Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
73. Bayi Mencari Ibu


__ADS_3

Merasa tak nyaman dengan cara menatap orang-orang di sana. Ranvier pun meminta maaf.


" Maaf, silakan dilanjut. Ayo Win, gara-gara Lo jadi Gue teriak tadi...," kata Ranvier sambil menarik tangan Erwin.


Erwin yang bingung hanya menurut saja saat Ranvier menarik tangannya keluar dari area rumah orangtua Amelia.


Saat mereka keluar melewati pagar rumah, Erwin pun menarik tangannya.


" Lepasin Vier, udah ga ada siapa-siapa di sini. Sekarang bisa Lo jelasin kan ada apaan sebenarnya...?" tanya Erwin.


" Tadi Gue ngeliat makhluk berwujud anak kecil di gang buntu sana Win. Terus dia ngikut di kaki Gue. Karena Gue pikir ga mengganggu, ya Gue biarin aja. Tapi barusan dia lari kearah Akmal Win...," kata Ranvier.


" Anak kecil, maksud Lo tuyul...?!" tanya Erwin lantang.


" Sssttt..., bisa direm sedikit ga sih suara Lo itu Win.


" Sorry Vier, Gue kaget banget, sumpah...," sahut Erwin setengah berbisik.


" Please jangan panik Win. Gue bisa bantu supaya makhluk itu ga ganggu tapi Gue juga butuh bantuan Lo...," kata Ranvier.


" Bantuan apaan Vier ?, jangan macem-macem Lo ya...," sahut Erwin khawatir.


" Ga macem-macem Win, cuma semacem aja. Ntar Lo tolong awasin sekitar saat Gue berkomunikasi sama sosok itu. Mudah-mudahan ga susah dan sosok itu mau bilang apa maunya...," kata Ranvier.


" Cuma itu doang mah Gue sanggup Vier. Kapan mau dimulai...?" tanya Erwin.


" Sebentar, Gue liat dulu dia dimana sekarang...," sahut Ranvier sambil mengamati kondisi di dalam rumah.


Kemudian Ranvier dan Erwin duduk di dekat meja penerima tamu. Dari sana mereka bisa melihat ke segala penjuru dengan jelas. Namun sayang kehadiran Ranvier dan Erwin justru membuat dua gadis penunggu meja tamu itu salah tingkah. Kedua gadis itu saling berbisik sambil tersenyum penuh makna.


" Ganteng banget. Udah tinggi, hidungnya mancung, matanya bagus, bulu matanya juga lentik, kaya orang Arab...," kata seorang gadis.


" Yang ini juga lumayan. Biar lebih kecil tapi manis juga...," sahut gadis lainnya.


" Yang mana aja deh Gue juga mau...," kata gadis pertama sambil menahan tawa.

__ADS_1


" Dasar Lo, ga boleh liat cowok bening langsung aja digebet...," sahut gadis kedua sambil mencibir.


Sadar telah membuat kedua gadis di hadapan mereka salah tingkah, Ranvier dan Erwin pun tersenyum lalu perlahan menyingkir.


" Duduk aja salah, gimana sih Vier...," kata Erwin.


" Apanya yang salah...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Tampang Lo itu, kenapa harus lebih ganteng dari Gue sih. Bosen Gue denger cewek-cewek muji Lo terus...," sahut Erwin sambil mencibir.


Ucapan Erwin mau tak mau membuat Ranvier tertawa geli.


" Bukan salah Gue dong Win. Allah yang takdirin Gue hadir dari sepasang manusia yang hebat kaya orangtua Gue itu. Eit, bukan berarti orangtua Lo ga hebat ya Win. Ntar kalo Lo cerita sama orangtua Lo terus mereka salah paham kan berabe nih urusannya...," kata Ranvier di sela tawanya.


" Udah ga usah ketawa mulu. Gimana, udah bisa mulai berkomunikasi belum sama sosok kecil itu...?" tanya Erwin tak sabar.


" Kita ke sana Win. Dia ada di sana sekarang...," ajak Ranvier sambil bergegas melangkah ke samping rumah dimana terdapat dapur dadakan untuk menyiapkan makanan.


Erwin pun mengekori Ranvier. Kemudian keduanya berhenti tak jauh dari tenda dapur.


Merasa diawasi oleh Ranvier, sosok anak kecil itu pun menoleh. Saat itu tangannya terulur siap menarik kain penutup meja atau taplak. Bayangkan apa yang akan terjadi jika kain itu ditarik, bisa dipastikan seluruh makanan yang ada di atas meja akan terguling tumpah ke tanah.


" Kamu bicara sama Aku...?" tanya sosok anak kecil itu ragu.


" Iya. Jangan mengganggu lagi, kasian mereka. Makanan itu dipersiapkan sejak kemarin, masa Kamu tega menghancurkan semuanya hanya karena iseng...," sahut Ranvier.


