
Saat kembali bertemu Arcana, jantung Ranvier pun berdetak cepat. Ia terpana dengan kecantikan Arcana yang terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dibandingkan saat bertemu dengannya terakhir kali.
Apalagi saat itu Arcana mengenakan pakaian pengantin. Wajah cantiknya pun nampak dipoles sedemikian rupa hingga terlihat berbeda dan jauh lebih cantik.
Entah mengapa Ranvier kembali teringat dengan pertemuan mereka terakhir. Saat itu Ranvier bisa menatap wajah cantik Arcana dari dekat, mendengar suaranya juga menghirup aroma harum yang menguar dari tubuhnya. Dan ketika mengingatnya Ranvier tampak gugup.
Arcana pun tampak tak kalah gugup. Ia terus menunduk seolah tak berani menatap wajah Ranvier seperti yang pernah ia lakukan beberapa waktu yang lalu.
Saat langkahnya tiba di hadapan Ranvier, Arcana pun berhenti. Ia tetap dalam posisi menunduk dan tak berani menatap Ranvier.
" Arcana Sayang. Lihat siapa yang datang...," kata Nyai Ranggana dengan lembut.
Arcana pun perlahan mengangkat wajahnya. Dan saat itu lah tatapannya bertemu dengan tatapan Ranvier yang tersenyum padanya.
" Apa kabar Arcana. Kita ketemu lagi setelah pertemuan Kita terakhir kali beberapa hari yang lalu...," sapa Ranvier sambil tersenyum.
" Beberapa hari yang lalu...?" tanya Kyai Ranggana dengan tatapan menyelidik.
" Iya. Maaf, apa ada yang salah...?" tanya Ranvier tak enak hati karena tak menyangka jika kalimat sapaannya justru menimbulkan masalah baru untuk Arcana.
" Aku bisa jelasin Ayah...," sela Arcana tiba-tiba.
" Bagus. Duduk dan jelaskan sekarang juga...!" perintah Kyai Ranggana.
Arcana pun duduk di kursi tepat di hadapan sang ayah. Saat duduk Arcana harus dibantu oleh dua orang wanita karena gaun pengantin yang ia kenakan sedikit menyulitkannya untuk bergerak.
Ranvier terus mengamati wajah Arcana karena tak mengerti apa yang akan dijelaskan oleh gadis itu.
Kemudian mengalir lah cerita dari bibir Arcana. Alasannya pergi menemui Ranvier adalah karena ia sangat kalut. Padahal masa itu adalah masa dimana Arcana harus menjalani proses pingitan. Jangankan bertemu dengan pria lain, bertemu dengan calon suami pun dilarang.
" Aku terpaksa pergi Ayah. Aku bingung karena ga ada seorang pun yang bisa membantu Aku keluar dari kemelut ini. Aku ga cinta sama Kala dan kematian wanita itu bukan salahku. Terus kenapa harus Aku yang menikah dengannya untuk menggantikan wanita itu. Aku udah bilang kalo ada sesuatu yang Kala sembunyikan tapi Ayah, Ibu dan semua orang ga percaya...," kata Arcana dengan suara bergetar.
" Tapi waktu itu Kamu setuju menikah dengannya Nak...," sela Nyai Ranggana mengingatkan.
__ADS_1
" Aku hanya ingin semuanya cepat selesai Bu. Kalo ga diiyain Kala pasti ngamuk. Aku khawatir karena saat itu ga ada siapa-siapa yang bisa diandalkan di rumah. Padahal Ayah juga lagi sakit. Aku khawatir Kala memperburuk kondisi Ayah makanya Aku setuju...," sahut Arcana.
" Tapi karena Kamu bilang iya, artinya dia bisa mempersiapkan lamaran untukmu. Bayangkan betapa kecewa dan malunya dia andai Kamu membatalkan pernikahan secara sepihak...," kata Nyai Ranggana gusar.
" Maafkan Aku Bu. Aku ga nyangka kalo Kala serius ingin menikah denganku...," sahut Arcana dengan wajah sendu.
" Lalu apa yang Kamu bilang sama Ranvier saat Kalian bertemu...?" tanya Kyai Ranggana.
" Aku ga bilang apa-apa Yah. Aku hanya mengingatkan Ranvier tentang janjinya. Bukan kah dia berjanji datang lagi suatu saat nanti...?" tanya Arcana sambil melirik kearah Ranvier.
Mendengar ucapan Arcana membuat semua orang beralih menatap Ranvier. Sadar dirinya menjadi pusat perhatian, Ranvier pun tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Aku ga tau kalo itu dianggap janji. Saat itu Aku merasa senang dengan sikap Kalian padaku. Jadi tanpa sadar Aku bilang kalo Aku ingin kembali lagi ke sini suatu saat nanti. Apakah niat baik semacam itu bisa dianggap janji...?" tanya Ranvier tak mengert.
