Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
158. Malu - Malu


__ADS_3

Perhelatan akbar pernikahan Ranvier dan Nada pun digelar dengan meriah.


Semua orang yang terlibat dalam acara sakral itu nampak tertawa gembira. Meski pun kondisi Nada saat itu belum terlalu fit, namun Nada nampak semangat menjalani semua ritual pernikahannya.


Acara dibuka dengan pelaksanaan akad nikah di masjid raya. Kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang digelar di salah satu hotel bintang lima sore harinya.


Saat acara akad nikah Nada dan Ranvier menggunakan out fit serba putih. Dekorasi ruangan berwarna hijau dan silver dibuat sesuai dengan permintaan Nada.


Acara akad nikah berjalan lancar karena Ranvier bisa melafaskan ijab kabul dengan lancar hingga membuat sang kakek bangga. Di tempatnya Nada nampak menitikkan air mata haru karena teringat dengan almarhum sang mama yang sangat mendambakan bisa melihat putrinya menjadi pengantin.


" Maafkan Ayah ya Nak. Karena Ayah Kamu harus kehilangan Mamamu dulu. Andai Ayah bisa menjaga diri dan bisa berpikir sehat, pasti saat ini Kita bertiga bisa bahagia...," kata Wijaya saat Nada bersimpuh di hadapannya.


" Lupakan semuanya Ayah. Aku baik-baik aja kok...," sahut Nada sambil berusaha tersenyum.


" Ayah tau. Bersama Ranvier Kamu pasti baik-baik aja. Ayah harap Ranvier bisa melengkapi kebahagiaan yang ga bisa Ayah berikan...," kata Wijaya dengan suara bergetar.


" Aamiin...," sahut Ranvier yang saat itu ada di samping Nada.


" Tolong jaga Nada dan bahagiakan dia ya Nak. Dia permata Ayah satu-satunya. Ayah pernah jadi orang bod*h karena menyia-nyiakan permata ini. Tolong jangan Kamu lakukan kesalahan yang sama hingga Kamu akan menyesalinya nanti...," kata Wijaya saat Ranvier memeluknya.


" Insya Allah Aku akan membuat Nada bahagia bersamaku. Ayah bisa tenang melepasnya sekarang...," sahut Ranvier sambil berbisik.


" Tentu saja...," kata Wijaya sambil tersenyum.


Kemudian Wijaya menyatukan jemari Nada dan Ranvier lalu mendoakannya sejenak dengan khusu. Kakek Randu nampak tersenyum melihat cara Wijaya mendoakan sepasang pengantin itu.


" Sudah Wijaya, sudah cukup mendoakannya. Anak-anak ini pasti juga lapar karena harus menunda makan tadi. Sekarang kasih kesempatan mereka makan biar ga pingsan karena kelaparan. Setelah itu mereka kan harus mulai bersiap untuk resepsi nanti sore...," kata kakek Randu mengingatkan.


" Iya, saking terharunya Aku sampe lupa kalo mereka perlu mempersiapkan tenaga untuk menyambut tamu...," sahut Wijaya salah tingkah hingga membuat semua orang tertawa.


Sore harinya resepsi pernikahan Ranvier dan Nada digelar dengan meriah. Keduanya tampil serasi dengan out fit yang mengusung tema 1001 malam. Warna gold dan merah fucia nampak mendominasi hingga perhelatan terlihat glamour. Kali ini Nada dan Ranvier menyerahkan sepenuhnya kepada Kakek Randu dan Wijaya dalam menentukan tema acara.


Nada mulai terlihat lelah setelah menyalami tamu yang mengular karena ingin memberi ucapan selamat dan doa. Ranvier yang mengamati gerak-gerik sang istri pun ikut cemas.


" Kalo Kamu merasa capek, Kita turun dan istirahat sekarang. Kamu ga usah memaksakan diri. Inget lho, Kamu kan baru aja sembuh. Aku bisa minta tolong Kakek atau Ayah untuk gantiin Kita menyambut tamu nanti...," kata Ranvier sambil menatap Nada lekat.

__ADS_1


" Tapi ngeliat suasana pesta yang kaya gini kok sayang ya kalo ga diikutin sampe selesai. Ini kan ga akan terulang lagi nanti...," sahut Nada dengan mimik wajah bingung.


" Kesehatanmu lebih penting Sayang. Kita masih bisa ngadain acara serupa kalo Kamu udah sembuh nanti...," bujuk Ranvier.


" Tapi atmosfernya bakal beda dong Sayang...," sahut Nada gusar.


" Apa yang dibilang Suamimu itu benar Nada. Kita menggelar acara resepsi pernikahan ini hanya untuk memberitahu kepada semua kolega bisnis dan khalayak ramai tentang pernikahan Kalian. Tapi Kami ga mau Kamu sakit hanya karena ingin tetap terlihat di depan tamu. Pergi lah istirahat. Biar Ayah dan Kakek yang melanjutkan tugas Kalian menyambut tamu nanti...," kata Wijaya.


