Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
85. Kyai Ireng


__ADS_3

Suara lantang Daeng Payau membuat Kyai Ireng dan Aldi terkejut lalu menoleh ke sumber suara.


Keterkejutan mereka bertambah saat melihat Erwin ada bersama Daeng Payau. Bagaimana pun Aldi tak ingin Erwin melaporkan aksinya itu kepada owner pabrik dan menyebabkan dia kehilangan pekerjaan nanti.


Sedangkan Kyai Ireng cukup mengenal Erwin karena sering berkunjung ke pabrik.


Melihat Kyai Ireng dari dekat membuat Erwin menggelengkan kepala. Ia tak menyangka jika sesepuh kampung yang ia hormati adalah dalang dari kematian salah satu rekan kerjanya.


Pabrik kayu itu memang berdiri di atas lahan yang telah dibeli oleh pemilik perusahaan. Lahan itu awalnya menjadi bagian kampung dimana kyai Ireng tinggal. Karena menghargai jabatan sang kyai yang dituakan di kampung itu, maka pemilik perusahaan memutuskan memberi uang bulanan serupa gaji kepada Kyai Ireng meski pun sang kyai tak melakukan pekerjaan apa pun.


Pemilik perusahaan hanya minta kyai Ireng membantu 'mengawasi' keamanan pabrik dari jauh.


Awalnya semua berjalan lancar. Hingga kemudian kebutuhan hidup makin meningkat sedangkan tugas sang kyai makin berat.


Akhirnya kyai Ireng kembali pada pekerjaan lamanya yaitu menjadi dukun yang membantu menyesatkan manusia.


Erwin yang mengenal kyai Ireng sebagai sosok yang bijak, menganggap kyai Ireng sebagai sesepuh kampung karena mengenal seluk beluk kampung di sekitar pabrik termasuk sejarah berdirinya pabrik kayu itu.


" Kyai Ireng...?" panggil Erwin.


" I... iya Mas Er... win...," sahut kyai Ireng gugup.


" Jadi semua ini perbuatan Kyai ?. Kenapa Kyai tega ngelakuin ini. Apa gaji dari perusahaan masih kurang Kyai. Kalo kurang kan Kyai bisa bilang sama Saya. Saya janji akan membantu bicara dengan pihak perusahaan nanti...," kata Erwin gusar.


" Mas Erwin ga tau apa yang Aku inginkan. Uang dari perusahaan ini memang terlalu kecil untuk membayar pengorbananku...," sahut Kyai Ireng.


" Pengorbanan apa maksud Kyai...?" tanya Erwin tak mengerti.


Kyai Ireng nampak mendengus kesal. Ia menatap ke semua penjuru pabrik sambil tersenyum.


" Apa Kamu tau darimana datangnya kesejahteraan pabrik ini Mas ?. Aku lah yang telah membuat pabrik ini berdiri gagah hingga sekarang jadi besar seperti ini...," kata kyai Ireng sambil menepuk dada.


" Maksud Kyai apa ya, maaf kalo Saya sama sekali ga paham kemana arah pembicaraan Kyai...," kata Erwin.

__ADS_1


" Perusahaan bisa besar dan berkembang pesat karena mengandalkan pabrik ini. Dan besarnya perusahaan membuat para saingan bisnis di luar sana panik. Aku lah yang maju, menjaga dan melindungi pabrik dari musuh atau saingan bisnis yang mencoba main belakang. Tapi apa yang mereka berikan ?, hanya ucapan terima kasih dan basa basi. Mereka pikir Aku ga bisa mendapatkan apa yang Aku inginkan. Jika mereka bisa memanfaatkan kemampuanku untuk menjaga pabrik ini, Aku juga bisa memanfaatkan mereka. Jadi Kami impas, ada tenaga ada uang. Sekarang Kamu paham kan Mas Erwin...?" tanya Kyai Ireng sambil tersenyum penuh makna.


Erwin nampak menggelengkan kepala usai mendengar penjelasan Kyai Ireng. Hanya karena kecewa pada beberapa orang, telah membuat kyai Ireng gelap mata. Ia tega menumbalkan para karyawan pabrik sebagai syarat ritual pesugihan yang dianutnya.


" Kau terlalu berlebihan Ireng. Tak ada apa-apa di sini yang membuatmu harus turun tangan. Tak ada serangn ghaib seperti yang Kau bilang tadi. Kau hanya mengada-ada. Kau mengatakan banyak omong kosong karena ingin menutupi wajah aslimu. Iya kan...?" sindir Daeng Payau sambil tersenyum sinis.


Kyai Ireng pun tertawa karena sadar tak akan bisa mengelabui Daeng Payau.


" Kalo Kau sudah tau, terus mau apa Daeng ?. Ga usah sok jadi pahlawan kesiangan di sini. Ini wilayahku, jadi hargai Aku. Pergi lah dan jangan mengganggu...," usir kyai Ireng dengan sombongnya.


" Sayangnya Aku ga mau pergi Ireng. Aku akan tetap di sini dan membuatmu terusir dari sini selamanya...," sahut Daeng Payau tegas.


" Aku bilang pergi Daeng...!" bentak kyai Ireng.


