
Sambil menunggu apa yang akan dilakukan pasukan makhluk ghaib itu kepada Ranvier, Daeng Payau pun mulai mengamati sekelilingnya.
Saat itu Ranvier duduk di sebuah taman yang dikelilingi pohon bunga aneka warna. Ada sebuah altar batu di tengah taman. Ranvier dipaksa menyaksikan sebuah pertunjukan yang mirip pertunjukan wayang orang. Meski bahasa yang digunakan sedikit aneh, namun Ranvier paham jalan cerita dari pertunjukan itu.
Semua orang nampak serius menonton pertunjukan seni itu seolah khawatir terlewat satu adegan penting. Ranvier pun tertawa saat salah seorang pemeran wayang orang terjatuh akibat melakukan kesalahan. Namun anehnya tak satu pun orang tertawa saat menyaksikan adegan lucu itu. Dan itu membuat Ranvier sedikit tak nyaman.
Ranvier menatap ke sekelilingnya dan menyaksikan semua orang tetap dalam mode serius tanpa senyum. Karena tak nyaman, Ranvier pun sedikit bergeser ke samping untuk memperbaiki posisi duduknya.
Tiba-tiba pergelangan tangan kanan dan kirinya dicekal oleh dua pria di sampingnya. Ranvier paham jika dirinya tak boleh banyak bergerak.
" Kenapa...?" tanya Ranvier pura-pura tak tahu.
" Jangan pergi...," sahut salah seorang diantara mereka dengan wajah datar dan tatapan yang terpaku ke depan.
" Aku ga kemana-mana. Aku cuma bergerak karena ga nyaman...," kata Ranvier memberi alasan.
" Tetap diam dan jangan bergerak supaya semuanya bisa selesai dengan cepat...," pinta salah seorang wanita.
" Apanya yang bisa selesai dengan cepat...?" tanya Ranvier penasaran.
" Prosesnya...," sahut wanita itu.
" Proses apa...?" tanya Ranvier.
" Berisik !. Diam dan liat saja ke depan...!" hardik pria yang mencekal tangan Ranvier.
Ranvier membeku di tempat karena saat pria itu menghardiknya, tatapan mereka tak sengaja bertemu. Dan saat itu lah Ranvier bisa melihat bola mata pria itu tak berwarna hitam putih seperti manusia pada umumnya. Kedua mata pria itu berwarna hitam pekat dengan garis kuning vertikal di bagian tengahnya.
Sesaat kemudian keempat orang yang menjaganya itu bersama-sama menoleh kearah Ranvier. Dan entah mengapa hal itu membuat bulu kuduk Ranvier meremang.
Ranvier pun kembali menatap ke depan. Saat itu jantungnya berdetak tak karuan. Sesekali Ranvier melirik kearah tempat persembunyian Daeng Payau dan berharap sang guru spiritualnya segera membawanya pergi dari tempat itu.
Sementara itu di tempatnya Daeng Payau juga nampak menghitung kekuatan makhluk ghaib itu, mencari celah untuk jalan keluar serta mencari titik kelemahan mereka.
__ADS_1
Setengah jam kemudian pertunjukan yang mirip wayang orang itu pun selesai. Kemudian suasana menjadi hening. Sangat hening hingga membuat Ranvier gemetar ketakutan.
Tak lama kemudian muncul lah beberapa orang sambil mengusung tempat tidur terbuat dari ikatan ranting. Di atas tempat tidur nampak terbaring sosok remaja laki-laki yang usia dan perawakannya mirip dengan Ranvier.
Para pria pengusung tempat tidur itu terus melangkah menuju altar batu di tengah taman. Saat tiba di altar batu, mereka memindahkan tubuh remaja pria itu ke atas altar dengan hati-hati. Setelahnya para pria itu mundur teratur kearah tempat mereka keluar tadi lalu menghilang entah kemana.
Ranvier atau Daeng Payau tak bisa melihat wajah remaja pria yang terbaring itu karena wajahnya ditutupi selembar daun talas berukuran besar.
Tak lama kemudian masuk lah seorang pria bertelan*ang dada. Sosoknya nampak berwibawa dengan sorot mata yang tajam. Pria yang lumayan tampan (andaikan mau sedikit tersenyum) itu nampak berjongkok di samping altar batu. Tangannya terulur untuk menyentuh kepala remaja pria yang terbaring itu.
Setelah membisikkan sesuatu di telinga remaja itu, pria berwibawa yang diyakini Ranvier sebagai ayah remaja laki-laki itu pun menoleh kearahnya.
" Bawa dia ke sini sekarang...!" titah pria berwibawa itu dengan lantang sambil menunjuk kearah Ranvier dengan jari telunjuknya.
" Baik Tuanku...!" sahut semua orang sambil menoleh kearah Ranvier bersamaan.
