Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
70. Ketemu Erwin


__ADS_3

Dengan terpaksa Totok menyimpan sendiri rasa penasarannya akibat Krisna tak menjawab pertanyaannya tadi. Ia kembali fokus mengendarai mobil sambil terus berdzikir.


Dari tempat duduknya Ranvier bisa melihat bagaimana kondisi Totok sekarang. Peluh sebesar bulir jagung nampak membasahi wajah dan lehernya, dan itu membuat Ranvier iba.


" Makhluk itu udah pergi kok Bang, insya Allah ga bakal ngejar Kita...," kata Ranvier sambil menepuk pundak Totok dengan lembut.


" Iya Mas. Seumur-umur baru kali ini Saya ngeliat Nenek-nenek berubah jadi setan kaya gitu Mas. Ya Allah, kalo boleh minta mah jangan lagi deh. Kapok Saya...!" kata Totok.


Ranvier pun tertawa mendengar ucapan Totok sedangkan Krisna nampak tersenyum diam-diam.


" Tapi Mas Ranvier hebat lho, ga takut sama sekali. Padahal jarak Mas Ranvier paling deket sama dia tadi...," kata Totok.


" Alhamdulillah Allah masih lindungi Saya Bang. Mmm..., kalo boleh Saya minta jangan ceritain ini sama siapa-siapa ya Bang, apalagi sama Kakek. Kasian Kakek kalo tau Kita ketemu gituan tadi, pasti kepikiran lagi...," pinta Ranvier.


" Oh, siaapp Mas. Saya ga bakal bilang sama siapa-siapa soal kejadian tadi. Kalo boleh jujur sih, sebenernya ga usah disuruh juga Saya emang udah niat ga mau ngomongin lagi Mas. Baru ngomong gini aja lidah Saya udah terasa kaku. Ga enak !. Makanya daripada kenapa-kenapa, lebih baik ya Saya diem aja. Iya kan Mas...," kata Totok sambil menoleh kearah Ranvier.


" Iya Bang. Makasih ya...," kata Ranvier sambil tersenyum.


" Sama-sama Mas. Saya juga terima kasih karena Mas udah menghalangi makhluk itu supaya ga ngejar Kita lagi tadi...,"ĺ sahut Totok dengan tulus.


Kemudian mobil terus melaju membelah malam hingga mereka pun tiba di rumah kakek Randu dengan selamat.


Semua orang menyambut kedatangan Ranvier dengan antusias. Ranvier memang ibarat sumber kehidupan di rumah kakek Randu. Kehadirannya membuat suasana di dalam rumah menjadi lebih 'hidup', ramai dan penuh tawa. Sejak Ranvier pergi keluar negeri suasana rumah menjadi sedikit redup. Beruntung dua sahabatnya yaitu Akmal dan Erwin rajin berkunjung ke rumah itu hingga sang kakek dan penghuni lainnya tak merasa kesepian.


" Apa Kakek udah tidur Mbok...?" tanya Ranvier setelah mengurai pelukan.


" Iya Mas. Tapi Bapak pesen, kalo Mas datang minta dibangunin...," sahut mbok Rah.


" Ga usah Mbok, ge perlu. Biar Aku aja yang bangunin Kakek nanti...," pinta Ranvier.


" Kalo gitu Saya balik ke kamar ya Mas...," pamit mbok Rah.


" Iya Mbok, makasih ya...," sahut Ranvier yang diangguki mbok Rah.


Kemudian Ranvier membuka pintu kamar kakek Randu perlahan. Ia tersenyum melihat sang kakek terlelap di atas tempat tidur.


Dengan langkah hati-hati Ranvier mendekat ke tempat tidur. Ia menatap wajah sang kakek untuk beberapa saat. Entah mengapa menatap wajah sang kakek membuatnya terharu. Matanya pun terasa panas. Karena khawatir membangunkan sang kakek, Ranvier bergegas mengusap matanya yang basah itu dengan punggung tangannya.

__ADS_1


Lalu perlahan Ranvier berbaring di samping sang kakek. Ia menyandarkan kepalanya di dada sang kakek, memeluknya dengan lembut sambil berbisik.


" Pelukan Kakek adalah tempat ternyaman di seluruh dunia yang pernah Aku miliki. Aku sayang Kakek, mimpi indah ya Kek...," bisik Ranvier sambil tersenyum lalu ikut memejamkan mata.


Dalam tidurnya kakek Randu nampak tersenyum. Rupanya ia tengah bermimpi mengejar Ranvier yang masih berusia balita.


Saat sedang berlari menghindari sang kakek, Ranvier kecil terjatuh dan menangis. Kakek Randu tertawa lalu menggendongnya. Melihat tawa sang kakek Ranvier kecil pun ikut tertawa.


