Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
63. Jalan Buntu


__ADS_3

Hari-hari selanjutnya Ranvier kembali ke rutinitas semula, yaitu kuliah.


Bersama Joshua dan Decker ia menemukan sesuatu yang berbeda. Tak jarang mereka bertiga merencanakan sesuatu untuk dilakukan bersama. Mulai dari pekerjaan rumah, hingga pergi ke tempat-tempat wisata sambil mengisi waktu libur.


Sementara itu di Indonesia Akmal tengah mengadakan acara lamaran resmi untuk Amelia. Erwin hadir untuk memberi suport kepada Akmal.


Kini Akmal dan rombongan sudah berada di depan rumah orangtua Amelia. Setelah menyerahkan beberapa barang seserahan, Akmal dan rombongan dipersilakan duduk.


Sambil menunggu kehadiran calon pengantin wanita yang ternyata masih dirias di kamar, maka para tamu disuguhkan makanan ringan.


Sesekali tawa terdengar membahana saat beberapa orang melempar gurauan untuk mengurai ketegangan.


" Gimana rasanya Mal...?" tanya Erwin.


" Deg degan Win. Panas dingin...," sahut Akmal gugup sambil menghapus peluh di keningnya.


" Santai aja kali Mal. Kan ini baru lamaran belum ijab kabul...," kata Erwin sambil tertawa.


" Lo bisa ketawa sekarang Win. Tapi Gue yakin kalo Lo yang jalanin sendiri pasti udah mewek...," sahut Akmal ketus namun membuat Erwin kembali tertawa.


Di sisi lain tampak Kakek Randu duduk di samping ayah Akmal. Ia hadir mewakili Ranvier sekaligus sebagai tamu kehormatan. Di belakang Kakek Randu terlihat Krisna duduk sambil mengawasi keadaan sekelilingnya.


" Foto dulu sebelum ngelamar anak orang Mal...," gurau Erwin sambil mengarahkan layar ponsel miliknya ke wajah Akmal.


" Anjir deket banget sih Win...!" kata Akmal kesal karena kamera ponsel Erwin menempel di wajahnya.


" Jangan bercanda terus Win. Bantu doa dong biar Akmal ga tambah gugup...," kata ibu Erwin mengingatkan sang anak.


" Iya Bu. Aku bercanda biar Akmal ga tegang Bu...," sahut Erwin.

__ADS_1


" Ga tegang sih, tapi jadi senewen Gue...!" sela Akmal sambil mendelik kesal.


Semua orang yang mendengar ucapan Akmal pun tertawa.


Saat sang MC maju ke depan untuk membuka acara, semua tamu pun terdiam. Tak lama kemudian Ayah Amelia pun berdiri untuk memberi kata sambutan.


Setelahnya Kakek Randu nampak bicara mewakili keluarga Akmal. Suasana sangat relaks dan menyenangkan. Hingga kemudian keluar lah Amelia, sang calon pengantin wanita. Semua mata menatap kagum kearah Amelia termasuk Erwin. Bahkan mulut Erwin sampai ternganga saking kagumnya.


" Tutup mulut Lo Win. Ada laron masuk tuh...," kata Akmal sambil menyenggol lengan Erwin.


" Mana ada laron sih Mal...," sahut Erwin setelah menutup mulutnya.


" Lagian segitu kagumnya sama calon Istri Gue, sampe nganga gitu Lo Win...," kata Akmal sambil tertawa geli.


" Tapi cewek Lo emang cantik banget, sumpah. Eh, dia punya adik cewek atau Kakak cewek ga sih. Mau dong Gue dijodohin sama adik atau kakaknya kalo ada. Pasti cantik juga kan kaya dia...," pinta Erwin dengan mimik wajah serius.


" Dih, jangan lah. Apaan sih Lo...!" kata Akmal sambil menggeleng cepat.


" Pokoknya jangan !. Kalo Lo sama adik atau kakaknya Amelia, itu artinya Kita jadi saudara ipar dong. Ga kreatif amat sih Lo Win. Cari Istri kok masih sodaraan sama Gue. Cari cewek lain sana...!" kata Akmal sambil mendorong Erwin agar menjauh darinya.


