
Setelah Siti selesai mengemasi pakaian Ayu dan memasukkannya ke dalam tas besar, ia pun keluar dari kamar.
" Letakkan tas itu di sana Siti...!" perintah Wijaya sambil menunjuk ke sebrang sofa dimana dia duduk.
" Baik Tuan...," sahut Siti lalu kembali ke kamar dan keluar sambil menarik dua tas besar.
Dan di saat bersamaan dua orang berbadan besar masuk ke dalam rumah sambil meringkus Soni yang babak belur. Setelahnya mereka mendorong Soni hingga tersungkur di lantai.
" Kami sudah memberinya pelajaran Pak...," kata salah satu pria berbadan besar itu.
" Bagus...," sahut Wijaya sambil tersenyum sinis.
" Ampuunn... Pak. Jangan pecat Saya. Saya tau Saya salah, tapi Saya dipaksa sama Ibu Pak...," kata Soni sambil merintih.
" Dipaksa atau tidak, harusnya Kamu tau dimana batasmu Soni !. Saya memaafkan Kamu tapi Saya ga bisa membiarkanmu tetap ada di sini. Saya khawatir Kamu membahayakan anak perempuan Saya nanti. Jadi pergi lah...!" kata Wijaya lantang.
" Apa ga ada belas kasihan untuk Saya Pak. Saya kan udah lama ikut Bapak...," kata Soni menghiba.
" Maksudmu uang pesangon ?. Aku ga memenjarakanmu aja udah bagus, kok masih minta pesangon. Kalo mau uang, minta sama perempuan yang telah memuaskanmu itu...," sahut Wijaya kesal sambil melirik kearah kamar dimana Ayu berada.
" Saya ga puas Pak !. Maaf kalo Saya lancang, tapi Saya emang ga ngerasa apa-apa waktu menyetu**hi Ibu tadi...," kata Soni dengan polosnya.
Ucapan Soni membuat Ayu marah, namun membuat Wijaya dan tiga orang lainnya melongo keheranan.
" Apa maksud Kamu Soni...?!" tanya Ayu lantang sambil melangkah keluar kamar.
" Maksud Saya, Saya ga bisa or***me tadi karena emang ga ngerasain apa-apa apalagi enak. Ga ada Bu !. Hambar...!" kata Soni sambil menatap Ayu dengan berani.
" Kurang ajar !. Bisa-bisanya Kamu ngomong kaya gitu Soni...!" kata Ayu sambil menyerang Soni.
__ADS_1
Soni pun berusaha bangkit untuk menghindar walau akhirnya ia menjerit saat Ayu berhasil mencakar wajahnya.
" Cukup !. Bawa dua manusia menjijikkan itu keluar dari rumah Saya sekarang...!" perintah Wijaya pada dua pria berbadan besar itu.
" Siap Pak...!" sahut kedua pria berbadan besar itu bersamaan lalu mulai menyeret Ayu dan Soni keluar dari dalam rumah.
" Jangan sentuh Aku, turunkan Aku !. Sayang, tolong jangan usir Aku. Maafkan Aku Sayang...!" jerit Ayu saat pria berbadan besar itu membopongnya karena kesal dengan perlawanan Ayu.
Berbeda dengan Ayu, Soni nampak tak melakukan perlawanan sama sekali. Soni manut saja saat tangannya ditarik keluar rumah. Ia hanya diam dan menatap kesal kearah Ayu sambil menggerutu.
Suasana dalam ruangan pun hening setelah Ayu dan Soni 'ditendang' keluar dari rumah. Wijaya nampak mengusap wajahnya dengan kasar lalu menoleh kearah Siti.
" Sejak kapan Kamu tau mereka selingkuh Siti...?" tanya Wijaya.
" Saya ga tau Tuan...," sahut Siti cepat.
" Saya ga menyembunyikan apa pun Tuan. Saya cuma tau diri dengan ga mencampuri urusan pribadi Tuan dan Nyonya...," sahut Siti tegas.
" Tapi Ayu salah dan harusnya Kamu bilang sama Saya Siti...," kata Wijaya kesal.
" Emangnya Tuan bakal percaya sama Saya ?. Ucapan Non Nada yang notabene anak kandung Tuan aja Tuan ga percaya apalagi babu kaya Saya...," sahut Siti sinis.
