nada sambil membawa tas miliknya.


" Assalamualaikum Kakek...," sapa Ranvier.


" Wa alaikumsalam Anak-anak. Gimana, Kalian udah siap...?" tanya Kakek Randu.


" Insya Allah siap Kek...," sahut Ranvier dan Nada bersamaan.


" Bagus. Kita sarapan dulu supaya Kalian ga masuk angin nanti...," ajak Kakek Randu sambil menunjuk kursi di hadapannya.


Ranvier dan Nada pun mengangguk karena tahu tak mungkin menolak perintah Kakek Randu.


Saat sedang menikmati sarapan yang lebih awal karena dilakukan jam lima pagi itu, tiba-tiba Erwin masuk sambil memberi salam dengan lantang. Semua menjawab salam Erwin sambil menatapnya bingung.


" Ngapain jam segini Lo udah ke sini Win...?" tanya Ranvier.


" Mau ngelepas Lo pergi lah Vier. Kenapa, ga boleh...?" tanya Erwin.


" Oh, boleh dong. Sini makan dulu...," ajak Ranvier.


" Ok, siapa takut...," sahut Erwin sambil duduk di hadapan Ranvier lalu mulai menyendok nasi dan lauk pauknya.


" Mau nganterin sampe mana Win...?" tanya Kakek Randu.


" Sampe bandara Kek...," sahut Erwin dengan mulut penuh.


" Kalo gitu bareng aja sama Totok nanti...," kata Kakek Randu.


" Iya Kek. Kakek ga ikut nganter...?" tanya Erwin.


" Ga perlu. Kakek di rumah aja nunggu hasil...," sela Ranvier cepat.


" Hasil apaan...?" tanya Erwin tak mengerti.


" Hasil dari bulan madu Gue sama Nada dong. Apalagi emangnya...," sahut Ranvier santai.


" Maksud Lo anak...?" tanya Erwin sambil membulatkan mata tak percaya.


" Iya. Kenapa ga seneng gitu keliatannya...?" tanya Ranvier.

__ADS_1


" Bukan apa-apa. Emangnya Lo yakin bisa nembus gawang secepat itu. Lo ga lupa kan siapa Nada...," sahut Erwin sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Ucapan Erwin membuat ruang makan hening sesaat. Sedangkan Ranvier dan Nada saling menatap sejenak lalu tersenyum.


" Gapapa Sayang. Bang Erwin cuma iri aja sama kebersamaan Kita karena dia ga bisa ikut jalan-jalan sama Kita...," kata Nada sambil mengusap punggung tangan Ranvier dengan lembut.


" Iya. Aku tau Sayang. Aku juga ga peduli sama ocehannya yang ga penting itu. Karena buatku yang terpenting sekarang adalah membahagiakan Kamu...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Makasih Sayang...," kata Nada.


" Sama-sama Sayang...," sahut Ranvier sambil mengusak rambut Nada dengan sayang.


Sikap dan ucapan sejoli di hadapannya membuat Erwin kesal bukan kepalang. Dengan geram ia melempar sendok yang dipegangnya kearah Ranvier namun berhasil ditangkap oleh Ranvier.


" Mbok Rah...!" panggil Ranvier.


" Iya Mas, kenapa...?" tanya Mbok Rah sambil melangkah mendekati Ranvier.


" Erwin ga butuh sendok, jadi taro aja di dapur ya...," sahut Ranvier sambil menyerahkan sendok ditangannya kepada Mbok Rah.


" Baik Mas...," sahut Mbok Rah sambil tersenyum lalu bergegas ke dapur sambil membawa sendok milik Erwin.


" Eh, kenapa dibawa ke belakang Mbok. Terus gimana cara Saya makan nih...?!" protes Erwin.


" Dikobok Mbok...?" tanya Erwin.


" Iya...," sahut Mbok Rah cepat.


" Tapi ini kan berkuah Mbok. Susah dong makannya...!" kata Erwin kesal.


Mbok Rah hanya menggedikkan bahu lalu melangkah ke dapur. Tentu saja itu membuat semua orang tertawa.


" Heran deh Gue. Kenapa Gue selalu diperlakukan kaya anak tiri di sini...," gerutu Erwin sambil melanjutkan makannya meski pun sedikit sulit.


