
Malam harinya Ranvier tak bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi sejak siang tadi ia tak berhasil menghubungi Akmal. Ia telah berusaha menghubungi Erwin, tapi sayang kakaknya yang menjawab dan mengatakan ponsel Erwin tertinggal di rumah.
" Erwin pulang jam sebelas malam nanti Vier. Kan dia lembur di pabrik...," kata kakak Erwin.
" Gitu ya kak...," kata Ranvier gusar.
" Iya. Apa ada perlu Vier ?. Keliatannya gelisah banget...?" tanya kakak Erwin.
" Oh gapapa Kak. Cuma kangen aja sama Erwin. Ya udah kalo gitu Aku tutup dulu ya Kak. Salam aja buat Ibu dan Erwin nanti. Assalamualaikum..., " kata Ranvier mengakhiri pembicaraan.
Setelahnya Ranvier pun mondar-mandir di kamar dengan gelisah. Sesekali ia melihat kearah jam dinding. Ia berharap waktu cepat berlalu agar Erwin bisa segera membalas pesannya.
Tiba-tiba Ranvier bangkit dari posisi tidurnya. Ia melangkah ke meja untuk meraih gelas berisi air dengan tutup warna biru itu. Namun Ranvier harus menelan kecewa karena gelas itu kosong. Dengan terpaksa Ranvier keluar dari kamar untuk mengambil air minum.
Ranvier keluar dari kamar dan melangkah ke ruang makan. Di sana terletak dispenser dan Ranvier biasa mengkonsumsi air hangat saat malam hari untuk menghangatkan tubuhnya.
Saat masuk ke ruang makan Ranvier berpapasan dengan Decker yang juga usai mengambil air minum.
" Bangun juga Lo, mau ngapain Vier...?" tanya Decker.
" Ngambil air minum. Lo sendiri ngapain...?" tanya Ranvier.
" Sama, minum juga. Gue duluan ya Vier. Ngantuk banget nih...," pamit Decker.
" Ok...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Ranvier pun melanjutkan niatnya untuk mengambil air minum. Ranvier menuang air ke dalam gelasnya lalu meneguknya hingga sisa setengah gelas. Kemudian Ranvier kembali menuang air hingga gelas kembali penuh. Setelahnya ia melangkah kembali menuju kamar.
Saat hendak melangkah ke kamar, tak sengaja Ranvier menoleh kearah ruang tamu. Di sana ia melihat siluet pria tengah duduk di dalam kegelapan. Sosoknya mirip Decker hingga Ranvier pun menyapanya.
" Kata Lo ngantuk, kok masih duduk di sana Deck...?" tanya Ranvier.
Tak ada jawaban dan itu membuat Ranvier penasaran. Ia pun urung masuk kamar dan memilih melangkah ke ruang tamu karena khawatir dengan Decker yang duduk menyendiri dalam gelap.
Semakin dekat dengan ruang tamu, semakin jelas sosok pria yang duduk di sofa ruang tamu itu. Ranvier membulatkan matanya karena tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
" Akmal...?!" panggil Ranvier.
__ADS_1
Pria yang ternyata Akmal itu nampak menoleh lalu tersenyum kearah Ranvier.
" Hai Vier...," sapa Akmal.
Ranvier tak kuasa menahan rindu. Ia meletakkan gelasnya lalu menghambur memeluk Akmal. Untuk sesaat kedua sahabat itu saling memeluk erat.
Namun sedetik kemudian Ranvier tersadar. Bagaimana mungkin Akmal tiba di sana begitu saja tanpa mengabarinya lebih dulu. Selain mereka berada di dua negara yang berbeda, Ranvier juga tak percaya Akmal berani bepergian jauh seorang diri dan saat malam hari seperti sekarang.
Kemudian Ranvier mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Akmal dengan lekat. Ada kesedihan di sana, kesedihan yang tak biasa dan itu membuat Ranvier bertanya-tanya.
" Lo sama siapa ke sini Mal. Kok Lo bisa sampe di sini dan tau persis dimana Gue tinggal...?" tanya Ranvier penasaran.
" Dari Kakek Randu...," sahut Akmal singkat.
Jawaban Akmal makin membuat Ranvier penasaran. Apalagi Ranvier juga ingat jika sang Kakek belum pernah mengunjunginya, jadi bagaimana mungkin Akmal bisa masuk ke rumah yang tepat.
" Terus kenapa Lo keliatan sedih banget. Ada apa Mal...?" tanya Ranvier dengan suara bergetar.
