
Di saat Ranvier tengah disibukkan dengan ibadah di tanah suci Mekkah, Erwin justru sedang galau karena hubungannya dengan Atika tak jua menemukan titik terang.
Atika adalah gadis yang ditemui Erwin saat ia berkunjung ke salah satu kafe. Atika merupakan salah satu karyawan kafe yang saat pertama kali ditemui Erwin sedang bertengkar dengan salah satu pengunjung kafe.
" Jangan bikin Gue marah ya Tik...!" kata pria itu sambil mencekal tangan Atika.
" Adduuh..., sakit Jo. Lepasin...!" pinta Atika sambil meringis menahan sakit.
" Ga akan. Gue bakal lepasin asal Lo janji bakal kembaliin semuanya secepatnya. Inget ya Tik, secepatnya...! " kata Johan sambil mempererat cekalan tangannya.
" Iya iya. Udah dong Jo, malu tuh diliatin orang...," sahut Atika sambil merendahkan suaranya.
" Bodo amat !. Pokoknya Gue mau Lo janji dulu...!" paksa Johan tak mau kalah.
Erwin yang kebetulan melintas di samping Atika dan Johan pun tak sengaja mendengar percakapan mereka tadi. Wajah Atika tampak pucat akibat tindakan Johan dan ia refleks menoleh kearah Erwin. Dari tatap matanya Erwin tahu jika Atika membutuhkan bantuan.
" Ehm, maaf Mas. Udah lepasin aja, kasian tuh Mbaknya kesakitan...," kata Erwin.
" Ga usah ikut campur Lo !. Ini urusan Gue...!" sahut Johan lantang.
" Gue ga ikut campur. Tapi Gue mau ngopi dan semua pelayan lagi sibuk. Cuma Mbak ini yang ga sibuk...," kata Erwin.
" Berisik Lo !. Mundur sana, ganggu aja sih...!" sahut Johan sambil mendorong tubuh Erwin dengan telapak tangannya.
Erwin pun menangkap tangan Johan lalu memuntirnya ke belakang. Aksi cepat Erwin membuat Johan terkejut lalu menjerit kesakitan.
" Aaahhh... sia*aann. Sakiitt wooii...!" jerit Johan hingga membuat cekalannya pada lengan Atika pun terlepas.
Atika pun bergegas menjauh lalu lari lari meninggalkan Erwin dan Johan.
" Lepasin bang*at...!" maki Johan sambil berusaha memukul Erwin.
" Ga usah jadi banci Lo. Beraninya cuma sama perempuan... !" bentak Erwin.
" Ok, Gue ngalah. Lepasin dan Gue bakal cabut sekarang...," kata Johan karena tak kuasa menahan sakit.
Erwin pun mendorong tubuh Johan sambil melepaskan cekalan tangannya. Akibatnya Johan pun jatuh tersungkur membentur meja.
__ADS_1
" Lo ga tau apa-apa soal dia. Gue yakin Lo bakal nyesel nanti...!" kata Johan sambil berlalu.
" Ga usah banyak bacot Lo. Pergi sana...!" usir Erwin.
Johan mendengus kesal sambil berjalan cepat menuju pintu. Di ambang pintu ia berhenti lalu menoleh kearah Atika sambil tersenyum sinis.
" Lo aman kali ini Tik. Tapi urusan Kita belum selesai dan Gue ga bakal berhenti ngejar Lo...!" kata Johan lantang.
Setelah mengatakan kalimat ancaman itu Johan pun pergi. Atika nampak tertegun dan hanya bisa meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
Beberapa teman Atika datang untuk menenangkan gadis itu. Mereka mewakili Atika mengucapkan terima kasih kepada Erwin.
Erwin pun mengangguk lalu duduk di kursi dan memesan kopi. Tak lama menunggu, kopi pesanannya pun datang.
" Makasih atas bantuannya ya Mas. Kopi ini gratis, biar Saya yang bayar nanti. Anggap aja itu ungkapan terima kasih Saya...," kata Atika sambil tersenyum.
" Eh ga usah Mbak. Saya ga minta imbalan apa-apa kok. Saya emang paling ga suka ngeliat cowok menganiaya cewek. Ya walau mungkin aja cewek itu melakukan kesalahan, tapi kan bisa diomongin baik-baik ga usah pake main kekerasan...," kata Erwin.
