Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
132. Putus Hubungan


__ADS_3

Ayu yang saat itu sedang berdiri sambil mengatur letak piring berisi lauk tiba-tiba terdiam tak bisa bergerak. Ia berdiri kaku, sedikit membungkuk, dengan kedua tangan terulur ke depan karena saat itu ia baru saja usai menata piring lauk.


Siti yang mondar-mandir ke ruang makan nampak heran melihat sikap nyonya barunya itu. Namun karena tak ingin 'disemprot' lagi, Siti pun bersikap tak peduli.


Setelah selesai meletakkan semua lauk pauk di atas meja Siti pun bergegas kembali ke dapur.


Saat Wijaya masuk ke ruang makan, ia tak curiga sama sekali. Ia duduk di samping Ayu lalu mulai mengambil nasi dan lauk pauk di meja makan.


Saat suapan pertama Wijaya tak sengaja menoleh kearah istrinya itu.


" Duduk Sayang, masa daritadi berdiri aja sih...," tegur Wijaya.


Tak ada sahutan. Ayu tetap membisu dengan mata yang melirik galak kearah suaminya.


Wijaya kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya sambil mengamati sekelilingnya. Saat itu lah Wijaya tersadar jika posisi Ayu sedang berdiri kaku tak bergerak. Wijaya pun mengamati Ayu dengan lekat lalu tersedak.


" Sayang, Kamu kenapa...?!" tanya Wijaya setelah meneguk air putih.


Tak ada sahutan. Ayu tetap diam tak bergerak hingga membuat Wijaya panik.


" Sitiii...!" panggil Wijaya lantang.


" Iya Tuan...," sahut Siti sambil bergegas menghampiri Wijaya.


" Ada apa ini, kenapa Nyonya kaku begini...?!" tanya Wijaya saat Siti tiba di hadapannya.


Pertanyaan Wijaya membingungkan Siti. Sebab ia tak tahu sejak kapan Ayu kaku tak bergerak seperti itu.


" Saya ga tau Tuan. Waktu Saya mondar-mandir tadi Nyonya masih bergerak kok. Kan tadi Nyonya juga yang menata piring lauk di atas meja...," sahut Siti.


" Ini aneh. Sekarang Kamu bantu Saya ya...," kata Wijaya.


" Bantu apa Tuan...?" tanya Siti tak mengerti.


" Bantu Saya membawa Nyonya ke kamar. Kita baringkan di tempat tidur aja biar relaks...," sahut Wijaya sambil bersiap menyentuh Ayu.


" Saya ga mau Tuan. Maaf...," kata Siti sambil menjauh dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


" Kenapa Siti ?. Apa Kamu ga kasian ngeliat kondisi Nyonya kaya ini...?" tanya Wijaya tak sabar.


" Maaf Tuan. Tapi Nyonya ga suka sama Saya. Kata Nyonya Saya cuma babu yang ga selevel sama Nyonya. Daripada level Nyonya turun gara-gara Saya sentuh, lebih baik Saya cari bantuan keluar...," sahut Siti sambil melangkah cepat keluar rumah.


Wijaya tertegun mendengar ucapan Siti yang merupakan asisten rumah tangga kepercayaan mendiang istrinya itu. Siti yang ia kenal tak pernah membangkang perintahnya kecuali ada sesuatu yang tak seharusnya. Dan sepertinya Siti sangat terluka dengan sikap Ayu.


Wijaya menatap Ayu lekat lalu teringat dengan Nada, anak tunggalnya yang juga telah lama pergi entah kemana. Wijaya curiga jika kepergian Nada ada sangkut pautnya dengan Ayu. Tiba-tiba Wijaya berniat mencari tahu nanti.


Security datang lalu ikut membantu Wijaya memindahkan tubuh Ayu ke kamar. Setelah Siti dan security keluar, Wijaya pun bertanya kepada Ayu.


" Ada apa Ayu. Kamu kenapa ?, apa yang harus Aku lakukan supaya Kamu bisa bicara dan bergerak lagi. Kamu beneran ga mau dibawa ke Rumah Sakit atau dicek dokter...?" tanya Wijaya bingung.


Hening tak ada suara. Wijaya menatap gusar tubuh Ayu yang terbujur kaku bak sebatang kayu itu. Tiba-tiba Wijaya tersenyum saat terbersit ide di benaknya.


" Begini aja, Aku bakal katakan sesuatu. Kalo Kamu setuju, Kamu kedipkan mata dua kali. Kalo ga setuju diem aja...," kata Wijaya.


Ayu pun mengedipkan matanya karena hanya itu cara yang bisa ia lakukan untuk berkomunikasi dengan suaminya.


Wijaya pun mulai bicara banyak hal. Sangat sulit karena mereka tak menemukan kata sepakat. Ayu masih menolak dibawa ke Rumah Sakit atau diperiksa dokter.


" Jadi Kamu maunya dibawa ke orang pintar...?" tanya Wijaya.


" Ok, siapa namanya ?. Mmm..., maksudku gini. Aku perlihatkan nama orang yang ada di kontak ponsel Kamu, kalo orang yang Kamu maksud itu ketemu, Kamu tinggal kedip dua kali...," kata Wijaya.


Ayu kembali mengedipkan matanya dua kali.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama, akhirnya Wijaya mendapat nomor telephon guru spiritual Ayu yang bernama Nyai Lasih. Wijaya bergegas menghubungi guru spiritual Ayu dan memintanya datang ke rumah.


