Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
61. Histeris


__ADS_3

Sesaat setelah merasakan udara hangat yang menyapa telapak tangannya, Anastasya pun menurunkan telapak tangannya itu.


" Kenapa...?" tanya Ranvier.


" Akuuu..., entah kenapa tiba-tiba Aku merasa sedih...," sahut Anastasya dengan suara tercekat.


" Gapapa. Itu wajar sekali. Karena Kamu dan Albert saling mencintai, maka Kamu juga bisa merasakan perasaan yang sama seperti yang dirasakan Albert saat ini...," kata Ranvier bijak.


Ucapan Ranvier membuat Nyonya Maureen dan suaminya terharu. Demikian pula dengan Mark. Mereka memang ada di kamar itu tapi mereka sengaja duduk agak jauh untuk memberi ruang kepada Anastasya.


" Maksudmu Albert juga sedang bersedih...?" tanya Anastasya.


" Betul...," sahut Ranvier cepat.


" Kenapa ?. Mmm..., maksudku apa yang membuatnya sedih...?" tanya Anastasya penasaran.


" Albert merasa sedih karena gagal mewujudkan mimpi Kalian. Selain itu ia juga sedih melihat kondisimu sekarang. Ia tak menyangka jika terlalu banyak orang yang tak menginginkan Kalian bahagia...," sahut Ranvier.


Anastasya pun mematung di tempat, sedangkan Nyonya Maureen hanya bisa terdiam sambil mengusap matanya yang basah.


" Aku ingin tahu bagaimana dia bisa meninggal...," kata Anastasya tiba-tiba.


Ranvier terdiam sejenak karena harus mendengarkan penuturan Albert. Sesaat kemudian Ranvier menganggukkan kepala pertanda ia mengerti.


" Albert bilang ia berhasil menemukan cincin pernikahan Kalian. Tapi saat ia akan keluar, ternyata seseorang menutup dan mengunci pintu. Albert sudah mengatakan berulang kali jika ia masih ada di dalam gereja. Albert bilang, melalui jendela kaca ia sempat melihat seorang pria berambut gondrong dan berewokan lari meninggalkan tempat itu...," kata Ranvier.


" Pasti pria itu lah yang telah mengunci pintu dan membiarkan Albert terbakar...!" sela Nyonya Maureen marah.


" Pria berambut gondrong dan berewokan...," gumam Anastasya.


" Betul. Dan Albert bilang...," ucapan Ranvier terputus hingga membuat semua orang makin penasaran.


" Albert bilang apa...?" tanya Anastasya tak sabar.


" Albert bilang, dia juga melihat pria itu memukul belakang kepala Anastasya lalu menggendongnya dan membawanya pergi entah kemana...," sahut Ranvier hati-hati.


" Itu pasti dia...!" jerit Anastasya histeris..


" Dia siapa...? " tanya Ranvier tak mengerti.

__ADS_1


" Dia..., dia Suami Tanteku. Tuan Blair...!" sahut Anastasya dengan suara bergetar.


" Apa...?!" kata semua orang terkejut.


" Ehm. Tapi Tuan Blair berambut cepak dan ga gondrong Anastasya..., " kata Mark mengingatkan.


" Sekarang memang iya. Tapi dulu penampilan dia memang begitu Pak Polisi. Dia masih berpenampilan seperti itu sampe dua hari setelah Aku diculik. Setelahnya dia memangkas rambut, kumis dan janggutnya. Aku dengar dia melakukan itu untuk menghilangkan jejak. Dulu Aku memang bingung, tapi sekarang Aku mengerti apa maksud ucapannya...," sahut Anastasya sambil menatap Mark lekat.


" Ya Tuhaaann...!. Sejak awal Aku yakin jika salah satu dari mereka pasti telah mencelakai Anakku...!" kata Nyonya Maureen histeris.


Untuk sejenak ruangan menjadi gaduh. Dua wanita di dalam ruangan yaitu Nyonya Maureen dan Anastasya menjerit histeris dan hampir pingsan. Jika Anthoni mencoba menenangkan istrinya, maka Mark mencoba menenangkan Anastasya dengan cara memeluknya erat.


Dua tenaga medis masuk ke dalam ruangan karena mendengar jeritan Anastasya. Dibantu Mark, mereka membaringkan Anastasya di atas tempat tidur. Dokter memberi suntikan yang berisi obat penenang kepada gadis itu.


Perlahan Anastasya kembali tenang dan mulai memejamkan mata. Sebelum Anastasya terlelap, gadis itu masih memanggil nama Albert beberapa kali.


" Albert... Kenapa Kau tinggalkan Aku Albert. Kenapa Sayang ?. Maafkan Aku karena tak tau apa pun tentangmu. Albert..., Albert...," gumam Anastasya hingga akhirnya suaranya tak terdengar lagi karena ia tertidur.


