Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
45. Hantu Homreng ?


__ADS_3

Jeritan Erwin mau tak mau mengejutkan Ranvier, Akmal dan Tomi. Ketiganya terbangun lalu bergegas menghampiri Erwin. Bahkan Akmal harus jatuh tersungkur karena tersandung karpet saking terkejutnya.


" Ada apaan Win...?!" tanya Ranvier dan Tomi bersamaan.


Bukannya menjawab, Erwin malah menunjuk kearah tongkat ajaibnya itu. Ranvier dan Tomi nampak saling menatap bingung karena tak mengerti apa yang diucapkan Erwin.


" Apaan sih maksudnya Bang...?" tanya Ranvier.


" Gue juga ga tau Vier...," sahut Tomi.


" Erwin bilang buru*gnya sakit dan minta Lo cek ada apaan di sana...," kata Akmal yang baru saja tiba akibat jatuh tersungkur tadi.


Ucapan Akmal membuat Ranvier dan Tomi melotot. Saking kesalnya Ranvier menendang bok*ng Akmal hingga kembali terjatuh ke lantai.


" Duuhhh... sakit Vier !. Apaan sih Lo...!" kata Akmal sambil mengusap bekas tendangan Ranvier dengan telapak tangannya.


" Makanya kalo ngomong tuh disaring dulu Mal. Masa Lo nyuruh Gue sama Bang Tomi ngecek buru*gnya si Erwin. Gue tuh masih normal dan waras ya...!" kata Ranvier tak suka.


" Kok Gue. Kan si Erwin yang minta. Gue mah cuma ngasih tau apa yang dikodein sama si Erwin supaya Lo berdua tau apa maksudnya....," sahut Akmal tak mau kalah.


" Sssttt..., udah ya. Stop dulu ributnya. Liat tuh si Erwin kesakitan banget. Kayanya dia beneran sakit deh...," kata Tomi untuk melerai perdebatan Ranvier dan Akmal.


Ranvier dan Akmal pun menoleh dan melihat Erwin yang meringis kesakitan sambil memegangi barang pribadinya itu dengan kedua telapak tangannya.


" Lo kenapa Win, apanya yang sakit...?" tanya Ranvier.


" Inniiii...," sahut Erwin sambil merintih.


" Kok bisa mendadak sakit sih. Tadi kan gapapa. Emangnya Lo abis ngapain...?" tanya Ranvier.


Bukannya menjawab Erwin justru menjerit histeris hingga membuat Ranvier, Akmal dan Tomi panik.


Tiba-tiba ponsel Ranvier berdering. Dengan sigap Ranvier meraih ponselnya yang diletakkan di atas meja itu.


" Assalamualaikum, kebetulan Paman telephon...," sapa Ranvier.


" Wa alaikumsalam, Iya Vier. Saya merasa akan ada sesuatu yang buruk bakal menimpa teman Kamu...," sahut Daeng Payau.


" Bukan akan, tapi emang udah kejadian Paman. Sekarang Erwin lagi jerit-jerit kesakitan ga tau kenapa...," kata Ranvier.


" Masya Allah, Saya terlambat ngasih tau dong...," kata Daeng Payau.

__ADS_1


" Gapapa Paman. Aku bingung banget nih, bisa ga Paman ke sini sekarang buat nolongin Erwin...?" tanya Ranvier.


" Ok, insya Allah Saya ke sana sekarang...," sahut Daeng Payau.


" Biar dijemput Bang Tomi ya Paman...," kata Ranvier.


" Ga usah Vier. Suruh Tomi nunggu Saya di loby aja nanti. Saya pergi sekarang ya. Assalamualaikum....," kata Daeng Payau.


" Ok Paman, Wa alaikumsalam...," sahut Ranvier cepat.


Kemudian Ranvier mendekati Erwin. Ia menyentuh dahi Erwin dengan telapak tangannya sambil berdzikir.


Ajaib. Saat Ranvier menyentuh dahinya, Erwin merasa sakit di organ int*mnya berkurang. Perlahan Erwin membuka matanya yang semula tertutup itu. Ia menatap Ranvier dengan tatapan yang sulit dibaca hingga membuat Ranvier iba. Ranvier pun memeluk Erwin erat untuk menenangkannya.


" Lo gapapa kan Win. Bilang sama Gue, bagian mana yang sakit...," kata Ranvier setengah berbisik.


" Tongkat Gue Vieeerrr..., tongkat Gue. Tadi ada tangan yang masuk ke dalam cel*na dan tongkat Gue direm*s sekencang-kencangnya. Sakitnya bukan main Vieeeerr...," rintih Erwin lirih.


Ucapan Erwin membuat Ranvier dan Tomi saling menatap. Mereka tak percaya dengan ucapan Erwin karena selama ini tak pernah mendengar cerita serupa dialami para konsumen hotel. Namun fakta di depan mata sulit dipatahkan hingga keduanya hanya bisa menunggu.


Tiba-tiba Akmal menyodorkan segelas air putih kearah Erwin. Dibantu Ranvier, Erwin pun meneguk air dalam gelas hingga tandas.


