Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
98. Kena Pelet...?


__ADS_3

Setelah pemotretan dirasa cukup, Azam pun pamit meninggalkan Amanda dan Mutia di ruangan itu.


" Tunggu sebentar ya. Saya mau laporan ke Bos dulu. Sambil menunggu, Kalian bisa makan dan minum semua yang ada di sini...," kata Azam.


" Termasuk air di bawah pot bunga itu...?" gurau Amanda sambil menunjuk ke bagian bawah pot yang ditanami pohon lidah mertua.


Gurauan Amanda membuat Azam dan Mutia tertawa.


" Kalo situ doyan sih boleh aja...," kata Azam di sela tawanya.


" Ya ga lah...," sahut Amanda cepat.


" Ok, sebentar ya. Mudah-mudahan ada kabar baik buat Kalian nanti...," kata Azam sambil menutup pintu.


Kemudian Azam masuk ke ruangan dimana Ranvier dan Erwin berada. Dia menganggukkan kepala dengan takzim lalu duduk di hadapan Ranvier dan Erwin.


Sejak hari dimana Ranvier ditunjuk menjadi direktur salah satu perusahaan kakek Randu, sejak saat itu lah Erwin dipilih untuk mendampingi Ranvier. Erwin pun tak menolak saat Ranvier memintanya menjadi asisten pribadi.


Dan hari ini adalah hari pertama Erwin menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi Ranvier. Salah satunya adalah memberi masukan pada sahabat sekaligus atasannya itu tentang semua hal yang berkaitan dengan pekerjaaan juga membantu memperingan pekerjaan Ranvier.


" Ini hasil jepretannya tadi Pak...," kata Azam sambil memperlihatkan foto-foto Amanda.


" Bagus Saya suka...," sahut Ranvier.


" Alhamdulillah. Jadi maksud Pak Ranvier...?" tanya Azam.


" Biar Asisten Saya yang ngurus nanti...," sahut Ranvier sambil menoleh kearah Erwin.


" Siap Pak. Ayo Zam, Kita temui mereka sekarang...," ajak Erwin sambil membawa berkas yang harus ditandatangani Amanda.


" Siap Bang...," sahut Azam sambil bergegas mengikuti Erwin.


Ranvier nampak tersenyum melihat kinerja Erwin dan Azam. Dia berharap bisa punya orang dekat yang bisa dia andalkan untuk membantunya memimpin perusahaan sang kakek nanti.


Wajah Amanda dan Mutia tampak berbinar bahagia saat Erwin menyampaikan keinginan perusahaan untuk bekerja sama dengan mereka.


" Ini serius Pak...?" tanya Amanda.


" Serius. Tapi sebagai permulaan, Kami hanya bisa mengontrak Anda selama satu tahun. Kita liat gimana kinerja Anda dan imej yang Anda bangun selama Anda terikat kontrak. Anda paham kan maksud Kami...?" tanya Erwin sambil menatap Amanda dan Mutia bergantian.


" Paham Pak...," sahut Amanda dan Mutia bersamaan.


" Bagus, sekarang Kalian bisa tanda tangan di sini...," kata Erwin.


Kemudian Amanda dan Mutia menandatangani berkas kontrak itu bergantian. Nama Mutia sengaja dicantumkan sebagai manager yang bertanggung jawab pada performa Amanda ke depannya.


Saat Mutia menandatangani kontrak kerja, Erwin pun mengamatinya dengan lekat.


" Kayanya pernah ngeliat cewek ini. Tapi dimana ya...," batin Erwin.


Seolah tersadar sedang diamati, Mutia pun mendongakkan kepalanya. Dan saat itu lah tatapannya dan Erwin bertemu. Entah mengapa Erwin merasa ada sengatan listrik yang menyambar yang memaksanya menjauh.

__ADS_1


" Astaghfirullah aladziim..., apaan sih ini...," batin Erwin sambil membuang pandangannya kearah lain.


Mutia nampak tersenyum tipis saat melihat reaksi Erwin. Ia melanjutkan goresan tangannya. Namun ia hentikan saat ia hanya melihat inisial di bawah tanda tangan direktur perusahaan.


" Maaf. Kenapa di sini hanya inisial dan bukan nama lengkap...?" tanya Mutia.


" Eh, masa sih Ti...?" tanya Amanda seolah baru tersadar.


" Oh ini. Direktur Kami minta namanya dirahasiakan karena satu dan lain hal...," sahut Erwin cepat.


" Tapi Saya ga mau bekerja sama dengan pihak yang ga punya nama jelas. Kalo suatu saat terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kemana Kami harus menuntut tanggung jawab...? " tanya Mutia sambil menatap Erwin lekat.


Di seberang cermin Ranvier nampak tersenyum melihat sikap tegas Mutia. Dengan langkah lebar Ranvier pun bergegas pergi ke ruang sebelah untuk menjelaskan semuanya.


" Apa Anda meragukan perusahaan Kami...?" tanya Erwin tepat saat Ranvier membuka pintu.


" Saya tidak meragukan perusahaan Rajawali, tapi Saya meragukan orang yang bertanggung jawab menangani pekerjaan ini...!" sahut Mutia tak mau kalah.


" Cukup !. Erwin...," panggil Ranvier hingga membuat Erwin dan semua orang menoleh.


