Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
171. Berjuang Bersama


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Ranvier nampak tengah mondar-mandir di depan ruang bersalin. Saat itu Nada tengah berjuang untuk melahirkan bayinya.


Krisna dan Erwin yang menemani Ranvier pun tak kuasa menghibur karena mereka juga diliputi rasa cemas.


Tiba-tiba Wijaya datang sambil berlari kecil. Ranvier menoleh dan tersenyum melihat kehadiran mertuanya.


" Ayah...!" panggil Ranvier.


" Maaf Nak, Ayah terlambat. Jalanan macet banget. Terus dimana Nada...?" tanya Wijaya.


" Ada di dalam Yah...," sahut Ranvier.


" Sendirian...?" tanya Wijaya.


" Ga dong Yah. Ada dokter sama perawat juga di dalam sana...," sahut Ranvier cepat.


Jawaban Ranvier membuat Wijaya, Krisna dan Erwin saling menatap sejenak. Sesungguhnya mereka tak mengerti mengapa Ranvier menjawab seperti itu.


" Ayah tau di sana ada dokter sama perawat. Maksud Ayah, siapa yang mendampingi Nada melahirkan Ranvier...," kata Wijaya dengan sabar.


" Oh itu. Maaf Yah, Aku ga ngeh kalo yang Ayah maksud itu. Ada Yanti yang nemenin Yah...," sahut Ranvier.


" Kenapa bukan Kamu...?" tanya Wijaya sedikit kesal.


" Nada ga mau Yah, dia ngusir Aku keluar. Padahal Aku udah siap dampingi dan udah pake baju steril juga tadi...," sahut Ranvier dengan mimik wajah kecewa.


" Masa sih...?" tanya Wijaya tak percaya.


" Betul Pak. Mbak Nada bahkan ngancam ga mau mengejan kalo Mas Ranvier bersikeras ada di ruang bersalin. Saat Mbak Yanti mengajukan diri untuk menemani, eh Mbak Nada setuju...," sela Krisna untuk meyakinkan Wijaya.


Mendengar penjelasan Krisna membuat Wijaya menggelengkan kepala. Niatnya untuk masuk ke ruang bersalin pun diurungkan karena tak ingin mendapat perlakuan sama seperti yang diterima Ranvier.


" Apa Nada udah lama di dalam sana ?, kok ga kedengaran apa-apa daritadi...?" tanya Wijaya cemas.


" Baru bukaan enam Yah. Tapi dokter dan teamnya memutuskan menahan Nada di dalam karena ga mau Nada kabur lagi nanti...," sahut Ranvier.


Sebelumnya memang diketahui Nada berusaha melarikan diri dari Rumah Sakit. Nampaknya Nada mengalami ketakutan menjelang bersalin. Ia tak siap untuk melahirkan karena ia tak ingin bayinya tak memiliki Ibu seperti dirinya. Rupanya Nada trauma akan kematian ibunya. Ia mengira jika wanita yang melahirkan akan meninggal dunia dan meninggalkan bayinya begitu saja.


Selama masa kehamilan dilewati dengan rasa cemas hingga membuat Ranvier bingung. Bahkan sejak mengetahui dirinya hamil, Nada menolak untuk disentuh oleh Ranvier karena merasa suaminya itu adalah penyebab semuanya.

__ADS_1


Setelah diberi pengertian Nada pun terlihat lebih tenang. Ia bisa melewati masa kehamilannya dengan baik. Namun saat mendekati waktu persalinan, Nada kembali berulah. Saat sudah mengalami kontraksi berulang kali, Nada justru kabur hingga membuat semua orang panik.


" Di saat banyak wanita ingin didampingi Suaminya saat melahirkan, Anakku malah bertingkah di luar kebiasaan. Pake ngancam ga mau ngejan segala. Emangnya dia ga tau kalo itu membahayakan diri dan bayinya...," kata Wijaya sambil menggelengkan kepala.


" Gapapa, Aku paham kenapa Nada begitu Yah. Aku menghargai keputusannya meski pun ga bisa mendampinginya melahirkan di dalam sana...," sahut Ranvier sambil tersenyum penuh makna.


Wijaya pun tersenyum lalu duduk di samping Erwin yang membisu sejak tadi.


" Tumben Kamu diem aja Win...," sapa Wijaya sambil menatap Erwin lekat.


" Lagi mikir Om...," sahut Erwin cepat.


" Mikirin apa ?, Yanti melahirkan?. Ga usah kejauhan Win, Kalian kan belum menikah, kok bisa-bisanya mikirin itu...," kata Wijaya.


" Tau nih Erwin. Ngelamar aja belum, kok udah mengkhayal kaya gitu...," sela Ranvier sambil mencibir.


" Bukan ga mau ngelamar Vier. Tapi Gue khawatir ditolak...," sahut Erwin sambil melengos.


Ucapan Erwin mengejutkan Ranvier, Wijaya dan Krisna. Ketiganya saling menatap sejenak kemudian tertawa geli.


" Tumben Lo ga pede. Biasanya kan Lo kepedean...!" kata Ranvier di sela tawanya.


" Itu bagus dong. Artinya Kamu tau kalo Yanti bukan cewek yang bisa dipermainkan kaya cewek lain Win...," kata Wijaya.


" Saya emang ga punya niat mainin Yanti Om. Saya malah niat mau nikahin dia. Tapi kenapa susah banget ya Om...," keluh Erwin.


" Butuh bantuan ga...?" tanya Ranvier.