Sadar jika dirinya dalam bahaya, Ranvier pun bergegas melompat ke belakang. Gerakannya yang tak terduga cukup mengejutkan empat orang yang bersamanya sejak tadi. Keempatnya bangkit lalu mengejar Ranvier.
" Kejar dia...!".
" Jangan biarkan dia lolos...!" kata semua orang dengan lantang dan saling bersahutan.
Kini semua orang bergerak agar bisa segera menangkap Ranvier. Suasana taman yang semula hening dan sunyi itu pun berubah drastis. Sorak sorai semua orang terdengar memenuhi taman.
Melihat Ranvier diburu oleh banyak orang seperti penjahat, Daeng Payau pun mendengus kesal. Ia keluar dari tempat persembunyiannya lalu melancarkan serangan. Meski hanya sendiri, tapi Daeng Payau mampu menghadirkan angin yang sangat besar.
Ranvier pun berhasil mencapai Daeng Payau dan sembunyi di belakang tubuhnya. Dari tempatnya berdiri Ranvier bisa menyaksikan angin put*ng beliung keluar dari telapak tangan Daeng Payau. Angin besar itu mampu menghempas tubuh para pengejar Ranvier yang berjumlah puluhan itu hingga semuanya jatuh terjengkang ke tanah dengan keras. Jerit kesakitan pun terdengar bersahutan saat tubuh mereka saling berbenturan satu sama lain.
" Wah hebat banget Paman Daeng...," batin Ranvier kagum.
" Berhenti...!" kata pria berwibawa itu sambil mengangkat tongkatnya ke udara.
Ajaib. Angin put*ng beliung yang semula bertiup ganas itu lenyap seketika. Bahkan pohon-pohon bunga yang sempat tumbang dihempas angin tadi pun kembali ke kondisi semula.
__ADS_1
Pria berwibawa itu nampak menurunkan tongkat yang ada dalam genggaman tangannya perlahan, lalu melangkah mendekat kearah Daeng Payau.
" Siapa Kamu ?, kenapa mengganggu pengobatan putraku...?" tanya pria berwibawa itu sambil menatap Daeng Payau lekat.
" Namaku Daeng Payau. Aku datang ke sini untuk menjemput keponakanku yang Kalian culik...," sahut Daeng Payau sambil menunduk takzim.
" Kau bohong !. Dia bukan keluargamu karena Aku tak mencium darah yang sama denganmu di tubuhnya...," kata pria berwibawa itu dengan mimik tak suka.
" Itu betul. Tapi dia adalah muridku, otomatis dia menjadi tanggung jawabku. Andai ada seseorang atau sesuatu ingin menyakitinya, maka Aku akan maju untuk membelanya seperti sekarang...," sahut Daeng Payau cepat.
Ucapan Daeng Payau membuat Ranvier tersenyum bangga namun membuat pria berwibawa itu melengos sebal.
" Aku menginginkannya. Serahkan dia dengan suka rela dan Aku akan memberi ganti yang sepadan nanti...," kata pria berwibawa itu sambil mengulurkan telapak tangannya kearah Daeng Payau.
Untuk sesaat Daeng Payau terdiam sambil menatap telapak tangan pria berwibawa itu seolah ia melihat sesuatu di sana. Di belakangnya Ranvier nampak gelisah. Ia khawatir Daeng Payau berubah pikiran karena tertarik dengan iming-iming yang ditawarkan pria itu.
" Hanya itu...?" tanya Daeng Payau sambil menatap sinis kearah pria berwibawa itu.
" Aku akan berikan sisanya nanti setelah efek dari pertukaran itu Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri...," sahut pria berwibawa itu sambil tersenyum penuh makna.
" Tapi Aku mau sekarang atau tidak sama sekali...," kata Daeng Payau sambil menggelengkan kepalanya.
" Kau ini perampok atau apa...?!" kata pria berwibawa itu mulai naik pitam.
" Itu harga yang pantas untuk nyawa anakmu bukan...!" sahut Daeng Payau lantang.
" Paman...!" panggil Ranvier gusar karena tak percaya Daeng Payau akan menukarnya dengan sesuatu yang ditawarkan pria itu.
" Diam Ranvier...!" bentak Daeng Payau.
Ranvier pun terdiam pasrah. Dalam hati ia menyesal telah mempercayai Daeng Payau yang dengan mudahnya menukar sesuatu tak kasat mata dengan dirinya.
Dan sesuatu di luar dugaan pun terjadi. Saat pria berwibawa itu sibuk dengan pikirannya, saat itu lah Daeng Payau menarik tangan Ranvier lalu membawanya lari dengan cepat.
__ADS_1
Pria berwibawa itu terkejut lalu memerintahkan semua orang mengejar Ranvier dan Daeng Payau yang berlari menuju gerbang besi dimana Daeng Payau masuk tadi.
bersambung