Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
154. Pesan Misterius


__ADS_3

Pernikahan Ranvier dan Nada rencananya akan digelar seminggu setelah acara lamaran resmi dilaksanakan. Rupanya kakek Randu telah mempersiapkan semuanya.


Di malam saat Ranvier memberi tahu jika ia telah melamar Nada pada Wijaya, maka kakek Randu pun bergerak cepat.


" Krisna...!" panggil kakek Randu.


" Iya Pak...," sahut Krisna.


" Kamu udah denger kan apa yang Ranvier bilang tadi...?" tanya Kakek Randu.


" Soal lamaran Mas Ranvier ke Pak Wijaya itu Pak...?" tanya Krisna ragu.


" Iya...," sahut kakek Randu.


" Saya sudah dengar Pak. Terus, apa Kita bisa mulai bergerak sekarang Pak...?" tanya Krisna.


" Tentu saja. Lakukan yang terbaik karena Aku hanya ingin yang terbaik untuk Cucu semata wayangku ini...," sahut kakek Randu sambil melirik kearah Ranvier .


" Siap Pak. Saya akan hubungi WO dan semua pihak yang bertanggung jawab dalam perhelatan ini nanti. Kalo gitu Saya pamit ya Pak...," kata Krisna antusias.


" Iya iya, silakan...," sahut kakek Randu sambil tersenyum.


Setelah Krisna keluar dari ruang kerja sang kakek, Ranvier pun bertanya.


" Apa Kakek dan Pak Kris udah jauh-jauh hari mempersiapkan semuanya ?. Kok, keliatannya Pak Kris udah tau apa yang harus dia lakuin...?" tanya Ranvier penasaran.


" Iya Nak. Sejak Kamu menjalin hubungan dengan Nada, Kakek sudah minta Krisna menyiapkan semuanya. Mereka hanya menunggu aba-aba kapan harus bergerak. Dan saat Kamu bilang kalo Kamu baru aja ngelamar Nada ke Pak Wijaya, itu artinya mereka udah bisa mulai bergerak dan mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk acara lamaran sekaligus pernikahan Kamu nanti...," sahut kakek Randu hingga membuat Ranvier terharu.


" Makasih karena udah melakukan banyak hal untukku Kek. Terima kasih juga karena Kakek udah mau merestui Aku dan Nada...," kata Ranvier dengan mata berkaca-kaca.


" Kebahagiaanmu adalah kebahagianku juga Ranvier. Semoga pernikahan Kalian langgeng hingga akhir hayat. Jangan lupa, lahirkan banyak Cucu buyut untukku nanti...," pesan kakek Randu hingga membuat wajah Ranvier merona karena malu.


" Apa sih Kakek. Ijab kabul aja belum, eh udah minta Cucu buyut...," gerutu Ranvier sambil melangkah keluar dari ruang kerja sang kakek.


Di tempat duduknya Kakek Randu nampak tertawa puas melihat wajah Ranvier yang merah bak kepiting rebus setelah mendengar permintaannya tadi.


\=\=\=\=\=


Ranvier baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur saat sebuah pesan masuk di ponselnya.


Dengan sigap Ranvier meraih ponselnya lalu membaca pesan yang masuk itu. Ranvier nampak mengerutkan keningnya sambil mengamati isi pesan itu.

__ADS_1


" Semoga bahagia bersama wanita yang tak lagi utuh "


Demikian lah isi pesan teks yang Ranvier baca. Tak ada nama pengirim dan nomor ponsel itu pun tak lagi bisa dihubungi. Ranvier yakin jika pengirim pesan membuang sim card ponsel untuk menghilangkan jejak.


" Wanita yang tak lagi utuh. Apa maksudnya Nada ?. Tapi mana mungkin Nada. Dia cewek super jutek dan tertangguh yang pernah Gue kenal. Dan kalo seandainya dia ga utuh karena satu dan lain hal, Gue ga peduli. Gue mencintai dia apa adanya...," batin Ranvier sambil tersenyum tipis.


Setelah melihat pesan itu Ranvier pun kembali merebahkan tubuhnya. Ia menatap ke langit-langit kamar sambil mengingat kembali pertemuannya dengan Nada di moment lamaran resmi mereka tadi.


Setelah dua minggu tak bertemu dan bertukar kabar, akhirnya Ranvier bisa bertemu dengan Nada.


Saat Nada keluar menemui para tamu, Ranvier dibuat terkagum-kagum. Gadis itu terlihat cantik dan menggemaskan di waktu bersamaan. Nada tampil anggun dengan kebaya biru dan jarik batik, rambut disanggul dan make up minimalis melengkapi penampilannya. Wajahnya yang berbinar bahagia nampak merona saat tatap matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan Ranvier.


Mengerti jika dua sejoli itu perlu waktu untuk bicara, Wijaya pun mempersilakan Ranvier dan Nada bicara di teras samping. Namun mereka tak berdua karena Erwin dan Akmal ikut mengawasi dari jauh.


" Apa kabar Sayang...?" tanya Ranvier saat mereka tiba di teras samping.