Semua orang menghela nafas lega melihat Anastasya telah kembali tenang.


" Bagaimana ini, apa komunikasi dengan arwah Albert masih harus dilanjutkan...?" tanya Mark sambil menatap Ranvier.


" Terserah Anda Pak Polisi. Saya hanya membantu...," sahut Ranvier.


" Kamu janji akan menangkap pembunuh Anakku Mark. Buktikan ucapanmu !. Penjarakan dia hingga dia menjerit putus asa dan merasa mati lebih baik daripada hidup...!" kata Nyonya Maureen lantang.


" Siap Nyonya Maureen. Saya pasti akan lakukan itu...!" sahut Mark tegas.


Setelah mendengar janji Mark, Nyonya Maureen pun terduduk lemas. Air mata terus mengalir di wajahnya. Ada rasa sedih, marah dan puas yang berkecamuk di hatinya. Nyonya Maureen senang karena akhirnya orang yang telah membuat anaknya meninggal akan segera diadili.


" Albert..., Anakku Sayang. Aku telah lakukan yang Kamu inginkan. Semoga bahagia di sana Nak...," gumam Nyonya Maureen sebelum akhirnya jatuh pingsan.


" Maureen...!" panggil Anthoni lantang hingga mengejutkan semua orang.


" Tolong bantu Nyonya Maureen dok...!" pinta Mark pada dokter yang masih mengawasi Anastasya.


" Baik Tuan...!" sahut sang dokter sambil bergegas menghampiri Nyonya Maureen.


Kemudian dokter meminta agar Nyonya Maureen dibaringkan di atas sofa. Anthoni tampak cemas dan berkali-kali memanggil nama istrinya.

__ADS_1


" Istri Anda baik-baik saja Tuan. Nampaknya dia terlalu shock mendengar berita buruk yang Kalian sampaikan tadi. Biarkan Nyonya istirahat sebentar, jangan dibangunkan sampai dia bangun sendiri. Setelah siuman tolong jangan bahas dulu sesuatu yang membuatnya shock tadi...," kata dokter.


" Baik dok, terima kasih..., " kata Anthoni sambil menghela nafas lega.


" Sama-sama Tuan...," sahut sang dokter sambil tersenyum.


Setelah berhasil menenangkan Anastasya dan Nyonya Maureen, kedua tenaga medis itu keluar dari ruangan.


Ranvier, Anthoni dan Mark masih duduk di atas sofa. Ketiganya nampak membisu dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sesaat kemudian Anthoni teringat dengan Albert.


" Apa Albert masih di sini Vier...?" tanya Anthoni.


" Masih Tuan. Dia juga menyaksikan semuanya...," sahut Ranvier.


" Bagaimana reaksinya...?" tanya Anthoni dengan suara bergetar.


" Diaaa... sedih...," sahut Ranvier gusar.


" Apa masih ada yang ingin Albert sampaikan Tuan Ranvier...?" tanya Mark.


" Masih. Apa bisa Kita lanjutkan sekarang. Kasian jika Albert harus menunggu lagi. Dia harus segera pergi ke tempat seharusnya...," sahut Ranvier.


" Ke tempat seharusnya...? " tanya Mark tak mengerti.


" Iya Tuan Mark. Agama Kami mengajarkan, seseorang yang meninggal dunia maka arwahnya akan masuk ke alam barzah. Albert masih tertahan di sini karena ada urusan yang belum dia selesaikan. Dan itu menyakitkan untuknya...," sahut Ranvier.


" Lalu bagaimana cara membantunya supaya bisa cepat pergi ke tempat yang Kamu bilang tadi...?" tanya Mark.


" Kita percepat dan permudah urusannya. Lalu doakan dia. Dan selesai...," sahut Ranvier.


" Sesimple itu...?" tanya Mark tak percaya.


" Betul Tuan. Orang yang meninggal dunia hanya perlu doa Kita Tuan Mark, bukan yang lain. Bukan emas berlian atau uang. Benda-benda itu tak ada manfaatnya untuk mereka di alam sana. Hanya doa tulus keluarga dan orang-orang yang menyayanginya yang bisa meringankan langkahnya di sana...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Apa doa Saya juga bisa membantunya ?, kan Saya ga kenal sama sekali sama Albert. Saya hanya tau dia anak Tuan Anthoni dan Nyonya Maureen saat Saya menangani kasus kematiannya...," kata Mark.


" Tentu saja Tuan. Selagi doa Anda tulus, itu pasti sangat bisa membantunya...," sahut Ranvier hingga membuat Mark tersenyum lebar.

__ADS_1


Dalam hati Mark memang ingin meminta maaf secara khusus kepada Albert, namun ia tak mengerti bagaimana caranya. Dan jawaban Ranvier membuatnya memiliki peluang itu.


\=\=\=\=\=


__ADS_2