Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
86. Sumpah Kyai Ireng


__ADS_3

Sesuai intruksi polisi, Erwin meminta semua orang menjauh dari lokasi kecelakaan. Mereka bergegas keluar dari pabrik dan saat itu lah mereka menyadari jika Kyai Ireng tak ada lagi bersama mereka.


" Dimana Kyai Ireng...? " tanya Erwin sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Ya Allah, maaf Win. Gara-gara Gue lengah, Kyai Ireng jadi kabur...," sahut Galih tak enak hati.


" Gapapa Gal, bukan salah Lo. Dia aja yang licik dan memanfaatkan kesempatan buat kabur...," kata Erwin sambil tersenyum maklum.


" Iya sih. Gue juga ga nyangka kalo Kyai Ireng sejahat itu. Cuma masalahnya gimana kalo dia mencelakai orang lain nanti...," sahut Galih cemas.


" Kalian tenang aja. Kyai Ireng udah ga bisa ngapa-ngapain lagi. Tangan yang dia banggakan dan sering dia gunakan untuk melakukan kejahatan udah ga berfungsi lagi. Jangankan untuk mengangkat bokor berisi menyan dan kembang, untuk nyuap makanan ke mulutnya aja ga bisa...," kata Daeng Payau sambil tersenyum sinis.


" Jadi tangan Kyai Ireng sekarang cacat permanen Om...?" tanya Erwin.


" Iya...," sahut Daeng Payau cepat.


" Kok bisa gitu Om...?" tanya Erwin.


" Itu karena dia kemakan sumpahnya sendiri Win...," sela ustadz Rahman.


" Maksudnya gimana Ustadz...?" tanya Erwin tak mengerti.


" Begini, jauh sebelum ini Om Daeng dan Kyai Ireng itu pernah ketemu bahkan bertarung beberapa kali. Makanya mereka udah saling kenal tadi. Nah di pertemuan terakhir mereka, sekitar empat atau lima tahun yang lalu, Kyai Ireng juga berhasil dikalahkan oleh Om Daeng. Saat itu Kyai Ireng berjanji, bukan, bersumpah lebih tepatnya. Jika mereka bertemu lagi di saat dia melakukan kejahatan, maka dia bersumpah tangannya bakal lumpuh untuk selamanya. Nah ternyata sumpahnya kebukti hari ini...," kata ustadz Rahman.


" Emang ada ya ilmu kaya gitu Ustadz...?" tanya Galih.


" Ilmu apa maksud Lo Gal...?" tanya Erwin sambil menatap Galih.


" Maksud Gue, emangnya ada ilmu yang kalah sama sumpahnya sendiri...," sahut Galih cepat.


" Oh tentu saja ada. Banyak kejadian orang yang melanggar pantangan suatu ilmu justru berakibat fatal. Pantangan itu kan diucapkan dengan sumpah. Barang siapa yang melanggar sumpah akan terkena karma, yah walau dalam ajaran agama Kita karma itu ga ada lho...," sahut ustadz Rahman.

__ADS_1


Erwin dan Galih saling menatap kemudian mengangguk tanda mengerti.


" Selain itu Saya yakin kalo Om Daengmu ini sudah melakukan sesuatu sama Kyai Ireng tadi. Makanya Kita liat gimana kondisi tangan Kyai Ireng yang awalnya baik-baik aja kok bisa tiba-tiba lumpuh, layu dan ga bisa bergerak kaya gitu...," kata ustadz Rahman.


" Saya hanya menon aktifkan otot lengannya aja Ustadz. Dengan sedikit totokan di bagian lengan, bikin tangannya ga berdaya sama sekali. Kecuali ada orang yang bisa membantunya melepaskan totokan, itu pun harus dilakukan dengan cepat, maka kondisi Kyai Ireng akan kaya gitu selamanya...," sahut Daeng Payau.


" Semoga setelah ini Kyai Ireng mau bertobat Daeng...," kata ustadz Rahman sambil menepuk pundak Daeng Payau dengan lembut untuk memberi suport pada sang sahabat.


" Aamiin. Saya harap juga begitu Ustadz...," sahut Daeng Payau cepat.


Kemudian mereka dikejutkan dengan kedatangan beberapa polisi. Saat itu lah tak sengaja Erwin mendengar Daeng Payau mengucapkan sebuah kalimat, pendek dan lirih.