" Jangan khawatir, ada Kakek yang bakal ada untukmu. Selama Kakek mampu, Kakek akan terus mendukungmu dalam kebaikan. Selamanya...," batin kakek Randu sambil.menciumi Ranvier lalu memeluknya dengan erat.


Di alam nyata kakek Randu memang meraih Ranvier lalu memelukmya erat hingga Ranvier mengira sang kakek terjaga. Ranvier mengamati wajah sang kakek yang tersenyum.


" Mimpi apa sih yang bikin Kakek bahagia. Semoga itu tentang Aku...," batin Ranvier penuh harap lalu kembali memejamkan matanya.


\=\=\=\=\=


Pagi harinya kakek Randu dibuat terkejut. Saat ia membuka mata ia melihat Ranvier telah terlelap di sampingnya, persis di ketiaknya seperti saat kecil dulu.


" Anak nakal, sudah sebesar ini masih aja suka ngumpet di ketek Kakeknya. Kalo cewek-cewek di luar sana tau betapa cowok macho yang mereka kagumi ini masih manja sama Kakeknya, mereka pasti berpikir ulang buat ngejar Kamu Vier...," gumam Kakek Randu sambil tersenyum.


" Kakek...," panggil Ranvier sambil mengeratkan pelukannya.


" Jam berapa sampe rumah Vier...?" tanya kakek Randu.


" Malam Kek, Aku ga tau pasti jam berapa...," sahut Ranvier.


" Kenapa ga bangunin Kakek...?" tanya kakek Randu.


" Aku juga ngantuk Kek. Kalo bangunin Kakek yang ada Aku malah dapat ceramah panjang lebar. Makanya biar Kakek ga capek, Aku aja yang tidur di samping Kakek. Kan Kakek bisa hemat tenaga. Karena suara dengkuran Kakek itu udah cukup menggantikan ceramah panjang yang mau Kakek sampein...," gurau Ranvier sambil nyengir namun membuat kakek Randu membelalakkan mata.


" Dasar bocah ed*n...!" kata Kakek Randu sambil menjitaki kepala Ranvier hingga membuat sang cucu tertawa geli.


\=\=\=\=\=


Saat mendengar Ranvier pulang ke Jakarta, Erein pun segera meluncur ke rumah kakek Randu. Erwin rela meluangkan waktu untuk menemui sahabatnya itu padahal seharusnya ia masuk kerja lebih awal.


" Ranvieeerrr...! " panggil Erwin lantang dari ambang pintu hingga membuat Ranvier yang sedang sarapan pun tersedak.

__ADS_1


" Astaghfirullah aladziim..., salam dulu kek Win !. Kaget Gue...!" kata Ranvier.


Namun Erwin tak peduli. Ia langsung menghambur memeluk Ranvier dengan erat hingga membuat semua orang tertawa.


" Kangen Gue Vier...," kata Erwin sambil mengurai pelukannya.


" Gue juga kangen sama Lo Win...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Sebentar deh Vier. Emangnya makanan di luar negeri beda sama makanan Indonesia ya Vier. Kok perasaan Gue Lo tambah tinggi gini sih Win...?" tanya Erwin sambil mengamati Ranvier dari atas kepala hingga ujung kaki.


Ucapan Erwin mau tak mau membuat semua orang kembali tertawa.


" Bisa aja Lo Win. Bukan Gue yang tambah tinggi tapi Lo yang bantet...," kata Ranvier di sela tawanya.


" Sembarangan Lo. Tapi bisa jadi sih Vier. Soalnya di pabrik tuh Gue kerja rodi ngangkat barang. Kali aja gara-gara itu Gue jadi pendek ya Vier...," sahut Erwin sambil tertawa.


" Jangan ngomong mulu Win. Sambil sarapan kan enak...," kata Kakek Randu mengingatkan.


" Maunya sih gitu Kek, tapi ntar Aku terlambat kerja. Kalo boleh sih minta mentahnya aja Kek...," sahut Erwin sambil mengedipkan mata.


Kakek Randu tertawa lalu mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu rupiah dari dompetnya lalu menyerahkannya kepada Erwin.


" Sebentar Win. Lo malak Kakek Gue di depan mata Gue Win...?!" kata Ranvier sambil melotot.


" Siapa yang malak sih Vier ?. Ini Kakek yang ngasih kok...," sahut Erwin tak mau kalah.


" Ga bisa. Kalo cuma ganti sarapan itu kebanyakan. Balikin sama Gue...!" kata Ranvier sambil mengejar Erwin.


Erwin pun lari keluar rumah sambil tertawa-tawa.


" Aku berangkat ya Kek. Assalamualaikum...!" pamit Erwin sambil menepuk pundak tukang ojeg motor yang mengantarnya.


Saat Ranvier tiba di halaman rumah motor yang ditumpangi Erwin telah menjauh. Ranvier hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal.


" Wa alaikumsalam..., " gumam Kakek Randu sambil menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Ranvier dan Erwin.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2