
Namun baru beberapa langkah para tentara Belanda meninggalkan tubuh Eugene, sebuah ledakan pun terjadi. Ledakan yang sangat keras hingga membuat tubuh para tentara terlempar lumayan jauh.
Rupanya para tentara Belanda itu tak sengaja menginjak ranjau darat yang ditanam para pejuang Indonesia di wilayah itu. Tak hanya satu ranjau yang meledak, tapi ada tiga dan meledak secara bersamaan.
Bisa dibayangkan bagaimana kerasnya ledakan dan efek yang ditimbulkan.
Akibat ledakan itu, selain berhasil melukai tentara Belanda juga berhasil membunuh sebagian dari mereka. Sebagian yang masih bisa menyelamatkan diri pun lari tunggang langgang meninggalkan lokasi ledakan tanpa peduli dengan nasib teman-temannya. Bagi mereka menyelamatkan diri sendiri adalah yang terpenting saat itu.
Salah satu yang terkena ledakan dan tubuhnya terlempar dengan keras adalah Kheil, tentara kejam yang telah merobek pipi Eugene tadi. Tubuhnya yang tak lagi utuh itu terlempar jauh hingga tepat berada di depan Eugene.
Kini dua orang sebangsa dan dengan seragam yang sama nampak tergeletak di tanah dalam posisi saling berhadapan. Mereka berangkat dari Belanda dengan misi yang sama tapi berakhir dengan tujuan yang berbeda.
Jika Eugene sekarat karena memperjuangkan rahasia para pejuang Indonesia, tapi Kheil justru sekarat membawa kebencian di dadanya karena terkena ranjau yang dipasang oleh bangsa jajahannya.
Saat itu kondisi Kheil sangat mengenaskan. Ada lubang menganga di perutnya, dengan usus terburai keluar disertai darah yang terus mengalir, kedua kakinya hingga pangkal paha pun hilang entah kemana.
" Eu... gene...," panggil Kheil lirih sambil mengulurkan tangannya.
Eugene hanya membisu sambil menatap Kheil dengan tatapan tak terbaca.
" Ma... af. A... ku melakukannya karena Aku takut sumpahmu akan menjadi nyata. A... Aku menyayangi Ibu dan adik perempuanku. A... Aku tak ingin mereka merasakan apa yang dirasakan para wanita pribumi itu. Se... ka... rang, tolong pegang tanganku. A... ku takut Eu... gene. A... ku tak mau sen... di... rian...," kata Kheil terbata-bata.
Eugene hanya menggeleng. Ia tak menuruti permintaan Kheil walau sebenarnya ia mampu.
__ADS_1
Di depan matanya Eugene menyaksikan Kheil mengejang sekarat, penuh kesakitan dan penderitaan. Eugene tak tahu berapa lama ia menyaksikan Kheil sekarat. Yang Eugene tahu, ia berdiri di samping jasadnya sambil tersenyum.
Ranvier pun mengerjapkan matanya saat penglihatannya tentang masa lalu Eugene berakhir.
" Kamu pergi lebih dulu Eugene. Dia..., temanmu itu. Dia mati keesokan harinya. Semalaman dia tersiksa sendirian di hutan itu walau pun ditemani jasadmu yang mulai membusuk. Dia juga harus menyaksikan jasadmu dikerubuti binatang liar. Dia ketakutan, dia menjerit, dia berharap segera mati. Tapi binatang liar pun enggan mendekatinya, padahal saat itu tubuhnya dipenuhi darah yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri untuk hewan pemangsa. Dia mati membusuk begitu saja. Kematian yang sia-sia karena hingga akhir tak ada seekor binatang pun yang memanfaatkan jasadnya untuk sekedar melepas rasa lapar...," kata Ranvier dengan mata berkaca-kaca.
" Lalu dimana dia sekarang, kenapa Saya ga pernah ketemu sama dia...?" tanya Eugene.
" Aku ga tau. Mungkin dia pergi ke tempat lain. Ke tempat yamg memiliki aura yang sama dengan aura yang dia miliki di akhir hidupnya...," sahut Ranvier sambil mencibir.
" Tapi kenapa Aku tetap tertahan di sana Ranvier...?" tanya hantu Eugene tak mengerti.
