
Nada mengerjapkan matanya saat merasa tatapan Ranvier menguncinya. Ia berusaha menarik jemarinya dari genggaman Ranvier namun gagal. Ranvier justru mengeratkan genggamannya hingga membuat gadis itu salah tingkah.
" Gimana Nada...?" kejar Ranvier.
" Apanya...?" tanya Nada bingung hingga membuat Ranvier menghela nafas panjang.
" Gimana kalo Aku adalah pria yang sesuai sama kriteria yang Ibumu bilang...?" tanya Ranvier dengan sabar.
" Ya itu bagus dong...," sahut Nada cepat.
" Jadi...?" tanya Ranvier tak sabar.
" Jadi...?" tanya Nada lagi tak mengerti.
Perlahan Ranvier melepaskan genggaman tangannya dan itu membuat Nada merasa ada sesuatu yang hilang.
" Begini ya, Aku bermaksud melamar Kamu Nada. Insya Allah Kamu bisa mengandalkan Aku untuk mengatasi semua masalah rumit di hidupmu. Itu pun kalo Kamu mau dan bersedia jadi Istriku. Kalo ga, ya gapapa. Kita masih tetap bisa jadi keluarga karena Kakek sudah menganggap Kamu seperti Cucunya...," kata Ranvier akhirnya sambil tersenyum kecut.
" Melamarku...?" tanya Nada tak percaya.
" Iya...," sahut Ranvier cepat.
Nada mendengus kesal mendengar jawaban Ranvier. Ia pun menarik jemarinya yang tadi digenggam Ranvier dan menyembunyikannya di bawah meja hingga membuat Ranvier sedikit tersinggung.
" Kenapa ?, apa Aku ga layak menyentuh tanganmu...?!" tanya Ranvier kesal.
" Ga kok, siapa yang bilang begitu..., " sahut Nada sambil melengos.
" Tapi Kamu menjauhkan tanganmu dariku...!" kata Ranvier gusar.
" Itu karena Kamu juga ga nanya apa Aku bersedia jadi Istrimu atau ga...!" sahut Nada lantang hingga membuat Ranvier terkejut.
" Apa maksudmu...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Ck, ga romantis banget sih. Harusnya Kamu nanya bersedia kah Kamu jadi Istriku, gitu !. Masa gitu aja harus diajarin sih, dasar cowok aneh...," gerutu Nada namun membuat Ranvier tersenyum lebar dengan jantung yang berdetak cepat.
" Ok, Aku bakal tanya kaya gitu tapi Kamu harus jawab iya...," kata Ranvier sambil menatap Nada lekat.
" Iya iya, buruan deh !. Ups..., itu... maaf, maksudku...," Nada pun menghentikan ucapannya sambil menutup bibirnya dengan jemari tangannya karena sadar telah 'keceplosan' bicara.
Ranvier pun tak kuasa menahan tawa hingga membuat Nada tersipu malu. Selanjutnya Ranvier berdiri lalu meraih Nada ke dalam pelukannya dan membisikkan kalimat yang diinginkan Nada.
" Nada Kiara Wijaya, bersedia kah Kamu menikah denganku, menjadi Istriku dan Ibu dari Anak-anakku...?" bisik Ranvier lembut.
__ADS_1
Nada tampak tersenyum di dalam pelukan Ranvier. Ia menganggukkan kepalanya dan air mata pun jatuh menitik di wajah cantiknya.
" Iya, Aku bersedia...," sahut Nada sambil berbisik dengan suara bergetar.
" Alhamdulillah..., makasih Sayang...," kata Ranvier sambil mengeratkan pelukannya.
Nada pun tersenyum lalu membalas pelukan Ranvier. Tak ada kata lagi yang ingin ia ucapkan. Ia juga lelah menanggung rasa rindu yang tak ia mengerti. Dan kini ia bahagia karena pria yang menjadi musabab rindunya telah melamarnya.
Kakek Randu yang menyaksikan 'lamaran' Ranvier secara langsung di depan matanya itu pun ikut tersenyum bahagia. Kemudian Kakek Randu menyingkir karena tak ingin mengganggu moment romantis perdana Ranvier dan Nada.
Setelah beberapa saat saling memeluk, Ranvier dan Nada pun saling mengurai pelukan. Keduanya nampak tersenyum bahagia. Wajah Nada pun merona saat Ranvier membantu merapikan anak rambutnya yang berantakan dengan jemari tangannya.
" Jadi kapan Aku bisa ketemu Ayahmu...?" tanya Ranvier.
" Aku ga tau. Aku ga yakin Ayah akan dengan mudah menyetujui ini...," sahut Nada gusar.
" Kenapa bilang begitu...?" tanya Ranvier sambil menarik pinggang Nada hingga gadis itu kembali jatuh ke pelukannya.
Nada berusaha meronta namun terdiam saat Ranvier mengecup keningnya. Ia mendongakkan wajahnya untuk menatap Ranvier yang saat itu juga tengah menatapnya.
" Percayakan semuanya padaku. Aku janji akan membuat Ayahmu percaya dan mau menikahkan Kita secepatnya..., " kata Ranvier.
