
Usai makan malam, Ranvier cs pun kembali ke hotel untuk istirahat.
" Kalian tidur sekamar bertiga...?" tanya Tomi saat mereka tiba di loby hotel.
" Iya Bang...," sahut Akmal.
" Aneh, kenapa ga milih tidur sendiri aja. Jadi kan bisa puas nikmatin aja fasilitas di sini...," kata Tomi.
" Ga seru lah Bang. Jarang-jarang sih bisa nginep di hotel mewah kaya gini. Tapi sayang juga ngelewatin waktu tanpa Ranvier dan Erwin. Setelah ini Kita pasti jarang ketemu karena sibuk sama urusan masing-masing. Ranvier mau kuliah, kalo Erwin mau kerja, kalo Gue paling lanjutin usaha Bokap. Makanya mumpung masih ada waktu, ya Kita kumpul aja di satu kamar sambil melakukan sesuatu yang menyenangkan...," sahut Akmal sambil menatap Ranvier dan Erwin yang berjalan di depannya.
" So sweet banget sih hubungan Kalian ini. Moga-moga awet ya. Tapi Kalian masih mau temenan kan...?" tanya Tomi.
" Insya Allah Bang. Susah juga hari gini nyari temen kaya Ranvier dan Erwin. Orangnya ga sensian, cuek, seru, sefrekuensi lah sama Gue. Satu lagi, pinter nyimpen rahasia. Ya kaya si Ranvier ini. Temenan tiga taon tapi baru sekarang Gue tau kalo dia cucunya Kakek Randu si pengusaha hebat itu...," kata Akmal sambil terbawa.
Tomi pun ikut tertawa mendengar ucapan Akmal. Ranvier dan Erwin nampak menoleh saat mendengar kedua orang di belakangnya tertawa. Namun keduanya hanya tersenyum sambil terus berbincang.
" Bang Tomi siapa Lo sih Vier. Kok deket banget kayanya...," kata Erwin.
" Dia salah satu karyawan Kakek yang tugasnya ngawasin dan jagain Gue. Ya kaya sekarang ini...," sahut Ranvier.
" Tapi tampangnya kaya preman gitu Vier. Gue aja sampe segen liatnya...," kata Erwin.
" Emang itu tujuannya. Kakek sengaja naro orang di sekitar Gue dengan tampang yang bikin orang mikir seribu kali kalo mau macem-macem...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
" Dia bisa berantem ga Vier...?" tanya Erwin.
" Bisa dong. Lo liat aja penampilannya. Masa kaya gitu aja Lo ga paham...," sahut Ranvier.
" Ya bukan salah Gue ngomong kaya gitu. Kan jaman sekarang udah edan. Orang macho tapi kelakuan kaya cewek juga banyak...," kata Erwin sambil mendengus kesal.
__ADS_1
" Jadi Lo pikir Bang Tomi homreng Win...?!" tanya Ranvier.
" Sssttt..., apaan sih Lo Vier. Sengaja ya mau bikin Bang Tomi marah sama Gue terus dia ngamuk dan mukulin Gue...?" tanya Erwin sambil membekap mulut Ranvier dengan kedua telapak tangannya.
" Lepasin Win, apaan sih...," kata Ranvier sambil mendorong tubuh Erwin agar menjauh darinya.
Di belakangnya Tomi langsung sigap melerai Ranvier dan Erwin. Ia nampak menatap Erwin dengan tatapan tajam hingga membuat nyali Erwin menciut.
" Ada apa Vier...?" tanya Tomi.
" Ga ada apa-apa Bang. Cuma bercanda aja kok. Iya kan Vier...," sahut Erwin cepat sambil menatap Ranvier penuh harap.
" Mmm..., Iya sih. Tapi kan Lo tadi nyakitin Gue Win...," kata Ranvier dengan mimik wajah memelas.
" Apa...!" kata Tomi lantang lalu menarik kerah baju Erwin sambil bersiap melayangkan tinjunya ke wajah Erwin.
" Eh, jangan Bang. Gue sama Erwin emang lagi bercanda aja kok. Udah lepasin dia. Kasian mukanya udah pucet kaya gitu. Ntar kalo di shock terus kejang-kejang malah bingung lho Bang...," kata Ranvier sambil tersenyum.
