Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
101. Mengejar Mutiara


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapan, Ranvier pun bergegas menuju perusahaan dimana ia berkantor sekarang.


Saat tiba di kantor Ranvier disambut oleh Erwin dan Azam yang juga baru saja tiba.


" Selamat pagi Pak...," sapa Erwin dan Azam bersamaan.


" Selamat pagi. Apa agenda kerja Kalian hari ini...?" tanya Ranvier.


" Saya ada pemotretan dengan Amanda untuk majalah bulanan perusahaan Pak...," sahut Azam.


" Kalo Saya mengawasi jalannya pemotretan mereka Pak...," sahut Erwin sambil nyengir.


" Oh gitu. Lanjutkan, Saya tunggu hasilnya...," kata Ranvier sambil tersenyum.


" Siap Pak...!" sahut Erwin dan Azam bersamaan.


Ranvier pun mengangguk lalu melangkah menuju lift. Tiba-tiba Ranvier menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya.


" Nanti siang Kalian temani Saya makan siang ya. Ajak juga Amanda dan managernya...," kata Ranvier.


" Baik Pak...," sahut Erwin dan Azam cepat.


Setelah mengatakan itu, Ranvier pun masuk ke dalam lift.


" Tumben Pak Ranvier ngajak Kita makan, sampe Amanda dan Mutia diajak juga...," kata Azam.


" Kenapa bingung ?. Pak Ranvier itu kan emang suka nraktir. Atau mungkin Pak Ranvier mau ngebahas kerjaan Lo dan model itu, makanya Kalian diajak makan juga. Pesen Gue sih sebaiknya hari ini bikin foto yang bagus dan jangan mengecewakan ya...," sahut Erwin sambil berlalu.


Azam pun mengangguk lalu melangkah menuju lift.


\=\=\=\=\=


Kini Ranvier, Erwin, Azam, Amanda dan Mutia tengah duduk berhadapan di sebuah restoran. Mereka nampak menikmati makan siang dengan santai. Ranvier sengaja menanggalkan statusnya sebagai direktur perusahaan agar bisa lebih dekat dengan ketiga orang di hadapannya selain Erwin.


Sambil makan sesekali Ranvier melirik kearah Mutia. Dari jarak dekat ia bisa mengamati ekspresi wajah Mutia.


" Jadi begitu rupanya. Pantesan Mutia diikuti makhluk yang mirip sundel bolong itu...," batin Ranvier.


Erwin yang duduk di samping Ranvier pun tahu jika saat itu Ranvier tengah mengamati Mutia. Seolah sengaja memberi waktu, Erwin pun mengajak Amanda dan Azam mengambil sesuatu di mobil.


Entah mengapa Azam dan Amanda mengikuti ajakan Erwin lalu meninggalkan Ranvier dan Mutia berdua saja. Saat itu suasana antara Ranvier dan Mutia terasa menegangkan.


" Apa kabar Yara...," sapa Ranvier sambil tersenyum untuk mencairkan suasana.


Mutia yang sedang menyuap makanan pun terkejut hingga terbatuk-batuk mendengar sapaan Ranvier.


" Kamu..., ehm maaf. Pak Ranvier ngomong sama Saya...?" tanya Mutia setelah meneguk air di gelasnya.

__ADS_1


" Iya Yara, Saya ngomong sama Kamu. Saya tanya apa kabar Yara, kemana aja Kamu selama ini...?" tanya Ranvier dengan ramah.


" Sejak kapan Kamu tau kalo Saya adalah Yara...?" tanya Mutia sambil menatap Ranvier lekat.


" Jujur sejak pertama kali Kita bekerja sama, Saya emang curiga sama Kamu...," sahut Ranvier.


" Curiga...?" tanya Mutia sambil mengerutkan keningnya.


" Eh, maksud Saya curiga di sini curiga yang berkesan baik lho Yar. Saya dan Erwin merasa pernah kenal sama Kamu. Makanya Saya dan Erwin sering ngobrolin Kamu...," sahut Ranvier.


" Kenapa ngobrolin Saya, kan yang model Amanda bukan Saya...," kata Mutia ketus.


Sikap ketus Mutia justru membuat Ranvier tertawa. Ia merasa menemukan kembali suasana saat sekolah dulu. Dan Ranvier sangat menyukai hal itu.


Melihat Ranvier tertawa membuat wajah Mutia bersemu merah. Kekagumannya pada sosok pria di hadapannya itu bertambah dan tanpa sadar Mutia pun tersenyum.


" Kamu keliatan cantik kalo tersenyum kaya gitu Yar...," kata Ranvier.


" Ck, sejak kapan Kamu pinter ngegombal Vier. Eh, maaf. Boleh kan kalo Saya panggil Ranvier di luar kantor dan di luar jam kerja...?" tanya Mutia ragu.


" Tentu saja. Kalo gitu Saya juga boleh panggil Kamu Yara kan...?" tanya Ranvier.


" Ga !. Saya ga suka nama itu. Karena mengingatkan Saya sama masa terburuk dalam hidup Saya...," sahut Mutia sambil menggeleng.


" Ok, Saya bakal panggil Kamu Mutia aja kalo begitu...," kata Ranvier hingga membuat Mutia tersenyum.


