Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
142. Selingkuh


__ADS_3

Nada masih bertahan di taman untuk mendengarkan ucapan ayahnya. Setelah terdiam sejenak, Daeng Payau pun kembali bicara.


" Lalu kenapa Nada pergi ?. Apa yang menyebabkan Nada pergi...?" tanya Daeng Payau.


" Saya memarahinya saat dia bilang kalo penyebab kematian Ibunya adalah Ayu. Menurut Saya Nada udah dewasa dan harus berpikir logis. Saya mau Nada menggunakan logikanya dan paham kenapa Mamanya meninggal. Sebelumnya kan dia juga tau kalo Mamanya sakit parah dan kata dokter terlambat diobati. Masa dia masih menyalahkan Tantenya juga. Dia kesal waktu Saya bilang Mamanya meninggal karena takdir dan bukan karena Ayu...," sahut Wijaya.


" Itu karena saat itu otak dan hati Anda telah dipenuhi dengan pesona Ayu. Jadi Anda menganggap apa yang Nada ucapkan hanya bualan...," kata Daeng Payau kesal.


" Sekarang Saya juga berpikir begitu dan Saya menyesal. Saya ingat dulu, sejak Ibunya sakit, Nada memang tampak membenci Tantenya itu. Menurut Nada, Ayu tak menunjukkan sikap peduli saat Mamanya sakit. Padahal mereka saudara kandung dan Mamanya lah yang telah memberi Ayu tempat di rumah Kami...," kata Wijaya.


" Tapi Saya yakin ada kalimat lain yang Anda ucapkan yang melukai harga diri Nada dan membuatnya tak ingin kembali ke rumah...," kata Daeng Payau mengingatkan.


" Mungkin juga...," sahut Wijaya cepat.


" Seperti Anda bilang tadi, Nada sudah dewasa dan bisa berpikir logis. Jadi keputusan akhir tetap ada di tangannya. Kami mohon maaf kalo ga bisa banyak membantu untuk urusan yang satu ini...," kata Daeng Payau yang diangguki ustadz Rahman.


" Iya Pak Daeng, gapapa. Saya ngerti kok...," sahut Wijaya hingga membuat Daeng Payau tersenyum.


" Sekarang sebaiknya fokus saja pada Istrimu itu Pak...," sela ustadz Rahman mengingatkan.


" Baik Ustadz. Sejak Saya tau dia menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan keluarga Saya, Saya sudah ga respect lagi sama dia...," kata Wijaya.


" Oh ya. Apa dia masih melakukan sesuatu yang mencurigakan...? " tanya ustadz Rahman.


" Mungkin dia yang curiga sama Saya, Ustadz. Belakangan ini Saya sering mengabaikan dia. Saya juga udah ga pernah berhubungan int*m sama dia. Dan anehnya dia keliatan senang waktu Saya ga minta jatah. Padahal biasanya dia selalu berusaha mengajak Saya melakukan itu hampir tiap malam...," sahut Wijaya malu-malu.


Ucapan Wijaya mengejutkan Ustadz Rahman dan Daeng Payau. Keduanya saling menatap sejenak lalu tersenyum samar.


" Sebaiknya Kamu pulang sekarang. Jangan lupa perbanyak dzikir saat berada di dekatnya...," kata ustadz Rahman.


" Baik Ustadz...," sahut Wijaya dengan patuh.


Setelah menjabat tangan Daeng Payau dan ustadz Rahman, Wijaya pun bergegas pergi meninggalkan taman. Nada kembali sembunyi karena tak ingin sang ayah melihatnya.


Saat Nada akan membalikkan tubuhnya, Daeng Payau memanggil namanya.


" Saya tau Kamu sembunyi di sana Nada. Ayo keluar dan Kami antar Kamu pulang sekarang...!" kata Daeng Payau lantang hingga membuat Nada terkejut.

__ADS_1


" Pulang kemana Pak Daeng...?" tanya Nada khawatir.


" Ke rumah Kakek Randu. Kami tau Kamu ga akan mau pulang ke rumah Ayahmu...," sahut Daeng Payau sambil menghampiri Nada.


" Sebenernya Saya mau pulang ke kost-an aja Pak. Saya ga mau ngerepotin Kakek Randu terus. Saya malu. Apalagi Saya kan bukan siapa-siapanya Kakek Randu...," kata Nada tak enak hati.


" Saya setuju. Tapi sebaiknya Kamu bicarakan dulu sama Kakek Randu supaya beliau ga kecewa. Jangan kabur seperti yang Kamu lakukan pada Ayahmu karena Kakek Randu berbeda dengan Ayahmu...," kata Daeng Payau tegas.


" Iya Pak...," sahut Nada sambil tersenyum.


Setelahnya Daeng Payau dan Ustadz Rahman mengantar Nada pulang ke rumah kakek Randu menggunakan Taxi.


\=\=\=\=\=


Wijaya tiba di rumahnya sekitar jam delapan malam. Ia sengaja pulang ke rumah setelah menunaikan sholat Isya berjamaah di masjid yang ia lewati tadi. Belakangan ini Wijaya memang memilih sholat berjamaah di masjid atau musholla karena merasa lebih nyaman. Dan kebiasaan baru Wijaya ini tak diketahui Ayu sama sekali.


