Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
107. Siapkan Waktu...


__ADS_3

Dan kini Ranvier berada di sebuah ruangan. Ia duduk berhadapan dengan ustadz Rahman dan Daeng Payau.


Rupanya saat itu kedua guru spiritual Ranvier tengah berusaha membantu Ranvier lepas dari pengaruh Arcana.


Setelah beberapa saat mata ustadz Rahman dan Daeng Payau pun terbuka. Peluh nampak membasahi kening keduanya pertanda mereka baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa.


" Gimana Ustadz, Paman...?" tanya Ranvier tak sabar.


" Maaf Ranvier. Tapi keliatannya Kamu harus mengalah...," sahut Daeng Payau..


" Mengalah gimana maksudnya Paman...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Keliatannya Kamu harus menuruti kemauan gadis itu. Dia mengikuti Kamu karena Kamu pernah berjanji satu hal padanya. Apa Kamu ingat janji apa yang pernah Kamu ucapkan untuknya...?" tanya Daeng Payau.


" Seingatku Aku ga pernah janji apa-apa Paman. Aku dan dia sering bertengkar saat bertemu. Bagaimana mungkin Aku punya janji sama orang yang lebih sering mengajakku bertengkar, itu kan ga masuk akal Paman...," sahut Ranvier.


" Mungkin tanpa Kamu sadari Kamu pernah berjanji untuk kembali. Walau itu tak spesifik ditujukan padanya, setidaknya janji itu membuatmu terikat dengan dunia mereka..., " kata Daeng Payau gusar.


Ucapan Daeng Payau membuat Ranvier tersentak kaget. Ia ingat pernah berjanji untuk kembali karena terkesan dengan sikap ramah 'mereka'.


Melihat sikap Ranvier yang gugup membuat ustadz Rahman dan Daeng Payau mengerti jika Ranvier telah melakukan kesalahan.


" Jadi Aku harus gimana Paman...?" tanya Ranvier gusar.


" Tepati janjimu...!" sahut Daeng Payau cepat.


" Maksud Paman, Aku harus kembali ke sana...?" tanya Ranvier.


" Betul. Selesaikan urusanmu di sana dengan cepat lalu pulang ke rumah...," sahut Daeng Payau.


" Kalo seandainya Aku kembali ke sana tapi Aku ga bisa balik lagi ke dunia nyata gimana Paman...?" tanya Ranvier.


" Kakekmu pasti sedih...," sela ustadz Rahman.


" Padahal Aku ga mau bikin Kakek sedih...," kata Ranvier.


" Kami akan membantu memberi pengertian pada Kakekmu nanti. Yang terpenting sekarang, Kamu harus kembali ke sana. Ada sesuatu yang menunggumu di sana...," kata Daeng Payau gusar.

__ADS_1


" Sebentar Daeng. Maksudmu sesuatu yang menunggu Ranvier itu apa. Berbahaya atau ga..?" tanya ustadz Rahman mewakili keingin tahuan Ranvier.


" Aku belum bisa jawab sekarang Ustadz. Kita akan tau jawabannya nanti setelah Kita mengantar Ranvier kembali ke sana...," sahut Daeng Payau.


" Hanya mengantar ?. Apa Ustadz dan Paman ga ikut Aku ke sana...?" tanya Ranvier.


" Ga bisa Vier. Hanya Kamu yang mereka undang untuk datang, jadi hanya Kamu yang bisa masuk ke sana. Keliatannya Aku dan Ustadz Rahman sudah ditandai. Aku khawatir, saat Kami tiba di sana yang ada Kami justru diserang oleh pasukan rahasia yang mereka miliki...," sahut Daeng Payau sambil menggelengkan kepala.


Ranvier mengusap wajahnya sambil beristighfar. Ia tak menyangka urusan lama yang dikiranya telah selesai justru kembali dan membuatnya tak bisa hidup tenang.


" Kapan Aku harus pergi Paman...?" tanya Ranvier.


" Tunggu kabar dariku. Aku dan Ustadz Rahman harus sediakan waktu khusus untuk mengawalmu pergi Ranvier. Kami ga bisa melepasmu pergi sendirian...," sahut Daeng Payau dengan mimik serius dan diangguki ustadz Rahman.


" Selama menunggu kabar dari Paman Daengmu, Kamu bisa mempersiapkan diri. Lakukan puasa Daud dan isi harimu dengan dzikir sebanyak yang Kamu mampu...," kata ustadz Rahman.


" Baik Ustadz...," sahut Ranvier.


" Jangan terlalu tegang Vier, tenang aja. Kami akan terus mengawasimu supaya ga salah langkah...," kata Daeng Payau menenangkan Ranvier.


" Iya Paman...," sahut Ranvier dengan enggan.


Tiba-tiba ponsel Ranvier pun berdering. Dengan sigap Ranvier meraih ponselnya saat melihat nama Erwin tertera di layar ponselnya.


" Assalamualaikum, kenapa Win...?" tanya Ranvier.


" Wa alaikumsalam. Lo dimana Vier, masih lama ga...?!" tanya Erwin panik.


" Baru Gue tinggal sebentar udah nyariin aja Win. Emang kenapa sih...?" tanya Ranvier.


" Amanda ngamuk nih Vier. Dia marah-marah di loby. Sekarang dia maksa masuk ke ruangan Lo minta ketemu sama Lo...!" sahut Erwin.


