Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
122. Ketauan Aslinya


__ADS_3

Sesaat kemudian Erwin tersenyum lalu mengucapkan kalimat yang tak ingin didengar Atika.


" Kalo gitu Aku kabulin keinginan Kamu, Kita putus Atika. Putus...!" kata Erwin tegas.


" Ga Win, jangan. Aku ga mau putus. Kita bisa perbaiki semuanya, ini cuma salah paham...," sahut Atika panik.


" Ga ada yang harus diperbaiki. Kamu udah berani merayu sahabatku dan itu ga termaafkan. Jangan coba hubungi Aku lagi dan anggap aja uang yang Aku berikan sama Kamu sebagai sedekah Aku buat Kamu...!" kata Erwin lantang hingga membuat Ranvier menoleh.


" Uang apa yang Lo bilang sedekah itu Win...?" tanya Ranvier penasaran.


" Uang belasan juta yang Gue kirim ke rekeningnya tanpa Gue sadari Vier. Ga tau gimana caranya, tapi Gue dapat notifikasi dari Bank soal transferan yang Gue lakuin. Padahal seinget Gue, Gue ga pernah transfer uang sebanyak itu ke rekeningnya Atika...," sahut Erwin.


" Oh jadi begitu. Ini yang Kamu bilang Erwin ga pernah membayar makanan dan minuman yang Kalian beli ?. Mau bayar pake apa kalo uangnya udah habis dikirim ke rekening Kamu...?!" kata Ranvier kesal.


" Itu..., Ok Saya ngaku. Saya yang transfer uang itu ke rekening Saya saat Erwin lagi ke toilet. Makanya waktu Kamu bilang Erwin ini orang kaya Saya ga percaya. Saya liat di rekeningnya cuma ada belasan juta. Masa orang kaya cuma punya uang belasan juta...," sahut Atika sambil mencibir.


Ucapan Atika membuat Ranvier dan Erwin saling menatap sambil tersenyum. Sebab uang yang diambil Atika hanya uang makan Erwin sebagai asisten pribadi Ranvier.


Rupanya Ranvier sengaja mengirim gaji Erwin, yang jumlahnya fantastis itu, ke rekening terpisah untuk keamanan. Dan tindakan Ranvier terbukti menyelamatkan Erwin dari tindakan pencurian seperti saat ini.


" Oh gitu. Jadi selama ini Kamu ga tulus mencintaiku Tika...?!" kata Erwin kesal..


" Ayo lah Win, ga usah belaga polos gitu. Dari pada pacaran sama Kamu, mendingan Aku pacaran sama Ranvier yang hartanya berlimpah. Iya kan...?" tanya Atika sambil tersenyum penuh makna kearah Ranvier.


" Ga...!" sahut Ranvier dan Erwin bersamaan hingga membuat Atika terkejut.


Bagaimana tidak. Sebelumnya Atika telah merapal mantra untuk memperdaya Ranvier dan Erwin. Melihat keduanya baik-baik saja Atika pun panik.


" Kenapa bingung ?. Apa sosok lain yang selalu membantumu udah ga berdaya lagi...?" ejek Ranvier.


" Sosok apaan Vier...?" sela Erwin.


" Sosok yang ngikutin dia karena dia make sesuatu di salah satu bagian tubuhnya Win...," sahut Ranvier..


" Maksud Lo susuk Vier...?!" tanya Erwin.


" Iya...," sahut Ranvier hingga membuat Erwin dan Atika terkejut.


" Jadi Lo pake susuk buat memikat Gue Tik ?. Ternyata selain matre, Lo juga ga punya kepercayaan diri. Jadi gini cara Lo untuk memikat cowok. Menyedihkan...!" kata Erwin dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


Atika tak kuasa lagi menahan malu. Ia berniat pergi meninggalkan tempat itu. Atika pun bergegas meraih tas miliknya yang ia letakkan di kursi. Dan saat tangannya terulur terlihat jelas kulitnya yang ditumbuhi koreng yang basah dan bernanah. Koreng yang sama juga terlihat di kedua bahunya yang terbuka.


" Iihhh..., kok kulit Lo korengan begitu Tik. Bau lagi...," kata Erwin sambil menutup hidung.


Atika tersentak kaget lalu mengamati kulit bahu dan tangannya juga kakinya. Ia terkejut bukan kepalang mendapati kulitnya dipenuhi koreng padahal sebelumnya ia yakin kulitnya sangat mulus dan cantik.


" Hhaahh..., kenapa begini ?. Kenapa kulitku begini...?!" kata Atika panik lalu mulai menangis.


Atika pun terduduk sambil menutupi wajahnya yang mulai terasa gatal dan perih.


Melihat kejadian aneh di depan matanya membuat Erwin menoleh kearah Ranvier seolah ingin meminta penjelasan sang sahabat. Saat itu Ranvier tampak menatap Atika dalam diam karena ia sedang fokus menyingkirkan sosok lain yang mencoba menyakiti Erwin tadi.


" Vier...," panggil Erwin.


" Hmmm...," sahut Ranvier.