" Begini lah dunia Kami Ranvier. Hal sekecil apa pun, selagi itu diniatkan apalagi diucapkan, bisa dianggap janji atau sumpah...," kata Kyai Ranggana.
" Meskipun itu diucapkan oleh anak-anak...? " tanya Ranvier tak percaya.
" Iya. Meski pun diucapkan oleh anak-anak. Tapi tunggu sebentar. Saat itu Kamu bukan anak-anak lagi Ranvier. Kamu sudah remaja, ya setidaknya Kamu sudah bisa memilah sesuatu itu buruk atau tidak untukmu. Jadi janjimu saat itu sudah sepatutnya ditagih...," sahut Kyai Ranggana.
" Meski pun begitu, tindakan Arcana tetap tidak bisa dibenarkan. Kamu telah melanggar pantangan pingitan Arcana. Dan itu bisa berakibat buruk pada pernikahanmu nanti...," kata Kyai Ranggana.
" Akibat buruk seperti apa Ayah...?!" tanya Arcana panik.
" Pernikahanmu bisa batal dengan atau tanpa sebab...," sahut Kyai Ranggana.
Jawaban Kyai Ranggana membuat semua orang saling menatap kemudian tersenyum.
" Memang itu yang Aku inginkan Ayah...!" kata Arcana antusias.
" Apa...?!" tanya Kyai Ranggana sambil menatap sang putri dengan lekat.
" Iya Ayah. Aku memang ga ingin menikahi Kala. Kalo pantangan yang Kulanggar itu bisa membuat Aku lepas dari Kala, Aku sangat bersyukur...," sahut Arcana dengan wajah berbinar.
__ADS_1
" Tapi ada hal lain yang sama buruknya yang bakal menantimu ke depannya Arcana...," sela Nyai Ranggana.
" Sesuatu yang buruk seperti apa Bu. Bahaya kah atau...," ucapan Arcana terputus saat Nyai Ranggana memotong cepat.
" Kamu akan sulit mendapatkan jodoh Nak. Jika suatu saat ada yang datang untuk melamarmu pasti juga akan mengalami kendala yang bisa berbagai macam bentuknya...," kata Nyai Ranggana gusar.
" Maksud Ibu, Aku ga bakal punya Suami seumur hidupku...?!" tanya Arcana.
" Iya Nak...," sahut Nyai Ranggana dengan wajah sendu.
" Aku ga mau Bu. Tolong lakukan sesuatu Ayah...!" pinta Arcana.
" Biar Kupikirkan caranya nanti. Sekarang sebaiknya Kamu kembali dulu ke kamar Arcana...," kata Kyai Ranggana.
" Tapi Ayah...," Arcana masih mencoba merajuk.
" Sekarang Arcana...!" kata Kyai Ranggana tegas.
Nyali Arcana pun menciut mendengar suara lantang sang ayah. Dengan enggan ia pun berdiri lalu melangkah perlahan menuju ke kamar. Sebelum melangkah, Arcana masih sempat melirik kearah Ranvier. Dari tatap matanya tersirat permohonan yang membuat Ranvier bingung harus berbuat apa.
" Bagaimana ini Suamiku...?" tanya Nyai Ranggana saat Arcana telah kembali ke kamar.
Belum sempat Kyai Ranggana menjawab, salah seorang anggota keluarga nampak masuk dengan tergopoh-gopoh. Sikapnya yang tak biasa membuat semua orang bertanya-tanya.
" Maaf Kyai. Rombongan pengantin pria sudah tiba di halaman...," kata pria bertubuh gemuk itu.
Semua orang nampak terkejut dan panik. Kyai Ranggana hanya berdehem lalu bangkit dari duduknya. Ia nampak merapikan pakaian yang ia kenakan lalu meminta pria tadi membawa rombongan pengantin masuk ke dalam rumah.
" Tapi Suamiku...," sela Nyai Ranggana.
" Sssttt..., Kita harus hadapi ini Nyai. Jangan khawatir. Kita pasti bisa menyelesaikan semuanya. Aku pikir harga diri Kala terlalu tinggi untuk menerima kesalahan yang dilakukan Arcana. Kala ga akan mau menerima gadis yang masih menyimpan nama pria lain di hatinya untuk dinikahi...," kata Kyai Ranggana sambil tersenyum penuh makna.
Ranvier yang mengerti maksud ucapan Kyai Ranggana pun berdiri lalu ikut mendampingi Kyai Ranggana menyambut rombongan pengantin pria.
__ADS_1
\=\=\=\=\=