" Alhamdulillah baik Bang. Apa Kamu juga baik-baik aja...?" tanya Nada.


" Alhamdulillah seperti yang Kamu liat. Ga sebaik biasanya sih. Karena ga bisa ketemu dan ngobrol sama Kamu mana mungkin bisa baik-baik aja...," sahut Ranvier sambil tersenyum kecut.


" Sabar ya Bang. Ini juga kan demi kebaikan Kita...," kata Nada sambil menyentuh lengan Ranvier dengan lembut.


Ranvier pun tersenyum lalu meraih jemari Nada dan menggenggamnya erat.


" Maksud Abang, selama ini Aku ga cantik...?!" tanya Nada kesal.


Ucapan Nada membuat Ranvier tertawa. Ia pun menarik Nada ke dalam pelukannya lalu mengecup kening gadis itu. Nada pun tersenyum dalam pelukan Ranvier. Tindakan Ranvier membuat Akmal dan Erwin terkejut lalu berteriak lantang untuk mengingatkan Ranvier.


" Sabar Vier..., cuma seminggu lagi kok...!" kata Akmal mengingatkan.


" Iya Vier. Inget ya, Kalian belum halal lho...!" kata Erwin menambahkan.


Ucapan Akmal dan Erwin membuat Ranvier kesal.


" Berisik !. Ganggu aja sih. Ngapain masih berdiri di situ ?. Ga malu ya nontonin orang pacaran...?" tanya Ranvier ketus.


" Sebenernya sih malu. Tapi karena ini tugas dari Pak Wijaya dan Kakek, ya mau ga mau dijalanin walau sedikit ga nyaman...," sahut Akmal disambut tawa Erwin.


" Alasan...," gerutu Ranvier sambil mengerucutkan bibirnya.


Sikap Ranvier tak hanya membuat Akmal dan Erwin tertawa. Nada pun ikut tertawa karena baru kali ini melihat sikap Ranvier saat sedang merajuk.

__ADS_1


Dan Ranvier kembali tersenyum saat ia teringat dengan keberhasilannya mencuri ciuman ringan di bibir sang kekasih tadi.


" Semoga semuanya berjalan lancar dan ga ada kendala apa pun hingga hari H. Aamiin...," gumam Ranvier sambil mengusap wajahnya.


Setelah mengucapkan itu perlahan Ranvier pun memejamkan matanya. Senyum nampak menghias bibirnya pertanda ia sedang bermimpi indah.


\=\=\=\=\=


Saat sarapan pagi bersama sang kakek, lagi-lagi Ranvier mendapat pesan dari nomor tak dikenal. Isi pesan yang sama dengan yang ia terima tadi malam membuat Ranvier sedikit gelisah.


" Ada apa Vier...?" tanya kakek Randu setelah melihat kegelisahan di wajah Ranvier.


" Bukan apa-apa Kek. Cuma pesan ga penting dari nomor ga dikenal...," sahut Ranvier sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


" Pesan tentang apa...?" tanya kakek Randu penasaran.


" Tentang Nada...," sahut Ranvier cepat hingga membuat kakek Randu mengerutkan keningnya.


" Buruk...?" tanya kakek Randu.


" Begitu lah. Tapi Kakek tenang aja. Aku ga bakal terpengaruh kok...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Kakek percaya sama Kamu. Kakek hanya ingin tau apa isi pesan itu Vier. Tolong jangan sembunyikan apa pun dari Kakek...," pinta kakek Randu sungguh-sungguh.


Tak ingin membuat sang kakek khawatir, Ranvier pun mengalah. Ia meraih ponsel lalu memperlihatkan isi pesan dari nomor tak dikenal itu.


Kakek Randu pun menggebrak meja usai membaca pesan asing itu.


" Kurang ajar !. Siapa yang berani mengacaukan acara besar Cucuku. Aku ga mau tau, kejar dan tangkap orang itu secepatnya Krisna...!" kata Kakek Randu lantang.


" Baik Pak...!" sahut Krisna tak kalah lantang lalu bergegas meninggalkan ruang makan.


" Tunggu Pak Kris...!" panggil Ranvier hingga membuat Krisna menghentikan langkahnya.


" Ada apa Mas...?" tanya Krisna.


" Masalah ini biar Aku yang urus nanti. Sekarang Aku minta Pak Kris stand by jagain Kakek di sini. Bisakan Pak Kris...?" tanya Ranvier sambil menatap Krisna lekat.


Krisna melirik kearah kakek Randu. Saat melihat pria tua itu mengangguk, Krisna pun mengangguk mengiyakan permintaan Ranvier.


" Makasih Pak Kris, makasih Kakek. Nada itu calon Istriku dan bakal jadi tanggung jawabku kelak. Jadi apa pun yang berkaitan dengannya, Aku lah yang akan maju untuk membereskannya nanti...," kata Ranvier tegas.

__ADS_1


Kakek Randu dan Krisna saling menatap sejenak kemudian mengangguk sambil tersenyum. Mereka percaya Ranvier akan mampu menyelesaikan terror itu nanti.


\=\=\=\=\=


__ADS_2