
Lamunan Maudy buyar saat sang Mama kembali menanyakan penyebab lebam di lehernya itu.
" Aku ga tau Ma...," kata Maudy.
" Kok bisa ga tau. Ini ga masuk akal Maudy. Kamu yang punya badan, masa ga tau kalo ada orang yang mau nyakitin Kamu. Diliat dari lebamnya juga pasti ini dilakukan belum lama...!" kata Mama Maudy gusar.
" Dan dari depan Tante...," sela Chika.
" Betul Chik. Karena mencekik sampe kaya gini cuma bisa dilakukan dari depan. Dan itu artinya Maudy liat dan tau siapa yang ngelakuin...," sahut Mama Maudy kesal.
Semua orang mengangguk lalu menatap curiga kearah Maudy dan itu membuat Maudy tak nyaman.
" Apaan sih. Ga usah ngeliatin Gue kaya gitu bisa ga...," kata Maudy kesal.
" Siapa Mod...?" tanya April.
" Siapa apanya...?" tanya Maudy tak mengerti.
" Yang nyakitin Lo. Cowok kan...?" tebak April.
" Sok tau, bukan cowok tapi cewek tau...," sahut Maudy sambil melengos.
Ucapan Maudy mengejutkan semua orang. Saat sadar telah kelepasan bicara, Maudy pun bergegas menutup mulutnya dengan telapak tangan.
" Tuuhh ngaku kaaann...," kata kelima teman Maudy bersamaan.
" Bilang sama Mama siapa orangnya. Mama mau samperin dia sekarang. Enak aja nyekik Kamu sampe lebam kaya gini. Mama mau buat perhitungan sama dia...!" kata Mama Maudy sambil bangkit berdiri.
" Jangan Ma, ga usah. Lagian Mama ga bakal bisa ketemu sama dia...," kata Maudy sambil mencekal tangan sang Mama.
" Kamu meragukan kemampuan Mama Maudy...?" tanya sang Mama.
" Ga Ma. Tapi ini serius. Lebam ini Aku dapat dari mimpi Ma...," kata Maudy hingga membuat kening sang Mama berkerut.
" Mimpi apa sih Maudy, Mama ga ngerti. Coba cerita deh biar Kami ga salah paham...," pinta Mama Maudy gusar.
" Mmm..., Aku mimpi buruk semalam Ma...," sahut Maudy.
Kemudian Maudy mulai menceritakan semua adegan dalam mimpinya itu. Mama dan kelima teman Maudy nampak mendengarkan dengan serius. Usai Maudy bercerita, ketakutan nampak jelas membayang di wajahnya. Sang Mama pun memeluk Maudy erat untuk menenangkannya.
Suasana hening pun menyeruak. Semua orang saling menatap bingung karena tak tahu bagaimana harus merespon. Tiba-tiba Maudy melihat ujung jemari Kareen yang dibalut perban. Ada warna kemerahan di perban itu pertanda jika luka di jari Kareen lumayan parah karena terus mengeluarkan darah.
" Jari Lo kenapa Reen ?, kok parah banget keliatannya. Masih berdarah ya...?" tanya Maudy.
" Oh ini. Cuma luka gores aja sih. Tapi Gue heran kenapa berdarah terus dari semalam. Dan ini udah perban ketiga yang Gue pake...," sahut Kareen sambil mengamati jarinya yang dibalut perban itu.
" Kegores apaan...?" tanya Maudy.
" Ga tau, ga ngeh Gue...," sahut Kareen sambil menggedikkan bahunya.
Tiba-tiba ponsel Kareen berdering. Kareen nampak tersenyum saat melihat nama Erwin di layar ponselnya.
" Eh, si Erwin nih...," kata Kareen antusias.
" Cepet angkat Reen...," kata teman-temannya.
" Iya, sabar dong...," sahut Kareen.
__ADS_1
Kemudian terjadi lah pembicaraan antara Kareen dengan Erwin. Pada kesempatan itu Kareen juga sempat menanyakan kabar Ranvier. Entah mengapa saat ia menyebut nama Ranvier, luka di ujung jarinya terasa nyeri hingga membuat Kareen mendesis.
" Ssshhh..., sakit banget sih...," gumam Kareen sambil mengamati jemarinya.
" Kenapa Reen...?" tanya Erwin dari seberang telephon.
" Gapapa Win, cuma luka kecil aja kok. Eh, gimana. Jadi kan Kita ketemuan besok...?" tanya Kareen.
" Boleh. Ntar Gue share tempatnya ya...," sahut Erwin.
" Ok. Jangan lupa ajak Ranvier dan teman Lo yang lain ya Win...," kata Kareen mewakili teman-temannya.
" Siap..., Gue tutup dulu ya Reen. Assalamualaikum..., " kata Erwin mengakhiri pembicaraan mereka.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Kareen sambil tersenyum.
" Gimana Reen...?" tanya keempat teman Kareen tak sabar.
" Beres. Erwin bakal ngajak temennya juga besok...," sahut Kareen.
" Kayanya Gue ga bisa ikut deh...," kata Maudy tiba-tiba.
" Gapapa Mod. Kita maklum kok, Lo kan lagi sakit...," sahut Evi.
