Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
83. Tumbal Istimewa


__ADS_3

Erwin nampak mengamati Daeng Payau dan Galih dari kejauhan. Dalam hati Erwin mengagumi kemampuan Galih mendeteksi keberadaan makhluk astral.


Setelah Daeng Payau selesai mempelajari situasi, ia pun meminta Erwin menemuinya usai jam kerja nanti.


" Nanti Saya kabari dimana tempat Kita ketemuan...," kata Daeng Payau.


" Baik Om...," sahut Erwin sambil tersenyum.


Setelahnya mobil yang membawa Daeng Payau perlahan melaju meninggalkan pabrik. Galih pun kembali menutup pintu. Saat itu lah Erwin bertanya padanya.


" Apa Om Daeng menemukan sesuatu tadi Gal...?" tanya Erwin.


" Keliatannya sih begitu Pak...," sahut Galih.


" Apa Om Daeng juga udah nemuin cara buat mengatasi aura buruk yang menyelimuti sekitar tempat kecelakaan itu...?" tanya Erwin.


" Kalo itu Saya ga tau Pak. Saya ga berani ngomong banyak karena Saya khawatir dibilang lancang. Tapi keputusan Pak Erwin untuk mengundang Pak Daeng adalah keputusan yang tepat. Saya salut dengan sikap yang Bapak ambil...," puji Galih sambil mengacungkan jempolnya hingga membuat Erwin tersenyum bangga.


" Saya emang ga ngerti soal hal ghaib Gal. Tapi Saya percaya jika hal ghaib itu ada dan berdampingan dengan dunia manusia. Dibutuhkan orang dengan kemampuan khusus agar Kita bisa memahami keinginan mereka yang beda dimensi dengan Kita. Dan orang dengan kemampuan khusus itu diantaranya ya Om Daeng...," sahut Erwin.


" Betul Pak...," sahut Galih cepat.


" Dan kalo Saya ga salah terka, keliatannya Kamu juga punya kemampuan mendeteksi makhluk astral ya Gal...?" tanya Erwin sambil mengamati Galih dari atas kepala hingga ujung kaki.


" Bapak bisa aja. Saya ga ngerti apa-apa kok Pak. Saya cuma kebetulan orang asli sini, yang lahir dan besar di sini. Saya juga kebetulan tau sejarah berdirinya pabrik ini. Makanya Saya bisa hapal beberapa kejadian mistis yang berkaitan dengan tempat ini...," kata Galih menjelaskan.


" Oh begitu. Jadi tadi Kamu juga cerita semuanya termasuk sejarah berdirinya pabrik ini sama Om Daeng, Gal...?" tanya Erwin.


" Betul Pak. Semoga Pak Daeng bisa segera membantu menetralisir aura pekat yang menyelimuti tempat ini...," kata Galih penuh harap.


" Aamiin. Kalo gitu Saya balik ke dalam dulu ya Gal...," kata Erwin.


" Silakan Pak. Saya juga mau lanjut ngawal orang gudang yang lagi bongkar muat tadi...," sahut Galih sambil tersenyum.

__ADS_1


Kemudian Erwin dan Galih pun berpisah di halaman pabrik. Jika Erwin terua melangkah masuk ke dalam pabrik, maka Galih pergi ke bagian kiri pabrik untuk membantu karyawan gudang yang sedang berkemas.


Tanpa Erwin dan Galih sadari, percakapan mereka didengar oleh Aldi, security yang dimarahi Erwin kemarin. Aldi nampak tersenyum sinis mendengar usaha Erwin memanggil 'orang pintar' untuk menetralisir pabrik.


" Sekuat apa pun Kalian mencoba, ga akan ada gunanya. Karena ga akan ada yang bisa mengalahkan Kyai Ireng. Itu terbukti selama belasan tahun Gue di sini...," gumam Aldi sambil berlalu.


\=\=\=\=\=


Erwin menepati janjinya. Usai jam kerja ia menemui Daeng Payau di tempat yang telah disepakati.


Saat Erwin tiba di sana, ternyata ustadz Rahman juga telah hadir dan sedang menemani Daeng Payau menikmati kopi dan makanan ringan.


" Assalamualaikum Om, Ustadz..., " sapa Erwin sambil mencium punggung tangan Daeng Payau dan ustadz Rahman bergantian.


" Wa alaikumsalam. Apa kabar Win...?" tanya ustadz Rahman sambil tersenyum.


" Alhamdulillah lagi kurang baik Ustadz. Makanya Saya minta bantuan Om Daeng nih. Mungkin Ustadz udah denger ceritanya dari Om Daeng...," sahut Erwin sambil duduk di hadapan kedua guru spiritual Ranvier itu.


