
Setelah berhasil menenangkan Nada, Daeng Payau pun keluar dari kamar lalu menemui Kakek Randu.
" Gimana Daeng...?" tanya Kakek Randu tak sabar.
" Untuk sementara Nada bisa istirahat Pak. Tapi cuma sebentar...," sahut Daeng Payau setelah meneguk air putih yang disajikan Mbok Rah.
" Kenapa cuma sebentar...?" tanya kakek Randu tak mengerti.
" Makhluk yang merasuki Nada adalah makhluk dengan level lebih tinggi. Dia punya kemampuan datang dan pergi dengan cepat. Dia juga bisa merasuk ke dalam tubuh seseorang berkali-kali sesuai keinginannya. Tugas utamanya belum selesai, maka Saya yakin dia pasti kembali nanti. Dan Saya khawatir, saat dia kembali dia justru membawa kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya...," sahut Daeng Payau.
" Ya Allah. Jadi Kita harus gimana Daeng...?" tanya kakek Randu.
" Bapak ga usah khawatir. Saya masih bisa menghandle makhluk itu sampe Ustadz Rahman dan Ranvier datang nanti...," sahut Daeng Payau sambil tersenyum.
" Aku percaya. Tapi itu artinya Kamu harus mengeluarkan tenaga extra karena melawan makhluk itu sendirian Daeng...," kata Kakek Randu cemas.
" Insya Allah Saya baik-baik aja Pak. Makasih udah mengkhawatirkan Saya...," kata Daeng Payau sàmbil tersenyum.
" Iya iya. Saya emang ga ngerti apa-apa soal hal ghaib. Tapi Saya minta Kamu berhati-hati Daeng. Saya ga mau dan ga siap kehilangan Kamu...," kata kakek Randu sambil menatap Daeng Payau dengan tatapan tajam.
Saat Daeng Payau hendak menjawab pernyataan kakek Randu, ponselnya tiba-tiba berdering. Daeng Payau bergegas meraih ponsel dari saku tasnya lalu tersenyum melihat nama Ranvier di layar ponselnya itu.
" Assalamualaikum Ranvier...," sapa Daeng Payau.
" Wa alaikumsalam..., Paman dimana sekarang...? " tanya Ranvier.
" Lagi di rumah Kakek Randu. Kenapa Vier...?" tanya Daeng Payau sambil melirik kakek Randu.
" Terus gimana Paman. Apa ada yang buruk yang terjadi sama Nada...?" tanya Ranvier.
" Begitu lah, tapi Alhamdulillah Nada udah tenang sekarang...," sahut Daeng Payau.
" Tapi feeling Aku kok ga enak ya Paman...?!" kata Ranvier gusar hingga membuat Daeng Payau dan kakek Randu saling menatap penuh makna.
" Kamu selesaikan saja dulu pekerjaanmu itu Vier. Setelah itu Kamu pulang, ga usah mampir kemana-mana dulu ya...," pinta Daeng Payau.
__ADS_1
" Insya Allah sebentar lagi Saya pulang karena kerjaan di sini juga hampir selesai...," sahut Ranvier.
" Bagus. Sebentar lagi Ustadz Rahman juga datang, beliau lagi di perjalanan sekarang...," kata Daeng Payau sambil tersenyum.
" Baik Paman. Kalo gitu Aku lanjutin kerjaan dulu, abis itu Aku pulang...," sahut Ranvier di akhir kalimatnya.
Kakek Randu pun tersenyum mengetahui Ranvier dan Ustadz Rahman akan segera datang untuk membantu Daeng Payau.
\=\=\=\=\=
Ayu masih terbaring di atas tempat tidur saat Wijaya sedang bersiap untuk berangkat kerja. Wajahnya pucat dan tubuhnya pun lemah. Namun saat Wijaya menawarkan diri untuk mengantarnya berobat ke Rumah Sakit, Ayu menolak.
" Ga usah Sayang. Aku ga sakit kok. Paling cuma kecapean aja ngurus rumah...," kata Ayu.
Ucapan Ayu membuat Wijaya mengerutkan keningnya.
" Ngurus rumah ?, bukannya semua udah dikerjain sama Siti ya...?" tanya Wijaya.
" Iya sih. Tapi Siti kan kerjanya ga beres, makanya masih harus sering dikontrol. Kalo ga, dia bisa semaunya aja ngerjain kerjaan rumah. Kadang yang di dapur beres, tapi di halaman ga. Kadang lantai bersih, tapi cucian piring malah numpuk. Aku kan jadi kesel ngeliatnya. Nah, kalo Aku udah ngomel baru deh Siti sigap kerjanya...," sahut Ayu cepat.
Ayu pun bangkit dari posisi berbaringnya saat ia melihat Wijaya hendak memasang dasi. Ia pun turun dari tempat tidur lalu menghampiri Wijaya.
" Sini Aku bantu...," kata Ayu sambil meraih dasi dari tangan Wijaya.
