
Sementara itu Ranvier juga tengah berada di tempat yang sama dan waktu yang sama dengan Nada.
Bahkan Ranvier nampak kesal karena jalan raya yang lebih padat dari biasanya. Dan itu membuat perjalanannya menuju lokasi pertemuan dengan rekan bisnisnya sedikit tertunda. Ia pun menoleh keluar jendela karena penasaran dengan penyebab kemacetan itu.
" Ada apa sih Pak, tumben padet banget...?" tanya Ranvier.
" Belum tau Mas. Tapi di depan sana banyak polisi dan ada Ambulans juga. Mungkin ada kecelakaan lalu lintas Mas...," sahut Totok.
" Ck, begitu lah kalo ga tertib aturan lalu lintas. Selain dirinya celaka, bikin macet dan merugikan banyak orang...," kata Ranvier sambil berdecak sebal.
" Betul Mas. Biasanya kecelakaan terjadi karena para pengendara ga sabar dan nyalip kendaraan lain. Kalo lagi jam sibuk kaya gini ya emang sulit buat nyalip...," sahut Totok cepat.
" Lagian jalanan milik umum kok mau dikuasain sendiri, ya bisa lah. Yang ada justru malah tambah semrawut. Udah jalanan padat, pengendara ga sabaran, bunyi klakson silih berganti, haahhh... pusing !. Kalo mau jalan Jakarta lengang ya nuggu moment lebaran Idul Fitri. Dijamin jalanan lengang sampe bisa buat kebut-kebutan...," kata Ranvier hingga membuat Totok tertawa.
Perlahan mobil yang dikendarai Totok pun mendekat kearah Ambulans yang terparkir di bahu jalan. Dari dalam mobil Ranvier dan Totok bisa melihat apa yang dilakukan para polisi dan petugas medis di sana.
" Keliatannya korban kecelakaan itu meninggal Mas. Tuh mayatnya masih tergeletak di atas trotoar sambil ditutupin koran...," kata Totok.
" Iya Pak...," sahut Ranvier.
Ranvier pun mengamati pergerakan semua orang dan jenasah Ayu yang ditutupi koran itu. Ia menggelengkan kepala saat melihat arwah Ayu masih berdiri sambil menangis di samping jasadnya.
Seolah sadar jika ada yang bisa melihat wujudnya dan tengah mengamatinya, arwah Ayu pun menoleh kearah Ranvier. Untuk sesaat tatapan keduanya bertemu namun Ranvier segera membuang pandangannya kearah lain.
Dengan cepat arwah Ayu melayang mendekati mobil yang dinaiki Ranvier. Kemudian arwah Ayu menempelkan wajahnya ke kaca mobil tepat di samping Ranvier berada.
Ranvier mencoba mengabaikan kehadiran Ayu dengan berdzikir. Berhasil, arwah Ayu pun terpental jauh dan hilang entah kemana.
" Alhamdulillah...," gumam Ranvier sambil menghela nafas panjang.
Totok yang tak tahu apa pun tersenyum. Ia mengira Ranvier mengucap hamdalah karena berhasil lepas dari kemacetan. Padahal Ranvier baru saja bersyukur karena bisa lepas dati kejaran arwah Ayu.
Mobil pun terus melaju menuju tempat dimana Ranvier akan bertemu dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Malam harinya Totok kembali menempuh jalan yang sama untuk kembali ke rumah. Jika saat berangkat lokasi jenasah Ayu ada di pinggir jalan persis, maka sekarang lokasi tempat jenasah Ayu ditemukan ada di seberang jalan.
Ranvier pun melepaskan jasnya lalu menggulung lengan bajunya. Setelahnya ia bersandar di sandaran kursi. Saat matanya melirik keluar jendela, Ranvier kembali melihat penampakan arwah Ayu.
" Apalagi sih ini. Kenapa wanita itu terus ngikutin Aku...," gumam Ranvier dengan perasaan yang lelah.
" Tolooonngg Akuuu..., sakiiitt... ini sakiiittt...," rintih arwah Ayu menghiba.
Ranvier pun akhirnya mengalah. Ia membuka komunikasi dengan arwah Ayu yang saat itu terus mengikutinya dan menempel erat di pintu mobil.
" Baik lah, apa yang bisa Kubantu...?" tanya Ranvier.
" Toloonngg Akuuu...," sahut arwah Ayu lilrih.
" Iya iya, minta tolong apa ?. Memangnya Kamu siapa dan kenapa ...?" tanya Ranvier.
" Itu aneh. Kenapa Kamu bisa terperangkap di suatu tempat ?. Jangan-jangan Kamu telah melakukan kesalahan fatal...?" tanya Ranvier.
" Aku ga tau, tapi di sini sangat menyakitkan untukku...," sahut arwah Ayu kembali menghiba.