" Gue gapapa kok, Gue cuma kangen sama Lo. Gue pergi sekerang ya Vier...," kata Akmal sambil berdiri.
" Kok pergi ?. Mau pergi kemana Mal. Di sini aja dulu. Ini masih malam dan gelap di luar sana...," kata Ranvier.
" Tunggu Mal. Akmal...!" panggil Ranvier.
Namun Akmal tak peduli. Ia terus melangkah cepat menuju pintu yang tertutup rapat itu. Dan yang mengejutkan Ranvier karena Akmal berjalan menembus pintu dan keluar tanpa membuka pintu.
" Akmaaalll...!" panggil Ranvier sambil berlari mengejar keluar setelah berhasil membuka pintu.
Tiba di luar Ranvier masih bisa melihat punggung Akmal yang menjauh. Sekali lagi ia memanggil Akmal lalu terbangun dari tidurnya.
" Astaghfirullah aladziim..., ternyata cuma mimpi...," gumam Ranvier sambil mengusap wajahnya.
Ranvier pun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan tersadar jika saat itu ia tengah berada di kamar. Setelah mengatur nafasnya, Ranvier pun mengulurkan tangannya kearah meja untuk meraih gelas berisi air. Namun Ranvier bingung karena tak mendapati gelas miliknya di sana.
Dengan setengah kesal Ranvier keluar dari kamar. Ia bermaksud mengambil air minum ke ruang makan.
Seperti dejavu, lagi-lagi Ranvier berpapasan dengan Decker. Yang membuat Ranvier tertegun adalah karena sapaan Decker sama persis dengan sapaan di dalam mimpinya tadi.
__ADS_1
" Bangun juga Lo, mau ngapain Vier...?" tanya Decker.
" ... "
" Ditanyain bengong aja Lo. Hallo...!, hei Ranvieeerr...!" panggil Decker sambil melambaikan tangan di depan wajah Ranvier.
Ranvier tersentak kaget lalu tersenyum.
" Eh i... iya Deck. Gue... Gue mau ngambil minum kok...," sahut Ranvier gugup hingga membuat Decker mengerutkan keningnya.
" Lo Gapapa kan Vier ?. Lo sakit ya...?" tanya Decker sambil menatap Ranvier lekat.
" Gue gapapa kok Deck. Cuma kaget aja. Terus Lo mau kemana sekarang...?" tanya Ranvier.
Dalam hati Ranvier berharap Decker akan menjawab sama persis dengan apa yang ia katakan di dalam mimpinya.
" Mau mandi, terus siapin buku buat kuliah nanti. Jam segini kalo dibawa tidur mah nanggung Vier...," kata Decker sambil berlalu.
" Emang sekarang jam berapa...?" tanya Ranvier sambil mengerutkan keningnya.
" Gue ga tau jam berapa sekarang, yang jelas sih udah siang ya. Tuh matahari aja udah terbit...," sahut Decker sambil berlalu.
Ucapan Decker membuat Ranvier terkejut. Ia bahkan membulatkan mata karena tak menyangka jika ia kesiangan. Saat Ranvier menoleh ke kanan, ia melihat sinar matahari menyeruak masuk melalui sela gorden yang masih tertutup itu. Ranvier juga mendengar kesibukan di dapur, pertanda wanita pengurus rumah itu sedang menyiapkan sarapan untuk para penghuni rumah.
Ranvier nampak gusar karena ingat belum menunaikan sholat Subuh tadi. Dengan bergegas Ranvier membalikkan tubuhnya menuju ke kamar untuk menunaikan sholat Subuh.
Saat hendak membuka pintu kamar, tak sengaja Ranvier menoleh kearah ruang tamu. Ranvier nampak mematung di tempat dengan jantung berdetak cepat.
Bagaimana tidak. Saat itu Ranvier melihat gelas dengan tutup gelas berwarna biru ada di meja ruang tamu. Ranvier yakin itu miliknya. Saat Ranvier mendekat, ia melihat gelasnya terisi air, penuh. Ranvier pun mengulurkan tangannya dan terkejut.
" Hangat kaya baru aja diisi...," gumam Ranvier gusar.
Saat itu Ranvier menggenggam gelas dengan erat dan jantung berdetak kian cepat. Berbagai pikiran berkecamuk di benaknya.
" Jadi kalo bukan mimpi, apa dong...?" batin Ranvier bingung.
Ranvier memilih menyimpan pertanyaannya dan memutuskan menunaikan sholat Subuh yang tertunda lebih dulu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=