Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
56. Bertamu Ke Rumah Albert


__ADS_3

Ranvier pun kembali ke kampus setelah mengantar Nyonya Maureen pulang. Nampaknya Nyonya Maureen sangat terpukul dengan berita yang ia sampaikan tadi.


Tiba di kampus ia hanya bisa menggeleng pasrah karena mata kuliah pertama telah usai. Joshua dan Decker nampak menertawai Ranvier dengan kebod*han yang telah Ranvier lakukan.


" Kamu bisa ambil buku saat jam istirahat kan, kenapa harus mengorbankan satu mata kuliah penting hanya untuk sebuah buku pinjaman...," kata Joshua setelah tawanya usai.


" Iya iya. Gue emang ceroboh. Dan Lo berdua juga sama bod*hnya karena ga ngingetin Gue supaya ga pulang dulu tadi...," sahut Ranvier ketus.


Ucapan Ranvier kembali membuat Joshua dan Decker tertawa keras.


" Santai aja Vier. Gue pinjemin buku catatan Gue nih. Selebihnya Lo bisa cari di perpustakaan tentang materi yang dibahas dosen tadi...," kata Decker sambil menyodorkan buku catatan miliknya.


" Wah, Lo emang pengertian Deck. Makasih ya...," sahut Ranvier dengan mata berbinar.


" Eit, jangan terima kasih dulu Vier. Sebagai imbalannya, ajarin Gue bikin neraca pembayaran ya...," pinta Decker.


" Siaappp...," sahut Ranvier cepat hingga membuat Decker tersenyum.


Joshua pun ikut tersenyum mendengar kesepakatan antara Ranvier dan Decker.


\=\=\=\=\=


Ranvier bergerak cepat dengan menghubungi Daeng Payau dan ustadz Rahman. Ia meminta pendapat bagaimana harus bertindak.


" Kasian banget ya kalo cewek itu ternyata benar-benar Anastasya..., " kata ustadz Rahman.


" Artinya selama ini dia disembunyikan atau justru diasingkan oleh keluarganya sendiri...," sela Daeng Payau.


" Itu yang masih jadi tanda tanya Ustadz, Paman...," sahut Ranvier.


" Harusnya Nyonya Maureen juga membantu Kamu Vier. Kamu dan dia bisa bekerja sama membongkar kejahatan si Nyonya Blair itu lalu melaporkannya ke Polisi...," kata Daeng Payau.


" Aku juga udah bilang gitu Paman. Tapi Nyonya Maureen keliatannya udah ga mau berurusan sama Polisi. Dia kesal karena pernah dianggap g*la oleh pihak kepolisian...," sahut Ranvier.


" Pasti ada sebabnya kenapa Polisi menganggap Nyonya Maureen itu g*la Vier...," kata ustadz Rahman.


" Iya sih. Katanya itu karena Nyonya Maureen menemukan keganjilan pada laporan kematian anak dan menantunya. Polisi menganggap Nyonya Maureen ga mempercayai kinerja Kepolisian dan justru membuat rumor seolah Polisi membuat pernyataan palsu...," sahut Ranvier.


" Wah kalo gitu repot dong Vier. Kalo suatu waktu Nyonya Maureen melaporkan kejahatan Nyonya Blair, bisa-bisa dia dianggap g*la dan laporannya ga direspon sama sekali...," kata ustadz Rahman.


" Kalo gitu jangan Nyonya Maureen yang melapor. Kamu aja Vier, kan Kamu juga menyaksikan bagaimana Nyonya Blair dan Suaminya mengejar Anastasya...," usul Daeng Payau.

__ADS_1


" Aku sih ga keberatan Paman. Masalahnya Polisi percaya ga sama laporanku. Apalagi Aku cuma orang asing di sini...," sahut Ranvier.


" Kan belum dicoba. Lagian siapa pun yang melapor, pihak kepolisian pasti merespon dengan baik. Apalagi Kamu orang asing. Biasanya justru orang asing mendapat lebih banyak perhatian Vier. Tapi sebaiknya Kamu mengantongi bukti yang cukup kalo mau melapor ke Polisi..., " kata Daeng Payau.


" Bukti yang cukupnya apa Paman...?" tanya Ranvier.


" Kamu dan Nyonya Maureen bisa pergi ke rumah keluarganya Anastasya dan buktikan ucapan gadis itu. Cari info di sekitar rumah mereka dari tetangga kanan kirinya. Kalo emang tetangga bilang ada yang mencurigakan, Kamu bisa lapor sama Polisi. Jangan lupa sertakan bukti berupa video atau foto biar Polisi percaya...," sahut Daeng Payau.


" Saya setuju. Keliatannya itu satu-satunya cara yang bisa Kamu ambil saat ini Vier...," sela ustadz Rahman.


" Gitu ya. Insya Allah Aku coba ajak Nyonya Maureen deh nanti. Tapi kalo dia ga mau, artinya Aku harus kerja sendirian nanti...," sahut Ranvier.


" Semakin cepat semakin baik Vier. Semoga Kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik...," kata ustadz Rahman.


" Aamiin..., makasih Ustadz, Paman...," kata Ranvier sambil tersenyum.


" Sama-sama. Hati-hati ya Vier. Assalamualaikum..., " kata ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan.


" Wa alaikumsalam...," sahut Ranvier.