" Menyakitkan ?, apa yang terjadi...?" tanya Ranvier penasaran.
" Aku ingin pulang. Aku takut di sini. Bisa kan Kamu menolong Aku...?" tanya arwah Ayu penuh harap.
Tiba-tiba dari belakang Ayu nampak siluet hitam mendekat. Ranvier hanya bisa menunggu dan melihat apa yang dilakukan makhluk itu. Dan saat Ayu kembali ingin bicara, tangan hitam berukuran besar dan dipenuhi duri milik makhluk itu meraih pundaknya. Ranvier terkejut bukan kepalang saat mengenali sosok hitam berduri itu.
" Dia kan makhluk yang menculik Nada. Apa hubungannya makhluk itu sama wanita ini...?" tanya Ranvier dalam hati.
Arwah Ayu menjerit histeris saat tangan besar makhluk berduri itu mencengkram pundaknya dengan keras. Dan sesaat kemudian di depan matanya Ranvier menyaksikan bagaimana pundak Ayu hancur tak berbentuk dalam cengkraman makhluk hitam berduri itu.
Dan setelah berhasil menghancurkan pundak Ayu, makhluk hitam berduri itu menjambak rambut Ayu lalu menyeretnya dengan kasar. Jerit kesakitan kembali membahana di kegelapan hingga membuat Ranvier bergidik ngeri.
__ADS_1
Ranvier terus menatap arwah Ayu yang menangis dan menjerit itu. Makin lama makin jauh lalu hilang entah kemana. Ranvier pun menghela nafas panjang sambil beristighfar dalam hati.
" Astaghfirullah aladziim..., itu lah akhir yang harus Kamu hadapi. Setelah Kamu memanfaatkan mereka untuk membahagiakanmu di dunia, kini giliran mereka memanfaatkanmu untuk kepentingan mereka. Bedanya jika Kamu hanya bisa memanfaatkan mereka sebentar di dunia, tapi mereka akan memanfaatkan mu selamanya hingga hari akhir tiba...," batin Ranvier sendu.
" Ehm, maaf Mas. Kenapa ngeliat ke sana terus. Apa ada sesuatu ya Mas...?" tanya Totok tiba-tiba hingga mengejutkan Ranvier.
" Ga ada apa-apa kok. Emang kenapa Pak Totok...?" tanya Ranvier.
" Soalnya Saya ngerasa suasana di sini ga enak Mas. Udaranya dingin, pengap dan sepi. Terus Saya juga ngerasa kalo daritadi Kita terus balik lagi ke lokasi ini beberapa kali Mas. Dan ini udah kali ke empat Kita balik lagi ke sini lho Mas...," sahut Totok gusar.
" Masa sih Pak...?" tanya Ranvier tak percaya lalu mengamati keluar jendela.
" Iya Mas. Makanya Saya nanya sama Mas Ranvier barusan. Kali aja Mas Ranvier lagi berinteraksi sama makhluk dari alam sebelah, makanya suasana di sini terasa ga enak dan itu berpengaruh sama Saya...," sahut Totok.
Ranvier menatap ke sekelilingnya lalu mengangguk tanda mengerti.
" Sabar ya Pak, Kita jalan terus aja. Sebentar lagi Kita bakal ngelewatin undakan kecil. Nah setelah Kita ngelewatin itu Kita aman. Ga usah liat kemana-mana, termasuk kaca spion. Ga usah mencoba memantau apa pun yang ada di belakang sana. Fokus aja ke depan supaya Pak Totok ga bingung nanti...," kata Ranvier.
" Kok bingung, maksudnya gimana ya Mas. Kan Saya juga harus ngawasin kendaraan di belakang Kita. Saya justru tambah bingung kalo Mas Ranvier ngelarang Saya liat spion...," sahut Totok sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Tapi emang begitu aturan mainnya Pak. Saat ini Kita ada di labirin ghaib. Supaya ga makin tersesat dan balik ke jalan yang sama berulang kali, sebaiknya Pak Totok ikutin kata Saya aja ya...," pinta Ranvier.
" Baik Mas...," sahut Totok patuh.
" Dan jangan lupa dzikirnya Pak...," kata Ranvier mengingatkan.
" Insya Allah siaapp Mas...," sahut Totok sambil mengacungkan jempolnya tanpa menoleh kearah Ranvier yang duduk di kursi belakang.
Seperti yang dikatakan Ranvier, sesaat kemudian mobil melewati undakan kecil. Dan setelah melewati undakan itu suasana hening yang melingkupi pun berganti secara tiba-tiba. Udara sejuk menerpa dan suara-suara mulai terasa masuk ke gendang telinga.
Totok pun tersenyum dan kembali melajukan mobil dengan kecepatan lebih tinggi karena tak ingin kembali terjebak dalam labirin ghaib.
\=\=\=\=\=
__ADS_1