
Setelah kepergian para polisi dan perusuh itu, Ranvier dan Nada masih berdiri sambil menatap ke pintu utama. Ranvier juga masih merengkuh bahu sang istri dan nampak enggan melepasnya.
" Alhamdulillah selesai juga...," gumam Ranvier.
" Lepasin Bang...," pinta Nada tanpa menatap Ranvier.
" Sayang, Aku bisa jelasin semuanya...," kata Ranvier sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nada.
" Lepasin Bang...!" ulang Nada lebih lantang hingga membuat Ranvier terkejut.
Dengan terpaksa Ranvier melepaskan rengkuhannya dan membiarkan Nada melangkah menuju anak tangga. Ranvier akan mulai bicara namun di saat yang sama beberapa karyawan kafe tampak mulai memasuki ruangan. Ranvier pun mengurungkan niatnya bicara dan memilih menyusul Nada ke ruang atas.
Ranvier tiba di ujung anak tangga bagian atas dan melihat Nada masuk ke sebuah ruangan. Ranvier pun mengekori Nada dan itu membuat Nada terkejut. Namun hanya sebentar. Detik berikutnya saat Ranvier menutup pintu Nada pun langsung menghambur kearah Ranvier dan mendaratkan ciuman panjang di bibir sang suami.
Untuk sejenak kedua insan yang saling mencintai itu nampak melampiaskan kerinduan mereka dengan saling memeluk dan mencium. Ranvier pun nampak mulai tak sabar. Tangannya mulai menyusup masuk ke balik pakaian Nada hingga membuat Nada terkejut lalu mendorong Ranvier dengan keras.
" Kenapa Sayang...?" tanya Ranvier diantara nafasnya yang memburu.
" Kamu ga akan dapat itu sebelum jelasin semuanya Bang...!" sahut Nada sambil menjauh.
" Aku jelasin nanti, tapi sekarang Aku mau Kamu...," bisik Ranvier sambil menarik Nada ke dalam pelukannya dan kembali menciumi istrinya.
" Ga mau...!" sahut Nada tegas.
Ranvier pun menghentikan aksinya. Ia sadar jika Nada tak akan mengalah. Perlahan Ranvier mengurai pelukannya lalu tersenyum. Ia mengusap pipi Nada dengan lembut lalu mengecup kening sang istri beberapa saat.
Nada nampak memejamkan mata sambil meresapi kelembutan Ranvier. Tanpa sadar air mata pun jatuh menitik di wajahnya. Menyadari Nada menangis, Ranvier pun kembali memeluk istrinya.
" Maafin Aku Sayang. Maaf...," kata Ranvier berulang-ulang.
Nada hanya membisu dan terus menangis di pelukan suaminya. Hingga beberapa saat kemudian Nada berhenti menangis lalu mengurai pelukan mereka.
Perlahan Ranvier mulai menjelaskan semuanya secara rinci dan tak ada satu pun yang terlewat. Sedangkan Nada tampak mendengarkan dengan seksama tanpa sekali pun menatap Ranvier.
Setelah Ranvier selesai menceritakan semuanya, Nada pun bangkit dari duduknya. Ia masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya di sana. Ranvier bisa melihat apa yang Nada lakukan karena saat itu Nada membiarkan pintu kamar mandi tetap terbuka. Ranvier hanya mengamati dalam diam karena tahu sang istri perlu waktu untuk mencerna ceritanya tadi.
Bwberapa saat kemudian Nada kembali menemui Ranvier setelah memperbaiki make upnya. Ia mengambil minuman dingin dari kulkas dan menyerahkannya kepada Ranvier.
" Makasih Sayang...," kata Ranvier sambil tersenyum.
__ADS_1
" Hmmm...," sahut Nada tanpa ekspresi.
" Jadi siapa mereka...?" tanya Ranvier mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Ga tau. Mungkin temennya Kalong...," sahut Nada.
" Kalong...?" ulang Ranvier.
" Iya. Mantan temen waktu sama-sama di jalanan dulu...," sahut Nada dengan enggan.
" Jadi mereka suruhan Kalong atau justru mereka datang karena mau membalaskan dendam Kalong...?" tanya Ranvier hingga membuat Nada terkejut.
" Kenapa Abang ngomong kaya gitu ?. Asal Abang tau ya, Kalong itu udah mati. Dia mati kehabisan darah akibat luka yang dibuat Barong saat mencoba melindungi Aku dari serangannya. Lagipula yang harusnya dendam kan Aku karena Kalong yang udah berniat menghancurkan Aku...," sahut Nada cepat.
