Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
84. Ada Orang...


__ADS_3

Setelah menghela nafas panjang, Daeng Payau pun menjawab pertanyaan Erwin.


" Yang harus Kita lakukan adalah menghentikan aksi pemujaan atau pesugihan itu lebih dulu. Jadi ke depannya ga akan ada karyawan pabrik yang dijadikan tumbal. Dengan begitu maka aura di dalam pabrik akan kembali netral dan otomatis itu membuat suasana kerja menjadi lebih kondusif juga nyaman...," kata Daeng Payau.


" Gitu ya. Tapi Kita kan ga tau siapa yang melakukan ritual pesugihan itu Om...," sahut Erwin.


" Kamu tenang aja Win. Serahkan itu sama Om Daeng. Beliau udah tau siapa dalang di balik penyerahan tumbal yang berkedok tragedi kecelakaan itu...," kata ustadz Rahman sambil melirik Daeng Payau hingga membuat Erwin tersenyum.


" Apa itu bener Om...?" tanya Erwin antusias.


" Iya Win...," sahut Daeng Payau cepat.


" Terus apa yang bisa Aku bantu Om...?" tanya Erwin.


" Beri Saya akses agar bisa masuk ke dalam pabrik malam ini. Kamu bisa minta bantuan Galih Win. Saya rasa hanya dia orang yang bisa Kita ajak kerjasama. Apalagi statusnya sebagai security membuat dia punya banyak peluang masuk ke pabrik...," sahut Daeng Payau.


" Harus malam ini Om...?" tanya Erwin.


" Lebih cepat lebih baik...," sahut Daeng Payau cepat.


Erwin nampak terdiam sejenak kemudian mengangguk tanda mengerti. Setelahnya ia berusaha menghubungi Galih.


" Bisa keluar sebentar ga Gal...?" tanya Erwin saat Galih merespon telephonnya.


" Ini Gue lagi di luar. Ada apaan Win...?" tanya Galih.


" Merapat sebentar ke resto XX ya. Kita ngobrol di sana nanti...," sahut Erwin.


" Ok. Abis ngisi bensin Gue langsung meluncur ke sana...," kata Galih di akhir kalimatnya.


Tak lama kemudian Galih pun tiba dan disambut Erwin dengan sumringah.


" Beneran lagi di luar ya Gal...?" tanya Erwin.


" Iya. Ngisi bensin buat persiapan kalo disuruh Bos mondar mandir nanti...," sahut Galih.


" Oh iya. Kenalin ini Ustadz Rahman. Kalo yang itu Lo masih kenal kan...," gurau Erwin sambil menunjuk kearah Daeng Payau yang nampak tersenyum menyambut kehadiran Galih.


" Masih lah. Assalamualaikum Ustadz, salam kenal ya, nama Saya Galih...," sapa Galih sambil menjabat tangan ustadz Rahman dengan santun.


" Wa alaikumsalam..., " sahut ustadz Rahman sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah Galih duduk, Erwin pun bergegas menyampaikan niatnya. Daeng Payau ikut membantu memberi penjelasan. Galih yang sejak awal mendengarkan dengan serius itu pun mengangguk tanda mengerti.


" Saya siap Pak...," kata Galih mantap.


" Bagus. Kita bergerak jam sebelas malam nanti...," kata Daeng Payau.


" Ok...," sahut Galih.


" Tapi bukannya jam kerja Lo selesai sore ini Gal...?" tanya Erwin.


" Kebetulan sejak kejadian kecelakaan kemarin, semua security diminta lembur. Nah jam sembilan malam nanti sampe jam lima besok giliran Gue jaga Win...," sahut Galih.


" Alhamdulillah..., kebetulan banget ya...," kata Erwin.


" Iya...," sahut Galih.


" Allah memang mempermudah urusan orang yang berniat baik. Apalagi Kita lakukan ini untuk kepentingan orang banyak...," sela Daeng Payau.


" Betul. Semoga semuanya berjalan lancar dan yang penting ga akan ada korban lagi...," sahut ustadz Rahman yang diangguki semua orang.


\=\=\=\=\=


Di waktu yang telah ditentukan, Erwin, Daeng Payau dan ustadz Rahman mendatangi pabrik kayu itu. Saat mereka tiba, Galih nampak sedang berdiri menanti di depan gerbang.


" Aman Win. Ayo masuk...," ajak Galih.


Keempatnya nampak masuk mengendap-endap lalu berjalan cepat menuju pabrik yang berada di belakang kantor.


" Kok bisa-bisanya Lo tugas jaga sendirian Gal. Emangnya Lo ga takut...?" tanya Erwin.


" Ga lah, ngapain takut. Udah biasa Win, ini kan kerjaan Gue...," sahut Galih sambil tersenyum.


