
Untuk beberapa saat Ranvier hanya bisa membisu sambil menatap nanar kearah pria tanpa busana yang jatuh telungkup itu.
Dari letak kedua kaki pria itu yang nampak tak sejajar, Ranvier yakin jika kedua kaki pria itu patah.
Jantung Ranvier berdetak kian cepat saat ia menyaksikan pria yang kondisinya mengkhawatirkan itu bergerak perlahan. Saat pria itu bergerak terdengar suara berderak menandakan jika persendian tulang pria itu mengalami cidera parah.
" Krek krek krek..."
Suara tulang yang berderak terdengar jelas saat pria itu bangkit lalu duduk di lantai membelakangi Ranvier. Perlahan pria itu juga memutar kepalanya hingga wajahnya menghadap kearah Ranvier. Hanya kepalanya saja yang berputar, sedangkan posisi tubuhnya tetap menghadap kearah dinding.
Dan Ranvier bergidik ngeri saat wajah pucat pria itu mengarah padanya dengan tatapan mata yang kosong.
Ranvier ingin lari namun ia seolah tak punya kekuatan. Apalagi saat pria itu menggerakkan mulutnya seolah ingin bicara. Ternyata bukan suara yang keluar dari mulut pria itu melainkan darah, berwarna merah pekat dan berbau busuk.
Jangan tanya bagaimana paniknya Ranvier saat itu. Ia refleks mundur ke belakang sambil menutup hidung.
Namun seolah tak ingin ditinggalkan oleh Ranvier, pria itu perlahan membalikkan tubuhnya yang duduk menghadap dinding hingga menghadap kearah Ranvier. Untuk sesaat Ranvier bisa melihat tubuh pria itu beserta auratnya yang tak tertutup selembar benang pun.
Karena tak nyaman Ranvier pun mengalihkan tatapannya kearah lain sedangkan pria itu nampak tersenyum tipis.
Saat Ranvier menatap kearah lain, pintu terbuka dan masuklah Akmal disusul Erwin di belakangnya.
Mengira jika Akmal dan Enwir juga akan melihat penampakan pria asing itu, Ranvier pun meminta kedua sahabatnya untuk melihat pria itu.
" Kebetulan Kalian datang. Kayanya cowok itu butuh bantuan deh...," kata Ranvier sambil menunjuk ke dalam bilik toilet.
" Cowok yang mana Vier ?. Ga ada siapa-siapa di sini...," sahut Akmal sambil melongok ke dalam bilik toilet.
Ranvier terkejut lalu menatap ke dalam bilik toilet dan tak mendapati pria itu lagi di sana. Melihat sikap Ranvier, Akmal pun menebak jika dia sedang dikerjai.
" Ga usah bikin gara-gara Vier. Kalo Lo mau nakutin Gue pake hantu, percuma. Gue ga percaya. Secara logika hotel ini bagus, bersih, terang, wangi pula. Mana ada hantu yang betah bercokol di sini...," kata Akmal sambil menepuk bahu Ranvier.
Ranvier tersenyum mendengar pujian Akmal pada hotel milik sang Kakek itu. Ranvier pun memilih tak membahas apa yang baru saja dilihatnya. Ia sengaja tak membicarakan penampakan pria tanpa busana tadi karena tak ingin terjadi kekacauan di hotel milik sang kakek yang akan berimbas pada kelangsungan bisnis sang kakek nanti.
" Kalo gitu Gue tunggu di luar deh. Buruan ya mandinya, jangan lama-lama..., " kata Ranvier sambil berlalu.
" Siaapp...," sahut Akmal dan Erwin bersamaan.
__ADS_1
Ranvier pun bergegas keluar dari toilet. Ia nampak mengusap wajahnya untuk menetralisir perasaan takutnya.
" Jadi tadi hantu. Kok bisa ada hantu di sini.Kenapa cowok itu meninggal dan kenapa masih gentayangan di sini ?. Hiiyyyy..., bisa-bisanya ketemu hantu di hotel bagus kaya gini...," gumam Ranvier sambil bergidik.
Tiba-tiba Ranvier teringat dengan dua guru spiritualnya itu dan berniat melaporkan temuannya. Namun sebelum menghubungi Ustadz Rahman dan Daeng Payau, ia sengaja merekam situasi di sekitar kolam renang itu berikut toiletnya.
Saat kembali ke dslam toilet, terlihat Akmal dan Erwin yang telah selesai mandi dan sedang mematut diri di depan cermin. Keduanya hanya tersenyum melihat Ranvier tengah merekam mereka.
" Pake direkam, segala buat apaan Vier...?" tanya Erwin.
" Buat kenang-kenangan lah. Coba say hai ke sini guys...!" pinta Ranvier sambil mengarahkan kamera ponselnya kearah Erwin dan Akmal bergantian.