Ranvier, Akmal dan Tomi pun tertawa melihat reaksi Erwin.
" Sia*an, jadi Lo berdua ngerjain Gue...?!" kata Erwin setelah sadar dirinya ditertawai.
" Jadi Lo nginep di sini juga kan Bang ?. Kita sekamar aja biar seru...," kata Ranvier sambil menoleh kearah Tomi.
" Terserah Lo aja Vier. Asal ga mengganggu, Gue sih Ok aja...," sahut Tomi.
" Ok. Kalo gitu Kita pilih kamar Presiden suite aja biar puas guling-guling..., " kata Ranvier sambil bergegas menuju meja receptionist.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Malam itu Ranvier cs menghabiskan malam dengan melakukan permainan seru. Mereka juga bernyanyi dan tertawa.
Hingga saat menjelang pukul dua dini hari satu per satu pun tumbang dan tertidur. Tomi adalah orang terakhir yang menyerah melawan kantuk.
Saat itu posisi mereka tidur tidak berkumpul di satu tempat tidur melainkan menyebar.
Tempat tidur yang berukuran king size itu dikuasai Erwin. Sejak awal ia tak ingin berbagi dengan yang lain. Makanya saat tertidur Erwin sengaja tak menyisakan tempat untuk tiga orang lainnya.
Sedangkan Akmal memilih tidur di sofa besar di depan televisi. Jika kedua sahabatnya menempati tempat terbaik, Ranvier justru tidur di lantai yang beralaskan karpet bulu tebal.
Tomi nampak menggelengkan kepala menyaksikan Ranvier dan dua sahabatnya tertidur karena kelelahan. Setelah memadamkan televisi, Tomi pun melangkah ke balkon. Ia memilih merebahkan diri di kursi panjang yang ada di sana. Tak lama kemudian Tomi pun tertidur setelah lelah menatap bulan.
Suasana di dalam kamar nampak sepi dan tenang. Tak ada suara apa pun kecuali suara dengkuran dari tiga pria yang terbaring terpisah.
Tiba-tiba Erwin nampak menggeliat lalu terbangun dan duduk. Ia nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
Saat itu Erwin melihat jika Ranvier dan Akmal tak ada di sisinya dan berbaring jauh darinya. Setelahnya Erwin kembali merebahkan diri dan memejamkan mata.
Namun baru beberapa menit memejamkan mata Erwin merasa ada tangan yang mengusap betisnya. Memijitnya pelan hingga membuat Erwin sedikit menikmati.
Namun saat pijitan tangan itu naik ke atas, terus ke paha dan hampir menyentuh organ int*mnya, Erwin pun terkejut lalu membuka matanya.
Erwin pun mencari tahu siapa yang telah berbuat tak sen*noh padanya itu. Dalam benaknya Erwin mengira itu Tomi. Namun saat melihat Tomi masih mendengkur di balkon, Erwin pun bingung.
" Bang Tomi jauh dari Gue. Ga mungkin dia, sebab butuh waktu buat jalan dari balkon ke sini. Terus Ranvier sama Akmal di sana, tidurnya juga pules banget. Terus kalo mau gangguin Gue juga ga mungkin sampe ngeraba-raba tongkat ajaib Gue. Itu ga mungkin banget. Gue tau siapa mereka. Walau kadang somplak tapi masih lurus dan tau aturan. Isshh..., terus apaan dong tadi. Masa iya hotel sebagus ini ada hantunya. Kalo emang iya kasian Kakek Randu dong. Bisa-bisa dia bangkrut karena ditinggalin konsumen yang ketakutan sama hantu...," gumam Erwin.
Saat sedang kebingungan mencari tahu siapa yang telah mengganggunya. Tiba-tiba Erwin merasa ada sesuatu yang menyentuh kakinya. Sesuatu itu perlahan merambat naik ke betis hingga Erwin bisa melihat dengan jelas.
Erwin pun terkejut saat melihat potongan tangan berwarna pucat dan beraroma busuk tengah merambat di kakinya. Apalagi potongan tangan itu juga merayap ke balik c*Lana boxer yang dikenakan Erwin lalu menyentuh tongkat ajaibnya hingga membuat Erwin melolong kesakitan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=