" Kenapa harus secepatnya. Aku masih kuliah dan...," ucapan Nada terputus saat Ranvier memotong cepat.
Ucapan Ranvier membuat Nada terpana. Ia berusaha mencerna kalimat panjang yang Ranvier ucapkan. Dan sesaat kemudian Nada pun menganggukkan kepalanya.
" Ok, Aku setuju...," sahut Nada sambil tersenyum hingga membuat Ranvier ikut tersenyum.
" Gadis pintar...," puji Ranvier sambil mengusap kepala Nada dengan lembut.
" Jangan kaya gini, Aku bukan kucing...!" protes Nada hingga membuat Ranvier tertawa.
" Malam ini Kamu nginap di sini kan...?" tanya Ranvier.
" Ga bisa. Aku harus pulang karena besok ada mata kuliah pagi...," sahut Nada.
" Ok, gapapa. Biar Aku anter Kamu ya...," kata Ranvier.
" Harus dong...!" sahut Nada antusias hingga membuat Ranvier kembali tertawa.
" Kalo gitu selesaikan makan Kamu, terus Aku anter pulang...," kata Ranvier sambil menggamit tangan Nada untuk kembali duduk dan melanjutkan makan malam mereka yang terhenti.
Sambil menikmati makan malam sesekali Ranvier dan Nada saling mencuri pandang lalu tersenyum. Rasa bahagia yang bertahta di hati mereka seolah telah membayar penantian mereka selama ini.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan malam, Nada pun pamit pulang. Kakek Randu memeluknya dengan hangat hingga membuat Nada merasa benar-benar disayangi.
" Aku anterin Nada dulu ya Kek...," kata Ranvier.
" Iya...," sahut Kakek Randu sambil tersenyum.
" Aku pulang ya Kek, Assalamualaikum..., " pamit Nada.
" Wa alaikumsalam..., hati-hati yaa...," pesan Kakek Randu.
" Siaaapp Kek...!" sahut Ranvier dan Nada bersamaan.
Selepas kepergian Ranvier dan Nada, kakek Randu pun mengusap ujung matanya yang basah karena air mata bahagia yang jatuh.
\=\=\=\=\=
Pagi ini Riska nampak tampil sedikit berbeda dari biasanya. Ia sengaja melakukan itu untuk membuat Ranvier 'menoleh'. Dan berhasil. Ranvier memang menoleh kearahnya sambil mengerutkan keningnya.
" Selamat pagi Pak...," sapa Riska dengan ramah.
" Pagi. Kenapa Saya merasa ada yang berbeda sama Kamu hari ini Riska...," kata Ranvier sambil mengamati Riska dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Bapak ga salah kok. Saya memang sengaja tampil beda karena Saya ingin menyadarkan seseorang supaya ga salah memilih dan menyesal nanti...," sahut Riska sambil tersenyum penuh makna.
" Oh gitu. Tapi kenapa Saya justru merasa Kamu salah kostum ya Ris. Kita mau meeting bukannya mau ke pesta. Tolong perbaiki make up Kamu, itu terlalu tebal dan ga enak diliat...," kata Ranvier dengan mimik wajah serius hingga membuat Riska terkejut dan malu bukan kepalang.
" I... iya Pak...," sahut Riska gugup.
" Oh iya satu lagi. High heels Kamu terlalu tinggi dan itu mengganggu mata Saya. Sebaiknya kenakan sepatu yang tingginya sedang. Itu akan membuatmu nyaman saat berjalan ke sana kemari. Ingat, ini kantor bukan catwalk. Jadi bersikap lah layaknya karyawan kantoran bukan model...," kata Ranvier tegas.
" Baik Pak...," sahut Riska sambil mengepalkan tangannya diam-diam.
" Bagus. Saya tunggu setengah jam dari sekarang di ruangan Saya. Silakan Kamu pilih, ganti penampilan Kamu seperti yang Saya sarankan tadi, atau Kamu duduk di meja receptionist menggantikan Marsha...!" kata Ranvier lantang hingga membuat Riska panik.
" Saya laksanakan sekarang Pak...!" sahut Riska sambil bergegas meraih tas miliknya lalu pergi ke toilet untuk memperbaiki penampilan.
Di belakang Ranvier tampak Erwin tak kuasa lagi menahan tawanya. Erwin pun memegangi perutnya sambil tertawa hingga membuat Ranvier kesal.
" Kalo Lo ga serius kerja kaya dia, Gue jamin Lo juga bakal pindah jadi OB gantiin si Bayu, Win...," kata Ranvier ketus sambil berlalu.
Erwin terkejut lalu menghentikan tawanya. Setelahnya ia menyusul Ranvier yang telah lebih dulu masuk ke dalam ruangannya. Erwin dengan hati-hati meletakkan tas kerja Ranvier di atas meja lalu bergegas mengecek agenda kerja sang atasan hari ini.
Diam-diam Ranvier tersenyum tipis karena berhasil menjatuhkan dua nyamuk dalam sekali tepukan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=