" Iya sih. Emang security yang lain kemana...? " tanya Erwin


" Empat security yang lain milih ngumpul di pos depan kantor Win. Biasa lah, kalo abis ada kejadian orang meninggal ga wajar, ga ada security yang berani keliling pabrik kecuali Gue...," sahut Galih.


" Ternyata mereka penakut juga ya Gal. Padahal mereka berempat lho...," kata Erwin sambil tertawa kecil.


" Iya. Cuma lagaknya kalo di depan Bos mah kaya yang paling berani aja...," sahut Galih ketus hingga membuat Daeng Payau dan ustadz Rahman yang semula diam pun ikut tertawa.


" Ngeliat keberanianmu dan sepak terjangmu, harusnya Kamu yang dijadiin pimpinan para security lho Win...," kata ustadz Rahman.

__ADS_1


" Aamiin. Tapi Saya ga terlalu ngarep Ustadz. Bisa kerja kaya gini aja Saya udah bersyukur. Apalagi pabrik ini kan letaknya ga jauh dari rumah dan gajinya lumayan gede. Jadi Saya ga perlu ngongkos buat pulang pergi ke tempat kerja...," sahut Galih sambil tersenyum.


Ustadz Rahman pun menepuk punggung Galih untuk mengungkapkan kekagumannya pada pola pikir Galih.


Tak lama kemudian mereka tiba di dalam pabrik. Mereka bergegas menuju ke mesin tempat Aini mengalami kecelakaan. Namun langkah mereka terhenti karena melihat sesuatu.


Saat malam hari pabrik memang tampak gelap. Hanya lampu sudut yang sengaja dibiarkan menyala hingga ruangan terlihat temaram. Namun sejak tragedi kecelakaan tempo hari, lampu yang berada tepat di atas mesin dimana Aini kecelakaan sengaja dibiarkan menyala.


Sinar yang kontras dari lampu di atas mesin itu cukup memberi penerangan ke sekitar mesin. Dan dari kejauhan bisa terlihat jika ada dua orang yang tengah melakukan sesuatu di dekat mesin itu.


" Ada orang. Siapa tuh Gal...?" tanya Erwin setengah berbisik.


" Itu kan si Aldi. Dia sama siapa dan ngapain di sana...?" gumam Galih sambil berusaha menajamkan penglihatannya.


" Aldi, Aldi yang mana Gal...?" tanya Erwin.


" Aldi security. Yang ketawa pas mayatnya Aini ditemuin. Masa Lo lupa, kan Lo sempet marahin dia juga kemaren...," sahut Galih sambil menoleh kearah Erwin.


" Oh dia. Iya Gue inget. Terus ngapain dia di sana. Jangan-jangan dia juga yang udah naburin kembang kuburan di atas mesin itu tadi...," kata Erwin kesal.


" Keliatannya sih gitu...," sahut Galih sama kesalnya.


" Sssttt..., pelankan suara Kalian. Percuma Kita ngumpet kalo suara Kalian terdengar sama mereka. Bisa-bisa rencana Kita gagal nanti...," kata Daeng Payau mengingatkan.


Erwin dan Galih tersenyum kecut lalu ikut mengamati apa yang dilakukan Aldi dan rekannya yang berpakaian serba hitam itu.


" Jangan bengong, dzikir Bung...," kata ustadz Rahman sambil menepuk bahu Erwin dan Galih bersamaan.


Lagi-lagi Erwin dan Galih kembali tersenyum karena sadar telah melakukan kesalahan. Kemudian mereka kembali melantunkan dzikir dalam hati.


Dari kejauhan terlihat Aldi berdiri sambil mengamati sekitarnya. Rupanya Aldi melakukan sesuatu yang tak lazim karena saat itu wajahnya terlihat cemas.


" Gimana Kyai...?" tanya Aldi setengah berbisik.


" Sebentar lagi Di. Sabar dong...," sahut pria berpakaian serba hitam itu dengan suara berat.


" Saya cuma ga mau orang lain tau Kyai. Apalagi si Galih. Soalnya cuma dia yang berani keliling pabrik sendirian buat ngecek tiap ruangan di malam buta kaya gini...," kata Aldi gusar.


" Kamu tenang aja. Kalo dia nongol dan berani bocorin aksi Kita, terpaksa Aku bungkam mulutnya dan Kujadikan tumbal sekalian...," sahut Kyai Ireng dengan jumawa hingga membuat Aldi tersenyum lebar.


" Tapi selama Aku ada di sini maka niat jahatmu ga akan terlaksana Ireng...!" kata Daeng Payau tiba-tiba.

__ADS_1


Suara lantang Daeng Payau tak hanya mengejutkan Aldi dan Kyai Ireng, tapi juga Erwin dan Galih. Bahkan keduanya sampai terlonjak di tempat masing-masing saking kagetnya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2