Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
46. Ancaman Daeng Payau


__ADS_3

Melihat kondisi Erwin yang kesakitan membuat Daeng Payau iba. Ia pun mengangguk lalu meminta semua mundur.


" Kalian mundur dan bantu Saya berdzikir...," kata Daeng Payau sambil menoleh kearah Akmal dan Tomi.


" Baik Pak...," sahut Akmal dan Tomi bersamaan.


" Dan Kamu Vier, bantu Saya pegangin teman Kamu ini...," kata Daeng Payau sambil menatap Ranvier.


Dengan ragu Ranvier membantu memegangi tubuh Erwin yang gemetar kesakitan itu. Padahal sebelumnya Ranvier sudah memeluk Erwin, hanya saja saat itu ia belum tahu jika sang sahabat diganggu hantu penyuka sesama jenis. Jujur saja saat mengetahui Erwin diganggu hantu homreng, Ranvier sedikit bergidik ngeri.


" Yang hidup aja beringas kalo ngeliat cowok, apalagi yang udah mati...," batin Ranvier saat itu.


Melihat keraguan di wajah Ranvier membuat Daeng Payau tersenyum.


" Dia ga akan ganggu Kamu Vier. Jadi Kamu ga usah takut...," bisik Daeng Payau sambil mengusap punggung Ranvier dengan lembut.


" Beneran Paman...?" tanya Ranvier.


" Iya...," sahut Daeng Payau cepat sambil menganggukkan kepala.


" Kalo gitu Aku ga takut Paman...," sahut Ranvier sambil menghela nafas lega.


Setelah mendengar ucapan Daeng Payau, Ranvier pun berani memeluk Erwin dan menenangkannya.


Kemudian Daeng Payau mulai menyentuh Erwin. Kali ini Daeng Payau langsung menuju ke bagian bawah tubuh Erwin. Dari balik cela*a yang Erwin kenakan, Daeng Payau bisa merasakan sesuatu tengah bergerak di sana.


Daeng Payau menutup mata sambil melafaskan doa dan dzikir panjang. Di sampingnya Ranvier nampak berdzikir sambil menatap lekat apa yang guru spiritualnya lakukan. Dan di saat yang sama Erwin nampak mengejang dengan mata membeliak ke atas karena merasakan sakit yang amat sangat di bagian bawah tubuhnya itu.


Refleks Ranvier menyentuh dahi Erwin sambil berdzikir dan lagi-lagi apa yang Ranvier lakukan berhasil menenangkan Erwin.


Daeng Payau yang juga melihat apa yang Ranvier lakukan tadi nampak tersenyum diam-diam.


Daeng Payau berhasil menangkap sesuatu yang ada di balik cela*a Erwin lalu melemparnya jauh hingga terdengar sesuatu membentur dinding.


Ranvier, Akmal dan Tomi menoleh kearah lemparan Daeng Payau namun tak melihat apa pun. Mereka hanya melihat bekas telapak tangan berwarna kecoklatan di dinding. Bersamaan dengan itu rintihan Erwin pun berhenti.

__ADS_1


" Sekarang Kamu bantu Saya pulihkan kondisi Erwin ya Vier. Saya mau selesaikan dulu sesuatu yang tadi mengganggu Erwin...," kata Daeng Payau.


" Aku ?. Gimana caranya Paman...?" tanya Ranvier panik.


" Ikuti saja kata hatimu, seperti yang Kamu lakukan saat menyentuh dahi Erwin tadi Vier...," sahut Daeng Payau.


" Tapi Paman...," ucapan Ranvier terputus karena Daeng Payau memotong cepat.


" Saya harus cepat Vier. Ga ada waktu lagi karena ini harus dikerjakan bersamaan. Kamu urus Erwin, Saya urus makhluk itu...!" kata Daeng Payau setengah membentak.


" Ba... baik Paman...," sahut Ranvier gugup.


Daeng Payau mengangguk lalu bergegas melangkah menuju dinding tempat dia melempar sesuatu tadi.


Tiba di hadapan dinding Daeng Payau nampak mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan makhluk tak kasat mata berwujud sepotong tangan itu. Senyum pun menghias wajahnya saat ia melihat sosok tangan pucat dengan kulit yang mengelupas itu nampak teronggok di bawah dinding.


Daeng Payau bergegas menghampiri lalu mengulurkan tangannya untuk meraih potongan tangan itu.


" Ngumpet di sini rupanya. Kenapa, takut ya. Setelah mengganggu ABG yang masih polos, Lo ngumpet dan menyamarkan diri jadi perabotan. Dasar setan ga tau adab. Sini Lo, Gue punya sesuatu buat Lo...," kata Daeng Payau kesal.