" Tapi sebelum semuanya terlambat...," gumam Daeng Payau lalu menghela nafas kasar.


Erwin ingin bertanya maksud ucapan Daeng Payau tapi dia urungkan karena salah seorang polisi menyapanya.


" Selamat malam Pak Erwin...," sapa para polisi.


Ustadz Rahman dan Daeng Payau pun menepi lalu perlahan meyingkir dari tempat itu. Mereka tak ingin mengganggu Erwin dan Galih yang sibuk memberi keterangan pada pihak kepolisian.


" Karena ini kecelakaan kerja kedua dalam waktu tiga hari ini, keliatannya pabrik ini harus rehat sejenak Pak Erwin. Kami harus menyelidiki kelayakan mesin dan semua sarana pendukung di pabrik ini. Setelah semua Ok dan clear, maka pabrik bisa kembali beroperasi...," kata polisi.


" Saya mengerti Pak. Saya akan sampaikan ini pada owner dan pengelola pabrik secepatnya. Saya juga sempet berpikir yang sama tadi, tapi dengan adanya perintah resmi dari kepolisian akan membuat pekerjaan Saya lebih mudah nanti...," sahut Erwin sambil tersenyum.


" Saya senang bertemu dengan orang yang paham pekerjaan Kami. Terima kasih Pak Erwin, senang bekerja sama dengan Anda...," kata sang polisi sambil menjabat tangan Erwin dengan erat.


" Sama-sama Pak. Kalo gitu Saya boleh pulang kan ?. Saya capek banget mau istirahat. Sejak kecelakaan pertama terjadi, Saya susah tidur...," kata Erwin.


" Silakan Pak. Sebentar lagi Kami juga selesai kok...," sahut sang polisi.


Erwin pun mengangguk lalu berjalan keluar dengan gontai. Saat hendak melintas gerbang, Galih datang dengan motornya. Ia menawarkan tumpangan kepqda Erwin.

__ADS_1


" Gue anter Win...," kata Galih.


" Iya deh, makasih Gal...," kata Erwin lalu duduk di belakang Galih.


" Sama-sama..., " sahut Galih lalu melajukan motornya meninggalkan pabrik.


" Gimana reaksi security yang lain pas tau Aldi meninggal dengan cara tragis Gal...?" tanya Erwin.


" Mereka shock Win...," sahut Galih.


" Terus...?" tanya Erwin.


" Mereka juga ga nyangka kalo Aldi masuk ke dalam sana sendirian. Mereka bingung karena itu di luar kebiasaan banget. Diantara para security, Aldi adalah orang yang paling takut sama setan dan sejenisnya. Kok bisa-bisanya dia ke dalam pabrik, ke tempat Aini meninggal, pas malam pula. Padahal Aldi paling yakin kalo orang yang meninggal ga wajar kaya Aini itu bakal gentayangan. Lah kok malah disamperin. Jelas aja mereka ga percaya...," sahut Galih.


" Walau Gue ga kenal secara pribadi sama dia, dan beruntung juga ga kenal sama dia, Gue ikut prihatin Gal. Gue cuma kasian sama keluarga yang dia tinggalin...," kata Erwin sambil menguap.


" Iya Win. Mudah-mudahan keluarganya bisa tabah menerima kepergian Aldi...," sahut Galih sambil mempercepat laju motornya.


\=\=\=\=\=


Sementara itu Kyai Ireng tengah berlari cepat di antara rimbunan pohon. Rupanya ia lari ke belakang pabrik dimana terdapat kebun singkong yang siap panen.


Tinggi tanaman singkong yang melebihi tinggi orang dewasa dan berdaun lebat itu sangat menguntungkan kyai Ireng. Ia bisa lari tanpa terlacak, apalagi kyai Ireng juga mengenali daerah itu dengan baik.


Kyai Ireng berhenti berlari saat tiba di pinggir empang milik warga. Ia terduduk lemas dengan nafas yang tersengal-sengal.


" Sia*an Kau Daeng. Kau pikir Aku sudah kalah. Tunggu saja, tunggu pembalasanku nanti Daeng...!" kata kyai Ireng marah.


Tiba-tiba terdengar suara berderak seperti suara ranting kering yang sengaja diinjak. Kyai Ireng menoleh kearah kiri dimana sumber suara berasal. Jantungnya berdetak cepat seolah khawatir sesuatu yang tak ia inginkan akan datang menghampirinya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2