
Setelah Bara membawa pergi Kala dan rombongannya, tinggal lah keluarga Kyai Ranggana di sana. Semua orang terdiam sambil saling menatap karena menunggu Kyai Ranggana bicara lebih dulu.
" Sekarang mari Kita selesaikan acara yang tertunda ini...," kata Kyai Ranggana.
" Apa maksud Ayah...?" tanya Arcana.
" Maksud Ayah, Kita wujudkan keinginan Ranvier untuk menikahimu seperti yang dia katakan tadi...," sahut Kyai Ranggana hingga membuat semua orang terutama Arcana dan Ranvier terkejut.
" Suamiku. Yang Ranvier katakan tadi hanya untuk mengalihkan perhatian Kala. Aku yakin dia ga berniat menikahi Arcana. Bukan begitu Ranvier...?" tanya Nyai Ranggana.
" Maaf kalo Saya lancang. Tapi Saya serius dengan ucapan Saya tadi Nyai...," sahut Ranvier sungguh-sungguh.
" Apa...?!" tanya Arcana dan Nyai Ranggana tak percaya.
" Tapi Kalian berbeda Ranvier. Aku tak perlu jelaskan Kamu pasti paham apa maksudku...," kata Nyai Ranggana gusar.
Ranvier nampak tersenyum lalu menatap Arcana sejenak.
" Bukannya tadi Kyai dan Nyai bilang Arcana telah melanggar pantangan ?. Dan yang menyedihkan adalah Arcana ga akan bisa mendapatkan pasangan di sini. Kalo gitu kenapa ga menikah saja denganku dan ikut Aku ke duniaku ?. Aku janji akan membuat Arcana bahagia nanti...," kata Ranvier.
Ucapan Ranvier kembali membuat Kyai Ranggana dan keluarganya terkejut. Sedangkan Arcana nampak membeku di tempat karena tak menyangka Ranvier akan mengatakan itu. Namun Arcana kecewa karena Ranvier melakukan itu hanya karena iba akan nasibnya.
" Akan Aku pikirkan nanti. Sekarang sebaiknya Kamu istirahat dulu Ranvier...," kata Kyai Ranggana sambil tersenyum.
" Damar, tolong antar Ranvier ke kamarnya...," pinta Nyai Ranggana.
" Baik Nyai. Mari Mas...," ajak Damar yang diangguki Ranvier.
Kemudian Ranvier pun melangkah mengikuti Damar. Sebelum melangkah, Ranvier masih sempat melirik kearah Arcana. Gadis itu nampak mematung di tempat tanpa ekspresi hingga membuat Ranvier mengerutkan keningnya.
" Sebelah sini Mas Ranvier...," kata Damar mengingatkan.
" Iya Pak...," sahut Ranvier lalu bergegas mengikuti Damar.
Setelahnya satu per satu keluarga Kyai Ranggana membubarkan diri menyisakan Khai Ranggana, istri dan anaknya.
" Aku ga mau menikah sama Ranvier Ayah...!" kata Arcana tiba-tiba sebelum kedua orangtuanya bertanya kesiapannya.
" Kenapa Nak...?" tanya Kyai Ranggana dengan sabar.
" Ranvier hanya...," Arcana menghentikan ucapannya.
" Hanya apa...?" tanya Nyai Ranggana.
" Hanya kasian sama Aku. Dan Aku ga suka dikasihani...!" sahut Arcana gusar.
__ADS_1
Kyai Ranggana dan istrinya saling menatap sejenak sambil tersenyum.
" Istirahat lah Nak. Sebelum hari ini semua energimu terkuras habis dan itu pasti melelahkan untukmu. Pergi lah, tenangkan dirimu...," kata Nyai Ranggana sambil mengusap kepala Arcana dengan lembut.
" Baik lah. Tapi tolong jangan anggap serius ucapan Ranvier tadi...," pinta Arcana sambil bangkit dari duduknya.
Kyai Ranggana dan istrinya menganggukkan kepala pertanda setuju dengan permintaan Arcana.
Saat Arcana melangkah terlihat gaunnya koyak di beberapa bagian. Kyai Ranggana dan istrinya tersenyum karena tahu apa penyebabnya.
\=\=\=\=\=
Setelah cukup beristirahat Ranvier keluar dari kamar. Saat itu suasana kediaman Kyai Ranggana tampak sepi.
" Sudah bangun Mas...?" sapa istri Damar dengan ramah.
" Iya Bu. Apa kabar Bu, maaf baru sempat menyapa...," kata Ranvier sambil tersenyum.
" Gapapa Mas. Semua orang lumayan tegang tadi, jadi wajar kalo ga sempat menyapa...," sahut istri Damar dengan senyum mengembang.
" Kok sepi ya Bu. Apa ga ada orang di rumah...?" tanya Ranvier.
" Semua tamu udah pulang Mas. Kyai dan Nyai sedang keluar, kalo Mbak Arcana sih tadi ada di kamar. Yang lainnya lagi beresin perlengkapan dekorasi...," sahut istri Damar.
" Kalo gitu Aku cari angin sebentar di luar...," kata Ranvier.
" Iya Bu, makasih...," sahut Ranvier.
Ranvier pun melangkah menuju taman di belakang rumah Kyai Ranggana. Ternyata Arcana juga berada di sana dan sedang berlatih melempar belati.