Dari tempat masing-masing semua bisa melihat apa yang Daeng Payau lakukan. Pria itu melakukan gerakan seperti memungut sesuatu dari lantai. Nampaknya sesuatu yang berhasil diraih itu melakukan gerakan perlawanan hingga Daeng Payau juga terlihat melakukan gerakan seolah memukul benda itu berkali-kali.


" Wah, ngeliat gerakannya pasti sesuatu di tangan Paman Daeng udah berubah jadi ayam geprek sekarang...," gumam Tomi sambil menggelengkan kepala.


Ucapan Tomi mau tak mau membuat Ranvier dan kedua temannya tertawa cekikikan. Daeng Payau nampak menoleh marah kearah mereka hingga membuat mereka terdiam.


" Kenapa ketawa ?. Dzikir yang banyak kalo ga mau makhluk ini pindah menyerang buru*g Kalian...!" ancam Daeng Payau lantang.


Ucapan Daeng Payau membuat Ranvier dan kedua temannya termasuk Tomi terkejut lalu bungkam. Wajah mereka memucat karena tak ingin mengalami kejadian buruk seperti yang dialami Erwin. Sedang Erwin nampak menggelengkan kepala karena merasa tak akan sanggup jika harus merasakan hal yang sama sekali lagi.


Daeng Payau nampak tersenyum karena berhasil menakuti empat orang yang menertawai usahanya melumpuhkan makhluk berwujud tangan itu.


Setelah berupaya beberapa saat, akhirnya Daeng Payau berhasil melumpuhkan makhluk tak kasat mata yang mengganggu Erwin tadi. Terdengar suara berderak seolah ada tulang yang patah saat Daeng Payau membungkus sesuatu dengan kain penutup meja. Dan lagi-lagi itu membuat Ranvier cs saling bertatapan.


Setelah menyaksikan keberhasilan Daeng Payau, Ranvier teringat jika dirinya harus membantu memulihkan kondisi Erwin.

__ADS_1


Ranvier menatap Erwin sejenak sambil berpikir apa yang harus ia lakukan. Saat itu Ranvier teringat jika ia pernah menyentuh dahi Erwin dan berhasil membuat Erwin yang merintih itu berhenti mengeluh.


Ranvier mengulurkan tangannya lalu menyentuh dahi Erwin tapi Erwin menolak dan menepis tangannya. Ranvier nampak mengerutkan keningnya namun ia tak putus asa. Ia mencoba sekali lagi dan masih mendapat penolakan dari Erwin.


" Diem bisa ga sih...!" kata Ranvier kesal.


" Emangnya Lo mau ngapain...?" tanya Erwin.


" Mau ngobatin Lo...," sahut Ranvier cepat.


" Ga usah sok tau deh. Lo itu ga bisa apa-apa. Jadi ga usah berlagak punya kekuatan buat nyembuhin Gue...!" kata Erwin sambil melotot.


" Gue disuruh sama Paman Daeng. Itu artinya Beliau percaya kalo Gue punya kekuatan ajaib yang bakal bisa memulihkan sakit yang Lo rasain...," kata Ranvier tak mau kalah.


" Tapi Gue ga mau. Gue udah sembuh kok. Minggir Lo...!" kata Erwin sambil mendorong Ranvier hingga terjengkang di atas kasur.


Ranvier nampak terkejut lalu bangkit dan mengejar Erwin yang turun dari tempat tidur.


" Erwiiinnn...!. Sini Lo...!" kata Ranvier kesal.


" Ga mau...!" sahut Erwin sambil menghindar dari Ranvier.


Tingkah Ranvier dan Erwin justru membuat Akmal dan Tomi tertawa. Sedangkan Daeng Payau nampak menggelengkan kepala melihat tingkah Ranvier dan Erwin yang berlarian di kamar.


" Sudah cukup !. Erwin kemari...!" panggil Daeng Payau.


" Iya Om...," sahut Erwin sambil mendekat kearah Daeng Payau.


" Dasar ga konsisten, tadi manggil Pak sekarang manggil Om. Sebenernya Lo mau manggil apa ke Paman Daeng...?!" kata Ranvier galak.


" Iya sorry. Gue kan lagi sakit, jadi ga tau harus manggil apa tadi. Tapi sekarang Gue udah sembuh, jadi Gue putusin manggil Om aja biar keren...," sahut Erwin sambil nyengir.


Ucapan Erwin membuat semua orang tersenyum termasuk Daeng Payau.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2