Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
125. Lho Kok...?!


__ADS_3

Hari itu Ranvier terpaksa mengendarai mobil seorang diri. Itu karena Khairul meminta ijin pulang kampung untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit.


Kakek Randu sudah menawarkan supir pengganti, namun Ranvier menolak. Ranvier merasa lebih nyaman mengendarai mobil sendiri daripada harus basa basi lagi dengan orang baru.


Erwin pun tak bisa membantu karena ia juga sedang menemani kakak laki-lakinya yang menunggui iparnya melahirkan.


Saat ini Ranvier masih terjebak macet di jalan raya yang padat. Ia mulai sedikit kesal karena niatnya pulang ke rumah lebih cepat jadi tertunda.


Ranvier pun mengedarkan pandangan untuk sekedar mengistirahatkan matanya yang lelah. Tiba-tiba Ranvier melihat seorang pria berjaket merah, dengan kepala tertutup hoodie dan mengenakan penutup wajah tengah berlari cepat seolah menghindari sesuatu. Di belakangnya beberapa pria nampak mengejar sambil membawa beberapa senjata tajam.


Pria berjaket marah nampak sedikit kelelahan hingga membuat larinya melambat. Dan hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh para pengejarnya. Mereka berhasil menggapai pria itu lalu memukulinya. Meski pun pria berjaket merah itu berhasil membalas serangan dan beberapa kali menghindar, toh ia tetap kalah. Tubuhnya jatuh terjengkang tepat di depan mobil Ranvier.


Ranvier membulatkan mata karena kesal bukan kepalang. Aksi tawuran tak seimbang itu membuat niatnya untuk tiba di rumah lebih cepat tertunda. Padahal saat itu trafic light warna hijau telah menyala. Itu artinya kesempatan Ranvier terjebak macet segera usai. Namun gara-gara pertarungan tak seimbang itu membuatnya terhalang.


Dengan geram Ranvier turun dari mobil. Ia mendekati pria berjaket merah yang tampak menutupi kepala saat golok salah satu penyerangnya terarah padanya. Ranvier pun berhasil menendang jatuh golok itu dengan kakinya hingga terlempar jauh.


Para penyerang pria berjaket merah itu terkejut sedangkan pria berjaket merah itu tersenyum senang.


" Sia*an. Siapa Lo, ga usah ikut campur ya...!" hardik salah seorang penyerang pria berjaket merah.


" Gue ga ikut campur !. Tapi aksi brutal Kalian udah menghalangi jalan Gue...!" sahut Ranvier lantang.


" Jadi Lo mau apa ?, berantem ?. Sini kalo berani...!" tantang pria di hadapannya dengan gaya tengil.


Ranvier menggeram marah lalu langsung mendaratkan tinjunya di wajah pria itu hingga membuat pria itu menjerit kesakitan. Semua terkejut saat melihat darah memenuhi wajah pria itu. Rupanya Ranvier berhasil membuat tulang hidung pria itu patah. Para perusuh itu pun mendekati temannya yang terluka sambil menatap marah kearah Ranvier.


" Apa ?!. Masih mau lagi. Sini Lo...!" tantang Ranvier.


Para pria itu tertegun sejenak. Mereka seolah bingung harus berbuat apa. Melihat kawanan perusuh terdiam, Ranvier segera menarik pria berjaket merah agar berdiri. Setelahnya ia mendorong pria itu dan memintanya masuk ke dalam mobil.


" Buruan masuk...!" perintah Ranvier sambil bergegas masuk ke dalam mobil.


Sesaat kemudian Ranvier pun mulai melajukan mobilnya dengan cepat. Sengaja ia menekan klakson agar para perusuh itu menepi. Karena fokus mereka sedang terarah pada luka temannya, maka saat mendengar klakson mobil mereka pun refleks menepi. Dan Ranvier pun berhasil lolos dari sergapan para perusuh itu.


Pria berjaket merah nampak tertawa senang. Ia bahkan membuka jendela mobil dan meledek para perusuh itu sambil mengacungkan jari tengahnya.


Sontak apa yang dilakukan pria berjaket merah itu membuat para perusuh marah dan langsung melemparkan benda yang mereka pegang kearah mobil Ranvier hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

__ADS_1


Khawatir dengan keselamatan pria berjaket merah itu, Ranvier langsung menarik pria itu masuk sambil menginjak pedal gas.


" Tol*l !. Ngapain Lo ngeledekin mereka. Yang dilempar tuh sajam tau ga. Mau mati Lo...?!" kata Ranvier lantang.


Pria berjaket merah hanya meringis sambil mengangguk. Ranvier pun melepaskan cekalan tangannya lalu kembali fokus mengemudi.


Setelah yakin para perusuh itu tak mungkin mengejar, Ranvier pun menghentikan mobilnya. Ia menoleh kearah pria berjaket merah itu dan memintanya turun.


" Turun !. Mereka ga mungkin ngejar Lo lagi...," kata Ranvier.


