Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
95. Pesona Ranvier


__ADS_3

Setelah berhasil mengantar Eugene pergi ke tempat seharusnya, Ranvier pun keluar dari penginapan.


Ranvier menemui Akong dan keluarganya untuk pamit. Melihat kehadiran Ranvier membuat keluarga Akong bingung.


" Akong kenal sama dia dimana...?" tanya cucu laki-laki Akong.


" Ga sengaja ketemu pas lesehan di samping penginapan tadi. Ranvier ini membuat Akong bernostalgia sama masa lalu. Selain itu pijitannya enak lho. Waktu dipijitin sama Ranvier Akong keenakan eh ketiduran sebentar tadi. Kalo ga dibangunin sama Ranvier, Akong pasti pules sampe Maghrib...," sahut Akong hingga membuat Ranvier tersenyum.


" Akong berlebihan. Aku cuma mijit dikit tadi. Ga sengaja ngeliat kaki Akong bengkak, eh refleks pengen mijit jadinya...," gurau Ranvier hingga membuat keluarga Akong tertawa.


Ranvier memang bukan sembarang memijit tadi. Saat itu dia melihat ada sosok anak kecil yang menggelayuti kaki Akong. Sosok anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu rupanya teman masa kecil Akong.


Saat Ranvier mengatakannya Akong hanya tersenyum.


" Biarkan aja dia di sana. Aku udah terbiasa dengan kehadirannya. Toh, dia ga menggangguku sama sekali...," kata Akong.


" Kalo udah bikin Akong kesulitan berjalan itu namanya mengganggu Kong...," sahut Ranvier sambil tertawa.


" Iya juga ya...," kata Akong ikut tertawa.


" Emang kenapa Akong biarin dia ngikutin Akong terus...?" tanya Ranvier.


" Keluarga Kami dulu berteman baik. Dulu hanya dia dan keluarganya yang pribumi yang mau berteman dengan Kami. Orang lain memusuhi Kami karena mengira Kami antek penjajah, sama seperti yang Aku ceritakan tadi. Dia meninggal karena menghalangi peluru Belanda yang terarah padaku. Aku menangisi kematiannya hingga berhari-hari. Hingga akhirnya dia datang dan mengatakan bahwa dia akan terus menemani Aku sampai tibanya Aku pergi nanti...," sahut Akong dengan suara bergetar.


Ranvier tersentak kaget. Ia tahu ada sumpah tak tertulis antara Akong dan hantu teman kecilnya itu. Dan sekarang sumpah itu hampir mendekati titik akhir.


" Jadi saat dia pergi, itu artinya Akong...," ucapan Ranvier terputus karena Akong memotong cepat.


" Kamu betul Ranvier. Jika dia pergi, artinya Aku juga pergi. Sayangnya tak ada seorang pun yang bisa membuatnya pergi. Jika Kamu berhasil menemukannya, itu artinya waktuku juga ga banyak lagi. Dan Aku berterima kasih untuk itu...," sahut Akong sambil tersenyum.


" Akong...," panggil Ranvier lirih.


" Jangan bersedih Ranvier. Ini bukan salahmu. Takdirku adalah bertemu denganmu, lalu Kamu membantuku melepaskan rasa sakitku dan kemudian Aku pergi. Memang begitu aturannya. Tapi bisa kan Aku minta satu hal padamu Ranvier...?" tanya Akong.

__ADS_1


" Tentu boleh Akong...!" sahut Ranvier cepat.


" Jangan katakan ini pada siapa pun termasuk keluargaku. Bisa kan...?" tanya Akong penuh harap.


" Insya Allah...," sahut Ranvier dengan dada sesak.


" Terima kasih Ranvier...," kata Akong sambil memeluk Ranvier erat.


" Sama-sama Akong. Senang bisa mengenalmu...," sahut Ranvier sambil membalas pelukan pria sepuh itu.


Dan saat keluarga Akong begitu gembira melihat kesembuhan Akong, Ranvier pun hanya bisa tersenyum getir. Karena ia tahu ajal Akong tak lama lagi akan tiba.


Di satu sisi Ranvier merasa bersalah, tapi ia tak kuasa melihat Akong begitu bahagia menantikan mautnya. Nampaknya Akong sudah siap bertemu dengan orang-orang yang dia sayangi dan telah pergi mendahuluinya.


" Makasih ya Vier. Cuma Kamu lho yang berani megang kakinya Akong. Selama ini ga ada yang berani karena Akong pasti menjerit tiap kali kakinya dipegang...," kata anak Akong di sela tawanya.


" Plus marah juga Ma...," sela cucu perempuan Akong.


" Sama-sama Bu. Kalo gitu Saya pamit ya. Selamat sore...," kata Ranvier dengan santun.