" Dasar pelit...!" kata Erwin lantang sambil bangkit berdiri dan menjauh dari Akmal.


" Biarin...!" sahut Akmal cepat.


Kemudian Erwin berjalan ke belakang para tamu. Karena semua kursi telah terisi, dengan terpaksa Erwin pun berdiri.


Dari tempatnya berdiri Erwin masih bisa mengamati semuanya termasuk menatap Amelia yang terlihat cantik dan mempesona hari itu.


" Ck, ga nyangka si Akmal yang bocor gitu bisa seberuntung ini nikahin cewek secantik Amelia. Ga pake ngejar-ngejar, ga pake minta tukeran nomor HP, ga pake ribet. Eh dapet calon istri yang nyaris sempurna kaya gitu. Pantesan si Akmal minta nikah cepet. Ga taunya yang namanya Amelia secantik ini toh. Kalo bening kaya gini Gue juga mau dijodohin sama dia...," gumam Erwin sambil berdecak sebal.

__ADS_1


Nampaknya Erwin benar-benar terpesona dengan kecantikan Amelia. Hingga tak sadar Erwin mengabadikan gambar Amelia dengan ponselnya.


Saat sedang asyik mengamati hasil jepretan nya, tiba-tiba Erwin dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang sangat mirip dengan Amelia.


Gadis yang mirip Amelia itu melintas di samping kanan Erwin. Ekor mata Erwin tak sengaja menangkap pergerakan gadis itu yang nampak sibuk dan berkali-kali melintas di sampingnya. Entah sengaja atau tidak, saat gadis itu melintas di samping Erwin, ujung lengan kebayanya yang berwarna magenta itu menyentuh lengan Erwin.


Erwin yang merasa risih pun menoleh kearah gadis itu. Ia hendak menegur gadis itu agar berjalan agak jauh darinya. Namun saat Erwin mengetahui gadis yang akan ditegurnya ternyata memiliki wajah secantik Amelia, dia pun terkejut.


" Cewek ini kenapa mirip banget sama Amelia. Jangan-jangan dia...," gumaman Erwin terputus saat seorang pria menepuk bahu Erwin.


" Maaf Mas, daripada berdiri di sana, lebih baik duduk di sebelah sana aja. Masih ada kursi kosong kok Mas...," kata seorang pria yang nampaknya kerabat Amelia sambil menunjuk kursi kosong yang terletak tak jauh dari Erwin.


" Oh, iya. Makasih Pak...," sahut Erwin sambil tersenyum kemudian bergegas melangkah kearah kursi yang dimaksud.


Saat Erwin duduk, ia sadar jika ia telah kehilangan sosok gadis cantik yang mirip dengan Amelia itu. Erwin pun mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok gadis itu.


" Duh hilang. Udah dicari kemana-mana ga ada juga. Sayang banget belum sempet kenalan udah pergi aja...," gumam Erwin kecewa.


Setah penyerahan simbol pertunangan dari keluarga Akmal kepada Amelia, acara pun dilanjutkan dengan makan-makan. Semua tamu diarahkan pergi ke halaman samping dimana terletak meja prasmanan. Di sana telah tersaji nasi lengkap dengan lauk pauknya.


Bersama dengan para tamu Erwin pun melangkah menuju halaman samping. Harus bersabar karena antrian yang lumayan panjang.


Saat itu lah Erwin kembali melihat gadis yang mirip Amelia ada diantara para kerabat Amelia. Gadis itu terlihat sibuk membantu mengatur hidangan. Dengan cekatan gadis itu menerima wadah berisi lauk lalu meletakkannya di meja.


Erwin pun tersenyum lalu mencoba mendekati gadis itu dan berharap bisa berkenalan dengannya.


Namun saat langkah Erwin hampir tiba di dekat gadis itu, sebuah tepukan di bahu kembali mengejutkannya.


" Mau kemana Mas. Di sana ga ada jalan lho. Itu jalan buntu...," kata seorang pria.

__ADS_1


Erwin terkejut lalu menoleh kearah dimana ia melihat gadis yang mirip dengan Amelia tadi. Ternyata gadis itu tak ada di sana. Yang ada justru kini Erwin sedang berada di ujung jalan buntu yang sepi dan gelap.


bersambung


__ADS_2