Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
105. Pesona Arcana


__ADS_3

Ranvier hanya mematung sambil menatap gadis cantik yang kini berada tepat di depan wajahnya. Ranvier seolah sedang menikmati kecantikan gadis belia di hadapannya itu.


Aroma parfum lembut menenangkan yang menguar dari tubuh gadis cantik di hadapannya membuat Ranvier sejenak terbuai oleh perasaan yang tak ia mengerti.


Gadis cantik itu masih di posisi yang sama saat Ranvier mencoba mengamati garis wajahnya. Ranvier mengerutkan keningnya karena merasa pernah mengenal garis wajah yang serupa entah kapan dan dimana.


Lalu bayangan gadis cilik tengah merendam kakinya di kolam buaya itu pun melintas di benak Ranvier. Gadis cilik yang lucu dan cantik, sedikit judes dan selalu menatapnya dalam diam itu seolah mencongkel ingatan Ranvier dengan paksa.


Tatap mata dan omelan gadis cilik itu juga seakan menghentak kesadaran Ranvier.


" Kamu harus bertanggung jawab...!"


Dari sekian banyak kalimat yang dilontarkan gadis cilik itu, hanya kalimat itu lah yang terus terngiang di telinga Ranvier hingga membuatnya menggelengkan kepala untuk mengusir suara itu.


Ranvier kembali menatap gadis di hadapannya dengan lekat untuk memastikan gadis di hadapannya itu sama dengan gadis yang ada dalam ingatannya. Dan Ranvier menemukan beberapa kesamaan, meski ada sesuatu yang sedikit berubah sesuai waktu dan usia sang gadis.


Gadis itu bermata jernih, sangat jernih seperti telaga yang pernah Ranvier lihat. Perasaan tenang dan damai langsung menyergap Ranvier saat ia menatap ke dalam netra indah itu. Mata indah itu dihiasi dengan bulu mata lebat nan lentik, berhidung mancung dengan bibir mungil yang kini nampak semakin berisi. Rambut panjang berwarna kecoklatan yang dulu tergerai asal, kini justru terlihat indah di punggung gadis itu dan membuatnya terlihat sangat menarik. Belum lagi bentuk tubuh gadis itu yang kini juga berubah. Lebih padat dan berisi di beberapa bagian hingga mampu membangkitkan hasrat alami yang dimiliki Ranvier.


Sadar jika Ranvier tengah mengagumi raganya, gadis cantik itu pun tersenyum.


" Bagaimana Ranvier ?, apa Kamu sudah mengingatku...?" tanya gadis cantik itu sambil mengamati wajah Ranvier dengan mata indahnya.


" Kamu mirip sekali dengan seseorang..., " sahut Ranvier lirih.


" Siapa...?" tanya gadis itu.


" Dia...," sahut Ranvier sambil menahan nafas karena gadis itu memajukan wajahnya hingga membuat jarak mereka semakin dekat.


Dari jarak yang kian dekat Ranvier bisa mencium aroma tubuh gadis itu. Terasa memenuhi rongga hidungnya hingga membuat Ranvier harus menelan saliva karena gugup.


" Dia...?" tanya gadis itu dengan senyum tipis yang terbit di wajahnya.


" Iya dia...," sahut Ranvier tanpa bergeming.

__ADS_1


" Dia siapa...?" tanya gadis itu setengah memaksa.


" Arcana...," sahut Ranvier lirih.


Gadis itu berhenti 'mengejar' Ranvier. Dalam jarak hanya lima senti meter, gadis yang kemudian diyakini sebagai Arcana itu pun menatap Ranvier sejenak. Kemudian ia menghembuskan nafas panjang seolah ingin melepas beban di hatinya. Nafas yang tanpa disadari telah kembali menerpa wajah Ranvier hingga membuat pria itu linglung sejenak.


" Jadi Kamu masih mengingat Aku Ranvier...," gumam Arcana dengan mimik wajah lelah lalu kembali menegakkan tubuhnya.


Setelahnya gadis itu bergerak seolah ingin melangkah meninggalkan Ranvier.


" Mau kemana...?" tanya Ranvier sambil mencekal lengan Arcana hingga membuat gadis itu terkejut.


" Pergi...," sahut Arcana cepat sambil menepis tangan Ranvier.


" Kemana...?" ulang Ranvier.


