Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
22. Menghukum Tissa


__ADS_3

Kemudian Ranvier menjelaskan apa yang harus ibu Tissa lakukan.


" Kan tadi Saya udah bilang. Selain jangan meratapi kepergian Kak Tissa, Ibu juga harus mengembalikan barang milik Kak Tissa...," kata Ranvier mengingatkan.


" Mengembalikan barang milik Tissa...," gumam Ibu Tissa bingung.


" Iya Bu. Coba Ibu inget lagi, barang apa yang Ibu atau keluarga Ibu ambil dari Kak Tissa. Soalnya kalo hanya barang biasa mustahil Kak Tissa masih gentayangan di sekitar Kita Bu...," kata Ranvier.


Ibu Tissa nampak berpikir keras namun akhirnya ia menggelengkan kepalanya karena tak tahu barang apa yang dimaksud Ranvier.


" Maaf kalo lancang. Tadi arwah Kak Tissa sempet menampakkan diri lagi. Dia nunjuk kearah kamar itu...," kata Ranvier sambil menunjuk kamar yang pintunya ditutup gorden.


Ibu Tissa dan ibu Tomi menoleh kearah kamar yang ditunjuk Ranvier. Seolah ingat sesuatu, ibu Tissa pun bangkit lalu melangkah cepat kearah kamar itu.


Ranvier dan ibu Tomi pun duduk menunggu di ruang tamu dengan sabar. Beberapa saat kemudian ibu Tissa keluar dari kamar sambil membawa sebuah peti kayu berukuran kecil.


" Saya ga nemuin barang Tissa di kamar, tapi Saya nemu peti ini di sana. Mungkin di dalam peti ini ada sesuatu yang bikin Tissa ga bisa pergi dengan tenang...," kata ibu Tissa sambil meletakkan peti kayu kecil itu di atas meja.


Saat semua orang fokus dengan peti itu, tiba-tiba ponsel Ranvier berdering. Ranvier pun tersenyum saat melihat nama 'Paman Daeng' di layar ponselnya.


" Assalamualaikum Ranvier...," sapa Daeng Payau dari seberang telephon.


" Wa alaikumsalam Paman. Kebetulan banget Paman telephon. Aku lagi ada di rumahnya Kak Tissa ditemenin Ibunya Bang Tomi nih. Ada Ibunya Kak Tissa juga di sini...," kata Ranvier.


" Oh ya. Apa Ibunya Tissa menemukan sesuatu di rumahnya...?" tanya Daeng Payau.


" Ada Paman, sesuatu itu bentuknya peti kecil terbuat dari kayu. Sekarang Kami bingung harus ngapain peti ini...," sahut Ranvier.


" Dibuka dong Vier, kok malah bingung sih...," gurau Daeng Payau.


" Aku tau. Tapi ada efeknya ga buat yang buka peti itu Paman. Kan kalo di film-film biasanya isi peti bikin semua orang yang ada di sekitarnya jadi batu...," kata Ranvier ragu hingga membuat Daeng Payau tertawa.


" Insya Allah gapapa Vier. Kalo Kamu ragu, biar Paman bantu dari sini ya. Tapi Kamu harus ijin dulu sama Ibunya Tissa, boleh ga kalo Kamu yang ngebuka peti itu. Kalo bisa Kita video call aja ya Vier...," sahut Daeng Payau.


Ranvier pun menatap ibu Tissa untuk meminta ijin. Ibu Tissa nampak menganggukkan kepala tanda setuju. Setelahnya Ranvier melakukan video call dengan Daeng Payau dan mulai mengikuti arahannya.

__ADS_1


" Baca ta'awudz dan bismillah Vier, terus dzikir yang banyak. Setelah itu buka peti sambil terus sholawat...," kata Daeng Payau yang diangguki Ranvier.


Ranvier pun mengikuti arahan Daeng Payau. Sedangkan di sampingnya ibu Tissa dan ibu Tomi nampak mengamati dengan jantung berdebar.


Peti berhasil dibuka dan memperlihatkan isinya yang membuat Daeng Payau mengusap wajahnya. Ranvier dan dua wanita di sampingnya nampak hanya tertegun karena tak mengerti benda apa yang menghuni peti itu.


" Ini apa Paman...?" tanya Ranvier sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh benda itu.


" Jangan disentuh Vier...!" kata Daeng Payau dengan lantang hingga mengejutkan Ranvier.


" Duh, Paman ngagetin aja sih...," sahut Ranvier.


" Iya maaf. Tapi jangan disentuh langsung, Kamu harus pake plastik atau kain untuk menyentuhnya...," kata Daeng Payau.


" Pake ini aja Nak...," sela ibu Tissa sambil mengulurkan ujung taplak meja.


Ranvier pun menggunakan taplak meja untuk menyentuh benda di dalam peti itu. Ranvier nampak meringis saat mengangkat benda itu dan memperlihatkannya kepada ibu Tissa dan ibu Tomi.


