
Setelah mengetahui apa sebenarnya sinar keperakan yang senantiasa mengikuti Ranvier, ustadz Rahman pun menjadi lebih tenang. Sedangkan Ranvier nampaknya belum menyadari keberadaan cahaya keperakan itu.
Saat ini Ranvier justru sedang menikmati indahnya masa remaja. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan dulu karena satu dan lain hal. Sekarang Ranvier bisa dengan bebas mengekspresikan diri karena tak lagi 'diawasi' oleh orang-orang suruhan sang kakek.
Rupanya itu lah salah satu alasan Ranvier memilih sekolah yang letaknya jauh dari rumah. Ia ingin bebas berteman dengan siapa pun tanpa khawatir dicurigai oleh mereka.
Satu hal yang membuat Ranvier bahagia adalah karena tak seorang pun temannya mengetahui siapa dia sebenarnya. Hingga Ranvier bisa berteman dengan tulus tanpa embel-embel kekayaan sang kakek.
Karena Ranvier memilih sekolah yang didominasi kaum pria, tak heran Ranvier tak memiliki banyak teman perempuan. Dari sekitar seratus lima puluh orang siswa baru, hanya ada lima orang siswi perempuan. Salah satunya merupakan teman sekelas Ranvier yang bernama Mutiara Amerta dan biasa dipanggil Yara.
Yara adalah sosok gadis yang pendiam, tak suka bicara dan nampak sibuk dengan dunianya sendiri. Meski pun begitu Yara cukup pintar. Walau tak selalu meraih nilai sempurna, tapi nama Yara selalu ada diantara sepuluh besar siswa yang memiliki nilai tertinggi di kelas. Begitu pula dengan Ranvier.
Penampilan Yara yang unik bahkan sedikit udik, membuatnya tak menarik di mata Ranvier dan teman-temannya.
Bagaimana tidak. Yara memiliki rambut panjang ikal berwarna kecoklatan yang selalu dikepang dua. Kaca mata tebal plus besar nampak bertengger di wajahnya hingga membuat gadis itu terkesan bod*h dan kuper. Belum lagi tas besar yang ia bawa makin menambah panjang daftar kekurangan Yara di mata teman-temannya. Bahkan beberapa teman Ranvier menyebut Yara sebagai makhluk planet.
" Sadis amat sih Lo. Masa Lo bilang Yara itu makhluk planet. Kasian tau...," kata Ranvier sambil menggelengkan kepala.
" Gapapa lah Vier. Kan emang cuma itu julukan yang pas buat cewek aneh kaya dia...," sahut Akmal disambut tawa teman-teman lainnya.
" Sebenernya dia ga aneh. Lo aja yang terlalu tinggi bikin standart penilaian untuk cewek. Makanya dia keliatan aneh di mata Lo. Padahal Lo juga ga bagus-bagus amat sampe bisa menilai Yara sejelek itu...," kata Ranvier sambil mencibir.
Ucapan Ranvier mengejutkan semua orang terutama Akmal. Ia bahkan menganga tak percaya mendengar ucapan teman sebangkunya itu. Namun tawa teman-teman mereka membuat Akmal urung mengatai Ranvier.
Saat mereka asyik tertawa, Yara pun melintas. Ranvier dan teman-temannya itu sontak menghentikan tawa mereka sedangkan Yara nampak terus melangkah kearah mejanya.
" Kok berhenti ?, Lo takut ya sama Yara...?" goda Ranvier setengah berbisik.
" Apaan sih Lo Vier. Jangan bawel deh jadi cowok...," sahut Akmal sambil melengos hingga membuat tawa kembali menggema di ruangan itu.
Sikap Akmal justru membuat Ranvier dan teman-temannya semangat mengerjainya.
" Ternyata Akmal yang keren ini takut juga toh sama si Yara yang katanya cupu itu...," sindir Ranvier dengan nada suara sedikit tinggi hingga membuat Akmal salah tingkah.
" Udah Vier !. Liat tuh, gara-gara Lo si makhluk planet ngeliatin Gue...!" kata Akmal kesal.
Ranvier menoleh kearah Yara dan melihat gadis itu tengah berdiri sambil menatap kearah mereka dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
Sesaat kemudian Yara nampak bangkit lalu berjalan pelan mendekati Ranvier dan teman-temannya yang kembali tertawa.
" Udah puas ketawanya...?!" tanya Yara dengan suara lantang hingga membuat Ranvier dan teman-temannya terdiam.
" Kita lagi bercanda, ngapain Lo yang marah. Jangan bilang Lo kesel karena ga diajak bercanda sama Kita...," sahut Akmal sambil melengos.
" Oh ya. Ngomongin kekurangan orang lain dan menjadikannya sebagai bahan lelucon itu cuma dianggap bercanda ?. Apa Lo tau kalo omongan Lo itu udah bikin orang lain tersinggung. Apalagi Lo ngatainnya tiap hari...!" kata Yara ketus.