" Mutia...," panggil Ranvier.


" Iya...," sahut Mutia cepat.


" Maaf kalo Saya lancang. Selama ini Kamu merasa ada sesuatu ga yang mengikuti Kamu...," kata Ranvier.


" Mengikuti gimana maksudnya ya...?" tanya Mutia tak mengerti.


" Mmm..., Saya ga menuduh tapi ini cuma saran aja karena Saya ingin yang terbaik buat Kamu. Sebaiknya mulai sekarang Kamu berhenti menggunakan sesuatu yang bisa membahayakan...," kata Ranvier hati-hati.


" Apa sih yang mau Kamu jelasin Vier...?" tanya Mutia penasararan.


" Sebenernya selama ini Saya ngeliat aura di sekeliling Kamu tuh gelap banget. Dan setelah Saya amati, ternyata ada makhluk halus yang mengikuti Kamu. Maaf !, Saya ga bermaksud menakuti Kamu. Tapi Kamu percaya kan sama Saya...?" tanya Ranvier cemas.


Belum sempat Mutia menjawab, Erwin, Amanda dan Azam kembali bergabung. Untuk sejenak suasana di meja kembali absurd.


" Saya udah selesai. Boleh kan Saya pamit duluan ?, ada urusan yang harus Saya selesaikan...," kata Mutia tiba-tiba.


Amanda yang sedang asyik makan pun terkejut. Ia menatap Mutia dengan tatapan tak biasa. Bagaimana mungkin Mutia menghancurkan makan siang mereka bersama Ranvier, pria gagah yang telah manarik hatinya.


" Oh gapapa, silakan...," sahut Ranvier sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ayo Man...," ajak Mutia.


" Tapi Gue baru mulai makan Ti...," protes Amanda setengah berbisik.


" Please Amanda, bisa kan Kita cabut sekarang ?. Gue beneran ga nyaman di sini...," kata Mutia menghiba.


Akhirnya Amanda mengalah. Ia menganggukkan kepala mengiyakan permintaan sahabat sekaligus managernya itu.


Erwin yang tahu telah terjadi sesuatu antara Ranvier dan Mutia pun nampak mengulum senyum. Sedangkan Azam nampak melanjutkan makan siangnya dengan lahap setelah Amanda dan Mutia berlalu.


\=\=\=\=\=


Ruangan itu terlihat berantakan. Banyak pakaian berserakan, alat make up, buku dan semua benda di atas meja berhamburan di atas lantai. Sedangkan wanita pemilik ruangan tampak duduk sambil menyembunyikan wajahnya di balik lipatan kaki.


Wanita itu adalah Mutiara Amerta. Gadis itu nampak marah. Sesaat setelah tiba tadi, dia langsung melempar semua benda yang dilihatnya ke lantai begitu saja.


" Memalukan !. Bisa-bisanya dia nyuruh Aku berhenti menggunakan sesuatu yang bisa membahayakan. Apa dia tau sesuatu, atau jangan-jangan dia bisa melihat kehadirannya...?" gumam Mutia sambil mengangkat wajahnya perlahan.


Saat Mutia mengangkat wajahnya, saat itu lah ponselnya berdering. Mutia terkejut saat melihat nama penelephon. Mutia bergegas menerima panggilan karena tak ingin membuat Ranvier menunggu.


" Assalamualaikum Mutia...!" sapa Ranvier.


" Iya, kenapa Vier...?" tanya Mutia dengan enggan.


" Kamu dimana ?, bisa Kita ketemu dan ngelanjutin pembicaraan yang tadi...?" tanya Ranvier penuh harap.


" Pembicaraan yang mana Ranvier...?" tanya Mutia pura-pura tak tahu.


" Saya serius Mutia. Tolong percaya sama Saya. Ijinkan Saya membantu Kamu lepas dari pengaruh buruk makhluk itu Mutia. Dia jahat, dia berbahaya...!" kata Ranvier.


" Dia ga jahat Ranvier. Dia yang membantu Saya dan menemani Saya selama ini. Jangan ganggu Kami atau Kamu akan menyesal Ranvier...," kata Mutia setengah mengancam.


" Mutia...," panggil Ranvier dengan sabar.


" Berhenti menyebut nama Saya Ranvier...!" sahut Mutia lalu mengakhiri pembicaraan mereka dengan kasar.


Mutia menatap nanar ke sekelilingnya. Saat itu ia melihat sosok yang selama ini senantiasa membantu memenuhi keinginannya hadir di ruangan itu.


Mutia tersenyum menyambut kehadiran sosok itu. Ia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sosok yang ternyata adalah sundel bolong yang dilihat Ranvier di dalam mimpinya.


Dan saat sebentar lagi Mutia masuk ke dalam pelukan makhluk itu, suara ketukan di pintu membuatnya menoleh cepat.


" Tok... tok... tok... !"


" Mutia !. Buka pintu Mutia, ini Ranvier...!" kata Ranvier lantang dari balik pintu hingga membuat Mutia terkejut bukan kepalang.


Makhluk yang ada bersama Mutia pun menggeram marah. Nampaknya ia tak suka dengan kehadiran Ranvier. Ia berniat menghentikan aksi Ranvier menjemput Mutia.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2