Tak butuh waktu lama Nyai Lasih datang ke rumah Wijaya. Aura gelap yang terpancar dari tubuhnya membuat Wijaya bergidik.


" Dimana Ayu...?" tanya Nyai Lasih sambil mengunyah sirih.


" Ada di kamar Nyai. Mari Saya tunjukkan...," sahut Wijaya.


Saat tiba di kamar Nyai Lasih terkejut melihat kondisi Ayu yang seperti patung itu. Ia mendekati Ayu lalu membaca mantra. Beberapa saat kemudian Ayu mulai bisa bicara walau tubuhnya masih kaku seperti tadi.


" Nyai... tolong Aku Nyai. Aku ga tau apa yang terjadi. Mendadak tubuhku seperti ini. Tolong Aku Nyai...," pinta Ayu menghiba.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Nyai Lasih menoleh kearah Wijaya. Ia menatap tajam kearah suami Ayu itu. Meski pun tak nyaman, Wijaya tetap bertahan di kamar itu karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayu.


" Suruh dia keluar...," bisik Nyai Lasih.


" Baik Nyai. Sayang...," panggil Ayu.


" Iya. Ada apa...?" tanya Wijaya.


" Maafkan jika ini membuatmu ga nyaman. Nyai mau mengobati Aku, tapi Nyai ga mau ada orang lain di sini. Bisa kan Kamu keluar dulu dan biarkan Nyai mengobati Aku sekarang ?. Aku udah ga kuat nahan sakitnya Sayang...," kata Ayu menghiba.


" Tapi Aku kan Suamimu. Aku ingin tau apa yang telah menyebabkan Kamu sakit...," kata Wijaya.


" Ini namanya santet. Ada orang yang ga suka melihatku bahagia. Harus cepat diobati, kalo ga nyawa taruhannya...," sahut Ayu gusar.


Wijaya sangat terkejut mendengar ucapan Ayu. Akhirnya ia mengalah. Wijaya keluar dari kamar dengan terpaksa dan benak penuh tanda tanya.


Setelah Wijaya keluar, Nyai Lasih mengunci pintu. Kemudian ia mulai melakukan ritual pengobatan.


" Apa yang Kau lakukan Ayu, kenapa serangan itu berbalik mengenaimu...?" tanya Nyai Lasih dengan wwjah dan tubuh berpeluh.


" Aku hanya memberi sedikit pelajaran pada Anak tiriku itu Nyai. Tapi ada sesuatu yang beda dari biasanya. Kalo biasanya Aku bisa menyakitinya sampe akhir, tapi kali ini justru rasa sakit itu berbalik menyerangku. Aku pikir sudah selesai, tapi ternyata serangan itu datang lagi saat Aku sedang menyiapkan makan malam tadi...," sahut Ayu gusar.


Dalam penglihatan Nyai Lasih, ia melihat seorang pria berdiri di depan Nada untuk menghadang serangan Ayu. Setelah pria itu berhasil mengembalikan serangan Ayu, dia pun membentengi Nada dengan lapisan sebening kaca yang kuat yang sulit dihancurkan.


Penyebab Ayu menjadi patung adalah karena keteledoran Ayu sendiri. Karena tergesa-gesa merapikan kamar, Ayu tak sengaja menjatuhkan untaian jerami dari boneka yang ia beri nama Wijaya ke lantai. Karena jerami telah diisi ilmu hitam, maka ia selalu berusaha menyakiti seseorang yang namanya tertulis di boneka itu.


Saat Wijaya menggunting jerami itu, maka ibarat ia telah memutus hubungannya dengan si pemilik boneka, yaitu Ayu. Wijaya perlahan mulai sadar akan semuanya. Makanya Nyai Lasih melihat kecurigaan di mata Wijaya saat menatap dia dan Ayu tadi.


" Jadi Aku harus gimana Nyai ?. Aku ga mau kehilangan Suamiku. Meski awalnya Aku ga mencintai dia tapi Aku ga mau semuanya berakhir...," kata Ayu.


" Baik lah. Kita obati Kamu dulu, setelahnya baru Kita atur siasat untuk menundukkan Suamimu lagi...," kata Nyai Lasih hingga membuat Ayu tersenyum.


Tanpa sepengetahuan Ayu dan Nyai Lasih, Wijaya sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Wijaya memang tak berdiri di balik pintu tapi di berdiri di balik dinding dekat jendela kamar hingga bisa mendengar jelas semuanya.


" Jadi Ayu telah menyakiti Anakku. Ya Allah, betapa jahatnya dia. Maafin Ayah karena ga percaya sama ucapan Kamu Nada...," batin Wijaya dengan dada bergemuruh.


Setelah mengetahui kejahatan Ayu, Wijaya pun pergi meninggalkan rumah untuk mencari putrinya. Ia mendatangi rumah teman-teman Nada untuk menanyakan keberadaan Nada. Nihil. Tak seorang pun mengetahui dimana Nada tinggal selama ini.

__ADS_1


Karena lelah mencari, Wijaya pun menepi di sebuah kedai kopi. Di sana tak sengaja ia bertemu dengan Daeng Payau bahkan duduk satu meja dengan pria itu.


bersambung


__ADS_2