" Itu karena Kamu belum bisa menerima kematianmu. Kamu masih punya keinginan hidup karena kekhawatiranmu terhadap nasib penduduk yang Kamu lindungi dulu. Makanya Kamu tertahan di sana dan memperlihatkan diri padaku. Mungkin bukan cuma Aku yang pernah bertemu denganmu. Aku tau dari caramu menyapa dan sikapmu yang selalu ingin melindungi, pasti Kamu adalah hantu yang baik. Hanya saja waktu itu Aku belum terbiasa melihat makhluk tak kasat mata sepertimu. Jadi Aku tak tau harus melakukan apa untuk membantumu. Tapi setelah Aku dewasa dan tahu bagaimana caranya, Aku kembali ke sini untuk membantumu Eugene..., " sahut Ranvier panjang lebar.
" Saya bahagia karena mati untuk membela kebenaran Ranvier. Saya jatuh hati pada bangsamu sejak pertama kali tiba di sini. Mereka ramah, lembut dan santun. Saya suka melihat mereka tertawa. Saya suka melihat mereka bekerja keras. Saya tak mengerti mengapa bangsa yang cantik ini harus menderita di bawah kekuasaan bangsa Belanda...," kata hantu Eugene dengan suara parau.
" Itu artinya mereka tak memerlukan Saya lagi untuk menjaga mereka. Jadi, Saya harus pergi. Bukan begitu Ranvier...?" tanya hantu Eugene dengan wajah sedih.
" Iya Eugene...," sahut Ranvier cepat.
Akong nampak tersenyum mendengar Ranvier bicara. Walau pun ia tak bisa melihat dengan jelas sosok yang mengikuti Ranvier karena mata tuanya, tapi Akong yakin bahwa Eugene adalah hantu yang baik.
" Sekarang semuanya sudah jelas Eugene. Aku mewakili bangsaku mengucapkan terima kasih karena Kamu telah merelakan hidupmu untuk melindungi Kami. Semoga Allah membalas semua jasa baikmu itu...," kata Ranvier.
__ADS_1
" Aamiin...," sahut Akong dan Eugene lirih.
" Sama-sama Ranvier, Saya senang melakukannya. Dulu Saya tak tau jika dikirim ke negara jajahan. Yang Saya tau hanya dikirim untuk menyelesaikan konflik. Saya pikir Saya dikirim untuk jadi penengah. Tapi saat tau kenyataan bahwa Belanda menjajah bangsamu, Saya marah, Saya kecewa. Dan akhirnya Saya memilih membantu Indonesia karena rasa kemanusiaan di dalam diri Saya berontak melihat kekejaman yang dilakukan teman-teman...," kata Eugene.
Setelah terdiam sesaat, Eugene kembali melanjutkan kalimatnya.
" Sebaiknya Saya pergi sekarang. Terima kasih Ranvier, sampaikan salam Saya untuk Pak tua itu. Terima kasih telah menyadarkan Saya bahwa Indonesia sekarang telah merdeka dan Belanda sudah pergi...," kata hantu Eugene.
" Iya Eugene, terima kasih kembali. Pergi lah Eugene, pergi lah orang baik...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Sesaat kemudian Ranvier nampak memejamkan mata. Akong yang tahu Ranvier sedang membantu hantu Eugene pergi pun ikut tersenyum. Rupanya Akong juga membantu dengan caranya sendiri.
Perlahan cahaya keperakan menyelimuti tubuh hantu Eugene. Sosok Eugene yang lusuh dengan seragamnya yang koyak pun berganti dengan sosok Eugene yang muda dan gagah dalam balutan seragam tentara lengkap dengan atributnya. Eugene tampak tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah Ranvier. Setelahnya ia lenyap perlahan.
" Dia sudah pergi...?" tanya Akong.
" Iya Akong. Eugene keliatan bahagia. Dia bangga jadi tentara, dan pilihan hidupnya itu juga yang membawanya pada keabadian...," sahut Ranvier.
" Iya Nak. Bukan salahnya jadi tentara. Penguasa pada jaman itu lah yang memaksanya ada di posisi yang sulit. Aku percaya di belahan Indonesia yang lain juga banyak penjajah seperti dia. Penjajah yang justru iba pada nasib bangsa jajahannya dan memilih berkhianat pada negaranya hanya demi menyelamatkan warga Indonesia yang terjajah...," kata Akong.
" Betul Akong. Oh iya, Eugene juga titip salam untuk Akong tadi...," kata Ranvier.
" Terima kasih, Aku terima salamnya...," sahut Akong sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelahnya Ranvier dan Akong masih berbincang santai di gazebo itu hingga menjelang Ashar.
\=\=\=\=\=