
Entah mengapa setelah hembusan angin sejuk yang menerpa tubuhnya membuat Ranvier merasa tak nyaman. Ia merasa dirinya tengah diawasi oleh sesuatu.
Sayangnya Ranvier tak mau membicarakan ini dengan dua guru spiritualnya yaitu Ustadz Rahman dan Daeng Payau. Ranvier memilih diam dan menyimpannya rapat-rapat karena merasa itu sesuatu yang tak perlu dianggap serius.
Dan selama itu pula Ranvier kerap merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Karena merasa itu tak membahayakan, Ranvier pun cuek.
Seperti sore itu. Ranvier baru saja selesai berlatih taekwondo di sekolah bersama Erwin. Keduanya berjalan bersama menuju halte bus yang letaknya tak jauh dari sekolah.
Saat tiba di halte ternyata halte telah dipadati sejumlah siswi dari sekolah lain. Nampaknya para siswi itu baru saja usai belajar kelompok di salah satu rumah teman mereka.
Melihat kehadiran Ranvier dan Erwin membuat para siswi itu heboh. Mereka saling menatap sambil tersenyum penuh makna. Setelahnya bersama-sama mereka mengamati Ranvier dan Erwin dengan tatapan mendamba. Bagi mereka Ranvier dan Erwin bak oase di padang pasir. Setelah seharian berkutat dengan buku pelajaran, tiba waktunya mereka sedikit memanjakan mata. Apalagi saat itu Ranvier dan Erwin mengenakan out fit kasual yang membuat keduanya terlihat keren.
" Hai cowok...," sapa salah satu siswi dengan berani.
Nampaknya siswi bernama Kareen itu adalah pimpinan dari para siswi yang sedang menunggu angkutan umum di halte itu. Dia terlihat dominan dan paling cantik diantara mereka.
" Hai...," sahut Erwin sambil tersenyum.
" Baru pulang ya...?" tanya Kareen.
" Iya...," sahut Erwin yang diangguki Ranvier.
" Boleh kenalan ga...?" tanya Kareen sambil mengulurkan tangannya.
" Oh boleh. Gue Erwin, dan ini Ranvier...," sahut Erwin sambil balas menjabat tangan Kareen
" Hai Erwin, hai Ranvier. Kenalin Gue Kareen. Nah ini temen-temen Gue. Namanya Evi, Dilla, April, Maudy dan yang itu Chika...," kata Kareen dengan kenesnya.
Erwin dan Ranvier pun berkenalan dengan Kareen cs. Mereka pun terlibat pembicaraan seru. Mereka saling melempar gurauan yang berakhir tawa hingga membuat suasana halte menjadi lebih ramai.
" Sekarang Gue harus balik, ga enak kalo Maghrib masih di jalan...," kata Ranvier sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Kok balik sih Vier. Kita kan baru aja kenalan dan ngobrol...," kata Maudy.
" Iya sih. Abis mau gimana lagi. Emang waktunya pulang kok. Lagian besok kan Kita harus sekolah. Emangnya Lo ga mau pulang...?" tanya Ranvier sambil menatap Maudy.
" Kalo Kita biasanya pulang setelah Maghrib Vier. Sholat Maghrib dulu di masjid yang deket dari sini. Soalnya percuma juga kalo Kita jalan sekarang, pasti bakal macet dan ujung-ujungnya malah ga kebagian sholat Maghrib. Iya ga...?" kata April sambil melirik kearah lima temannya.
" Betul...!" sahut Kareen cs bersamaan.
__ADS_1
Keenam gadis itu sengaja berbohong agar terkesan baik di depan Ranvier dan Erwin. Selain itu mereka berharap Ranvier mau mengurungkan mengurungkan niatnya untuk pulang.
" Oh gitu...," sahut Ranvier sambil mengangguk.
" Tapi kalo mau Kita masih bisa ketemuan kok...," sela Erwin tiba-tiba.
" Emang iya, gimana caranya...?" tanya Evi dengan polosnya.
" Kita ketemuan di luar Sabtu besok. Gimana, mau ga...?" tanya Erwin.
" Boleh tuh. Gue setuju..., " sahut Kareen cs antusias.
" Kalo gitu Kita tukeran nomor ponsel aja. Ntar Kita atur ketemuan dimana dan jam berapa...," kata Erwin sambil mengeluarkan ponselnya dan bersiap menyimpan nomor salah satu gadis di depannya.
" Pake nomor Gue aja...," sahut Kareen cepat.
" Ok...," kata Erwin.
" Tapi jangan berdua aja ya Win. Kalo bisa ajakin juga temen Lo yang lain biar tambah seru...," pinta Kareen.
" Siap...," sahut Erwin sambil tersenyum.
Setelah bus yang membawa Ranvier dan Erwin melaju, Kareen cs pun nampak bersorak gembira.
