Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
141. Pengakuan Wijaya


__ADS_3

Apa yang diucapkan Arcana jika ia telah membuang sebagian ingatan Nada pun terbukti. Nada tak mengenal siapa pun yang ada di rumah kakek Randu, termasuk Ranvier, yang merupakan orang pertama yang ia kenal diantara semua orang yang ada di rumah kakek Randu.


" Kenapa begini. Apa yang terjadi Daeng...?" tanya Kakek Randu saat melihat Nada yang tampil linglung usai dibersihkan suster Yuli.


" Saya juga ga tau Pak. Kejadian kaya gini baru pertama kali ini Saya liat...," sahut Daeng Payau.


" Nada...," panggil kakek Randu hati-hati.


" Iya Kek...," sahut Nada.


" Apa Kamu beneran ga kenal sama Kakek...?" tanya kakek Randu.


" Iya Kek, maaf...," sahut Nada tak enak hati.


" Kalo Kamu ga kenal, terus gimana caranya Kamu bisa tinggal di rumah beliau Nada...," sela Krisna tak sabar.


" Itu yang Aku bingung Pak. Seinget Aku, Aku tinggal di kost-an sederhana dan bukan rumah mewah kaya gini...," sahut Nada.


" Ya sudah, jangan paksa dia lagi. Kasian, Nada kan baru aja siuman. Lupakan semuanya dan Kita kembali ke kehidupan semula. Gimana, setuju semuanya...?" tanya kakek Randu.


" Siap Pak...!" sahut Krisna, ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan.


" Bagus. Satu lagi, Nada bisa tinggal di sini sesuka Nada sampe kapan pun. Ga akan ada yang ngusir Nada dari sini. Paham Nada...?" tanya Kakek Randu.


" Iya Kek, makasih...," sahut Nada sambil tersenyum.


Dari tempat tersembunyi Ranvier hanya bisa menatap Nada dengan tatapan sedih. Ia berusaha tersenyum meski pun hatinya sakit.


Daeng Payau yang tahu Ranvier sedang mengamati Nada diam-diam pun hanya bisa mengangguk maklum.


" Jadi ini alasan Ranvier ga mau menunggui Nada sampe siuman tadi. Keliatannya dia udah tau lebih awal kalo Nada bakal bersikap seperti ini..., " batin Daeng Payau.


\=\=\=\=\=


Setelah Nada dinyatakan sembuh, Daeng Payau dan ustadz Rahman pun mempertemukan Nada dengan ayahnya. Mereka mengatur pertemuan Nada dan Wijaya di sebuah taman.


Kakek Randu tak bisa mengantar karena kondisi kesehatannya sedikit memburuk dan harus melakukan medical check up ke Rumah Sakit. Sedangkan Ranvier memilih tak ikut campur urusan Nada dengan ayahnya. Ia menyerahkan pengawalan gadis itu pada kedua guru spiritualnya.

__ADS_1


" Kenapa Kita ke sini Ustadz...?" tanya Nada yang saat itu didampingi suster Yuli.


" Ada seseorang yang ingin ketemu Kamu Nada. Dia sungkan datang ke rumah Kakek Randu, makanya Kami yang membawamu ke sini. Tempat ini baik untukmu dan juga netral, bebas dari aura mistis...," sahut ustadz Rahman.


" Siapa yang mau ketemu Aku Ustadz...?" tanya Nada tak sabar.


" Dia datang...," sela Daeng Payau hingga membuat ustadz Rahman mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Nada.


Di gerbang taman terlihat Wijaya berjalan cepat kearah mereka. Nada yang dalam posisi duduk itu pun tiba-tiba bangkit berdiri. Ustadz Rahman dan Daeng Payau mengira Nada akan menyambut ayahnya, ternyata tidak.


Saat melihat Wijaya mendekat Nada pun langsung putar badan dan lari meninggalkan taman. Tindakan Nada mengejutkan semua orang. Apalagi gadis itu lari menyebrang jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Nada tunggu...!" panggil Wijaya.


Nada terus berlari seolah tak mau bertemu ayahnya. Rupanya Nada ingat betapa sang ayah kini membencinya dan memintanya menjauh.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Nada dengan lihai menghindari laju kendaraan yang melintas cepat di jalan raya. Dalam waktu singkat akhirnya Nada pun berhasil melarikan diri dan lepas dari kejaran Wijaya.


" Ya Allah, Nadaaaa...!" panggil Wijaya putus asa.


" Sabar Pak. Kasih waktu anak itu sebentar lagi. Dia baru saja lepas dari bahaya dan butuh waktu untuk istirahat..., " kata Daeng Payau.


" Kita bicara di taman aja ya. Ustadz Rahman juga masih nunggu di sana...," ajak Daeng Payau yang diangguki Wijaya.


Kemudian Daeng Payau membawa Wijaya menemui ustadz Rahman di taman. Dan di sana lah Wijaya mendengar cerita tentang apa yang dialami Nada. Ia mengepalkan tangannya saat mengetahui Ayu mengirim makhluk kegelapan untuk membunuh Nada.


" Terima kasih Ustadz, Pak Daeng. Saya ga tau gimana nasib Nada kalo ga ada Kalian...," kata Wijaya.


" Masih ada satu orang lagi yang berjasa menyelamatkan Nada dari sekapan makhluk kegelapan itu Pak...," sahut Daeng Payau.