" Salam aja ya buat mereka..., " kata Maudy.
" Siiippp...," sahut kelima temannya hingga membuat Maudy tertawa.
\=\=\=\=\=
Saat itu Erwin juga mengajak Akmal untuk ikut serta karena Ranvier akan datang terlambat nanti.
" Lho, Ranvier mana...?" tanya Kareen saat tak melihat Ranvier bersama Erwin.
" Ranvier bakal datang telat. Masih ada urusan katanya...," sahut Erwin cepat.
" Oh gitu...," kata Kareen sambil mengangguk.
" Kenalin nih temen Gue, namanya Akmal...," kata Erwin.
" Hai Akmal. Kenalin Gue Kareen...," sapa Kareen.
" Hai Kareen, salam kenal ya...," sahut Akmal ramah.
Kemudian Akmal menjabat tangan Kareen dan keempat temannya satu per satu sambil tersenyum.
" Maudy mana...?" tanya Erwin setelah memesan beberapa menu untuk mereka.
" Maudy lagi sakit. Dia titip salam aja...," sahut Evi cepat.
" Salam balik ya. Eh, sakit apaan emangnya...?" tanya Erwin basa basi.
" Sakit apa ya. Susah ngomongnya...," sahut Evi dengan enggan hingga membuat Erwin mengerutkan keningnya.
" Maksudnya gimana sih...?" tanya Erwin penasaran.
.
__ADS_1
Saat Evi hendak membuka mulut, tiba-tiba Ranvier datang dan menyapa mereka.
" Assalamualaikum semua. Sorry telat...," sapa Ranvier dengan ramah.
" Wa alaikumsalam..., " sahut semuanya bersamaan.
Kedatangan Ranvier membuat suasana hati Kareen yang tadi suram mendadak menjadi ceria. Ia nampak antusias menjawab sapaan Ranvier.
" Gapapa Vier. Kita juga belum lama kok, Iya kan teman-teman..., " kata Kareen yang disambut anggukan teman-temannya.
" Untuk Lo udah Gue pesenin sekalian Vier. Gapapa kan...?" tanya Erwin.
" Gapapa, makasih ya...," sahut Ranvier sambil duduk di samping Akmal.
" Eh, terus gimana lanjutannya Vi. Temen Lo itu sakit apaan emangnya, Gue jadi penasaran nih...," kata Akmal.
" Siapa yang sakit...?" sela Ranvier.
" Maudy. Sakitnya tuh lumayan aneh lho. Abis Kita ketemuan tempo hari, malamnya Maudy mimpi aneh. Dia mimpi dikejar-kejar perempuan pake gaun hitam. Dan dalam mimpinya itu Maudy dicekik sama perempuan bergaun hitam itu. Tapi anehnya pas bangun, bekas cekikan di mimpi itu keliatan jelas di lehernya Maudy...," kata Evi.
" Masa sih, kok bisa gitu ya...," kata Akmal dan Erwin bersamaan.
" Beneran. Terus si Maudy juga demam tinggi, dan gara-gara itu dia jadi ga boleh sekolah sama Mamanya...," sahut Evi.
" Bekas cekikannya juga masih ada sampe sekarang...?" tanya Ranvier.
" Masih...," sahut Kareen cs.
" Aneh...," gumam Ranvier yang diangguki semua orang.
Dan saat itu lah tak sengaja Ranvier melihat jari Kareen yang dibalut perban. Ranvier mengerutkan keningnya karena melihat darah merembes keluar dari balik perban yang membalut jemari Kareen itu.
Saat Ranvier menajamkan penglihatannya, ia melihat jari Kareen tengah digigit oleh sosok kepala tanpa tubuh. Kepala berambut panjang itu nampak mengunyah jemari Kareen yang dibalut itu dengan lahap. Dan sesaat kemudian Kareen pun menjerit sambil memegangi jarinya yang mengeluarkan darah.
Semua orang terkejut dan menatap Kareen.
" Kenapa Reen...?!" tanya Dilla dan April bersamaan.
" Jari Gue sakit banget...," keluh Kareen sambil menggenggam jemarinya yang terluka itu.
" Eh, Kayanya berdarah lagi Reen...!" kata Chika sambil menunjuk perban yang berubah warna menjadi merah itu.
Kareen pun terkejut lalu bangkit berdiri. Ia nampak tak nyaman karena khawatir membuat semua orang jijik.
" Sorry, Gue ke toilet dulu buat ganti perban...," kata Kareen tak enak hati.
" Gue temenin ya Reen...," kata Dilla sambil meraih tas milik Kareen.
" Ok, thanks Dil...," sahut Kareen.
" Iya sama-sama. Udah yuk buruan, ntar keburu netes di lantai kan ga enak sama yang lain...," kata Dilla setengah berbisik.
Kareen mengangguk sambil mempercepat langkahnya. Sedangkan Ranvier nampak menatap tajam kearah sesuatu yang mengikuti Kareen.
Sesuatu berbentuk kepala tanpa tubuh itu nampak melayang mengikuti Kareen tepat di samping tangannya yang terluka. Ranvier yakin jika aroma darah dari luka Kareen telah menarik makhluk itu untuk mengikutinya kemana pun.
\=\=\=\=\=
__ADS_1