" Oh gitu. Maaf, Aku kan ga tau. Tapi Aku senang karena Barong menjaga Kamu dengan baik...," kata Ranvier.
" Iya. Aku beruntung karena Barong mampu menggantikan tugas Suamiku yang seharusnya melindungi Aku...!" sahut Nada sambil mendengus kesal.
" Aku udah jelasin semuanya tadi lho Sayang. Masa masih disindir juga...," kata Ranvier dengan sabar.
Nada hanya mencibir lalu bangkit menuju pintu.
" Pulang. Buat apa stay di kafe yang hancur. Ga akan ada pengunjung yang datang juga karena kafe dikasih Police line kaya gitu...," sahut Nada sambil cemberut.
Ranvier pun tersenyum lalu meraih tas milik Nada yang ada di atas meja. Setelahnya ia menggandeng tangan Nada dan membawanya menuruni anak tangga.
Tiba di lantai dasar para karyawan kafe yang sedang berkumpul pun tersenyum kearah Nada dan Ranvier.
" Kenapa Kalian masih di sini ?. Udah ga ada yang bisa dikerjain sekarang. Ngeliat banyak Polisi di depan kafe, pengunjung juga ga bakal berani masuk. Lebih baik Kalian pulang dan istirahat di rumah...," kata Nada.
" Iya Bu, Kami tau. Kami cuma nunggu instruksi dari Ibu aja...," sahut Fatur mewakili rekan-rekannya.
" Ok. Sambil nunggu kafe diperbaiki, Kalian dirumahkan sementara waktu. Mungkin seminggu. Insya Allah kalo semua selesai, Kita bisa kembali bekerja seperti semula...," kata Nada.
" Iya Bu...," sahut para karyawan kafe bersamaan.
" Kalian ga usah khawatir. Gaji Kalian bulan ini utuh meski pun kafe libur selama seminggu. Insya Allah Saya akan kasih bonus untuk Kalian dan akan dikirim ke rekening Kalian masing-masing nanti..., " kata Ranvier menambahkan.
" Wah, makasih Pak...!" sahut para karyawan kafe antusias.
__ADS_1
" Sama-sama..., " sahut Ranvier sambil tersenyum.
" Oh iya, mungkin sebagian dari Kalian bertanya-tanya siapa pria ini. Beliau ini Suami Saya, namanya Pak Ranvier...," kata Nada sambil menggelayut manja di lengan Ranvier.
" Salam kenal Pak Ranvier...!" sapa para karyawan lalu menjabat tangan Ranvier dengan takzim.
Nada nampak tersenyum melihat interaksi Ranvier dengan semua karyawannya.
" Terima kasih udah membantu Istri Saya selama ini. Dan karena kata Istri Saya udah ga ada yang bisa dikerjain malam ini, Kalian boleh pulang sekarang...," kata Ranvier sambil tersenyum.
" Baik Pak...!" sahut para karyawan kafe lalu bergegas membubarkan diri.
Ranvier pun merengkuh Nada sambil mendaratkan ciuman di keningnya hingga membuat wajah Nada merona.
\=\=\=\=\=
Ranvier dan Nada pulang ke rumah saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Mereka disambut Kakek Randu, Wijaya, ustadz Rahman, Daeng Payau dan Erwin di ruang tengah.
Ranvier pun menghampiri mereka lalu memeluk mereka satu per satu. Sedangkan Nada memilih pergi membersihkan diri di kamar.
Setelahnya Kakek Randu mengajak semua makan malam.
" Kalian belum makan malam...?" tanya Ranvier.
" Nunggu Lo Vier. Kan menu yang dibikin Mbok Rah malam ini spesial. Katanya sih buat nyambut kedatangan Mas Ranvier...," kata Erwin sambil menirukan gaya bicara Mbok Rah.
Ucapan Erwin tentu saja membuat semua orang tertawa.
" Kalo gitu Kalian duluan aja. Aku panggil Nada sebentar...," kata Ranvier.
" Manggil doang kan Vier...?" tanya Erwin hingga membuat Ranvier menoleh kearahnya.
" Iya. Emang Lo pikir Gue mau ngapain...?" tanya Ranvier.
" Ya mau itu lah, masa Lo ga tau. Suami Istri yang udah lama ga ketemu apalagi sih yang ga dikerjain selain kegiatan panas di atas tempat tidur...," sahut Erwin sambil mencibir.
Ucapan Erwin membuat semua orang kembali tertawa namun membuat wajah Ranvier merona bak kepiting rebus.
bersambung
__ADS_1