" G*la, ga nyangka bisa ketemu cowok keren di sini...!" kata Chika sambil tersenyum.
" Betul. Ga nyesel deh pulang telat...," sahut Dilla.
" Erwin sama Ranvier sama-sama keren. Tapi Ranvier cuma buat Gue ya...," kata Kareen tiba-tiba.
" Yaaahhh... kok gitu sih Reen. Ga asyik Lo...!" sahut kelima teman Kareen kesal.
" Kan Gue yang kenalan sama mereka pertama kali. Jadi hak Gue buat milih siapa yang bakal jadi cowok Gue. Bukannya begitu isi perjanjian tak tertulis Kita, jangan pura-pura lupa ya...!" kata Kareen pura-pura marah.
" Iya deeehh...," sahut kelima teman Kareen pasrah.
Kareen nampak tertawa melihat sikap kelima temannya itu. Kemudian ia mencoba menghibur kelima temannya.
" Kalian tenang aja. Kan Erwin janji ngajak temennya lagi pas ketemuan Sabtu besok. Siapa tau diantara mereka ada yang cocok sama Kalian. Jadi adil kan...?" tanya Kareen.
__ADS_1
" Oh iya. Ok deh, Kita terpaksa relain Ranvier buat Lo Reen. Ntar kalo udah bosen jangan dibuang ya, kasih ke Gue aja. Asal itu Ranvier, Gue mau kok nerima biar pun cowok itu bekas pacar Lo...," kata Maudy dengan mimik wajah serius.
" Iya, beres. Tapi kayanya yang kali ini Lo harus sabar deh, soalnya Gue yakin ga bakal bosen sama Ranvier...," sahut Kareen sambil tertawa disambut tawa keempat teman lainnya.
Mendengar jawaban Kareen membuat Maudy sedikit kesal lalu membuang tatapannya kearah lain. Maudy pun tersenyum saat melihat bus kota yang dinanti datang mendekat.
" Eh, busnya udah datang tuh. Ayo girls...!" ajak Maudy.
Kareen dan empat teman lainnya pun bergegas bersiap untuk menyambut bus yang akan mereka tumpangi. Tanpa mereka sadari di belakang mereka nampak sosok bayangan perempuan berusia remaja tengah berdiri kaku sambil menatap marah kearah mereka.
Sosok perempuan itu pun lenyap bersamaan dengan melajunya bus yang membawa Kareen cs pergi meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=
Kareen tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Ia disambut sang mama di depan pintu.
" Assalamualaikum Ma..., " sapa Kareen dengan enggan.
" Wa alaikumsalam Kareen. Kok baru pulang sih Nak. Ini udah jam delapan lho...," kata Mama Kareen.
" Iya udah tau. Jalanan macet Ma. Makanya Aku telat sampe rumah...," sahut Kareen sambil membuka sepatunya.
" Kamu ga usah bohong Reen. Mama telephon Ulfa tadi. Katanya Kamu dan teman-temanmu udah pulang sejak jam setengah lima. Masa sampe rumah jam segini. Padahal kan perjalanan dari sana ke sini ga sampe dua puluh menit. Ditambah macet paling cuma empat puluh menit. Kenapa jam segini baru sampe rumah ?. Kamu nih suka sekali berbohong ya Reen...!" kata mama Kareen marah.
" Apaan sih Mama !. Aku capek Ma, kenapa Mama malah ngajakin ribut. Bukannya disambut pake senyum, ini malah dimarahin. Yang kaya gini nih yang bikin Aku males pulang...!" kata Kareen sambil melangkah cepat ke dalam kamar.
" Kareen...!" panggil sang mama lantang namun Kareen tak peduli.
Gadis itu masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu. Setelah mengunci pintu, ia melempar tasnya ke sembarang arah. Kareen kesal karena harus bertengkar dengan sang Mama lagi.
Kemudian Kareen meraih ponselnya dari saku bajunya. Ia membuka galery foto untuk melihat moment kebersamaannya dengan teman-temannya hari ini.
Senyum Kareen mengembang saat ia melihat foto Ranvier dan Erwin yang diambilnya secara diam-diam tadi. Kareen mengusap wajah Ranvier dengan ujung jemarinya.
Namun sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Tiba-tiba Kareen merasa sakit di ujung jemarinya. Saat ia perhatikan, ujung jarinya nampak sobek dan mengeluarkan darah.
" Darah apaan nih. Kok bisa ada darah sih. Mana sakit banget lagi...," gumam Kareen sambil mengelap jemarinya dengan tissu.
Kareen pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang mengalir deras dari ujung jemarinya itu. Saat Kareen melintas, sosok bayangan berwarna hitam nampak bercokol di sudut kamarnya sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
bersambung