" Oh ya, siapa dia, dimana dia sekarang...?" tanya Wijaya sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


" Sayangnya dia ga suka dipublikasi. Dia memilih bekerja di balik layar. Dia ikut senang melihat Nada selamat dan hidup normal sekarang...," sahut Daeng Payau.


" Masya Allah, Saya ga nyangka masih ada orang baik seperti dia di jaman seperti ini. Tolong sampaikan salam hornat dan terima kasih Saya padanya ya Pak Daeng...," pinta Wijaya dengan tulus.


" Insya Allah akan Saya sampaikan nanti...," sahut Daeng Payau sambil tersenyum.

__ADS_1


" Selanjutnya apa yang harus Saya lakukan Ustadz. Jujur Saya udah ga tahan tinggal serumah sama Istri Saya itu...," kata Wijaya gusar.


" Bukan kah Kalian sudah biasa bersama Pak Wijaya ?, kenapa baru sekarang merasa ga nyaman...?" tanya ustadz Rahman dengan tatapan menyelidik.


" Darimana Ustadz tau kalo Kami pernah tinggal di rumah yang sama...?" tanya Wijaya.


" Saya bilang biasa bersama, bukan tinggal di rumah yang sama. Apa masih ada yang Pak Wijaya rahasiakan ?. Kalo gitu Kami ga bisa lanjut. Kami harus berhenti di sini karena percuma membantu orang yang ga jujur...!" kata ustadz Rahman tegas sambil bersiap bangkit.


Wijaya pun terdiam. Ia terjebak dengan pertanyaan sendiri dan terpaksa harus menjelaskan semuanya.


" Tolong jangan pergi Ustadz. Saya ga mau ini balik lagi ke titik nol. Saya dan anak Saya sangat membutuhkan bantuan Ustadz dan Pak Daeng. Saya akan ceritakan semuanya sekarang...," kata Wijaya cepat.


" Baik lah. Kita liat seberapa jujur Anda kali ini Pak Wijaya...," sahut ustadz Rahman.


" Terima kasih udah ngasih Saya kesempatan Ustadz. Begini, Ayu itu adik kandung Istri Saya. Dia janda satu anak yang bercerai karena sering mendapatkan KDRT dari mantan Suaminya. Waktu itu Ayu datang ke rumah dalam kondisi tubuh babak belur di tengah hujan deras. Istri dan Anak Saya yang menyambut dan memberikan ijin pada Ayu untuk tinggal di rumah. Awalnya Saya keberatan karena Suami Ayu sering datang ke rumah untuk memaksa menjemput Ayu. Saat Ayu menolak pulang, laki-laki itu justru menerror istri dan anak Saya...," kata Wijaya memulai ceritanya.


" Pasti Nada dan Ibunya ketakutan saat itu...," kata ustadz Rahman.


" Betul Ustadz. Tapi itu ga lama kok. Setelah proses yang rumit Ayu pun bisa bercerai dengan suaminya atas bantuan pengacara Saya. Entah mau mengungkapkan rasa terima kasih atau dia memang kesepian, Ayu sering sekali berusaha menggantikan tugas Istri Saya dalam melayani Saya. Misalnya membuatkan Saya kopi, menemani Saya bekerja di ruang kerja hingga larut malam dan membantu menyiapkan berkas yang Saya perlukan untuk meeting...," kata Wijaya dengan gusar.


" Dan akhirnya Pak Wijaya mulai merasa nyaman dengan semua perhatian Ayu dan memilih dia yang mengerjakan semuanya untuk Anda dibandingkan Istri Anda sendiri...," tebak Daeng Payau.


" Iya Pak Daeng. Apalagi saat itu Mamanya Nada mulai sakit-sakitan. Saya butuh pendamping yang kuat dan selalu siap kapan pun Saya perlukan, termasuk di ranjang...," kata Wijaya melirihkan suaranya tepat di akhir kalimat.


" Kalian berz*na ?, dimana...?" tanya ustadz Rahman kemudian.


" Di rumah. Tepat saat istri Saya sedang dirawat di Rumah Sakit Ustadz...," sahut Wijaya sambil menundukkan kepalanya.


" Subhanallah, Astaghfirullah aladziim...," kata ustadz Rahman sambil menggelengkan kepalanya.


" Kenapa Pak Wijaya ga curiga ?. Penyakit istri Anda itu bisa dibilang ga wajar karena datang tiba-tiba dan saat Ayu tinggal bersama Kalian...," kata Daeng Payau kesal.


" Saya sempat merasa curiga juga Pak Daeng. Tapi, Ayu memang terlalu memikat. Dan Saya ga tahan dengan rayuannya. Tapi sekarang Saya menyesal karena telah mengabaikan peringatan Nada. Apalagi Istri Saya meninggal karena Saya lambat bertindak...," sahut Wijaya dengan nada menyesal.


Untuk sejenak ketiga pria itu terdiam di tempat masing-masing. Angin sore yang berhembus sejuk tak mampu menghalau panas di hati Nada yang ikut mendengarkan cerita ayahnya.


Rupanya tanpa disadari siapa pun Nada kembali ke taman itu. Ia duduk tak jauh dari mereka untuk ikut mendengarkan pengakuan Wijaya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2