
Rupanya Soni bertindak lebih cepat. Ia masuk ke kediaman Wijaya dan berhasil melumpuhkan Nada lalu menculiknya.
Saat itu Nada yang kelelahan usai melakukan bermacam perawatan khusus untuk calon pengantin di salon pun tertidur. Ia tak menyadari kehadiran Soni yang masuk melalui jendela kamarnya.
Soni langsung menempelkan sehelai kain yang telah dibubuhi obat bius ke hidung Nada. Tak butuh waktu lama Nada pun terkapar pingsan.
Setelahnya dengan mudah Soni menggendong Nada. Ia membawa Nada pergi melalui jalan rahasia yang telah ia ketahui saat dirinya bekerja sebagai security di rumah Wijaya.
Tak ada yang menyadari hilangnya Nada, hingga Bi Siti yang keluar masuk kamar Nada bingung karena tak menjumpai Nada di sana.
" Apa Kamu ngeliat Non Nada Ning...?" tanya Bi Siti pada asisten rumah tangga yang sedang membersihkan rumah.
Sejak kembali ke rumah itu, Bi Siti memang tak diperkenankan lagi mengerjakan pekerjaan rumah. Oleh Wijaya ia hanya diminta untuk menemani Nada hingga gadis itu menjadi istri Ranvier dan diboyong ke rumahnya nanti.
" Bukannya ada di kamar Bu...?" tanya asisten rumah tangga yang bernama Nining itu.
" Ga ada Ning. Makanya Saya tanya Kamu...," sahut Bi Siti gusar.
" Jangan-jangan lagi berenang Bu. Kan Non Nada suka banget berenang...," kata Nining.
" Ga ada Ning. Saya udah cari kemana-mana. Dan ini kali keempat Saya balik ke kamarnya,tapi Saya ga nemu juga. Atau jangan-jangan Non Nada diculik...," kata bi Siti panik.
Ucapan bi Siti tentu saja menghebohkan rumah. Semua asisten rumah tangga dan security dikerahkan untuk mencari Nada di sekitar rumah. Teman-teman Nada juga dihubungi dan nihil. Setelah gagal menjumpai Nada, bi Siti akhirnya melaporkan kejadian itu kepada Wijaya yang saat itu sedang berada di kantor.
" Assalamualaikum..., ada apa Bi...?" tanya Wijaya yang sedang duduk bersama Ranvier dan Erwin.
Rupanya Ranvier datang berkunjung untuk membahas persiapan pernikahannya.
" Wa alaikumsalam, Non Nada hilang Pak...!" lapor bi Siti lantang.
" Jangan bercanda Bi. Mana mungkin Nada hilang. Bi Siti ga lupa kan kalo Nada itu bukan cewek biasa, dia jago berantem lho Bi. Orang yang berani nyentuh dia pasti bakal bonyok...," kata Wijaya sambil tersenyum.
" Tapi Saya serius Pak. Ini udah dua jam Non Nada hilang. Saya dan semua asisten rumah tangga juga security udah nyari keliling komplek tapi ga ada...!" kata bi Siti gusar.
Karena saat itu Wijaya sengaja mengaktifkan loud speaker hand phonenya, maka pembicaraan dia dan bi Siti bisa didengar langsung oleh Ranvier dan Erwin.
__ADS_1
" Yang bener Bi, Kamu udah cari kemana-mana ?. Udah tanya sama temen-temennya belum...?!" tanya Wijaya mulai panik.
" Udah Pak. Tapi mereka ga tau...," sahut bi Siti.
Mendengar pembicaraan Wijaya dan bi Siti membuat Ranvier dan Erwin saling menatap sejenak.
" Jangan-jangan Nada diculik sama Soni Vier...," bisik Erwin.
" Tapi Gue udah ngutus David buat nagkep Soni. Atau jangan-jangan dia terlambat. Pas dia sampe ke sana si Soni justru udah pergi buat melancarkan aksi lainnya...," kata Ranvier cemas.
" Kayanya sih gitu Vier. Terus gimana nih Vier...?" tanya Erwin.
" Gue yang bakal nyari Nada...," sahut Ranvier tegas lalu bangkit dari duduknya.
Kemudian Ranvier bergegas pergi meninggalkan kantor Wijaya tanpa pamit karena khawatir dengan keselamatan Nada.
" Mau kemana dia...?" tanya Wijaya sambil mengerutkan keningnya.
" Mau jemput Nada Pak...," sahut Erwin sambil bergegas menyusul Ranvier.
Tak ada sahutan karena Ranvier dan Erwin telah masuk ke dalam lift. Wijaya pun hanya bisa berdecak sebal karena tak mendapat jawaban yang memuaskan. Kemudian ia menghubungi orang kepercayaannya dan memintanya membantu mencari Nada.