" Ck, sebenernya males nerima tawaran Lo Vier. Gue tau pasti ga gratis kan. Tapi daripada Yanti keburu diserobot cowok lain, terpaksa deh Gue iya-in...," sahut Erwin pasrah hingga membuat Ranvier tersenyum penuh kemenangan.


" Ok deal. Kita obrolin ini lain waktu ya Win. Sekarang Gue mau fokus sama Nada dan Anak Gue dulu...," kata Ranvier yang diangguki Erwin.


Tak lama kemudian seorang perawat keluar memanggil Ranvier.


" Ada apa Suster...?" tanya Ranvier cemas.


" Bapak bisa ikut mendampingi Bu Nada melahirkan. Karena sekarang sudah masuk bukaan sembilan, Kita harus bersiap-siap...," sahut sang perawat.


" Suster yakin ?. Kan semua liat gimana Istri Saya ngusir Saya tadi...," kata Ranvier.


" Itu cuma emosi sesaat aja kok. Kami tau, sebenernya Bu Nada perlu dukungan penuh dari Suaminya. Tolong lakukan diam-diam ya Pak, ini demi kelancaran proses persalinan..., " pinta sang perawat sambil tersenyum.

__ADS_1


" Baik Suster, makasih...," sahut Ranvier dengan wajah berbinar.


Ranvier pun masuk ke ruang bersalin. Ia datang dari belakang Nada yang saat itu tengah dalam posisi bersiap mengejan. Yanti menoleh dan terkejut melihat kehadiran Ranvier. Namun sesaat kemudian ia pun tersenyum lalu bergeser mundur. Yanti memberi kesempatan pada Ranvier untuk mensuport Nada saat melahirkan bayinya.


Ranvier pun menggantikan Yanti menggenggam jemari Nada. Ia juga menahan punggung Nada dengan tubuhnya. Dan dua menit pun terlewati dengan penuh air mata karena Nada menolak mengejan.


" Kasian bayinya Bu. Dia udah pengen keluar dan ngeliat Mamanya...," bujuk sang dokter.


" Ga usah. Aku ga mau dia kecewa ngeliat Mamanya ga sehebat Ibu lain. Aku ini Mama yang buruk dan ga pantas untuk bayi suci seperti dia. Biar dia di sana aja dokter. Bantu dia lahir saat Aku sudah mati nanti...," pinta Nada sambil menitikkan air mata.


Ucapan Nada membuat Ranvier terkejut. Ia tak menyangka jika Nada terluka dengan kehamilannya itu.


Ranvier pun mengabaikan pesan perawat tadi. Ia memperlihatkan diri di samping Nada lalu mengatakan banyak hal yang membuat Nada terpaku.


" Kata siapa Kamu bukan Mama yang hebat Sayang. Kenapa Aku memilihmu menjadi Istriku. Itu karena Kamu wanita hebat dan tangguh yang pernah Aku temui. Kamu tau kan kalo Ranvier hanya mau menikahi wanita yang istimewa ?. Dan wanita itu adalah Kamu. Masa lalu dan perjalanan hidupmu adalah bekal yang luar biasa untuk mendidik Anak-anak Kita kelak. Aku percaya, di tangan wanita hebat dengan segudang pengalaman baik dan buruk ini, Anakku akan tumbuh jadi pribadi yang kuat, cerdas dan tangguh. Jadi jangan menyerah Sayang. Ayo Kita buktikan pada dunia bahwa Kita juga bisa melahirkan manusia yang tangguh untuk meneruskan perjuangan Kakek dan Kakek buyutnya...," kata Ranvier berapi-api sambil menggenggam jemari Nada erat.


Ucapan Ranvier membuat Nada terharu. Ia tersenyum lalu mengangguk. Ranvier pun mengecup kepala Nada beberapa saat sambil melantunkan doa singkat. Lalu saat dokter memberi aba-aba untuk mengejan, Nada pun melakukannya dengan baik.


Dan bayi yang sempat ditunda kelahirannya itu pun lahir dengan selamat. Suara tangis bayi laki-laki itu menggema di ruang bersalin hingga terdengar ke luar ruangan. Wijaya, Krisna dan Erwin pun mengucap hamdalah sambil tertawa bahagia.


" Selamat ya Om. Sekarang udah jadi Kakek...," kata Erwin.


" Iya, makasih Win...," sahut Wijaya sambil mengusap ekor matanya yang basah.


Di dalam ruangan tampak Yanti juga mengusap matanya yang basah karena terharu menyaksikan kekuatan cinta Ranvier dan Nada. Saat itu Nada tengah menangis dalam pelukan Ranvier usai melahirkan.


Saat sang dokter mendekatkan bayi mungil itu kearahnya, Nada tampak tersentak kaget.


" Sekarang waktunya menyusu sama Mama yaa...," kata sang dokter.


Nada hanya diam saat bayi itu diletakkan di atas tubuhnya. Dan saat bayi itu bergerak mencari pu**ng susunya, Nada pun memejamkan mata seolah tak ingin menyaksikan perjuangan bayinya mencari sumber kehidupan perdananya itu. Namun Ranvier yang setia menemani justru nampak sabar menuntun bayinya.


Nada membuka matanya saat merasakan bayinya mulai menyusu.


" Dia berhasil Sayang...," bisik Ranvier dengan suara bergetar.


" Tentu saja. Kan dia punya Ayah yang hebat yang sabar membimbingnya...," sahut Nada sambil tersenyum.


Ranvier pun ikut tersenyum lalu mendaratkan ciuman di pipi sang bayi. Kemudian dia juga mengecup kening Nada sebagai ungkapan kebahagiaannya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2