" Kau sudah melampaui batas Ireng !. Kau melukai orang tak bersalah hanya karena ingin memenuhi ambisimu. Sadar lah Ireng. Apa belum cukup kehilangan keluargamu dulu...!" kata Daeng Payau marah.


" Iya, Aku memang melakukannya Daeng. Itu karena mereka tak peduli padaku. Aku penguasa di kampung ini. Tapi mereka tak pernah menghargai keberadaanku. Aku muak hanya dijadikan pajangan. Aku akan buktikan jika Aku juga mampu membuat kekacauan di pabrik yang mereka banggakan ini...!" sahut kyai Ireng dengan lantang.


Perkelahian antara Daeng Payau dan kyai Ireng pun tak terelakkan. Semua orang menepi karena tak ingin menjadi korban salah sasaran kedua petarung hebat itu.


Di saat pertarungan terjadi, tiba-tiba mesin tempat Aini kecelakaan kemarin nampak bergetar. Bunga-bunga yang berserakan di atas mesin pun ikut bergetar, bergeser lalu jatuh ke lantai.


Entah mengapa bersamaan dengan bergetarnya mesin membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin.


" Erwin, Galih, mundur...!" kata ustadz Rahman tiba-tiba.


Erwin dan Galih pun mengikuti ustadz Rahman yang menjauh dari arena pertempuran. Sedangkan Aldi masih setia berada di sekitar arena pertempuran dan tak menyadari jika ada bahaya yang mengintai.


Dan saat semua orang fokus mengamati pertempuran Daeng Payau dengan kyai Ireng, tiba-tiba mata gergaji di salah satu mesin terlepas dengan sendirinya.


Bunyi gemeletak yang terdengar tak membuat semua orang menoleh ke sumber suara. Semua baru menoleh saat mata gergaji sepanjang satu meter itu melayang cepat kearah belakang kepala Aldi lalu menebas lehernya hingga nyaris putus.


Saat mata gergaji menebas lehernya, tak ada jeritan dari mulut Aldi. Rupanya saat itu terjadi nyawa Aldi langsung melayang pergi. Hanya suara tubuh Aldi yang ambruk ke lantai yang terdengar diikuti aliran darah yang menggenang dengan cepat di sekitar luka di leher Aldi.

__ADS_1


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...," kata ustadz Rahman, Erwin dan Galih bersamaan.


Bahkan Erwin nampak shock menyaksikan kematian tragis Aldi. Tubuhnya bergetar hebat dan kedua matanya menatap nanar kearah tubuh Aldi yang tergeletak di lantai.


" Lo gapapa kan Win...?" tanya Galih sambil menatap Erwin lekat.


" Gue gapapa...," sahut Erwin cepat.


Dan usai Erwin menyelesaikan kalimatnya, bersamaan itu terdengar jerit kesakitan kyai Ireng. Rupanya Daeng Payau berhasil melukai kyai Ireng.


Erwin menatap ngeri kearah Kyai Ireng yang saat itu nampak berlutut sambil meratapi kedua tangannya.


Daeng Payau berhasil melukai kyai Ireng dengan cara melumpuhkan otot di kedua lengannya. Dan kini kedua tangan Kyai Ireng nampak seperti dua benda menggantung tanpa daya karena tak bisa digerakkan sama sekali. Bukan kaku tapi lentur, lunak seperti tak bertulang.


Berkali-kali kyai Ireng menjerit dan memohon agar Daeng Payau mengembalikan kondisi tangannya itu. Namun Daeng Payau nampaknya tak ingin memberi peluang kepada kyai Ireng untuk sembuh.


" Terlambat Ireng !. Awalnya Aku hanya ingin menggertakmu. Tapi melihat satu korban lagi telah jatuh akibat ulahmu, rasanya Aku ga sanggup lagi. Bukan Aku yang berhak mengampunimu nanti, tapi Allah. Bertobat lah Ireng. Mungkin saja Allah masih akan memberimu waktu dan kesempatan untuk menebus semua kesalahanmu...," kata Daeng Payau sambil menghapus peluh di wajahnya.


" Jangan tinggalkan Aku Daeng. Ampuni Aku. Tolong kembalikan tanganku. Aku janji ga akan mengulanginya lagi...," rintih kyai Ireng.


" Aku juga pernah dengar janji semacam ini dari mulutmu dulu Ireng. Tapi mana buktinya ?. Toh Kamu mengulanginya lagi, di tempat lain, bahkan lebih parah...," kata Daeng Payau sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah mengatakan itu Daeng Payau mendekati ustadz Rahman. Kemudian dipimpin sang ustadz, mereka berempat berdzikir bersama.


Dan sesuatu pun terjadi. Aura gelap dan hawa mistis yang melingkupi pabrik perlahan sirna. Keheningan yang membuat bulu kuduk meremang pun tak ada lagi berganti dengan suara jangkrik yang saling bersahutan di luar sana.


" Terus gimana sama jasadnya Aldi Om...?" tanya Erwin bingung.


" Laporkan sebagai kecelakaan kerja, karena Aldi meninggal saat sedang menjalankan tugas. Bukti otentik di tubuhnya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya...," sahut Daeng Payau.


Erwin mengangguk lalu mencoba menghubungi pihak kepolisian. Dan tanpa disadari semua orang, kyai Ireng diam-diam pergi meninggalkan pabrik.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2