" Baik Tuan...," sahut seorang pria di seberang telephon.
" Saya tunggu kabar secepatnya..., " kata Wijaya di akhir kalimatnya.
Setelahnya Wijaya duduk sambil menatap keluar jendela dengan gelisah. Meski pun Nada menguasai ilmu bela diri, namun Wijaya khawatir jika lawan Nada kali ini memiliki kemampuan jauh di atas Nada.
" Ya Allah..., Aku memang telah lama jauh dariMu. Tapi Aku mohon kali ini saja ya Allah, tolong lindungi Anakku dimana pun dia berada. Jangan biarkan siapa pun menyakiti dan melukai dia ya Allah. Tolong kembalikan Nada dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Aku mohon tolong kabulkan permintaanku ini ya Allah. Aamiin yaa Robbal'alamiin..., " doa Wijaya sungguh-sungguh.
Setelah menggumamkan doa, Wijaya pun bangkit lalu keluar meninggalkan ruang kerjanya.
\=\=\=\=\=
Nada terbangun di sebuah ruangan yang asing. Ia menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit dengan telapak tangannya.
__ADS_1
" Dimana ini. Kok kayanya belum pernah ke sini...? " gumam Nada sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
Nada mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan lalu bergegas melangkah menuju pintu dengan tubuh sempoyongan karena masih di bawah pengaruh obat bius.
" Dikunci. Ini pasti bukan tempat biasa. Jangan-jangan Gue diculik. Tapi siapa yang udah berani nyulik Gue...?" gumam Nada panik.
Setelah mendapati pintu terkunci, Nada pun bergeser kearah jendela. Meski jendela terbuka, namun ada teralis besi yang mengamankan jendela dan menghalangi Nada untuk keluar.
Tak kehilangan akal, Nada pun bergegas masuk ke kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit. Nada makin panik karena ternyata kamar mandi tak memiliki ventilasi udara.
Tiba-tiba Nada mendengar handle pintu bergerak pertanda ada seseorang yang sedang berusaha membuka pintu dari luar kamar. Bergegas Nada kembali ke tempat tidur dan berpura-pura masih pingsan.
Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok pria gagah yang berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman.
" Ternyata masih pingsan. Kok lama banget belum siuman juga. Apa jangan-jangan Gue kebanyakan make obat biusnya...," kata pria yang tak lain adalah Soni itu sambil meletakkan kantong-kantong plastik yang dibawanya di atas meja.
Mendengar suara Soni yang dikenalnya, Nada pun terkejut. Ia tak menyangka jika orang yang menculiknya adalah orang yang pernah bekerja sebagai security di rumahnya dulu.
Nada masih pura-pura pingsan karena ingin tahu apa motif dari aksi Soni kali ini. Ia mengintip Soni yang saat itu tengah makan dengan lahap. Melihat cara makan Soni membuat Nada meringis. Soni makan dengan rakus seolah sudah berhari-hari tak makan.
Setelah menyelesaikan makannya, Soni pun bergegas mencuci tangannya di kamar mandi. Saat ia kembali ternyata Nada telah duduk sambil menatap lekat kearahnya.
" Sudah bangun Non. Ini, makan dulu biar ga laper. Setelah ini Kita bakal melakukan perjalanan jauh...," kata Soni sambil melemparkan kantong plastik berisi makanan kearah Nada.
" Kenapa Pak Soni ngelakuin ini. Apa salah Saya Pak...?" tanya Nada setelah berhasil menangkap kantong plastik berisi makanan itu.
" Non Nada ga salah. Pak Wijaya yang salah. Gara-gara dia pecat Saya, Saya jadi pengangguran. Anehnya Saya ga diterima kerja dimana-mana. Itu pasti karena Pak Wijaya yang bikin. Dan gara-gara itu juga calon Istri Saya pergi ninggalin Saya. Rumah ini Saya persiapkan untuk dia, tapi dia justru nikah sama orang lain...! " kata Soni sambil menendang kursi hingga membuat Nada terkejut.
" Kenapa Ayah mecat Pak Soni...?" tanya Nada.
" Itu karena si Ayu jal*ng itu. Dia yang ngajakin selingkuh sampe akhirnya ketauan sama Pak Wijaya. Andai Saya tau bakal begini akhirnya, Saya ga bakal mau ngeladenin Ayu...!" sahut Soni ketus.
Ucapan Soni mengejutkan Nada. Ia tak menyangka jika Ayu akan membodohi ayahnya. Sesaat kemudian Nada memutuskan untuk menghabiskan makanan yang diberikan padanya tadi karena ia membutuhkan tenaga agar bisa kabur dari tempat itu. Selain itu Nada juga melihat peluang untuk membujuk Soni agar mau membebaskannya nanti.
\=\=\=\=\=
__ADS_1