Kemudian Ranvier bergegas pergi ke rumah Nyonya Maureen untuk mengajaknya bicara.


Saat tiba di sana Ranvier mendengar suara pertengkaran pria dan wanita di dalam rumah. Rupanya Nyonya Maureen sedang ribut besar dengan seseorang. Ranvier mengurungkan niatnya untuk menekan bel dan tetap menunggu di teras rumah karena merasa tak sopan untuk bertamu.


" Jangan bikin ulah lagi Sayang, bisa kan Kamu duduk tenang di rumah dan jalani kehidupan Kita sebagaimana mestinya...? " tanya suami Nyonya Maureen melunak.


" Tapi Aku ga bisa tenang selama penyebab kematian Albert belum terungkap Anthoni. Aku selalu mimpi buruk dan melihat Albert menangis memanggil namaku. Mungkin Albert ingin Aku melakukan sesuatu karena hanya Aku yang peduli dengan kematiannya...," sahut Nyonya Maureen ketus.


" Apa Kau pikir Aku ga peduli dengan Anakku, Maureen...?" tanya Anthoni.


" Aku tak tau, Kau pikir saja sendiri...," sahut Nyonya Maureen.


" Kamu mau kemana Maureen, Kita belum selesai bicara...! " kata Anthoni.


" Aku mau ke kantor Polisi dan melaporkan si breng*ek Blair itu...!" sahut Nyonya Maureen lantang.


" Tetap di sini Maureen. Maureen...!" panggil Anthoni.


Nampaknya Nyonya Maureen mengabaikan suaminya. Ia melangkah cepat kearah pintu lalu membukanya dan terkejut saat melihat Ranvier berdiri di balik pintu.


" Astaga Ranvier !. Kamu mengejutkan Saya...!" kata Nyonya Maureen sambil mundur beberapa langkah.

__ADS_1


" Maafkan Saya Nyonya...," sahut Ranvier sambil tersenyum kecut.


" Siapa Sayang...?" tanya Anthoni dari belakang tubuhnya.


" Ini Ranvier. Pria yang Aku ceritakan tadi. Dia yang menyaksikan Anastasya dikejar Suami Istri Blair itu...," sahut Nyonya Maureen sambil menoleh kearah sang suami.


" Oh ya. Hallo, kenalkan Saya Anthoni. Suami Maureen. Senang melihat Anda berkunjung, mari silakan masuk...!" sapa Anthoni ramah sambil mengulurkan tangannya yang disambut Ranvier dengan cepat.


" Hallo Tuan Anthoni, kenalkan Saya Ranvier...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Mmm..., pasti Kamu sudah dengar pertengkaran Saya dan Maureen tadi. Maaf kalo membuatmu tak nyaman...," kata Anthoni sambil mengarahkan Ranvier untuk duduk di sofa ruang tamu.


" Gapapa Tuan. Justru Saya yang merasa ga enak karena udah mendengar pertengkaran Anda dan Nyonya Maureen...," sahut Ranvier.


Melihat Ranvier diajak masuk ke dalam rumah mereka oleh suaminya, Nyonya Maureen pun urung pergi. Ia ikut duduk di sofa bersama suaminya. Kini Nyonya Maureen dan suaminya duduk berhadapan dengan Ranvier.


" Maaf kalo Saya lancang. Tujuan Saya datang ke sini memang untuk membicarakan Albert dan Anastasya..., " kata Ranvier to the point.


Sepasang suami istri di hadapan Ranvier nampak saling menatap dengan tatapan yang berbeda. Jika Nyonya Maureen menyiratkan kebahagiaan sedangkan Anthoni nampak menyiratkan rasa tak suka.


" Ayolah Sayang. Dengarkan dulu Ranvier bicara. Aku yakin ada hal penting yang belum sempat dia bicarakan tadi. Betul kan Ranvier...?" tanya Nyonya Maureen sambil melirik kearah Ranvier.


" Betul Nyonya. Saya hanya ga ingin membuat Tuan Anthoni cemburu jika melihat Saya bicara terlalu dekat dengan Anda. Karena hal yang akan Saya bicarakan memang sedikit rahasia...," sahut Ranvier sambil berbisik dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.


Ucapan Ranvier membuat Anthoni tersanjung. Ia merasa Ranvier menghargai statusnya sebagai suami Maureen. Pria itu nampak melirik istrinya sambil tersenyum.


" Baik lah. Saya senang Kamu melakukan itu. Jadi rahasia apa yang ingin Kamu bicarakan...?" tanya Anthoni.


" Begini. Apa Anda dan Nyonya Maureen percaya dengan sesuatu yang ghaib...?" tanya Ranvier hati-hati.


" Yang ghaib seperti apa misalnya...? " tanya Anthoni.


" Seperti arwah penasaran yang berkeliaran karena masih ada sesuatu yang ingin dia sampaikan...," sahut Ranvier.


" Apa maksud Kamu hantu...?" tanya Nyonya Maureen.


" Ya semacam itu...," sahut Ranvier hingga membuat Anthoni dan istrinya saling menatap sejenak.


" Apa Albert mendatangimu juga...?" tanya Nyonya Maureen hati-hati.


Ranvier mengangguk dan itu membuat kedua mata Nyonya Maureen berkaca-kaca, sedangkan Anthoni nampak mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2