" Ini rambut kan...?" tanya ibu Tomi ragu.


" Jadi ini...," ucapan ibu Tissa terputus saat sebuah suara memotong ucapannya.


" Betul Bu. Bapak sengaja motong kulit kepala Tissa untuk kenang-kenangan...," kata bapak Tissa dari ambang pintu.


" Astaghfirullah aladziim. Kenapa begitu Pak ?. Apa Bapak tau kalo selama ini Tissa gentayangan mengganggu warga...?" tanya ibu Tissa tak percaya.


" Bapak tau...," sahut bapak Tissa lirih.


" Apa Bapak pernah ketemu penampakan Tissa juga...?" tanya ibu Tomi.


" Memang itu tujuannya kok. Saya ga rela Tissa pergi. Makanya Saya sengaja motong sedikit kulit kepala beserta rambutnya untuk disimpan supaya Tissa datang ke rumah ini...," sahut bapak Tissa dengan santai.


Ucapan bapak Tissa membuat tiga orang di hadapannya itu menggelengkan kepala.


" Tissa tersiksa karena ulah Bapak. Dia ga bisa pergi menghadap Allah karena tubuhnya ga lengkap. Bagian tubuhnya yang Bapak tahan itu udah bikin Tissa kesakitan dan terlunta-lunta di alam lain. Apa Bapak ga kasian sama anak Bapak...?" tanya Daeng Payau dari seberang telephon.

__ADS_1


" Siapa Kamu ?. Kenapa ikut campur urusan keluarga Saya...?!" tanya bapak Tissa marah.


" Sabar Pak. Apa yang dibilang sama Pak Daeng itu benar. Tolong akhiri semuanya sekarang. Kasian Tissa...," kata ibu Tissa menghiba sambil memeluk suaminya.


" Apa-apaan sih Bu, lepasin ga. Bapak begini karena Bapak sayang sama Tissa...!" sahut bapak Tissa lantang.


" Tapi Tissa menderita di sana Pak...," kata ibu Tissa.


" Biarin aja. Apa Ibu pikir cuma Tissa yang menderita ?, Bapak juga Bu. Bayangkan betapa malu dan kecewanya Bapak gara-gara ulah Tissa. Kok bisa-bisanya dia menyembunyikan penyakitnya dan mati sebelum hari pernikahan...!" sahut bapak Tissa kesal.


" Astaghfirullah aladziim Bapak...!" kata ibu Tissa sambil menggelengkan kepala.


" Ga usah istighfar terus Bu. Bapak tau kok kalo Bapak ini salah. Tapi Bapak ngelakuinnya untuk menghukum Tissa. Jangan dia kira setelah dia mati dia bebas dari hukuman. Sekarang Bapak puas karena udah bisa menghukumnya lagi. Jadi Tissa tersiksa di alam sana ya karena ulahnya sendiri...!" sahut bapak Tissa sambil tersenyum samar.


Ibu Tissa pun menangis sedangkan ibu Tomi nampak berusaha membujuk. Tak jauh dari kedua wanita itu tampak Ranvier berdiri mematung karena tak tahu harus berbuat apa.


" Baik lah. Kalo Bapak bersikeras dengan kemauan Bapak, lebih baik Ibu pergi sekarang juga...," kata ibu Tissa tiba-tiba.


" Apa maksud Ibu...?" tanya bapak Tissa.


" Aku mau Kita cerai Pak...," sahut ibu Tissa sambil bergegas masuk ke dalam kamar.


Ucapan ibu Tissa mengejutkan suaminya. Ia mengejar sang istri dan memohon agar ibu Tissa menarik ucapannya.


" Aku ga mau hidup serumah sama orang egois dan sakit jiwa kaya Kamu Pak. Selama ini Aku cukup sabar. Tapi ngeliat Kamu tega nyakitin anakmu yang udah meninggal dunia, Aku ga sanggup lagi. Daripada Aku ikut g*la, lebih baik Aku mundur dan Kita cerai...!" kata ibu Tissa lantang.


" Jangan pergi Bu. Tolong jangan pergi...," pinta bapak Tissa menghiba tapi sang istri nampak tak peduli.


Melihat sikap serius sang istri, bapak Tissa pun panik. Akhirnya bapak Tissa mengalah dan menuruti permintaan istrinya itu.


" Iya iya. Aku bakal balikin semuanya nanti sama Tissa. Tapi Kamu janji ga pergi ya Bu...," kata bapak Tissa.


Ucapan bapak Tissa membuat ibu Tissa tersenyum. Ranvier dan ibu Tomi yang mendengarnya pun ikut tersenyum.


Setelah setuju berdamai, kedua orangtua Tissa kembali ke ruang tamu untuk menemui Ranvier dan ibu Tomi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2