Wijaya pun tersenyum dan membiarkan Ayu melakukan tugasnya.
" Mmm..., apa ga sebaiknya Kita pecat Siti dan cari asisten lain Sayang...," kata Ayu dengan manja namun membuat Wijaya tak nyaman.
" Cari asisten baru tuh ga gampang Sayang. Walau kerjaan Siti sekarang ga sebagus dulu, tapi Siti itu setia dan bisa diandalkan. Apalagi Siti kan udah lama kerja di sini...," sahut Wijaya.
" Siti itu udah lumayan berumur. Dia jadi lelet dan ga sigap lagi. Aku butuh asisten rumah tangga yang masih muda, sigap, kuat dan ga suka membangkang kaya dia...!" kata Ayu kesal.
" Iya iya. Kita bahas ini lagi nanti kalo Aku udah pulang kerja ya. Aku harus berangkat sekarang karena udah janji mau ketemu sama rekan bisnis di kantor...," kata Wijaya mencoba mengalihkan perhatian.
" Kan tinggal bilang iya aja apa susahnya, ntar Aku yang nyari gantinya Siti...," kata Ayu merajuk.
__ADS_1
" Ga segampang itu lah Sayang. Tapi Aku mohon, sampe Kita omongin lagi nanti, jangan sekali pun Kamu pecat Siti. Ok Sayang...?" tanya Wijaya penuh penekanan hingga membuat Ayu sedikit terkejut.
" O... ok...," sahut Ayu gugup.
" Bagus. Aku pergi dulu ya. Bye Sayang...," kata Wijaya sambil mengecup pipi Ayu sekilas.
Ayu mengerjapkan mata saat melihat Wijaya bergerak cepat meninggalkan kamar. Ayu masih tak percaya jika ia baru saja mendapat penolakan dari suaminya.
" Apa Aku ga salah denger. Wijaya nolak permintaan Aku...?!" gumam Ayu tak percaya.
Ayu pun menoleh lalu bergegas mendekati jendela saat mendengar suara deru mobil meninggalkan pekarangan rumah. Ayu melambaikan tangannya namun sayang Wijaya tak memberi respon. Entah karena Wijaya memang tak melihat atau karena Wijaya sengaja mengabaikannya.
Ayu menghela nafas panjang. Ada perasaan kesal menggelayuti hatinya saat menyadari sikap Wijaya yang sedikit berbeda.
Ayu pun menutup gorden jendela lalu membalikkan tubuhnya.
Tiba-tiba Ayu merasa sakit di bagian organ int*mnya. Ayu pun meringis lalu bergegas duduk di atas kursi untuk meredakan rasa sakitnya.
Entah mengapa Ayu kembali teringat dengan persetu**hannya dengan makhluk dari kegelapan itu. Ayu mengusap wajahnya dengan kasar mengingat saat-saat ia harus melayani makhluk itu di atas tempat tidur yang ada di hadapannya.
Walau saat itu kondisi kamar dalam keadaan gelap, namun Ayu tahu bagaimana wajah makhluk kegelapan itu. Karena sesaat sebelum jatuh pingsan, Ayu sempat melihat penampilan makhluk yang hitam dan berduri di seluruh permukaan kulitnya itu.
Ada air mata jatuh di sudut mata Ayu mengingat betapa tersiksanya dia saat harus melayani hasrat liar makhluk kegelapan itu. Ia hanya bisa merintih dan menangis saat makhluk itu bergerak liar di atas tubuhnya. Apalagi itu dilakukan berkali-kali hingga Ayu mengira organ int*mnya hancur karena ulah makhluk kegelapan yang berduri itu. Jika boleh memilih rasanya Ayu ingin mati saja saat itu.
" Kepar*t, sia*an. Kenapa makhluk itu ga membiarkan Aku pingsan aja saat dia menggaul*ku. Kenapa harus membuatku siuman saat dia menyiksaku...," gumam Ayu sambil mencekal lengan kursi dengan kuat.
Ayu mendongakkan wajahnya ke atas agar bisa meraup udara sebanyak-banyaknya. Ayu berusaha menepis bayangan kelam dan rasa sakit yang ia rasakan secara bersamaan.
" Gapapa Ayu. Semua pengorbananmu ga sia-sia. Sebentar lagi semua akan jadi milikmu dan berjalan seperti kemauanmu...," gumam Ayu sambil tersenyum.
Setelah mengatakan itu Ayu pun bangkit lalu melangkah ke kamar mandi. Tanpa Ayu sadari ada darah yang menetes keluar dari organ int*mnya yang terluka itu. Tetesan darah itu membentuk satu garis berwarna merah sejajar dengan langkahnya yang menuju ke kamar mandi.
Namun tetesan darah itu lenyap tanpa bekas sesaat kemudian, seolah ada sesuatu di lantai yang menghisapnya dengan kuat.
\=\=\=\=\=
__ADS_1