Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
160. Pencuri Di Kafe


__ADS_3

Kepergian Ranvier yang tiba-tiba membuat Nada kecewa. Namun ia berusaha mengerti dan memutuskan untuk menunggu Ranvier di kamar pengantin mereka.


Saat Nada sedang asyik menatap keluar jendela sambil menikmati pemandangan malam hari di ketinggian, pintu kamarnya diketuk. Nada pun menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.


" Siapa yang datang bertamu selarut ini ?. Apa dia ga tau kalo pengantin baru butuh waktu berdua...," gumam Nada dengan enggan.


Ketukan kembali terdengar namun kali ini disertai suara Kakek Randu yang memanggil namanya. Nada pun terkejut lalu bergegas membuka pintu.


" Kakek...," sapa Nada sambil membuka pintu.


" Ijinkan Kakek masuk Nada. Kita harus bicara, ini penting...!" kata Kakek Randu dengan mimik wajah serius.


" I... iya Kek. Tentu saja boleh. Mari silakan masuk...," sahut Nada gugup sambil menepi untuk memberi ruang kepada kakek Randu masuk ke dalam kamarnya.


" Saya tunggu di luar aja ya Pak...," kata Krisna setelah membantu Kakek Randu duduk.


" Ga perlu. Kamu boleh duduk di sini karena Kamu bisa membantu Saya menjelaskan sesuatu nanti Kris...," sahut Kakek Randu.


" Baik Pak...," sahut Krisna dengan takzim.


Nada hanya bisa menghela nafas panjang karena yakin ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Kakek Randu nanti.


Kemudian Nada mengeluarkan minuman dingin dari kulkas dan meletakkannya di atas meja.


" Maaf Kek, cuma ada ini di sini...," kata Nada sambil tersenyum.


" Gapapa Nak. Duduk lah...," pinta Kakek Randu.


Nada pun duduk lalu menatap Kakek Randu lekat.


" Begini Nada. Kakek tau apa yang terjadi denganmu dan Ranvier dan kemana Ranvier pergi sekarang...," kata Kakek Randu.


" Kakek tau...?" tanya Nada gusar.

__ADS_1


" Iya. Dan Kamu ga usah menyembunyikan apa pun karena itu percuma...," kata Kakek Randu.


" Maaf Kek. Aku hanya merasa apa yang Bang Ranvier lakukan sekarang pasti ada alasannya. Tolong jangan marahi dia saat dia pulang nanti ya Kek...," pinta Nada.


" Tapi ini ga benar Nada. Masa di malam pengantin Kalian dia justru pergi meninggalkan istrinya sendirian !. Ini sama aja dia ga menghargai pernikahan Kalian. Kalo pun harus pergi, dia bisa pamit baik-baik. Paling ga, titipkan Kamu sama Kakek selama dia pergi. Kakek ga keberatan menjaga Kamu kok...!" sahut Kakek Randu gusar.


Nada terdiam. Dalam hati ia membenarkan apa yang diucapkan Kakek Randu. Tak seharusnya Ranvier pergi meninggalkannya sendirian, tanpa pamit, apalagi dilakukan di malam pengantin mereka.


Setelah melepaskan kekesalannya, Kakek Randu pun menatap Nada.


" Maafkan Ranvier ya Nak. Tolong jangan tinggalkan dia...," pinta Kakek Randu sungguh-sungguh.


" Kenapa Kakek ngomong kaya gitu ?. Aku ga bakal ninggalin Suamiku hanya karena hal ini Kek...," sahut Nada.


" Alhamdulillah, Kakek senang dengernya. Makasih ya Nak. Makasih atas pengertianmu. Ternyata selama ini Kakek ga salah menilai Kamu...," kata Kakek Randu sambil mengusap kepala Nada dengan lembut.


" Sama-sama Kek. Sejak ingatanku pulih, Aku berusaha mengerti kalo Bang Ranvier punya koneksi khusus dengan dimensi lain dan bisa pergi ke sana kapan pun. Walau Aku kaget karena ga nyangka dia bakal pergi ninggalin Aku di malam pengantin Kami, tapi Aku percaya sama Bang Ranvier. Pasti ada sesuatu yang memaksanya pergi ninggalin Kita di sini...," sahut Nada dengan suara bergetar.


" Tapi seharusnya dia bisa pamit sebelum pergi ke sana. Cuma itu yang Kakek sesali Nak. Karena Kita ga akan tau berapa lama Ranvier pergi...," kata Kakek Randu sambil tersenyum getir.


