Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
39. Cita-Cita Akmal


__ADS_3

Di kamarnya Kareen sedang menangis sedih. Ia meratapi jarinya yang baru saja diamputasi.


Rupanya luka di jari Kareen telah membuat jari tangannya itu membusuk dan sulit diselamatkan. Akhirnya dengan berat hati Kareen merelakan satu jarinya dipotong oleh dokter di Rumah Sakit melalui operasi kecil tadi.


Yang membuat Kareen tak mengerti adalah apa penyebab luka di jarinya itu.


" Ga mungkin cuma tergores Reen, pasti ada sesuatu yang Kamu lakukan yang bikin tangan Kamu terluka...," kata Mama Kareen.


" Aku ga tau Ma. Kenapa Mama terus maksa Aku buat bilang sesuatu yang Aku sendiri ga tau jawabannya...," protes Kareen.


" Ini nih yang bikin Mama tambah kesel. Dikasih tau ga mau denger, ditanyain ga mau jujur. Apa sih susahnya bilang sama Mama luka di jari Kamu karena apa. Emang Kamu pikir cuma Kamu yamg marah, Mama juga Kareen. Mama juga malu punya anak kok jarinya ga sempurna. Buyar dong mimpi Mama buat jadiin Kamu model terkenal nanti. Mana ada model yang jarinya ga lengkap...!" kata Mama Kareen lantang sambil membanting pintu kamar.


Ucapan sang Mama membuat Kareen terpukul. Ia hanya bisa menangis menyesali semuanya.


Kareen masih menatap luka di tangannya bekas operasi tadi sambil terisak kecil. Tiba-tiba Kareen nampak mengerutkan keningnya karena merasa ada sesuatu yang terjadi. Saat itu Kareen merasa ada udara sejuk menyelusup ke dalam perban yang membalut lukanya lalu melingkupi bekas lukanya itu. Warna kemerahan di sekitar luka bekas operasi itu perlahan memudar dan sakit pun perlahan lenyap.


Saat Kareen mencoba mengintip ke dalam balutan perban, ia melihat luka sisa operasi tadi hilang tanpa bekas.


" Apa ini, kemana luka bekas operasi tadi...," gumam Kareen bingung sambil membuka balutan perban dengan segera.


Kareen pun mematung saat melihat luka di tangannya sembuh, hilang tanpa bekas. Sesaat kemudian senyum nampak menghias wajah cantiknya. Meski pun jarinya kini tak lengkap lagi namun Kareen bahagia karena kini ia tak harus merasakan sakit lagi.


Sedangkan di tempat lain terlihat Maudy tengah mematut diri di depan cermin sambil mengamati lehernya. Ia nampak mencari lebam kehitaman yang mewarnai lehernya beberapa hari ini.


" Aneh. Kemana hilangnya lebam kehitaman itu. Tadi masih ada kok. Sekarang malah udah bersih dan ga keliatan sama sekali...," gumam Maudy.


Kemudian Maudy mencoba berdehem. Maudy pun kembali tersenyum saat tak merasakan sakit lagi di lehernya.


" Alhamdulillah, akhirnya sembuh juga. Lebam aneh hilangnya pun dengan cara yang aneh. Tapi gapapa. Ini jauh lebih baik daripada kemaren...," gumam Maudy sambil menghela nafas lega.


Rupanya kalimat yang diucapkan Ranvier telah berhasil membantu menghilangkan rasa sakit yang mendera Kareen dan Maudy.


\=\=\=\=\=


Sejak memastikan Kareen dan Maudy sembuh, Ranvier pun menepati janjinya. Ia sengaja menjaga jarak dengan Kareen cs yang merupakan teman barunya itu. Ranvier juga menjaga jarak dengan teman perempuan lain yang ada di lingkungan sekolah termasuk Yara.

__ADS_1


Ranvier melakukan semuanya dengan hati-hati hingga tak seorang pun teman di kelas yang menyadari perubahan sikapnya itu. Sedangkan Yara merasa puas karena Ranvier bisa 'menjaga diri' dari berdekatan dengan perempuan lain yang tentu saja akan membuatnya cemburu.


Sikap seperti itu terus Ranvier pertahankan hingga akhirnya Ranvier lulus sekolah. Walau pun hingga detik terakhir Daeng Payau tak memberitahu siapa perempuan yang telah melukai Kareen dan Maudy, namun Ranvier bisa menebak jika perempuan itu adalah salah satu teman yang jadi penggemar rahasianya di sekolah.


" Udah hampir lulus-lulusan nih. Apa rencana Lo berdua setelah ini...?" tanya Akmal sambil menatap Erwin dan Ranvier bergantian.


" Insya Allah Gue lanjut kuliah...," sahut Ranvier.


" Kalo Gue paling kerja dulu setaon atau dua taon baru mikir lanjutin ke bangku kuliah...," sahut Erwin.