Pria itu mengangguk lalu bersiap turun. Namun Ranvier terkejut saat melihat darah membasahi lengan jaket pria itu.


" Sebentar, Lo terluka...?" tanya Ranvier sambil menarik lengan pria berjaket merah.


Pria itu hanya diam sambil mendesis saat Ranvier menyentuh lengannya. Darah pun makin deras mengalir hingga membasahi kursi mobil. Ranvier pun terkejut dan iba di saat bersamaan. Meski kesal namun ia tak sampai hati membiarkan orang terluka di depannya. Ia pun tergerak membantu.


" Ck, jangan turun !. Kita cari Rumah Sakit atau klinik buat ngobatin luka Lo...!" kata Ranvier lalu melajukan mobilnya.


Pria itu kembali mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sesekali Ranvier menoleh kearahnya untuk memastikan pria itu baik-baik saja.


Ranvier membelokkan mobilnya ke Rumah Sakit dan langsung mengarahkannya ke UGD. Seorang perawat menyambut sambil mendorong kursi roda saat Ranvier mengatakan ia membawa seorang pria yang jadi korban perampokan di jalan raya.


" Ok Suster, makasih...," sahut Ranvier.


Ranvier pun dengan mudah menyelesaikan administrasi lalu bergegas menyusul ke ruang UGD. Saat berpapasan dengan perawat yang membawa pria berjaket merah itu Ranvier pun bertanya.


" Dimana dia...?" tanya Ranvier.


" Di ruang sebelah kanan, sedang ditangani dokter...," sahut sang perawat.


" Botol infus itu untuk apa...?" tanya Ranvier.


" Korban terlalu lemah karena kehilangan cairan. Maaf Pak, nanyanya nanti aja ya. Saya harus cepat ke sana...," sahut sang perawat sambil berlari kecil.


Ranvier mengangguk lalu mengekori sang perawat dari belakang. Saat tiba di ambang pintu Ranvier dibuat terkejut karena mendengar jeritan seorang wanita. Suara dokter dan perawat pun terdengar silih berganti membujuk wanita itu. Ranvier tak bisa melihat dengan jelas karena saat itu posisi mereka membelakangi pintu.


" Kok suara cewek. Jangan-jangan Suster salah orang. Tapi itu jaket cowok tadi...," gumam Ranvier saat melihat jaket merah bernoda darah teronggok di lantai.

__ADS_1


" Jangan bergerak, ntar malah susah masangnya...!" kata sang perawat.


" Ga sakit kok, cuma kaya digigit semut aja...," bujuk dokter.


" Ga usah, please jangaaann...!. Aku ga mau disuntiiikk...!" jerit wanita itu sambil terus meronta.


" Kita butuh bantuan Suster...!" kata dokter dengan lantang.


" Baik dok...!" sahut sang perawat.


Saat sang perawat menoleh kearah pintu ia tersenyum melihat kehadiran Ranvier.


" Nah kebetulan. Sini Pak, tolong bantu pegangin ya. Pasien berontak terus daritadi jadi dokter kesulitan mengobati lukanya...," pinta sang perawat.


" Iya Sus...," sahut Ranvier sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.


Dan Ranvier dibuat terkejut saat melihat pria berjaket merah itu ternyata adalah seorang wanita. Wajah wanita itu terlihat pucat, tubuhnya pun bergetar, matanya nampak basah saat ia melihat jarum suntik yang hampir menusuk lengan kirinya.


" Ayo Pak, kok diem aja sih...?" protes sang perawat saat melihat Ranvier justru tertegun menatap wanita itu.


" I... iya Suster...," sahut Ranvier lalu maju mencekal lengan wanita itu.


Merasa ada orang lain yang ikut menyentuhnya, wanita itu melirik kearah Ranvier.


" Ga usah banyak bergerak. Lo udah bikin repot banyak orang tau ga...?!" kata Ranvier galak.


Entah mengapa wanita itu menuruti ucapan Ranvier begitu saja. Ia tak lagi berontak saat dokter menyuntikkan obat pereda rasa sakit dan perawat memasang infus. Setelahnya dengan mudah perawat membersihkan dan membalut luka wanita itu.


Wanita itu nampak menggigit bibirnya saat perawat mengeluarkan sedikit kotoran dari lukanya yang menganga itu.


" Sakit ?, tahan sebentar ya...," bujuk sang perawat.


Wanita itu mengangguk dengan air mata berderai di wajahnya. Ranvier menggelengkan kepala melihat wanita itu menangis.


" Disuntik Lo nangis. Tapi berantem sama gerombolan preman dan terluka kena golok Lo masih bisa ketawa. Dasar aneh...," ledek Ranvier hingga membuat dokter dan perawat tersenyum.


Bukannya menjawab, wanita itu nampak mendelik kesal kearah Ranvier. Entah mengapa melihat wajah kesal wanita itu membuat Ranvier tertawa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2