" Baik lah. Rasanya Aku ga bakal menang melawan dua orang pria penting di hidupku ini...," sahut Nada sambil tersenyum kecut hingga membuat Wijaya dan Ranvier tertawa.


Kemudian Nada dan Ranvier turun meninggalkan pelaminan. Mereka masih sempat menyapa para tamu yang hadir sebelum akhirnya pergi menuju kamar pengantin di hotel yang sama. Di dalam lift keduanya nampak saling menatap dan tersenyum. Jemari mereka terpaut satu sama lain seolah tak ingin terpisah.


Saat pintu lift terbuka, Ranvier pun bergerak sigap menggendong Nada hingga membuat sang istri terkejut dan menjerit.


" Turunin Aku Sayang. Malu kalo ada yang liat nanti...," pinta Nada sambil merangkul pundak suaminya.


" Kenapa malu. Mereka justru maklum kalo Kita ini pengantin baru yang sedang kasmaran. Jadi wajar kalo bersikap seperti ini...," sahut Ranvier.


" Tapi...," ucapan Nada terputus karena Ranvier langsung membungkamnya dengan ciuman panjang hingga Nada tak berkutik.


Ranvier pun menurunkan Nada dengan hati-hati lalu membiarkan sang istri mengamati dan menyentuh semua yang ada di kamar itu.


" Ini... cantik banget...," puji Nada dengan mata berkaca-kaca.


" Kamu suka ga...?" tanya Ranvier sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


" Suka banget. Makasih Sayang...," sahut Nada sambil memeluk Ranvier dengan erat.


" Sama-sama Sayang. Sekarang sebaiknya Kamu ganti baju terus istirahat. Biar Aku siapin obat Kamu ya...," kata Ranvier sambil tersenyum.


" Tapi Aku gerah banget, boleh mandi ga...?" tanya Nada penuh harap.


" Mandi...?" tanya Ranvier sambil mengerjapkan mata.


" Iya mandi. Kenapa sih, kok kaya orang bingung gitu...?" tanya Nada tak mengerti.

__ADS_1


" Ehm. Gapapa kok. Biar Aku siapin air hangatnya ya...," kata Ranvier lalu bersiap masuk ke kamar mandi.


Namun langkah Ranvier terhenti karena Nada mencekal tangannya.


" Biar Aku aja. Kamu kan Suami Aku, masa Kamu yang nyiapin air buat mandi Aku...," kata Nada malu-malu hingga membuat Ranvier tersenyum.


" Kali ini pengecualian Sayang. Kamu masih belum fit banget, jadi biar Aku yang membantu Kamu. Nanti kalo Kamu udah sehat, Aku bakal minta Kamu yang nyiapin semuanya...," sahut Ranvier sambil mengecup kening Nada dengan lembut.


" Ok...," kata Nada sambil mengangguk pasrah.


Setelahnya Ranvier masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bath tub untuk Nada berendam nanti.


" Hari pertama jadi Suami Istri hal pertama yang diminta kok mandi sih Sayang. Bikin pikiran Aku melanglang buana aja...," gumam Ranvier sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.


Setelah selesai memberi aroma terapi dan sabun mandi cair, Ranvier pun keluar dari kamar mandi untuk memanggil sang istri. Namun Ranvier mematung di ambang pintu kamar mandi saat melihat Nada yang setengah telan**ng karena baru saja melepas sebagian gaunnya.


Nada yang terkejut melihat kehadiran Ranvier pun nampak salah tingkah. Dengan gugup ia menarik gaunnya kembali. Namun Ranvier mencegahnya dan justru membantunya meloloskan gaun itu dari tubuhnya.


" Jangan kaya gini Sayang, Aku malu...," kata Nada lirih.


" Biar ga malu, gimana kalo Aku temenin mandi sekalian...?" tanya Ranvier dengan tatapan menggoda dan senyum penuh makna.


Nada menggeleng lalu berlari cepat menuju kamar mandi. Setelahnya ia menutup pintu dan menguncinya. Tindakan Nada justru membuat Ranvier tertawa lepas.


" Kalo Kamu udah sehat pasti ga akan Aku biarin malam ini lewat begitu aja Sayang...," gumam Ranvier sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup itu.


Setelah menghela nafas panjang Ranvier pun mengusap wajahnya. Bagaimana pun kini ia dan Nada telah resmi menjadi suami istri. Tentu saja hal indah yang biasa dilakukan sepasang pengantin baru juga ada di benaknya. Namun Ranvier tak ingin menyakiti Nada dengan memaksa sang istri melayaninya malam itu juga.


" Masih banyak waktu Ranvier. Bersabar lah sebentar...," gumam Ranvier menyemangati diri.


Setelah mengatakan itu Ranvier pun menoleh ke jendela. Ia mengerutkan keningnya karena yakin melihat sesuatu melintas di luar sana tadi.


Perlahan Ranvier mendekati jendela karena ingin tahu apa yang sejak tadi mengamati ia dan istrinya. Ranvier menebak jika sesuatu yang mengintai bukan manusia biasa mengingat letak kamar pengantin mereka berada di lantai tiga puluh.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2