Ranvier mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang dikendarai Halim. Setelahnya mobil pun melaju cepat meninggalkan penginapan.


Dari balik jendela mobil Ranvier melihat sosok hantu anak kecil yang ia kenali sebagai teman Akong ada di gerbang penginapan. Sosok hantu itu berdiri sambil menatap Akong dengan tatapan mendamba.


Ranvier pun mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak sanggup melihat kelanjutan dari kisah Akong.


Tanpa Ranvier ketahui, satu jam setelah dia pergi, Akong harus dilarikan ke Rumah Sakit terdekat karena mengalami sesak nafas. Dan tepat jam dua belas malam, Akong dinyatakan meninggal dunia oleh dokter yang merawatnya.


Seluruh keluarga melepas kepergian Akong dengan ikhlas karena ingin memenuhi keinginan terakhir Akong. Wajah Akong nampak tersenyum seolah ia telah berhasil menunaikan janjinya pada teman semasa kecilnya itu.


\=\=\=\=\=


Sebelum kembali ke Jakarta Ranvier menyempatkan diri mampir ke rumah orangtua Tomi dan menginap satu malam di sana. Tentu saja kedatangan Ranvier membuat kedua orangtua Tomi bahagia.

__ADS_1


Mereka bicara banyak hal hingga dini hari. Ranvier pun hanya tidur sebentar sebelum akhirnya bangun untuk sholat Subuh berjamaah di musholla.


Tepat jam sebelas siang Ranvier pun pamit. Ia juga memberi sedikit uang kepada ibu Tomi yang menerimanya dengan rasa haru.


Dan sekitar jam tiga sore Ranvier telah ada di pesawat dalam perjalanan menuju Jakarta.


Perjalanan yang melelahkan tapi tidak untuk Ranvier. Buktinya ia masih sibuk mempelajari daftar para karyawan yang ada di jajaran staf inti perusahaan yang bakal ia pimpin.


Dan tanpa Ranvier sadari, sepasang mata indah nampak mengamatinya dengan intens.


Pemilik sepasang mata yang terhalang kaca mata itu adalah seorang wanita cantik berambut lurus bernama Amanda. Saking fokusnya ia mengamati Ranvier, Amanda pun tak menggubris saat wanita di sampingnya bicara.


Karena kesal merasa telah diabaikan, wanita bernama Mutia, yang merupakan sahabat sekaligus manager Amanda itu pun berteriak di telinga Amanda.


" Woooii..., serius banget sih Man. Liat apaan sih Lo...?!" tanya Mutia lantang hingga mengejutkan Amanda.


" Apaan sih Lo Tia ?. Sakit nih kuping Gue...!" kata Amanda kesal.


" Bodo amat !. Itu pembalasan dari Gue karena Lo nyuekin Gue daritadi...," sahut Mutia sambil melengos.


" Lo layak dicuekin karena Lo berisik banget daritadi. Mendingan Gue ngeliatin cowok ganteng di sana daripada ngedengerin ocehan Lo yang ga jelas ujung pangkalnya...!" kata Amanda ketus.


" Ga jelas ujung pangkalnya gimana sih ?. Gue kan lagi ngebahas kerjaan Lo Man !. Permintaan klien kali ini sedikit beda sama klien lainnya. Jangan sampe pas Lo di depan kamera, Lo justru melakukan kesalahan kecil yang ga dia sukain. Dan dia minta tiap kesalahan kecil yang Lo lakuin, maka honor Lo dipotong lima persen. Bayangin kalo Lo ngelakuin kesalahan sampe sepuluh kali. Itu artinya Kita cuma dibayar setengah Man !. Ngerti ga sih Lo...?!" tanya Mutia gusar.


" Iya iya ngerti. Bisa ga Kita ga usah ngebahas kerjaan itu sekarang. Gue mau refreshing sebentaaarr aja...," kata Amanda penuh harap hingga membuat Mutia menghela nafas panjang.


" Siapa sih yang udah bikin Lo ga mau ngebahas kerjaan sekarang...?" tanya Mutia berusaha sabar.


" Tuh...," sahut Amanda sambil memberi isyarat dengan ujung dagunya.


Mutia pun menoleh kearah yang dimaksud Amanda. Saat ia melihat Ranvier, aliran darahnya seolah berhenti. Kedua matanya pun membelalak seolah akan keluar dari tempatnya.


Melihat reaksi Mutia membuat Amanda mencibir. Namun ia tak punya waktu untuk menyerang balik Mutia yang tampak kesengsem berat dengan pesona Ranvier itu. Akhirnya Amanda pun memilih kembali menatap Ranvier sambil tersenyum sendiri seperti orang tak waras.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2