Jawaban Siti seolah menampar Wijaya telak hingga pria itu terhempas ke lubang tak berdasar. Ia sadar jika ia telah membuat neraka untuk dirinya sendiri. Wijaya pun membisu sambil menundukkan kepalanya.
" Maafkan Saya karena lancang. Tapi kalo Tuan ga suka sama omongan Saya, Tuan boleh pecat Saya sekarang juga. Sejujurnya sejak Nyonya Aina meninggal dan Non Nada pergi, Saya udah ga betah di sini. Saya mau pergi tapi ga tega karena masih berharap Non Nada kembali. Tapi kayanya sekarang udah ga mungkin lagi. Jadi lebih baik Saya pergi aja...," kata Siti dengan suara bergetar.
Ucapan Siti membuat Wijaya terkejut dan menoleh. Ia melihat Siti mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Dan detik itu Wijaya sadar jika Siti pun ikut terluka dengan kehadiran Ayu di rumah itu.
" Maafin Saya Siti. Tapi tolong jangan pergi ya. Saya janji bakal bawa Nada pulang ke rumah ini...," pinta Wijaya.
__ADS_1
" Maaf, tapi Saya ga bisa nunggu lagi Tuan. Saya capek, Saya juga udah terlalu tua dan lelet mengerjakan semuanya. Jadi sekarang Saya ijin karena mau pulang ke kampung besok pagi...," kata Siti.
" Iya, Kamu boleh pulang ke kampung dan istirahat di sana sebentar. Tapi nanti kalo Nada pulang Kamu balik lagi ya...," sahut Wijaya.
Siti hanya menggelengkan kepala sambil terus mengusap air matanya. Wijaya pun masih berusaha membujuk Siti.
Wijaya bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekati Siti yang berdiri tepat di tengah ruangan.
" Oh iya, Saya ada berita baik untuk Kamu Siti...," kata Wijaya sambil tersenyum.
" Berita baik apa Tuan...?" tanya Siti.
" Sore ini Saya ketemu Nada. Ada dua orang baik yang membantu mempertemukan Kami. Tapi sayangnya Nada kabur, dia ga mau ngeliat Saya. Maksud Saya begini, besok Kamu ikut Saya menemui Nada dan bujuk dia untuk pulang. Kamu mau kan Siti...?" tanya Wijaya penuh harap.
" Maaf Tuan, tapi Saya ga mau...!" sahut Siti tegas.
" Kenapa Siti ?. Kan Kamu juga ngarepin Nada pulang...," kata Wijaya tak mengerti.
" Memang betul Tuan. Tapi menurut Saya lebih baik Non Nada tinggal jauh dari Tuan aja supaya ga inget terus sama sikap dan ucapan Tuan yang menyakitkan itu. Non Nada masih muda. Dia juga harus hidup di lingkungan yang sehat. Buat apa Tuan memaksanya kembali kalo cuma bikin mentalnya terluka dan sakit lagi...," kata Siti bijak.
" Jadi Kamu pikir Saya bawa Nada pulang untuk menyiksa dia ?. Nada itu anak kandung Saya Siti. Mana mungkin Saya menyakiti anak Saya sendiri...," kata Wijaya gusar.
" Tapi Tuan memang sudah menyakiti Non Nada !. Secara sadar atau tidak, itu hanya Tuan yang tau. Karena Saya liat bagaimana Tuan membenci dan memarahi Non Nada dulu. Bayangkan gimana perasaannya saat itu Tuan. Ibu kandungnya terbaring sakit di Rumah Sakit, tapi Ayah dan Tantenya malah asyik bercumbu di sofa. Kalo Saya jadi Non Nada, mungkin Tuan dan wanita itu ga akan bisa hidup sampe detik ini...!" kata Siti kesal.
Wijaya pun kembali tersentak. Ia tak menyangka jika Siti mengingat semua hal buruk yang ia lakukan pada Nada dan ibunya dulu. Dan nampaknya Siti tak punya lagi stock kesabaran untuk menghadapi sikapnya.
Akhirnya dengan berat hati Wijaya mengijinkan Siti pergi. Ia memberi sejumlah uang yang sangat banyak untuk Siti. Wijaya berharap uang itu bisa membantu menghapus semua luka yang Siti terima selama menjadi asisten rumah tangga di rumahnya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1