" Baru mikir setelah setaon atau dua taon kerja. Itu artinya bisa kuliah bisa ga dong Win...," kata Akmal sambil menepuk punggung Erwin dengan buku hingga keduanya tertawa.


" Emang itu maksud Gue...," sahut Erwin.


" Laaah... kok gitu Win. Gimana sih Lo...," kata Akmal.


" Ga gimana-gimana Mal. Itu keputusan Gue. Lo sendiri gimana ?. Sibuk sama urusan orang ga taunya Lo juga nol...," kata Erwin sambil mencibir.


" Oh kalo Gue mah mauuu...," ucapan Akmal terputus karena saat itu Yara melintas di depan mereka.


" Sssttt... sebentar Vier. Ini rahasia Kita bertiga, ga enak kalo ada orang lain yang dengar..., " sahut Akmal sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibir.


" Apaan sih Lo, ga jelas banget jadi orang. Kan ga ada siapa-siapa di sini. Cuma Lo, Gue sama si Erwin doang...," kata Ranvier kesal.


" Lah kan barusan ada si Yara lewat...," sahut Akmal tak mau kalah.


" Cuma lewat mah ga ngaruh sama apa yang bakal Lo bilang...," kata Ranvier ketus.


" Iya sih. Tapi Gue malu Vier...," sahut Akmal salah tingkah.


" Malu kenapa ?. Emangnya apaan sih yang bakal Lo lakuin setelah Kita lulus nanti...?!" tanya Ranvier tak sabar.


Akmal nampak menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.


" Gue mau married Vier...," kata Akmal sambil berbisik.

__ADS_1


" Apa...?!" kata Ranvier dan Erwin dengan lantang.


" Sssttt..., Gue udah bilang ini rahasia kan. Kok bacot Lo berdua malah selebar daun pintu sih...!" kata Akmal kesal.


" Iya iya, sorry. Kita kelepasan...," sahut Ranvier sambil nyengir hingga membuat Akmal melengos.


" Lo serius mau married Mal...?" tanya Erwin tak percaya.


" Iya...," sahut Akmal cepat.


" Kenapa Mal...?" tanya Ranvier.


" Karena jodoh Gue udah sampe...," sahut Akmal santai.


" Ga mungkin !. Gue sama Ranvier tau betul kalo Lo ga laku. Selama ini ga ada cewek yang mau sama Lo. Kok bisa tiba-tiba Lo mau married. Jangan bilang kalo Lo udah hamilin anak orang, makanya disuruh tanggung jawab dan nikah cepet...," kata Erwin lantang hingga membuat semua orang menoleh kearah mereka.


" Eh kampret. Kalo ngomong tuh disaring ya. Gini-gini Gue masih punya iman. Mana mungkin Gue bunt*ngin anak orang. Gue ga g*la Win...!" sahut Akmal tak kalah lantang.


" Tapi buktinya Lo mau nikah dalam waktu dekat...," kata Erwin tak mau kalah.


" Emang salahnya dimana ?. Umur Gue udah cukup buat nikah, penghasilan pun Gue punya, rumah juga ada. Terus kenapa Gue ga boleh nikah...?!" tanya Akmal sambil menatap lekat kearah Erwin.


" Sebentar deh, penghasilan apaan maksud Lo...?" tanya Erwin.


" Kan Gue bantuin Bokap di bengkel dan Gue dibayar sama kaya karyawannya yang laen. Jadi artinya Gue punya penghasilan dong. Kalo soal rumah, ya kan bisa numpang dulu sama orangtua atau mertua...," sahut Akmal.


" Gue tuh ga nyangka Lo bakal married secepat ini. Kan selama ini Kita selalu ngomongin semuanya. Tapi kenapa soal married ini Gue baru denger sekarang...," kata Erwin lirih.


" Betul Mal. Gue aja ga percaya kok. Tapi ngeliat muka Lo yang serius, mau ga mau Gue terpaksa percaya nih...," kata Ranvier menambahkan.


" Ok deh. Gue bakal jujur. Sebenernya Gue mau nikah karena dijodohin sama anaknya temen Ayah Gue. Awalnya sih Gue nolak. Tapi pas ngeliat cewek yang dijodohin sama Gue tuh cantik banget, ya udah Gue terima aja. Lagian kapan lagi Gue bisa dapat cewek cantik tanpa harus capek-capek pedekate. Iya ga...," sahut Akmal sambil nyengir.


Ucapan Akmal membuat Ranvier dan Erwin saling menatap kemudian menghela nafas panjang karena kesal.


" Cuma Lo yang punya cita-cita aneh Mal. Di saat orang seusia Kita bercita-cita tinggi, mau kuliah di mana atau kerja apa. Eh Lo malah mau married. Ini mah bukan dijodohin, tapi emang Lo nya yang kebelet kawin. Dasar sableng...," kata Ranvier sambil menggelengkan kepala disambut tawa Erwin dan Akmal.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2