Ucapan Erwin justru membuat semua orang kembali tertawa. Kakek Randu bahkan terbatuk-batuk karena makan sambil tertawa.


\=\=\=\=\=


Kafe M kembali beroperasi setelah sepuluh hari libur. Semua karyawan kafe nampak antusias karena kafe didekorasi lebih bagus dari sebelumnya. Krisna yang datang langsung untuk mengawasi pekerjaan para karyawan sesuai perintah Kakek Randu.


Sedangkan Erwin membantu Kakek Randu menghandle tugas Ranvier di kantor seperti yang selama ini dia lakukan. Namun kali ini Erwin merasa sedikit kesal mengingat Ranvier pergi berlibur dan bukan karena kondisi mendesak.


Wijaya yang kebetulan berkunjung ke perusahaan milik Ranvier itu pun mencoba menghibur Erwin.


" Ga usah iri. Nanti juga Kamu punya kesempatan jalan-jalan...," kata Wijaya sambil menepuk pundak Erwin.

__ADS_1


" Jalan-jalan kemana Om...?" tanya Erwin.


" Ya terserah Kamu mau jalan kemana. Kan Kamu yang mau honey moon...," sahut Wijaya santai hingga membuat Erwin menepuk dahi.


" Om Wijaya ga lagi nyuruh Aku kawin kan Om...?" tanya Erwin.


" Hush, bukan kawin tapi nikah Win...," ralat Wijaya tegas.


" Iya iya, nikah. Om lagi nyindir Aku kan. Om pasti mikir kenapa sampe sekarang Aku belum nikah juga. Kalo Om mau tau, ini semua gara-gara menantu kesayangan Om itu...!" kata Erwin kesal.


" Kok gara-gara Ranvier...?" tanya Wijaya tak mengerti.


" Iya gara-gara Ranvier. Kalo dia punya waktu buat ngurus perusahaan dengan baik, pasti Aku juga punya waktu buat santai dan hang out. Aku pasti bisa mulai mengamati wanita cantik di sekelilingku dan bisa milih cewek mana yang bakal jadi Istriku...," sahut Erwin cepat.


Ucapan Erwin justru membuat Wijaya tertawa geli.


" Kok ketawa sih Om...?" kata Erwin bingung.


" Maaf Win. Bukannya Kamu punya banyak kesempatan itu tiap hari. Kan Kamu ini playboy cap sapu lidi yang bisa langsung ngelibas cewek cantik yang berseliweran di depanmu. Apalagi karyawati perusahaan ini banyak yang wanita dan mereka semua cantik-cantik kok...," kata Wijaya.


" Iya juga ya. Kenapa ga kepikiran sih. Kan sambil kerja Aku juga bisa cari jodoh di sini ya Om...," kata Erwin sambil tersenyum.


" Ga usah pura-pura Win. Om tau kalo banyak karyawati sini yang udah Kamu modusin. Hati-hati. Suatu saat ada yang sakit hati terus Kamu disantet, baru rasa lho...," kata Wijaya mengingatkan.


" Apaan sih Om. Serem banget pake ngomong santet segala...," sahut Erwin.


" Makanya jangan suka pehapein anak orang. Kalo ga suka ga usah ngasih perhatian lebih apalagi sampe janji-janji segala. Kamu ga muda lagi Win. Udah harus bijak bertindak dan berpikir...," kata Wijaya dengan mimik wajah serius.


" Iya Om. Makasih udah diingetin..., " sahut Erwin cepat.


" Ok, kalo gitu Om balik lagi ke kantor. Kalo ada apa-apa Kamu bisa hubungi Om atau Kakek Randu...," kata Wijaya.


" Siap Om. Maaf ga nganter ya Om...," kata Erwin sambil mencium punggung tangan Wijaya dengan takzim.


" Iya gapapa...," sahut Wijaya sambil tersenyum.


Namun saat Wijaya hendak keluar dari ruangan, Wijaya pun membalikkan tubuhnya dan menoleh.


" Sekretaris yang duduk di depan juga Ok Win. Keliatannya dia wanita yang baik. Om pikir dia cocok sama Kamu...," kata Wijaya hingga membuat Erwin terkejut.


" Mmm..., biar Saya pertimbangkan saran Om nanti...," sahut Erwin dengan wajah merona.


Wijaya pun tertawa lalu kembali melangkah meninggalkan Erwin di ruangan itu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2