Ranvier memijit pelipisnya mendengar berita itu. Ia tak menduga jika Amanda akan melakukan aksi tak terpuji. Sebelumnya Ranvier telah memutuskan kontrak kerja sama dengan Amanda secara sepihak. Itu dikarenakan tingkah Amanda yang di luar kendali dan mencoreng nama baik perusahaan.


Seperti diceritakan sebelumnya, Amanda diketahui mab*k parah hingga hampir melakukan tindakan asusila dengan beberapa pria. Amanda berdalih dia hanya diundang dan tak sengaja meneguk minuman keras. Dia juga menyebut dirinya dijebak untuk melakukan pemotretan dengan pose dan pakaian yang menantang. Dan foto itu diambil saat ia tengah mab*k parah.


Apa yang dilakukan Amanda, sengaja atau tidak, telah menyalahi isi kontrak. Bagaimana pun Ranvier sedang berusaha membangun imej baik pada produk yang diwakili Amanda. Karena tindakan Amanda telah mencoreng nama baik perusahaan Kakek Randu, Ranvier pun memutuskan kerja sama mereka dan memilih model lain sebagai pengganti Amanda.

__ADS_1


" Saya mohon maaf Ustadz, Paman. Sekarang Saya harus balik ke kantor karena ada masalah serius. Saya akan hubungi Ustadz dan Paman nanti...," kata Ranvier.


" Iya. Selesaikan saja urusanmu itu dulu Vier. Biar Aku dan Ustadz Rahman mencocokkan jadwal Kami supaya ga bentrok sama jadwal mengantar Kamu...," sahut Daeng Payau.


Ranvier mengangguk lalu bergegas pergi setelah mencium punggung tangan kedua guru spiritualnya itu.


Tiba di kantor Ranvier disambut dengan pemandangan yang tak mengenakkan. Saat itu Amanda tengah memaki security dan Erwin serta beberapa karyawan yang mencoba menghalanginya naik ke lantai atas. Mutia yang berdiri di belakangnya nampaknya tak sanggup membujuk Amanda.


" Ada apa ini...?!" tanya Ranvier lantang hingga membuat semua orang menoleh kearahnya.


Erwin nampak menghela nafas lega melihat kehadiran Ranvier. Sedangkan Amanda berhenti memaki saat Ranvier melangkah mendekatinya.


" Ada apa Amanda...?" tanya Ranvier.


" Aku cuma mau tanya kenapa Kalian memutus kerja sama secara sepihak. Apa salahku ?. Terus siapa dia ?. Dia bilang dia model yang bakal menggantikan Aku. Ada apa ini Pak Ranvier...?" tanya Amanda masih berusaha sopan karena memanggil Ranvier dengan embel-embel Pak.


" Kamu tau persis apa salahmu Amanda. Dan untuk kesalahanmu itu, Kami ga bisa mentolerir sama sekali. Jadi maaf, kerja sama Kita selesai sampai di sini..., " kata Ranvier datar.


" Sudah berapa kali Aku bilang kalo Aku ini dijebak Ranvier. Aku ga tau apa-apa soal foto tak senon*h itu. Karena foto diambil saat Aku ga sadar, jadi bukan salahku kalo foto itu beredar luas di internet...!" kata Amanda tak mau kalah.


" Tapi Kamu dengan sadar datang ke sana dan tanpa paksaan Amanda. Padahal Kamu tau kalo tempat itu identik dengan alkohol dan minuman keras. Itu artinya Kamu sengaja mengantarkan dirimu dan bukan dijebak !. Sebelumnya Saya minta supaya Kamu jaga imej Kamu selama setahun, tapi liat apa yang Kamu lakukan. Di sini sudah jelas Kamu yang melanggar kesepakatan Kita. Jadi sudah sewajarnya kerja sama Kita berakhir...!" kata Ranvier lantang.


Amanda terdiam. Ia tak menyangka jika tindakannya akan membuat Ranvier marah. Air mata Amanda pun jatuh berderai membasahi wajahnya. Mutia yang sejak tadi diam pun maju ke depan.


" Kami terima keputusan Pak Ranvier. Mohon maaf karena telah membuat Pak Ranvier kecewa. Sekarang Kami pamit undur diri. Uang yang telah perusahaan bayarkan akan Kami kembalikan nanti...," kata Mutia.


" Anda tak perlu mengembalikan uang itu Bu Mutia. Anggap saja itu hadiah yang perusahaan berikan untuk Kalian. Bagaimana pun kehadiran Amanda sebagai model produk Kami sempat mendongkrak penghasilan perusahaan Kami. Jadi terima kasih atas kerja samanya selama ini. Maaf karena harus berakhir seperti ini...," kata Ranvier.


" Baik, terima kasih Pak...," sahut Mutia sambil mengangguk lalu bergegas membawa Amanda pergi dari loby perusahaan.


Setelah Amanda pergi, Ranvier pun meminta semua karyawan kembali bekerja.


" Keren banget Lo Vier. Sumpah. Sekali ngomong doang si Amanda langsung kicep. Padahal daritadi ngomel ga jelas ujung pangkalnya...!" puji Erwin.


" Biasa aja. Sekarang Lo ngapain di sini ?. Pekerjaan Lo udah selesai belum...?" tanya Ranvier.


" Udah dong...," sahut Erwin bangga hingga membuat Ranvier tersenyum.

__ADS_1


Kemudian Ranvier dan Erwin masuk ke dalam lift menuju lantai tiga.


bersambung


__ADS_2