" Sekarang tolong tunggu Paman Daeng di loby ya Bang. Sebentar lagi Beliau ke sini...," pinta Ranvier sambil menatap kearah Tomi.


" Insya Allah Gue gapapa Bang. Kan ada Akmal di sini yang bakal nemenin Gue. Makasih ya Bang...," sahut Ranvier sambil tersenyum karena terharu dengan perhatian Tomi padanya.


" Ok. Gue cabut sekarang...," kata Tomi sambil bergegas keluar dari kamar.


Sementara itu Akmal nampak mengamati Ranvier yang masih berkomat kamit itu. Ia tak percaya jika Ranvier baru saja berhasil meredakan sakit yang diderita Erwin.


Kali ini Akmal dibuat tak bisa berkata apa-apa karena kejutan yang Ranvier berikan datang bertubi-tubi.


Mulai dari kedatangan Kakek Randu, sang pengusaha besar, yang mengakui Ranvier sebagai cucunya. Ditambah prestasi Ranvier yang masuk sepuluh besar siswa dengan nilai memuaskan. Dilanjutkan dengan kepemilikan hotel yang ia dan Erwin nikmati sekarang. Dan terakhir kejutan berupa kemampuan Ranvier menyembuhkan Erwin. Semuanya membuat Akmal minder karena tak tahu apa-apa tentang Ranvier yang telah menjadi sahabatnya selama tiga tahun.


" Tolong bantu Gue nyusun bantal ya Mal. Erwin biar duduk sandaran pake bantal aja...," pinta Ranvier tiba-tiba.


" Iya Vier...," sahut Akmal cepat sambil membantu mengatur posisi bantal untuk Erwin bersandar.


" Tapi Gue capek Vier. Gue mau tiduran aja...," kata Erwin.


" Ga bisa Win. Lo jangan tidur dulu. Gue ga bisa bantu kalo mimpi buruk Lo keulang lagi nanti...," kata Ranvier.

__ADS_1


Meski tak mengerti apa yang Ranvier ucapkan, akhirnya Erwin menuruti ucapan Ranvier.


Ranvier dan Akmal membantu Erwin bersandar di sandaran tempat tidur. Lalu Ranvier menoleh kearah Akmal yang juga tengah menatapnya.


" Daripada Lo terpesona sama ketampanan Gue, lebih baik Lo ambil wudhu sana. Abis itu sholat dan dzikir biar suasana kamar ga aneh kaya gini Mal...," saran Ranvier.


" I..., Iya Vier...," sahut Akmal gugup lalu bergegas pergi ke toilet.


Tak lama kemudian Akmal nampak mengerjakan sholat sunah dua rakaat. Saat Akmal selesai dengan sholatnya, saat itu masuk lah Daeng Payau bersama Tomi.


Ranvier nampak tersenyum menyambut kedatangan Daeng Payau. Setelah berwudhu di toilet, sang guru spiritual nampak melangkah mendekat kearah Erwin.


" Apa yang sakit...?" tanya Daeng Payau.


" Itu...," sahut Erwin sambil melirik malu-malu kearah bagian bawah tubuhnya.


" Ini...?" tanya Daeng Payau sambil menyentuh lutut Erwin.


" Bukan Paman, tapi buru*gnya...," sahut Ranvier sambil menahan senyum hingga membuat Daeng Payau ikut tersenyum.


Daeng Payau nampak memejamkan mata lalu mengangguk beberapa kali.


" Jadi ada gangguan tak kasat mata yang menyerang temanmu ini Vier. Keliatannya ini berkaitan dengan ucapannya sendiri. Coba diingat-ingat, apa aja yang pernah dia ucapkan...," kata Daeng Payau.


" Aku lupa Paman. Kan seharian ini Kita emang bercanda terus...," sahut Ranvier.


" Gitu ya. Ini juga berkaitan dengan sesuatu yang Kamu liat di toilet tadi lho Vier...," kata Daeng Payau mengingatkan.


" Oh ya. Emangnya makhluk apa yang udah gangguin Erwin dan bikin dia kesakitan Paman...?" tanya Ranvier penasaran.


" Teman Kamu diganggu arwah laki-laki penyuka sesama jenis Vier. Dia tertarik sama temen Kamu karena temen Kamu udah menyinggungnya tadi...," sahut Daeng Payau hingga mengejutkan Ranvier cs.


Tiba-tiba Ranvier teringat dengan ucapan Erwin yang sempat mengira jika Tomi adalah pria penyuka sesama jenis di koridor tadi.


" Betul Paman. Tadi Erwin sempet nebak kalo Bang Tomi ini...," ucapan Ranvier terputus.


" Gue salah !. Gue minta maaf Bang Tomi...," kata Erwin.


Meski tak mempermasalahkan ucapan dan dugaan Erwin padanya, Tomi pun menganggukkan kepala.


" Sekarang tolong bantuin Saya supaya sembuh dan ga kesakitan lagi ya Pak...!" rengek Erwin sambil memegangi kedua tangan Daeng Payau.

__ADS_1


Di tempatnya Akmal nampak membeku di tempat saat mengetahui Erwin diganggu hantu homreng.


bersambung


__ADS_2