" Jadi Lo tersinggung Yar ?. Gue pikir Lo manusia batu yang ga punya perasaan apalagi rasa tersinggung...," sahut Akmal sambil menatap Yara dengan tatapan marah.
Yara terdiam sejenak. Ia menghela nafas panjang lalu kembali bertanya.
" Apa Gue punya salah sama Lo Mal...?" tanya Yara.
Akmal hanya membisu sambil menggedikkan bahunya.
" Atau karena Gue pernah nolak Lo dulu, Lo jadi giniin Gue...?" tanya Yara dengan nada suara rendah.
Ucapan Yara tentu saja mengejutkan semua orang. Mereka tak menyangka jika Akmal memiliki perasaan khusus pada gadis itu.
" Kenapa, Lo malu ?. Lo ga mau ngakuin kalo Lo pernah nembak Gue waktu masa Ospek dulu ?. Gue punya bukti kok...," kata Yara santai namun membuat Akmal panik.
" Haaahhh..., masa sih ?!"
" Gue ga percaya kalo Akmal nembak cewek planet ini...!"
" Ga masuk akal..."
" Mimpi mah jangan ketinggian Neng...!"
Kata teman-teman Ranvier saling bersahutan.
Dari tempat duduknya Ranvier nampak mengamati perdebatan Yara dan Akmal dengan tenang. Ia hanya membisu tanpa berkomentar karena ingin tahu ending dari perdebatan itu.
" Ga usah omong kosong Yar. Keluarin aja kalo emang Lo punya bukti...," tantang Erwin sambil tersenyum mengejek.
Yara tersenyum kemudian membalikkan tubuhnya lalu melangkah kearah mejanya. Semua teman Ranvier pun tertawa karena mengira Yara hanya menggertak. Buktinya gadis itu langsung minggir saat diminta membuktikan ucapannya.
__ADS_1
Namu tawa teman Ranvier pun terhenti saat Yara kembali sambil memperdengarkan rekaman di ponselnya. Suasana di dalam kelas pun menjadi hening karena semua orang membisu sambil mendengarkan rekaman suara di ponsel Yara itu.
" Gue suka sama Lo Yar. Gue mau jadi cowok Lo...," kata suara pria yang dikenali semua orang sebagai Akmal.
" .... "
" Kenapa diem Yar. Lo ga percaya kalo Gue suka sama Lo...?" tanya Akmal.
" Mmm..., Kita kan baru aja kenal Mal. Sekolah juga belum dimulai. Kok bisa-bisanya Lo nembak Gue...," sahut Yara.
" Lah, emangnya ada aturan sekolah yang ngatur kalo anak baru ga boleh pacaran ?. Ga ada Yar. Ini urusan pribadi dan sekolah ga punya hak mencampuri...," kata Akmal.
" Oh gitu...," sahut Yara.
" Oh gitu, oh gitu. Jadi gimana nih ?, Lo mau kan jadi cewek Gue...?" tanya Akmal setengah memaksa.
" Mmm..., sorry Mal. Gue ga bisa. Kita temenan aja ya...," sahut Yara.
" Ck, temenan. Gue ga mau. Kalo Lo ga bisa jadi pacar Gue, itu artinya Lo jadi musuh Gue. Titik...!" kata Akmal sambil berlalu.
" Akmal tunggu !. Kok gitu sih...?!" panggil Yara.
" Bodo amat...!" sahut Akmal lantang.
Suara rekaman pun berakhir dan semua mata kini menatap kearah Akmal. Sedangkan Yara nampak tersenyum tipis.
" Selama ini Gue diem dan mencoba maafin Lo. Tapi kali ini Lo udah keterlaluan Mal. Jadi teman-teman, Kalian ngerti kan kenapa Akmal terus menerus mengibarkan bendera perang sama Gue?. Kalo Kalian masih ngebully Gue, itu artinya Kalian sama pengecutnya sama dia...," kata Yara sambil menunjuk Akmal dengan jari telunjuknya.
Semua orang terdiam sambil saling menatap bingung. Sedangkan Yara nampak melenggang santai setelah mengatakan semuanya.
Di tempatnya Ranvier tampak tersenyum puas menyaksikan ending yang mengejutkan itu. Ia pun bangkit sambil melakukan gerakan mengibas debu dari pakaiannya.
" Untung Gue ga pernah ikutan ngatain Yara. Malu kan kalo tau penyebabnya...," kata Ranvier sambil melangkah keluar kelas.
Lagi-lagi semua orang hanya bisa terdiam karena tak tahu harus bicara apa. Satu per satu mereka membubarkan diri karena tak nyaman dengan rasa bersalah yang mendera.
\=\=\=\=\=
__ADS_1