" Iya sih. Andai dia juga punya pikiran yang sama kaya Mas, pasti Saya juga ga ketakutan tadi...," sahut Atika.
" Maaf kalo kepo. Emang cowok itu apanya Mbak...?" tanya Erwin.
" Terus Saya denger dia minta dikembaliin. Apa yang harus dikembliin...?" tanya Erwin.
" Uang Mas...," sahut Atika tak enak hati.
" Emangnya Mbak punya utang sama dia...?" tanya Erwin.
" Ga lah !. Dia pake kalimat itu supaya kesannya Saya yang punya hutang sama dia. Padahal ga sama sekali. Justru dia begitu untuk mengancam Saya. Dia minta Saya membayar sejumlah uang. Kalo ga, maka foto-foto pribadi Saya bakal disebar di internet..., " sahut Artika.
" Jadi dia mengancam Kamu. Kenapa ga lapor Polisi aja sih...?" tanya Erwin.
" Saya malu Mas. Sampe saat ini Saya ga tau foto kaya gimana yang dia maksud. Saya khawatir itu foto waktu Saya ga pake baju atau lagi tidur...," sahut Atika sambil menundukkan kepalanya.
" Dia pernah ngambil foto Kamu yang tanpa busana maksudnya...?" tanya Erwin setengah berbisik.
" Itu yang Saya ga tau Mas. Makanya Saya bingung harus ngapain. Dia sering ke sini dan mengancam Saya. Kalo Manager kafe tau, bisa-bisa Saya dipecat karena udah jadi penyebab kekacauan yang membuat pengunjung kafe ga nyaman...," sahut Atika sedih hingga membuat Erwin iba.
__ADS_1
Dan setelah hari itu Erwin kerap datang ke kafe dengan alasan ingin melindungi Atika dari serangan Johan. Dan bisa ditebak endingnya. Erwin dan Atika pun jatuh cinta lalu memutuskan menjalin hubungan lebih dari sekedar teman.
Sayangnya hubungan mereka tak berjalan mulus. Bapak Atika tak merestui hubungan mereka entah karena apa. Sebab tiap kali Erwin berniat menemui bapak Atika, Atika selalu menolak dengan dalih sang bapak sedang sibuk.
Ranvier yang mendengar penuturan Erwin pun tak bisa banyak membantu karena dia sendiri masih sibuk menata hati setelah perpisahannya dengan Arcana.
" Lagian gimana Gue mau bantuin kalo Gue aja ga kenal sama Atika...," kata Ranvier.
" Emangnya Lo belum pernah Gue kenalin sama Atika ya Vier...?" tanya Erwin bingung.
" Belum...!" sahut Ranvier cepat.
" Masa sih. Bukannya udah ya. Makanya Gue cerita blak-blakan sama Lo...," kata Erwin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Dih, kapan Lo kenalin Gue sama Atika ?. Mimpi Lo ya. Bukan Gue kali tapi orang lain yang Lo kenalin sama cewek Lo itu...," sahut Ranvier.
" Ohh... gitu. Iya kali. Ya udah ntar kapan-kapan Gue kenalin deh sama Lo...," kata Erwin.
" Ok...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Dan Ranvier tak bertanya apa pun meski pun hingga ia berangkat umroh Erwin belum juga mengenalkan Atika padanya.
\=\=\=\=\=
Ranvier pun kembali ke Indonesia dengan bahagia. Kepulangannya disambut antusias oleh Kakek Randu dan karyawannya.
Dan saat acara tasyakuran kepulangan Ranvier, Erwin pun datang bersama Atika. Dengan bangga Erwin memperkenalkan Atika pada Kakek Randu dan Ranvier.
" Kenalin ini Atika Kek, dia temen Aku...," kata Erwin malu-malu.
" Ya ya..., panggil Saya Kakek Randu aja ya Atika...," pinta Kakek Randu sambil tersenyum.
" Baik Kek...," sahut Atika sambil mencium punggung tangan Kakek Randu dengan takzim.
" Ranvier mana Kek...?" tanya Erwin sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
" Tuh dia...!" sahut Kakek Randu sambil menunjuk Ranvier yang baru saja turun dari lantai atas.
__ADS_1
Erwin dan Atika menoleh kearah tangga. Untuk sejenak Atika terpaku menatap Ranvier. Ia tak menyangka jika pria yang tampan dan kaya raya itu adalah sahabat Erwin.
\=\=\=\=\=