" Mendahului gimana maksudnya Om...?" tanya Erwin tak mengerti.


" Begini Win. Ada seseorang yang menabur bunga di lokasi kecelakaan persis di mesin yang kemarin mencelakai rekanmu itu. Seharusnya jangan seperti itu. Sebab itu membuat suasana di dalam pabrik terutama tempat yang dekat dengan lokasi mesin jadi dipenuhi hawa mistis...," sahut Daeng Payau.


" Saya juga ga ngerti Om. Waktu Saya datang tadi pagi ya udah kaya gitu keadaannya. Saya juga ga tau siapa yang menabur bunga di sana. Ngeliat bunga-bungaan itu bikin suasana tambah ga enak dan bulu kuduk jadi merinding Om. Jangan-jangan itu bunga yang biasanya ditaburin saat ziarah makam ya Om...?" tanya Erwin.


" Betul Win...," sahut Daeng Payau cepat.


" Terus gimana Om. Apa Om udah bisa menetralisir hawa mistis yang pekat di pabrik tadi Om...?" tanya Erwin penuh harap.


" Saya dan Ustadz Rahman sedang berproses melakukan itu Win. Ngomong-ngomong, Kamu ga penasaran ya sama penyebab kematian rekanmu itu...?" tanya Daeng Payau.


" Penasaran dong Om. Tapi Saya dan staf perusahaan udah sepakat menyerahkan kasus kematian Aini sama pihak Kepolisian. Polisi janji akan mengabari Kami tentang sebab kematian Aini nanti. Dugaan sementara karena human error, tapi dugaan itu bisa saja berubah sewaktu-waktu. Jadi Kami ga sabar aja nunggu hasilnya...," sahut Erwin.


" Kalo dari kaca mata manusia sih penyebab kematian temanmu itu memang karena kelalaian manusia Win. Tapi Kamu jangan kaget kalo ada sesuatu di balik kematian temanmu itu...," kata ustadz Rahman.

__ADS_1


" Sesuatu apa Ustadz...?" tanya Erwin penasaran.


Ustadz Rahman dan Daeng Payau saling menatap sejenak. Kemudian Daeng Payau nampak menganggukkan kepala tanda ia setuju jika ustadz Rahman mengatakan yang sebenarnya.


" Temanmu itu meninggal karena memang udah 'diincer' sama makhluk halus yang disembah oleh seseorang. Dengan kata lain temanmu itu meninggal karena sebab mistis dan akan dijadiin tumbal dari sebuah ritual sesat...," kata ustadz Rahman.


" Astaghfirullah aladziim..., yang bener Ustadz, Om...?" tanya Erwin tak percaya.


" Itu betul Win. Ada seseorang yang melakukan persekutuan dengan setan supaya cepat kaya...," sahut Daeng Payau.


" Maksud Om pesugihan...?" tanya Erwin.


" Betul. Dan tumbalnya adalah gadis yang sedang mempersiapkan pernikahan alias calon pengantin. Keliatannya makhluk itu sudah mengawasi temanmu untuk beberapa waktu...," sahut Daeng Payau.


" Sebentar Om. Om bilang tumbalnya harus gadis yang akan menikah ?. Terus darimana makhluk itu tau kalo Aini itu bakal menikah alias jadi calon pengantin...?" tanya Erwin tak mengerti.


Pertanyaan Erwin membuat Ustadz Rahman dan Daeng Payau tertawa.


" Makhluk itu punya indra penciuman yang tajam Win. Dan calon pengantin itu memiliki aroma yang unik yang disukai makhluk halus.Mungkin awalnya makhluk itu ga tau kalo diantara karyawan wanita di pabrik ada yang akan menikah dalam waktu dekat. Tapi mereka juga punya telinga dan mata-mata yang bisa mencari informasi kan ?. Makanya dia tau kalo temanmu itu adalah calon pengantin...," sahut Daeng Payau.


" Oh, mungkin itu yang dimaksud Galih kemarin...," kata Erwin.


" Siapa Galih, dan apa yang dia bilang...?" tanya ustadz Rahman.


" Dia security pabrik Ustadz. Kemarin dia sempet bilang harusnya ga usah cerita kalo mau menikah, gitu Ustadz. Mungkin ini yang dimaksud Galih...," sahut Erwin cepat.


" Masuk akal. Dan keliatannya makhluk itu bisa makan besar kali ini. Karena selain mendapatkan tumbal seorang gadis, dia juga mendapat tumbal istimewa yang mungkin udah sulit dia dapat selama ini...," kata ustadz Rahman.


" Masuk akal sih. Terus gimana cara menetralisir pabrik supaya ga terasa menyeramkan Om...?" tanya Erwin tak sabar.


Daeng Payau terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Erwin.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2