Tanpa curiga keduanya pun melambaikan tangan kearah Ranvier.
" Ini toiletnya, bersih kan. Jadi jangan lupa mampir yaa. Makasih...," kata Ranvier sambil melambaikan tangannya kearah kamera.
Setelah selesai merekam situasi kolam renang beserta toilet, Ranvier pun mengajak kedua sahabatnya makan malam.
" Makan Vier, sekarang...?" tanya Akmal.
" Iya...," sahut Ranvier cepat.
" Tau dong. Yuk Kita turun ke restoran sekarang. Inget ya, jangan malu-maluin Gue kaya tadi...," kata Ranvier hingga membuat Akmal dan Erwin tertawa.
\=\=\=\=\=
Sambil menikmati menu makan malam di restoran, Ranvier mencoba mengirimkan rekaman video tadi kepada ustadz Rahman dan Daeng Payau. Dalam hitungan menit keduanya langsung merespon.
Ranvier sengaja menjauh dari Akmal dan Erwin karena tak ingin mereka mendengar pembicaraannya dengan Daeng Payau dan ustadz Rahman.
" Assalamualaikum Ranvier...!" panggil ustadz Rahman.
" Wa alaikumsalam Ustadz...," sahut Ranvier.
" Video call aja Vier. Paman Daengmu juga ada di sini kok...," pinta ustadz Rahman.
" Iya Ustadz...," sahut Ranvier.
__ADS_1
Setelahnya sambungan telephon pun berganti menjadi video call. Dari seberang sana Daeng Payau bisa melihat langsung situasi di sekitar Ranvier.
" Coba Kamu ke sebelah sana Vier...," pinta Daeng Payau.
Ranvier pun bergeser hingga nampak lah Akmal dan Erwin yang tengah makan malam dengan lahap.
" Temanmu berapa orang Vier...?" tanya ustadz Rahman.
" Dua orang Ustadz. Kenapa emangnya...?" tanya Ranvier mulai merasa tak nyaman.
" Laki-laki semua ya...?" tanya ustadz Rahman.
" Iya...," sahut Ranvier cepat.
Sesaat kemudian ustadz Rahman dan Daeng Payau nampak saling menatap sejenak. Kemudian Daeng Payau mendekatkan wajahnya untuk mengamati sosok lain yang ada di meja makan. Daeng Payau melihat sosok itu tengah duduk menemani Akmal dan Erwin makan malam.
" Sebaiknya Kamu jangan makan di situ Vier. Pindah ke tempat lain atau minta menu baru ya...," kata Daeng Payau.
" Lho kenapa Paman. Ntar mubazir dong. Aku kan udah pesen dan tinggal makan aja kok...," kata Ranvier.
" Karena ada sosok lain yang lebih dulu makan makanan itu. Walau pun secara zohir terlihat masih utuh, tapi sesungguhnya makanan itu udah ga layak dimakan. Makanan itu udah acak-acakan, dipenuhi lendir dan darah dari makhluk yang duduk di sana. Makanya lebih baik Kamu pindah cari tempat lain atau ganti menu...," sahut Daeng Payau.
Ucapan Daeng Payau membuat Ranvier bergidik jijik. Tak ingin membuang waktu Ranvier pun segera mengajak Akmal dan Erwin keluar dari restoran itu.
" Tanggung Vier, dikit lagi abis...," kata Akmal..
" Udah gampang. Ntar Kita pesen lagi yang lebih enak. Sekarang mendingan Kita keluar dari sini. Tempat ini ga aman untuk Gue...," sahut Ranvier.
" Ga aman untuk Lo maksudnya gimana Vier Ini kan hotel Kakek Lo, siapa yang berani kurang ajar dan nyakitin Lo. Apa mereka ga tau akibatnya kalo berani nyakitin Cucu semata wayangnya Kakek Randu...?" tanya Akmal.
Sadar telah kelepasan bicara, Ranvier pun meralat dengan cepat.
" Ehm, sorry. Gue salah ngomong. Bukan apa-apa kok. Yuk Kita ke lobby aja...," ajak Ranvier cepat.
" Mentang-mentang orang kaya. Ninggalin makanan gitu aja tanpa disentuh sedikit pun. Mubazir banget. Padahal orang di luar sana masih harus berjuang buat sepiring nasi...," gerutu Erwin yang tak rela meninggalkan makanan yang tengah disantapnya itu.
Tanpa Erwin dan Akmal sadari, sesungguhnya mereka telah mengonsumsi makanan yang tak layak. Makanan itu telah bercampur dengan lendir dan darah yang sengaja dilontarkan makhluk halus yang menemani mereka makan tadi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=