" Jadi, daripada menunggu Ranvier di sini, lebih baik Kamu ikut pulang ke rumah Kakek Nak...," kata Kakek Randu.


" Tapi gimana kalo Bang Ranvier balik ke sini dan ga ngeliat Aku di sini Kek...?" tanya Nada cemas.


" Dia tau dimana harus menemuimu nanti. Gimana, apa Kamu setuju pulang sekarang...?" tanya Kakek Randu.


Nada nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.


" Baik lah. Aku setuju. Aku bakal ikut Kakek pulang dan nunggu Bang Ranvier di rumah aja...," sahut Nada hingga membuat Kakek Randu tersenyum.


" Bagus. Kalo gitu Kamu berkemas sekarang, Kami tunggu Kamu di loby ya Nak...," kata Kakek Randu yang diangguki Nada.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sudah lima bulan Ranvier pergi. Dan selama itu Nada, Kakek Randu dan semua orang tetap melakukan aktifitas mereka seperti biasa.


Nada yang semula kerja di kafe XX pun kini telah resign. Kakek Randu justru memberikan usaha sejenis kepada Nada.


" Terima ini Nak. Kamu bukan hanya sekedar pelayan kafe, tapi Kakek mau Kamu juga mengelola kafe ini. Kamu bisa lakukan kebijakan apa pun di sini karena Kamu pemiliknya...," kata Kakek Randu saat Nada masih takjub dengan kafe baru yang disiapkan untuknya.


" Tapi Kek, Aku ga pandai berbisnis. Aku khawatir kafe ini malah bangkrut nanti...," sahut Nada.


" Itu ga mungkin terjadi. Ayahmu dan Aku adalah pebisnis. Kami akan mendidik Kamu agar bisa jadi pebisnis handal nanti...," kata Kakek Randu.


" Betul Nada. Terima saja, Ayah tau Kamu udah lama mendambakan punya kafe seperti ini kan. Ayah yakin jiwa bisnis mengalir di dalam darahmu. Makanya waktu Kakek Randu menanyakan pendapat Ayah tentang rencana membangun bisnis kafe untukmu, Ayah langsung setuju...," sela Wijaya sambil tersenyum.


" Baik lah. Karena Kakek dan Ayah percaya padaku, insya Allah Aku akan mengelola kafe ini sebaik mungkin. Makasih Kakek, makasih Ayah...," sahut Nada.


Dan di tangan Nada kafe itu berkembang pesat. Banyak pihak yang tertarik bergabung dengan usaha Nada untuk mempromosikan produknya. Nada pun menyambut baik setiap tawaran yang datang dan kini kafe tengah bersiap meluncurkan produk baru.


Saat Nada tengah sibuk memantau pekerjaan para karyawannya, tak sengaja ia melihat sekelebat bayangan menyelinap masuk ke dalam ruang kerja pribadinya.


" Kalian lanjutkan pekerjaan, Saya ke atas sebentar...," kata Nada pada karyawannya.


" Baik Bu...," sahut para karyawan bersamaan.


Kemudian Nada bergegas naik ke lantai atas dimana ruang kerjanya berada. Nada membekali diri dengan alat kejut listrik berukuran kecil yang selalu dibawanya kemana-mana dan kini tengah digenggam erat di tangannya. Nada tak mau ambil resiko karena ia juga pernah mendengar pencuri yang justru nekad menggunakan kekerasan untuk menyelamatkan diri saat aksinya ketahuan.


" Ya Allah, mudah-mudahan Aku salah liat aja tadi. Semoga ini bukan pencuri..., " batin Nada penuh harap.


Nada tiba di depan ruang kerjanya. Jantung Nada berdebar cepat saat mendapati pintu ruangannya baru saja tertutup pertanda ada seseorang atau sesuatu yang baru saja menyelinap masuk.


" Bismillahirrahmanirrahim..., " gumam Nada lalu segera mendorong pintu.


Tak ada siapa pun yang terlihat. Meski pun begitu Nada tetap siaga. Ia terkejut saat sebuah sabetan benda tajam keluar dari balik pintu. Mengetahui dirinya diserang, Nada pun murka dan membalas serangan itu.


Perkelahian satu lawan satu pun tak terelakkan. Namun rupanya kemampuan pencuri itu berada jauh di bawah Nada karena Nada berhasil menekannya hingga pencuri itu tak berkutik. Saat Nada hampir berhasil menarik lepas penutup wajah si penyerang, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2