" Siap Pak...!" sahut Erwin.


" Berikan kontrak aslinya...," kata Ranvier sambil menatap Amanda dan Mutia bergantian.


" Baik Pak...," sahut Erwin cepat sambil mengeluarkan lembaran kertas lain dari dalam mapnya.


Melihat kehadiran Ranvier di sana membuat Amanda tersenyum lebar, sedangkan Mutia nampak menepi sambil berusaha menghindari tatapan Ranvier.


" Alhamdulillah baik. Akhirnya Kita bertemu lagi Nona Amanda...," kata Ranvier.


" Iya. Dan ini...," ucapan Amanda terputus karena Ranvier memotong cepat.


" Oh ini. Kerja sama ini karena Kamu memenuhi syarat sebagai model yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan Kami. Bukan karena Kita pernah kenalan...," kata Ranvier tegas.


" Ok, Saya paham. Makasih Pak...," sahut Amanda dengan wajah merona karena malu.


Semua orang tampak mengulum senyum karena Ranvier berhasil menyadarkan Amanda tentang pentingnya profesionalitas dalam bekerja.


Saat tiba giliran Ranvier membubuhkan tanda tangan, ia sempat melirik kearah Mutia. Namun Mutia nampak mengalihkan tatapannya kearah lain. Amanda yang melihat itu pun nampak mengepalkan tangannya menahan kesal.


" Senang bekerja sama dengan Kalian...," kata Ranvier sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


" Sama-sama Pak Ranvier. Semoga kerja sama Kita bisa berjalan lancar dan kontrak Saya bisa diperpanjang...," gurau Amanda sambil menjabat tangan Ranvier dengan erat.


Gurauan Amanda membuat semua orang tertawa dan suasana sedikit mencair.


" Aamiin...," sahut Erwin dan Azam bersamaan.


" Dan Anda, Ibu Mutia. Apa tak ingin menjabat tangan Saya...?" tanya Ranvier sambil menatap Mutia lekat.


" Oh iya, maaf Pak. Maaf juga jika ucapan Saya membuat Anda dan staf Anda tersinggung tadi...," kata Mutia sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ga masalah. Saya justru senang bekerja sama dengan orang teliti seperti Anda...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Terima kasih...," kata Mutia.


" Sama-sama...," sahut Ranvier.


Setelah drama yang menegangkan itu, Mutia dan Amanda pun pamit undur diri. Ranvier meminta Erwin mengantarkan mereka hingga ke loby perusahaan.


Saat di dalam lift hanya Amanda dan Erwin yang bicara, sedangkan Mutia memilih diam dan sedikit menarik diri.


" Apa Bu Mutia itu Managermu...?" tanya Erwin setengah berbisik.


" Iya. Kenapa emangnya...?" tanya Amanda.


" Gapapa. Saya pikir dia orang yang terlalu serius dan sulit tersenyum...," sahut Erwin hingga membuat Amanda tersenyum.


" Tapi Saya senang karena itu artinya ga bakal ada cowok yang berani minta nomor telephonnya...," sahut Amanda cepat hingga membuat Erwin tertawa.


" Daripada minta nomor telephonnya, bukan kah lebih baik minta nomor telephon Kamu Amanda...?" tanya Erwin.


Amanda tersenyum, kemudian dengan senang hati memberi kartu namanya kepada Erwin.


Setelah Amanda dan Mutia pergi, Erwin pun bergegas kembali ke ruangan Ranvier. Saat membuka pintu Erwin sudah disodori pertanyaan yang membuatnya terkejut.


" Gimana, dapet apaan Lo tadi...?" tanya Ranvier sambil terus menatap layar lap topnya.


" Apaan sih maksud Lo Vier...," sahut Erwin sambil menarik kursi lalu duduk di hadapan Ranvier.


" Ayo lah Win, Kita tau gimana Lo...," kata Ranvier setengah memaksa.


" Iya iya. Gue emang ga pernah bisa bohong sama Lo. Gue dapat nomor telephonnya Amanda...," sahut Erwin sambil tersenyum.


" Cuma itu...?" tanya Ranvier sambil menatap Erwin lekat.


" Iya cuma itu. Emangnya Lo berharap Gue dapetin nomor telephon managernya juga ?. Jangan mimpi Vier. Pas Gue sama Amanda ngobrol dia malah sibuk sendiri. Kalo ga inget dia rekan bisnis, udah mau Gue katain aja tadi...," sahut Erwin ketus hingga membuat Ranvier tertawa.


" Tapi perasaan Gue waktu ngeliat dia dari deket tuh beda Win. Kenapa ya...?" tanya Ranvier.


" Oh kalo itu sama Vier. Gue juga ga nyaman waktu deket sama dia. Waktu Gue perhatiin dari deket kok kaya pernah ngeliat dia, tapi dimana gitu...," sahut Erwin.


Untuk sesaat Ranvier dan Erwin terdiam dan mencoba mengingat sosok Mutia.


" Vier...," panggil Erwin tiba-tiba.


" Hmmm...," sahut Ranvier.


" Jangan bilang kalo Kita berdua kena peletnya si Mutia, Vier...," kata Erwin cemas.


Dan ucapan Erwin berhasil membuat Ranvier mendengus kesal.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2