Dari kejauhan Ranvier mengamati Arcana yang kini telah berganti kostum. Ia kagum melihat lemparan Arcana selalu tepat sasaran. Ranvier pun bertepuk tangan sebagai ungkapan rasa kagumnya hingga membuat Arcana menoleh kearahnya.
" Ranvier...," gumam Arcana.
" Hebat Arcana !. Pantesan semua orangnya Kala ga ada yang bisa lepas dari lemparan sendokmu tadi...," puji Ranvier dengan tulus.
" Apa maksudmu Ranvier...?" tanya Arcana.
" Aku sedang memuji Kamu Arcana...," sahut Ranvier sambil melangkah mendekati Arcana.
" Bukan itu. Kamu tau apa yang Ku maksud...," kata Arcana gusar.
" Tentang lamaran tak resmi itu...?" tebak Ranvier.
" Iya...," sahut Arcana cepat.
__ADS_1
" Seperti yang Kubilang di hadapan kedua orangtuamu tadi. Aku serius dengan niat dan ucapanku, se... ri... us...," sahut Ranvier sambil menegaskan kata serius tepat di depan wajah Arcana.
Arcana membuang pandangannya ke samping dengan wajah merona. Tapi hanya sesaat, karena saat berikutnya Arcana kembali menatap Ranvier dengan berani.
" Aku ga butuh rasa kasihanmu...," kata Arcana ketus hingga membuat Ranvier mengerutkan keningnya.
" Aku ga mengasihanimu Arcana. Jujur Aku tertarik padamu sebagai pria dewasa yang normal. Dan andai bisa, Aku memang ingin menikah denganmu...," sahut Ranvier sambil menatap Arcana dengan tatapan lembut.
" Tapi itu ga cukup Ranvier. Aku juga ingin dicintai dengan tulus...," kata Arcana.
" Aku memang ga bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku Arcana. Yang Aku tau, sejak malam Kamu mendatangiku sejak saat itu Aku selalu memikirkanmu. Aku ingin bertemu denganmu dan Aku... ingin memilikimu. Karena Kamu hidupku kacau Arcana. Aku jadi temperamental, ga sabaran, dan membuat orang-orang di sekelilingku kebingungan. Dan saat melihatmu hampir menikah dengan Kala membuatku marah. Apalagi melihat mereka berusaha menyakitimu tadi...," sahut Ranvier.
Jawaban Ranvier membuat Arcana tersenyum. Ia merasa tersanjung dan bahagia.
" Apa Kamu sungguh-sungguh Ranvier...?" tanya Arcana dengan suara tercekat.
" Iya. Aku harap semua yang Kusebutkan tadi cukup membuktikan bagaimana perasaan yang Aku miliki untukmu Arcana...," sahut Ranvier mantap.
Arcana kembali tersenyum. Setelah menghela nafas panjang Arcana pun mengatakan sesuatu yang membuat Ranvier bahagia.
" Aku juga Ranvier. Hari itu Aku datang dengan niat memarahimu sekaligus ingin meminta bantuanmu. Tapi saat melihatmu pertama kali setelah sekian tahun tak bertemu, Aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Perasaan asing yang menyenangkan. Dan setelah hari itu Aku selalu memikirkanmu, merindukanmu hingga hampir g*la rasanya. Tapi mendengar ucapanmu tadi membuatku takut, Aku takut Kita ga bisa bersama karena perbedaan yang Kita miliki Ranvier...," kata Arcana dengan mata berkaca-kaca.
Ranvier tersentak mendengar ucapan Arcana seolah baru menyadari perbedaan yang ia dan Arcana miliki.
Untuk sejenak Ranvier dan Arcana saling menatap. Dan entah siapa yang memulai, kini keduanya saling berpelukan.
Kyai Ranggana dan istrinya yang menyaksikan interaksi Ranvier dan Arcana dari kejauhan pun hanya bisa terdiam.
" Kenapa kejadian seperti ini terulang lagi...," gumam Nyai Ranggana gusar.
" Cinta itu tak bisa memilih Sayang. Dia datang dan pergi kemana pun dia mau. Tak seorang pun kuasa mengendalikan rasa itu termasuk Kita...," sahut Kyai Ranggana.
" Tapi Aku khawatir Arcana kecewa Sayang...," kata Nyai Ranggana.
" Beri mereka waktu untuk menyelesaikan urusan mereka. Tugas Kita hanya mengarahkan mereka. Pilihan ada di tangan mereka dan semoga itu yang terbaik...," sahut Kyai Ranggana sambil membawa sang istri menjauh dari halaman belakang.
Setelah beberapa saat saling memeluk, perlahan Ranvier dan Arcana sama-sama mengurai pelukan. Arcana pun tersenyum saat Ranvier mengecup keningnya.
Kemudian Arcana mengajak Ranvier duduk di kursi. Tak ada percakapan setelahnya. Keduanya hanya terdiam sambil saling menautkan jemari.
" Ya Allah, Aku tau ini salah. Dunia Kami berbeda dan Kami ga mungkin bersatu. Tapi ijinkan Kami bersama sebentar saja ya Allah...," batin Ranvier sambil mengeratkan genggaman tangannya.
" Wahai pemilik kehidupan, Aku tau ini salah.Tapi biarkan Aku egois kali ini saja. Aku ingin bersama Ranvier walau hanya sebentar...," batin Arcana sambil mengusap matanya yang basah.
Mengetahui Arcana menangis diam-diam, Ranvier pun merengkuh Arcana lalu membawa gadis itu ke pelukannya.
__ADS_1
bersambung