Wijaya mengerutkan keningnya melihat suasana rumah yang terlihat sepi. Ia turun dari mobil untuk memanggil security yang biasa berjaga di pos untuk membukakan pintu.


" Kemana sih tuh orang. Pos kosong, untung pintu dikunci...," gumam Wijaya sambil menekan bel.


Tak lama kemudian security yang dimaksud pun berlari keluar rumah dengan tergopoh-gopoh sambil membenahi ikat pinggangnya.


" Maaf Pak. Abis buang air kecil di kamar mandi dapur...," sahut sang security bernama Soni itu.


" Kenapa ke sana ?. Emangnya kamar mandi di Pos rusak...?" tanya Wijaya.


" Saluran airnya mampet Pak. Makanya Saya pipis di kamar mandi dapur...," sahut Soni sambil mendorong pintu gerbang.


" Kenapa bisa mampet, sejak kapan mampet...?" tanya Wijaya.


" Mampetnya sih baru sore ini. Kayanya ada sesuatu yang menyumbat saluran pembuangannya Pak...," sahut Soni.


" Panggil tukang lah. Suruh benerin sekalian. Saya ga suka Kamu keluar masuk rumah saat Saya ga ada di rumah...!" kata Wijaya sambil melempar kunci mobil kearah Soni.


" Iya Pak, maaf...," sahut Soni sambil menangkap kunci mobil.


Setelahnya Soni bergegas melangkah menuju mobil yang masih terparkir di luar sedangkan Wijaya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Setelah meletakkan tas di ruang kerja, Wijaya pun masuk ke dalam kamar. Ia mengerutkan keningnya melihat Ayu sedang terbaring dalam kondisi acak-acakan. Matanya terpejam, tubuhnya bermandi peluh, dan saat itu Ayu berbaring tanpa busana karena hanya ditutupi selimut.


Wijaya pun menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara cukup keras. Ayu membuka matanya dan terkejut melihat Wijaya berdiri di dekat pintu.


" Sa... Sayang. Kamu udah pulang ?. Kok ga ngabarin kalo mau pulang ?. Aku kan belum siap-siap...," kata Ayu sambil bergegas bangun dan memperbaiki penampilannya.


" Siap-siap mau ngapain...?" tanya Wijaya ketus.


" Ya siap-siap mau nyambut Kamu dong Sayang. Apalagi emangnya...," sahut Ayu salah tingkah.


Jawaban Ayu membuat Wijaya mendengus kesal. Ia tersenyum sinis lalu mendekat kearah Ayu.


" Kalo gitu siap-siap sekarang aja...," kata Wijaya sambil menatap Ayu lekat.


" Siap-siap apa Sayang...?" tanya Ayu sambil tersenyum manja.


" Siap-siap angkat kaki dari rumah ini sekarang !. Karena mulai detik ini Kamu Aku talak. Pergi Kamu sama selingkuhan Kamu itu Ayu...!" kata Wijaya lantang hingga membuat Ayu terkejut.


" Apa-apaan ini Wijaya. Kenapa Kamu nalak Aku...?!" tanya Ayu tak terima.


" Aku ga suka dikhianati oleh perempuan ga tau diri kaya Kamu Ayu !. Kamu udah selingkuh sama Soni dan tidur sama dia di sini. Ga usah nyangkal karena Aku liat buktinya. Ini, ini dan ini...!" kata Wijaya lantang sambil menunjuk kissmark di sekitar dada dan leher Ayu.


" Kamu jangan memfitnah Aku Wijaya...!" sahut Ayu masih berusaha membela diri.


" Lalu siapa yang bisa membuat tanda ini Ayu. Kan udah hampir sebulan Aku ga menyentuhmu...!" kata Wijaya sinis.


Ayu pun terdiam karena tak mungkin lagi mengelak.


" I... ini. Maaf, Aku khilaf Sayang. Tolong jangan talak Aku ya. Aku janji ga akan kaya gini lagi. Tapi Soni ga sehebat Kamu kok, jangan cemburu lagi yaa...," kata Ayu menghiba.


" Cih, menjijikkan. Aku bukan cemburu tapi Aku menyesali kebodohanku. Sekarang keluar dari rumah ini Ayu. Keluaarr...!" kata Wijaya lantang sambil membuka pintu kamar.


Saat membuka pintu Wijaya melihat Siti melintas di depan kamar. Ia memanggil Siti dan meminta wanita itu mengemasi pakaian Ayu dari dalam lemari.


Siti bergerak cepat. Ia melaksanakan perintah Wijaya dan mengabaikan omelan Ayu yang masih sibuk mengenakan pakaian.


Wijaya yang berdiri di ambang pintu kamar nampak menelephon seseorang. Sambil menelephon Wijaya juga mengamati Ayu. Entah mengapa melihat Ayu yang panik membuat Wijaya iba. Namun Wijaya menguatkan hati sambil mengingat penderitaan istri pertamanya dan anaknya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2