" Aku ga iseng. Aku sedang mencari Ibuku. Aku ingat kain ini warnanya sama persis seperti kain yang Aku kenakan waktu itu. Makanya Aku bermaksud mengambilnya...," sahut makhluk berwujud anak kecil itu.


" Kemari lah. Ceritakan apa yang terjadi. Insya Allah Aku akan membantumu nanti...," ajak Ranvier sambil melambaikan tangannya kearah sosok anak kecil itu.


" Janji mau bantu Aku ?. Aku khawatir Kamu sama dengan mereka yang cuma memanfaatkan Aku untuk kepentingan sendiri...," keluh sosok anak kecil itu.


" Aku kan bilang insya Allah tadi. Itu artinya Aku janji bantu tapi hasil akhirnya tetap di tangan Allah ya...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Siapa Allah...?" tanya sosok anak kecil itu sambil mendekat kearah Ranvier.

__ADS_1


" Allah itu Tuhan yang menciptakan langit, bumi, alam semesta dan semua isinya. Termasuk semua manusia, hewan tumbuhan dan makhluk halus seperti Kamu...," sahut Ranvier sambil menatap iba kearah sosok anak kecil itu.


" Jadi Aku makhluk halus yaa...?" tanya sosok anak kecil itu sedih.


" Iya...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Berarti Allah itu hebat sekali. Apa Allah juga bisa membantu mempertemukan Aku dengan Ibuku...?" tanya sosok anak kecil itu penuh harap.


Ranvier pun mengangguk. Tak sengaja Ranvier melihat bayangan seseorang meletakkan bayi yang terbungkus kain warna merah di sebuah tanah kosong, tepat di atas tumpukan sampah. Setelahnya bayi itu ditinggalkan begitu saja. Bayi itu meninggal setelah tubuhnya dicabik dan dimakan anjing liar. Sedangkan kain penutup tubuhnya ikut terbakar saat sampah dibakar oleh seseorang.


" Ada apaan Vier...?" tanya Erwin setengah berbisik.


" Ternyata anak itu lagi nyariin Ibunya Win...," sahut Ranvier.


" Nyariin Ibunya. Jangan-jangan dia anak yang kelahirannya ga diinginkan sama kedua orangtuanya. Ya, semacam anak yang hadir hasil perzinah*n. Dan lebih parahnya dia diaborsi karena orangtuanya malu punya anak sebelum menikah Vier...," tebak Erwin.


" Keliatannya sih gitu Win. Asal Lo tau Win, saat dia dibuang dia dibungkus pake kain yang warnanya mirip sama warna taplak meja di dapur tadi. Makanya dia hampir narik kain taplak meja itu karena mengira itu miliknya. Rupanya kain itu yang selama ini nemenin dia, jadi penghangatnya saat kedinginan, sampe akhirnya maut datang menjemputnya...," kata Ranvier kesal.


" Ya Allah, kasian banget sih. Mungkin dia belum lama meninggal Vier...," kata Erwin gusar.


" Iya Win. Gue rasa kejadiannya juga ga jauh dari rumah ini karena dia cuma bolak balik di sekitar sini aja daritadi...," sahut Ranvier.


" Terus kenapa tadi dia lari kearah Akmal...?" tanya Erwin.


" Mungkin ada sesuatu di diri Akmal yang bikin dia tertarik...," sahut Ranvier.


Saat Ranvier sedang mengamati sosok anak kecil itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar sana. Ranvier dan Erwin menoleh dan teekejut melihat seorang wanita tengah disoraki oleh anak-anak. Wanita itu nampak tak waras karena selain berpakaian lusuh, rambutnya dikuncir banyak, sandal yang ia kenakan pun beda warna dan ukuran.


Wanita itu nampak kebingungan. Ia menangis lalu tertawa. Menangis lagi dan tertawa lagi. Begitu seterusnya. Sesekali ia berhenti untuk mengusap air mata dan bagian bawah perutnya seolah mencari sesuatu di sana.


Ranvier pun terkejut saat sosok makhluk halus berwujud anak kecil yang ada bersamanya tiba-tiba melesat cepat menghampiri wanita tak waras itu sambil menjerit.


" Ibuuu...!" panggil sosok anak kecil itu sambil menghambur memeluk wanita tak waras itu.


Ranvier membulatkan matanya saat mengamati dengan seksama apa yang wanita itu kenakan. Ternyata perut wanita itu dililit kain yang warnanya mirip dengan warna taplak meja di dapur sana. Meski pun tak utuh lagi, tapi Ranvier yakin jika potongan kain itu lah yang digunakan untuk menyelimuti jasad bayi yang tengah berkeliaran mencari ibunya itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2