" Gimana nih. Kok mendadak kulitnya Atika korengan gitu sih. Sebenernya ada apaan Vier...?" tanya Erwin.


" Lo tanya aja sama dia apa yang udah dia lakuin...," sahut Ranvier.


" Ga perlu nanya Vier. Mendadak perut Gue mual nih ngeliat koreng sebanyak itu...," kata Erwin sambil menutup hidung dan mulutnya.


" Ayo Kita pergi Win...," ajak Ranvier sambil berlalu.


" Ok...," sahut Erwin sambil bergegas menyusul Ranvier.


Ranvier dan Erwin pergi meninggalkan Atika seorang diri. Sadar dirinya ditinggalkan, Atika pun bergegas lari menyusul Ranvier dan Erwin sambil menutupi bahu dan kepalanya dengan jaket milik Ranvier.


Tingkah laku Atika membuat semua pengunjung bingung. Namun mereka segera menutup hidung saat Atika melintas karena terganggu dengan bau menyengat yang menguar dari tubuh Atika.


Di luar restoran Atika segera menghampiri Erwin yang masih berdiri di samping mobil.


" Erwin...!. Tolong, tolong Aku Win...," kata Atika.


" Apa lagi Atika...?" tanya Erwin dengan enggan sambil membuang tatapannya kearah lain.


" Jangan tinggalin Aku di sini Win. Tolong anter Aku pulang. Please...," pinta Atika sambil terisak.


" Ga bisa Tik. Aku harus balik ke kantor. Lagi pula Ranvier juga belum tentu mau mobilnya ditumpangin sama Kamu...," sahut Erwin sambil membuka pintu mobil.

__ADS_1


" Erwin...," panggil Atika menghiba.


" Sorry Tik, badan Kamu bau banget dan Aku ga tahan nyium baunya. Nih ambil buat ongkos Taxi...," kata Erwin sambil meletakkan uang dua ratus ribu rupiah di telapak tangan Atika.


Setelahnya Erwin menutup pintu mobil dan meminta supir melajukan mobil secepat mungkin. Kemudian Erwin bergegas meraih tissu basah dari laci dashboard mobil untuk mengelap tangannya. Sesekali Erwin nampak meringis jijik hingga membuat Ranvier tersenyum melihatnya.


" Puas banget Lo ngetawain Gue ya Vier...," kata Erwin sambil cemberut.


" Ga juga. Tapi Gue bersyukur karena Lo bisa lepas dari dekapan hangat Atika...," sahut Ranvier sambil tersenyum penuh makna.


" Iiihhh..., udah Vier !. Ga usah diingetin lagi dong. Gue jijay ngingetnya...!" kata Erwin marah.


" Masa sih. Bukannya Lo sedih karena dicuekin sama Atika. Dan hampir depresi pas tau Atika minta putus...," ejek Ranvier.


" Ya Allah..., Astaghfirullah aladziim. Untung Gue liat sekarang ya Vier. Ga kebayang kalo ngeliat aslinya pas udah nikah. Pasti Gue langsung g*la karena nyentuh dia, nyentuh kulitnya yang kaya gitu. Hiiiyyy...," kata Erwin sambil bergidik jijik.


" Iya, bersyukur lah karena Allah masih mau melindungi Lo yang ga mau diajak umroh ini. Padahal waktu umroh Lo mungkin bisa diperlihatkan lebih cepat apa dan gimana aslinya Atika dan Bapaknya itu jadi Lo ga rugi sebanyak ini...," sahut Ranvier.


" Iya Vier. Mungkin ini hukuman buat Gue karena lebih milih ngejar Atika daripada berangkat umroh bareng Lo...," kata Erwin dengan nada menyesal.


" Bertobat dan banyak istighfar aja lah kalo kaya gitu. Minta ampun sama Allah karena Lo udah abai sama petunjukNya...," nasehat Ranvier lirih.


Entah mengapa ucapan Ranvier membuat hati Erwin berdenyut sakit. Erwin pun menundukkan kepala karena merasa sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.


Sementara itu Atika nampak berdiri mematung sambil menatap kepergian Erwin. Ia tak percaya pria yang bucin akut padanya itu memilih pergi dan menelantarkannya di parkiran restoran.


Dengan langkah gontai Atika berjalan keluar area restoran. Saat melintas di depan pos security Atika pun hanya bisa menunduk malu karena tak kuasa mendengar ejekan para pria di sana.


" Body sih Ok, tapi kulitnya kok korengan. Hiiyy...," kata seorang pria.


" Mending yang bodynya biasa aja tapi kulitnya bersih deh...," kata pria lainnya.


" Kalo Gue mah yang penting bersih hatinya juga kulitnya dong. Soal wajah dan body mah nomor sekian deh...," sahut pria lainnya hingga membuat Atika merasa tersindir.


Atika pun teringat Erwin dan hanya bisa menyesali diri karena telah meninggalkan pria baik itu.


Atika menghentikan Taxi dan memintanya melaju ke rumah dukun yang telah membantunya selama ini untuk mengajukan protes.


Atika pun meringis saat merasa nyeri di seluruh permukaan kulitnya yang kini dipenuhi koreng basah, bernanah dan bau itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2