" Ke tempat seharusnya..., " sahut Arcana sambil mengerucutkan bibirnya.


Ranvier pun mengerjapkan matanya sejenak. Ada perasaan tak rela dalam hatinya melihat Arcana pergi. Ranvier bergegas keluar dari mobil untuk mengejar Arcana yang terus melangkah kearah depan mobil.


" Arcana...," panggil Ranvier sambil melangkah cepat mengejar Arcana yang kembali diselimuti asap tipis.


Dan saat Ranvier tiba di depan mobil, gadis itu lenyap tanpa bekas.


" Arcana...!" panggil Ranvier.


Ranvier tersentak dari tidurnya dan membuka mata. Kemudian Ranvier menatap ke sekelilingnya dan terkejut karena saat itu ia masih berada di parkiran restoran tempat ia menemui rekan bisnis kakeknya.


" Masih di sini ?. Bukannya tadi udah keluar dari sini...," gumam Ranvier sambil membuka kaca mobil.


Seorang security menghampiri mobil Ranvier untuk mengecek kendisi Ranvier.


" Selamat malam Mas...," sapa sang security dengan ramah.

__ADS_1


" Selamat malam Pak...," sahut Ranvier cepat.


" Apa ada masalah Mas...?" tanya sang security.


" Ga ada Pak. Maaf, kenapa Bapak tanya kaya gitu...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Soalnya Saya perhatiin sejak masuk ke dalam mobil, Mas kaya ga fokus. Cuma duduk sambil melamun aja kaya orang bingung. Terus sekarang Masnya celingak -celinguk kaya lagi nyari sesuatu. Apa ada yang hilang Mas...?" tanya sang security penuh perhatian.


" Mmm..., ga ada Pak. Eh, tapi Bapak bilang sejak masuk ke mobil Saya cuma duduk sambil melamun aja...?" tanya Ranvier memastikan.


" Iya Mas. Saya kira Masnya ngantuk, makanya sengaja rehat sebentar untuk menetralisir rasa kantuk. Saya tau emang bahaya berkendara dalam keadaan mengantuk. Tapi hampir sepuluh menit Saya liat Mas malah bengong aja bukannya tidur. Makanya setelah ngeliat Masnya kebingungan, Saya ke sini mau tau apa yang terjadi...," sahut sang security.


" Oh gitu. Iya Pak, Saya emang sempet ngantuk tadi. Tapi Alhamdulillah sekarang Saya udah ga ngantuk lagi. Kalo gitu Saya pergi sekarang ya Pak. Makasih udah diperhatiin...," kata Ranvier.


" Iya Mas, sama-sama..., " sahut sang security sambil tersenyum.


Setelahnya security itu membantu mengarahkan mobil Ranvier keluar dari halaman restoran. Saat tiba di luar area restoran, Ranvier memberi selembar uang berwarna merah kepada sang security.


" Ini bukan uang parkir ya Pak karena Saya tau Bapak bukan tukang parkir tapi security di sini. Ini untuk nambahin beli kopi aja. Kan Bapak lagi tugas malam pasti butuh kopi buat nemenin supaya ga iseng...," kata Ranvier.


" Wah makasih Mas...," sahut sang security sambil tersenyum lebar.


" Sama-sama Pak. Saya duluan ya Pak, Assalamualaikum..., " pamit Ranvier.


" Wa alaikumsalam, hati-hati Mas...," kata sang security yang disambut lambaian tangan Ranvier.


Kemudian Ranvier melajukan mobilnya membelah jalan raya yang mulai terlihat lengang. Ranvier sengaja memilih jalan yang tadi ia lalui. Entah sadar atau tidak Ranvier merasa harus membuktikan rasa penasarannya dengan kehadiran Arcana.


Ranvier memperlambat laju mobilnya saat mulai memasuki jalan tadi. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan berhenti tepat di tepi jalan dimana Arcana menghadangnya.


Setelah menunggu sejenak dan tak ada apa pun di sana, Ranvier pun turun dari mobil. Ia sengaja berjalan ke depan mobil seolah mencari jejak Arcana di sana. .


Ranvier juga mengamati sekelilingnya dengan seksama namun apa yang dicarinya tak ia temui. Setelah menghela nafas panjang Ranvier pun kembali ke dalam mobil. Sesaat kemudian Ranvier melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Kali ini dengan kecepatan tinggi karena ia tak sabar untuk tiba di rumah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2